He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 92



Malik menceritakan kejadian yang dia ingat kepada teman-teman nya.


"Apa kau sudah mengetahui pelakunya?"


Malik tersenyum getir memandang Ronald dan Shahmeer, membuat temannya menelan ludah menunggu jawaban darinya. Mereka sungguh tak menyangka jika Edel yang akan meminumnya. Mereka bingung bagaimana menjelaskannya pada Malik jika dia tahu merekalah pelakunya.


"Semua sudah diurus oleh orangku. Aku tidak mau menemuinya, jika aku menemuinya aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku," jawabnya.


Ronald menelan ludah, dia panik teringat temannya Farhan dan Mike, karena merekalah yang memasukan obat itu ke dalam minuman yang diminum Edel. Dia langsung berdiri dan pamit ke kamar mandi.


Ronald berusaha menghubungi farhan dan Mike tapi tak kunjung diangkat. Dia terus mencoba menghubungi mereka tapi tetap tidak diangkat juga, hati dan pikirannya langsung panik. Akhirnya ia mengirim pesan pada Shahmeer,


Aku tidak bisa menghubungi Farhan maupun Mike.


Ronald kembali dengan wajah yang sulit diartikan, cemas, takut, panik semua menjadi satu.


"Apa kau sakit? kau terlihat pucat," Queenzha mendekati Ronald yang masih berdiri dan meraba dahinya, tubuh Ronald terasa dingin dan berkeringat.


"Tidak, aku tidak sakit. Hanya sedikit lelah," ujarnya berusaha terlihat normal, dia tidak ingin kekasihnya mengetahui lebih banyak.


"Duduklah, biar aku bawakan minuman hangat untukmu," titah Queenzha membopong Ronald duduk. Jantung Ronald berdebar kencang bukan karena dibopong kekasihnya tapi karena dia merasa Malik sedang memperhatikannya.


"Sebaiknya aku ke bawah lagi, Deo mungkin akan mencari kita di sana," kata Shahmeer berdiri lalu pergi melangkah keluar kamar Edel, tanpa menghiraukan Ronald yang sedari tadi berusaha memintanya mengajaknya.


Tinggal mereka berdua yang berada di ruang keluarga, Queenzha masih belum kembali mengambil air dan waktu terasa berjalan amat lambat bagi Ronald.


Malik mengeluarkan ponselnya dan menerima telepon di hadapan Ronald. "Bereskan saja, aku tidak mau dia melihat matahari besok," tegas Malik membuat temannya semakin tegang dan berkeringat. Malik sesekali melirik Ronald yang bertingkah sangat aneh.


"Kau sakit?" tanya Malik melihat wajah Ronald pucat pasi dan menyimpan ponselnya di meja.


"Si ... siapa yang menghubungimu, a-a-apa itu berhubungan dengan pelakunya?" Ronald tergagap, dia tahu dan sangat sadar sedang berhadapan dengan siapa. Malik hanya tersenyum seolah dia berkata 'ya' dengan senyumannya.


Ronald tak dapat menahan keterkejutannya, dia menutup mulutnya memandang Malik.


"Kau kenapa, kau bersikap aneh sejak tadi?!"


Ronald tak mampu menjawab dan untunglah Queenzha datang membawakan air hangat untuknya.


"Minumlah, mungkin kau terlalu banyak minum semalam dan makanmu tidak teratur," perasaan cemas terdengar jelas dari suaranya. Ronald tersenyum, hatinya sedikit terasa hangat mendengar suara kekasihnya.


Pandangan Queenzha beralih ke Malik. "Apa kau sudah menemukan pelakunya?" tanyanya tanpa menyadari jantung Ronald kian berdebar.


Kenapa kau harus menanyakan itu!. batin Ronald.


"Sudah, tapi dia hanya seorang pelayan yang memberinya minuman itu," ujar Malik menatap kosong meja di depannya.


"Lalu?" tanya Queenzha belum puas dengan jawaban Malik.


"Kau sudah tau dalang di balik ini semua?" tanyanya. Nafas Ronald semakin tak teratur, dia mengambil minum untuk menenangkan diri.


"Ya, tentu," jawab Malik membuat Ronald tersedak.


Queenzha membantu Ronald yang tersedak minum. "Kau seperti anak kecil saja, minumlah pelan-pelan," ketusnya.


Malik menatap Ronald, mulai mencurigai temannya karena dia bersikap aneh setiap kali membicarakan pelaku atau dalang di balik kejadian yang menimpa Edel.


"Bolehkah aku berbicara denganmu berdua saja?" tanya Malik yang membuat jantung Ronald seperti mau meledak.


"Oke, aku akan melihat Edel. Biarkan aku yang menemaninya malam ini, aku pikir itu lebih baik dari pada kamu yang menemaninya," ujar Queenzha meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga. Malik juga berpikir itu lebih baik mengingat mereka belum menikah.


Kumohon jangan tinggalkan aku. batin Ronald. Dia melihat kekasihnya yang menghilang di balik ruangan sebelum ke kamar tidur Edel.


"Ayo kita berbicara di kamarku saja," ajak Malik berdiri melangkah ke dalam kamar untuk melihat kekasihnya yang tertidur pulas dan berpamitan pada Queenzha.


Begitupun Ronald, dia mengikuti Malik ke dalam kamar Edel untuk berpamitan pada kekasihnya lalu mengikuti Malik ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Edel.


"Kau kenapa, sikapmu aneh sekali sejak tadi. Apa kau dalang di balik semua ini?" tanyanya to the point setelah mempersilahkan Ronald duduk di kursi ruang keluarga kamarnya.


"Ba-bagaimana mungkin aku melakukannya padamu," jawab Ronald gagap.


Malik mengambil ponselnya mencari sesuatu dan menyodorkannya pada Ronald. "Lihatlah, aku tahu siapa yang sedang berbicara dengan pelayan itu."


Ronald mengambil ponsel Malik dan melihatnya, wajahnya sedikit samar karena tertangkap CCTV agak jauh tapi tak bisa di bantah itu adalah Farhan. Ronald memejamkan matanya menghembuskan nafasnya lewat mulut, mencari kata yang tepat untuk menjelaskannya pada Malik. Dia benar-benar ga bisa mengelak lagi.


"Iya ini Farhan, tapi dia menyuruh memberikan minuman itu pada Kate bukan pada Edel," akhirnya perasaan lega mulai merasuki hati Ronald.


Malik memandang tajam Ronald menunggu penjelasan lebih. Ronald menelan ludah paksa, mengerti maksud pandangan Malik padanya lalu menghembuskan nafas sembarang. dia perlu mengisi oksigen banyak-banyak ke paru-paru nya agar bisa lancar menjelaskan semuanya.


"Awalnya kita berencana memberi Aphrodisiacs pada Kate karena kita tak yakin pernikahan Deo atas dasar dia mau. kita hanya ingin memastikan saja, lagian mereka sudah menikah tak ada yang salah jika melakukannya toh mereka sudah menikah. Tapi pelayan itu salah mengerti, dia malah memberikannya pada Edel. Bukan salah kami jika dia yang meminumnya," terangnya. "lagian kau sudah membantunya, dan dia sekarang baik-baik saja kan. Jadi ayolah kau tak usah sekejam itu pada pelayan itu walaupun dia yang salah tapi kau ga boleh melenyapkannya begitu saja. Pikirkanlah mungkin dia punya keluarga yang harus dia tanggung, jika dia kau lenyapkan bagaimana dengan keluarganya," balik memojokan Malik.


Malik tertawa mendengar semua penjelasan Ronald. "Jadi kalian yang bermain denganku, kalian melakukan permainan yang menjijikan?!" geram Malik. "Kau tahu bagaimana rasanya melihat kekasihmu dalam pengaruh Aphrodisiacs, kau tahu bagaimana rasanya melihatnya penuh gairah dan menggodaku? aku lelaki normal kawan!" Malik menaikan volume suaranya, dia ingat bagaimana cara Edel menatapnya, membelai wajahnya menariknya hendak menciumnya, hampir saja dia mencium bibir Edel. Mungkin kekasihnya tidak akan marah tapi dia ingin melakukannya dalam keadaan sadar bukan dalam pengaruh Aphrodisiacs.


"Tapi kau berhasil bertahan kan dan itu sudah berlalu jadi ya sudahlah bebaskan saja pelayan itu. Tak usah kau memperpanjang urusan dengannya, kasian dia hanya seorang pelayan!" elak Ronald.


Ingin rasanya dia memukul Ronald karena menyepelekan akibat dari ulahnya. Tapi dia tahan, dia tak ingin memperkeruh suasana hatinya.


Malam itu Malik tak bisa tidur, dia masih merasakan hangatnya tangan Edel dan wangi nafasnya ketika mereka hampir berciuman.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰