
Edel sudah berada di dalam pesawat yang akan membawanya ke negara A, dia di temani sang Ibu, Mrs. Soe. Edel memang sudah menikah secara agama dan negara dengan Malik tapi tetap saja negara A akan menggelar kembali pernikahan mereka sesuai adat negaranya.
Seperti di negara kerajaan lain di dunia, aturan menjadi anggota kerajaan dimulai ketika dia atau mempelai mengatakan 'bersedia' menikah dengan seorang anggota kerajaan saat di pelaminan dalam kasus Edel yaitu saat semua orang mengatakan 'sah' saat ijab-kabul pernikahan selesai terucap.
Mrs. Soe memeluk putri kecilnya, dia memberikan kekuatan pada putrinya lewat pelukan karena sebentar lagi saat landing dan Edel menginjakan kaki di negara A dia bukanlah Edel yang dulu lagi, dia telah menjadi pasangan seorang Pangeran yang semua tindakannya ataupun sikapnya diharapkan menjadi panutan bagi semua masyarakat tidak hanya di negara A tapi juga di dunia.
Secara hukum pun dia tak dapat lagi di panggil dengan hanya nama depan atau sapaannya saja, dia hanya dapat di panggil dengan 'Her Royal Highness' mengiringi namanya.
"Honey, kau siap?" Malik menghampiri mereka dan duduk di sebelah istrinya, "sebentar lagi kita landing."
Edel hanya mengangguk, dia menarik nafas dan membuangnya pelan. Dia sungguh berharap mempunyai mesin waktu untuk melompati waktu saat ini ke hari atau Minggu berikutnya.
Malik menggenggam tangan Edel dan tersenyum.
Pesawat telah landing, Malik berdiri di depan pintu bersama Edel. Telah diinformasikan padanya jika banyak wartawan dan masyarakat yang antusias menyambut mereka di bandara dan di luar bandara. mereka akan menggunakan mobil Range Rover Landaulet, sejenis mobil Limosin dengan atap terbuka yang hanya pada bagian penumpangnya saja. Mobil ini telah dimodifikasi sedemikian rupa agar Pangeran Malik dan istrinya tidak harus berdiri tetapi duduk ketika menyapa masyarakat yang telah menanti mereka sepanjang jalan menuju Istana.
Edel mengikuti Malik yang melambaikan tangannya ke arah masyarakat yang menyambut mereka. Dia mencoba tersenyum walaupun sulit karena rasa gugupnya bertambah.
Edel disambut dengan meriah sesuai protokol kerajaan negara A. Mrs. Soe sampai menangis haru melihat anaknya disambut dengan begitu meriah bahkan oleh seluruh masyarakat di sana.
"Ya Allah sungguh besar nikmat yang kau beri pada kami, terimakasih Ya Allah," gumam Mrs. Soe tangannya terus berpegangan dengan Mr. Soe.
Dareen dan Emilly bergabung dengan masyarakat negara A yang menyambut kakaknya sebagai pasangan Pangeran Malik, Ia telah berada di Negara A sejak dua hari setelah pernikahan kakaknya di gelar di Indonesia.
"Selamat datang di keluarga kami, anakku," bisik Ibunda Ratu saat Edel mencium tangan dan berpelukan dengan Ibunda Ratu.
***
Keluarga Soe tidak menginap di Istana karena beberapa hal, mereka menginap di kediaman teman mereka keluarga Ommar.
"Kita sungguh akan menjadi keluarga," ucap Mr. Ommar pada temannya Mr. Soe melirik kedua anak mereka yang sedang berebut remote tv.
Darren dan Emilly sedang dalam hubungan yang serius, sudah berlangsung beberapa bulan sejak pertemuan keluarga di Swiss. Walaupun mereka berkuliah di beda negara tetapi masih bisa bertemu tiap akhir pekan.
***
Edel masuk ke dalam kamar Malik untuk pertama kalinya sebagai istrinya. Interior kamarnya telah berubah, foto pernikahan mereka terpajang di dinding kamar dalam ukuran yang sangat besar.
"Kau mengubah kamarmu untukku?" tanya Edel.
"Ya, kau suka. Aku melihat kamarmu yang di Bandung dan di Jakarta tak terlalu berbeda jauh dari interior dan dekorasinya. Jadi ku pikir kau menyukai dekorasi seperti itu," ungkap Malik.
"Bagiku kamar adalah tempat untuk beristirahat, aku tak terlalu suka jika kamarku terlalu wah atau berlebihan, aku suka yang simple," sahutnya.
"Mau kau duluan atau aku yang ke kamar mandi. Tapi sebaiknya aku duluan saja yang membersihkan badanku," Malik merasa badannya sudah sangat lengket dan gerah dia sungguh tak nyaman.
"Baiklah," jawab Edel menyimpan tas tangannya di meja.
"Bolehkah aku pinjam laptopmu?" tanyanya pada Malik yang sudah berada di kamar mandi.
Tidak terdengar suara jawaban dari Malik, Mungkin dia terlalu sibuk membersihkan diri, pikir Edel.
Edel masuk ke ruang kerja Malik dan mengambil laptop Malik, tapi percuma saja dia tak bisa memakainya. Malik menggunakan password yang Edel tidak tahu sebagai pengamannya.
"Kenapa kamu terlihat bingung menatap laptopku?" tanya Malik.
Edel melirik suaminya yang baru keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Sungguh pemandangan yang membuat jantungmu akan berdegup kencang.
"Kenapa kau tidak memakai bajumu di ruang ganti saja?" tanya Edel melihat Malik berganti baju di depannya, dia melupakan laptopnya yang masih terkunci.
"Kenapa? aku biasa memakai baju di sini," ujarnya.
"Tapi kan ada aku di sini," ketus Edel.
"Kenapa memangnya? kau kan istriku."
Edel tidak menjawab lagi setelah Malik berkata begitu dan lebih memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Ya, mereka suami istri sekarang tidak masalah bahkan saat melihatnya tak memakai baju sekalipun. batin Edel kesal.
"Mau menonton denganku?" tanya Malik saat melihat Edel keluar kamar mandi. Malik telah menyiapkan bantal dan selimut di sana, seakan dia telah merencanakan semuanya.
"Tidurlah, besok kita akan sangat sibuk."
Malik melihat Edel sudah tertidur pulas saat ia menyuruhnya tidur. Kini Malik tahu jika istrinya mudah untuk tertidur begitu kepalanya nempel di bantal.
"Dia selalu saja meninggalkanku tidur," gumamnya mematikan tv dan memeluk istrinya.
***
Hari keempat di negara A, Edel dijadwalkan bertemu desainer yang akan mengurus semua pakaiannya dan MUA untuk acara resepsi beberapa hari lagi.
Hari ini jadwalnya tidak terlalu padat seperti hari sebelumnya yang mengharuskannya bertemu dengan para tetua kerajaan, menyapa mereka dalam beberapa acara.
Dalam kehidupan nyata, berhubungan dengan seorang pangeran atau bahkan menikah dengan seorang pangeran tidaklah seindah seperti dalam film-film Disney. Ada pengorbanan besar bagi seorang wanita setelah memutuskan untuk menjadi istri dari seorang pangeran. Begitu juga dengan Edelweiss, dia harus berurusan dengan banyaknya perhatian dan berbagai aturan yang mengikatnya dan tak hanya itu, pengorbanan terbesarnya adalah kebebasannya. Dia menukar kebebasannya dengan berkomitmen menjadi istri Pangeran Malik.
Edel di temani Ibunda Ratu dan Mrs. Soe untuk fitting gaunnya.
"Hai Kate," Edel senang begitu melihat Kate ada di sana.
"Hallo Her Royal Highness princess Edelweiss Malik Ibrahim," sapanya.
Edel tersipu dan merasa kurang nyaman saat Kate menyapanya dengan sangat formal. Tapi itu semua adalah aturan yang harus dia dan teman-temannya ikuti.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Edel mencium bersalaman mencium pipi kanan dan kiri lalu memeluknya.
"Senang akhirnya bisa bertemu denganmu," bisiknya, Kate tersenyum melihat temannya. Dia juga senang akhirnya ada teman yang dekat dengannya di negara yang masih asing untuknya.
"Sangat baik Yang Mulia, sungguh suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda," ucapnya sedikit membungkuk.
Mereka tidak hanya melakukannya karena protokol tapi juga karena banyaknya kamera yang selalu mengintai Edel mencari celah untuk pemberitaan yang menggemparkan.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
Stay safe everyone ... . 🥰