
Gorden kamar sengaja di buka Malik agar masuk cahaya pagi, dan jendelanya pun dibuka sedikit olehnya.
Pukul 06.30 waktu Singapore perlahan Edel membuka matanya. dia melihat malik samar, memejamkan matanya lagi. Malik?!. pikirnya.
dia terperanjat melihat Malik di dekatnya.
"Malik ngapain kamu di sini!" teriaknya menarik selimut menutupi tubuhnya.
"Aku membaca, menunggumu bangun," ujarnya santai.
"Ah, kepalaku sedikit pusing. Aku kaget melihatmu jadi langsung kebangun," gumam Edel memijat dahinya.
"Minumlah," Malik memberikan segelas air putih untuknya.
"Terima kasih," ucap Edel meminum air yang Malik beri.
"Jam berapa ini?" tanya Edel melihat di luar hari sudah terang.
"Setengah tujuh," jawab Malik melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Aku lelah sekali."
"Mau aku pesankan spa?" tanya Malik.
"Tidak, Nanti juga lelahnya hilang," ucapnya
"Kenapa kamu memandang ku seperti itu?!" tanya Edel ketus.
"Kamu cantik sekali, aku baru melihatmu bangun tidur," ujarnya
"Mulai deh gombalnya!" ketus.
"Aku ke toilet dulu," lanjut Edel bangun melangkah masuk kamar mandi.
seperempat jam kemudian,
"Honey, kamu mandi?" tanya Malik dari depan pintu kamar mandi.
"Honey ... ," tidak ada jawaban dari dalam.
Malik langsung membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci Edel. terdengar suara air shower ketika pintu dibuka, Malik langsung menutupnya kembali.
"Mungkinkah kedap suara?" tanyanya pada diri sendiri. dia kembali ke tempat duduknya melanjutkan membaca buku. Sesekali dia melirik keluar jendela, Pagi yang cerah. batinnya.
Edel keluar menggunakan bathrobe, terlihat sangat sexy dengan rambutnya yang di ikat Cepol sembarang, beberapa helai anak rambut bermain di pelipisnya.
Malik tersenyum melihat Edel tetapi kekasihnya tidak memperdulikan lirikannya, dia terus memandangnya. Edel dengan cepat membawa kopernya masuk kembali ke kamar mandi.
Ih, malu sekali dilihatnya!. gumam Edel dalam hati.
Edel keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian casual, rambutnya masih di ikat Cepol.
"Aku lapar," ujarnya pada Malik.
Malik menghentikan aktivitas nya menghampiri kekasihnya.
"Kamu cantik sekali," pujinya.
"Ayo," lanjutnya diikuti Edel keluar kamar.
Malik menelepon pelayan meminta sarapan diantar ke kamar mereka.
"Malik kita makan di luar yu," ajaknya.
"Ok."
"Terimakasih telah mengajakku ke sini," ucap Edel melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Kenapa kamu tidak memesan menu nasi?" lanjutnya.
"Ok, aku pesankan," berdiri hendak memesan.
"Malik, ga usah. ini aja!" teriaknya.
"Aku pesankan nasi ya."
"Ga usah, duduklah kita sarapan ini aja," jawab Edel.
"Kamu mau berenang?" tanyanya tiba-tiba.
"Tidak, aku sudah mandi," jawab Edel mengoleskan selai ke rotinya.
"Kalau begitu, temani aku berenang," pinta Malik.
"Ok," jawabnya singkat.
"Kapan bunda dan ayah ke sini?" tanya Malik.
"Katanya penerbangan mereka jam sepuluhan, mungkin duhur baru nyampe sini," terang Edel, "kenapa?" tanyanya balik.
"Mau menjemput?"
"Boleh," kata Edel melirik Malik.
"Apa orangtuamu akan memarahiku soal kemarin?" tanyanya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, dia ingat ucapan Mr. Soe saat depan kolam.
"Mungkin," jawabnya singkat. Edel melihat raut muka Malik yang takut.
"Apa kamu takut?, mereka ga akan memarahimu. Lagian saat Azmy memelukmu aku juga ada di sana jadi ya setidaknya aku tahu kejadian yang sebenarnya," lanjutnya.
"Maafkan aku," ucapnya.
"Tak apa, asal jangan kamu aja yang memeluknya!" tegas Edel.
"Aku dari tadi ga lihat Pangeran Ammar, pada kemana?" lanjutnya. Mencoba mengalihkan pembicaraan, dia suka tiba-tiba kesal jika berbicara menyangkut Azmy.
"Jalan, tadinya mau mengajakmu tapi belum bangun," ungkapnya.
"Kenapa tidak bangunkan aku!" katanya Edel.
"Aku udah bangunin, tapi ga bangun," jawab Malik santai.
"Maaf," kata Edel tersenyum mencondongkan badannya ke samping Malik.
"Bukannya tadi mau berenang?".
"Uuuuuuhhhhh.. mau melihatku berenang ya ... ," goda Malik menyolek hidung Edel.
"Apaan sih, bukannya tadi bilang mau berenang!" seru Edel cemberut
"Nanti sore aja. Ayo jalan."
"kemana?".
"Sekitar sini aja," ujarnya.
"Aku habiskan dulu sarapanku ya," sahut Edel meminta izin.
***
Rencananya mereka akan melihat ArtScience Museum tapi sayang belum di buka, kebanyakan wisata di Singapore mulai buka pukul sepuluh waktu setempat. Akhirnya mereka hanya berjalan mengikuti langkah kaki, sampai ke Merion Park.
"Malik, ternyata kita berjalan sangat jauh. Aku ga yakin bisa kembali dengan berjalan kaki ke sana," ujar Edel melihat Marina Bay Sands jauh di depannya.
"Tenang saja, Aku akan menggendong mu," godanya merangkul Edel.
"Aku tak yakin kamu kuat menggendongku sampai sana," sindirnya.
"Mau aku buktikan sekarang?".
"Ga usah, nanti malah aku yang repot!" tolak Edel ketus.
"Malik, coba hubungi Putri Syahara," pintanya.
"Tanyakan dia di mana sekarang. Rasanya kurang seru jika kita ke sini bersama tapi jalan terpisah," lanjutnya.
"Dia ada di belakangmu, tuh," tunjuk Malik. Edel langsung berbalik dan melihat Pangeran Ammar berlari.
"Wwoooowww," kata Edel memeluk Pangeran Ammar yang berlari ke arahnya.
"Kau merindukanku Pangeran kecilku," tanya Edel.
"Hei ... hei ... , kamu berani sekali memeluknya di depanku, jagoan!" seru Malik tersenyum, mengacak rambut Pangeran Ammar.
Mr. Fredrik tertawa. "Hahahaha.. anakku sudah besar," merangkul Putri Syahara.
Mereka banyak mengambil foto di sekitar Merion park dan menertawakan ulah Pangeran Ammar yang selalu mengikuti Edel kemanapun dia bergerak.
"Mau ke Disneyland?" tanya Mr. Fredrik.
"Yeeeehhhh ... , ayo Tante kita main ke Disneyland," ajak Ammar menggoyangkan tubuhnya di pangkuan Edel.
"Boleh?" tanya Edel melihat Malik.
"Bukankah kamu mau menjemput bunda dan ayah?" tanyanya.
"Kalau begitu gimana kalau janjian di sana aja," ujar Putri Syahara, dibalas anggukan oleh Malik.
"Ayo balik ke hotel, kita siap-siap," ajak Mr. Fredrik.
Malik melihat Edel lebih sering tersenyum sendiri atau terkadang dia tertawa kecil sepanjang jalan menuju Marina Bay Sands.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanya Malik melihat kekasihnya sering tertawa kecil.
"Engak," sahut Edel.
Tak berapa lama kemudian,
"Bolehkah aku tahu kenapa kamu dari tadi senyum-senyum sendiri?" kata Malik penasaran karena Edel tetap tersenyum-senyum sendiri.
"Ehmm ... , cuma seneng aja liat mereka," jawab Edel menunjuk Putri Syahara dan suaminya berjalan bergandengan.
"Sini, kita juga bisa seperti itu!" ajak Malik mengaitkan tangan Edel di lengannya.
"Malik, seru kali ya jika kita nanti sudah punya anak, kamu menggendong anak kita seperti Mr. Fredrik memangku Pangeran Ammar di pundaknya," ungkap Edel tertawa kecil membayangkannya.
"Ayo, kapan?!" seru Malik.
"Apanya?".
"Ya bikin nya, bukankah sebelumnya kita harus bikin dulu?" cetus Malik.
"bikin apaan?!".
"Ya bikin anak," bisiknya tersenyum.
"Ih, dasar mesum. masih pagi udah mikir begitu aja!" protes Edel.
"Yang pertama itu ya ... nikah dulu lah," lanjutnya.
"Ayo nikah," ajak Malik.
"Ayo," sahut Edel cepat.
Malik menghentikan langkahnya menarik tangan Edel.
"Aku serius," kata Malik.
Mr. Fredrik menghentikan langkah putri Syahara, menyuruhnya berbalik melihat adiknya.
"Aku juga serius," sahut Edel tersenyum.
"Benarkah, benarkah kamu setuju jika kita menikah secepatnya?" tanyanya.
"Iya," sahut Edel mengangguk.
Malik langsung menarik Edel ke dalam pelukannya.
"Coba bilang sekali lagi?" pinta Malik.
"Iya, aku mau menikah denganmu. Ayo kita menikah," sahut Edel.
Putri Syahara yang menyaksikan mereka berdua memvideokan saat adiknya mengajak seorang gadis menikah. Air matanya keluar, dia menangis haru.
"Terimakasih ... terimakasih, sayang," ucap Putri Syahara menghampiri memeluk Edel.