
Sudah seminggu sejak pengumuman resmi pertunangan mereka di keluarkan pihak Istana. Edelweiss juga sudah mulai bekerja lagi, dia disambut meriah oleh para karyawannya. Hari pertama dia kerja banyak sekali yang mengirimkan buket bunga dari para rekan dan klien perusahaan.
"Ko gw ngerasa kerjaan gw tambah banyak ya sejak pertunangan Lo diumumkan," cetus Mita menyender di sofa ruang kerja Edel. "banyak banget perusahaan yang antri mau kerja sama dengan kita."
"Ya syukur kalo banyak yang mau kerjasama," menyuapkan makanan ke mulutnya.
Mita membenarkan posisi duduknya. "Bahkan nih ya, perusahaan Miracle yang terkenal kejam dalam bisnis dia ikutan antri mau kerjasama bareng, nyampe pa Ariq tertawa terbahak saat gw kasih tau dia."
"Masa sih, gw baru tau," jawabnya santai.
"Bukannya gw dah kasih dokumen kerjasamanya sama lho ya," ujar Mita
"Gw belum lihat," jawabnya.
"Lo kenapa, ko gw perhatiin dari tadi Lo makan sambil ngelamun. Ga semangat mukanya, ga seru deh!" ketus Mita, tidak biasanya dia seperti itu apalagi saat saham perusahaan naik pesat yang harusnya membuat wajahnya ceria.
"Gw cuma lelah aja kayanya, mungkin gw belum terbiasa dibuntutin!" serunya.
"Buntutin?! Sapa yang berani buntutin Lo?" kata Mita menaikan nada bicaranya.
"Tuuuhhh ... ," bibirnya dimoyongkan menunjuk ke arah pintu. Mita menoleh mengikuti arah yang ditunjukan temannya.
"Oohhh ... , hehehe ... gw kira sapa. Bilang aja ke Malik kalo Lo ga mau di kawal," ujarnya.
"Udah, katanya itu protokol buatku."
"Nikmatin aja, anggap aja mereka asap, atau kaca transparan, ga keliatan," saran Mita tertawa menertawakan perkataannya sendiri. "dah jam dua lagi aja, gw balik dulu ya. Ga usah dipikirin, anggap aja ga ada."
Edel mengangguk pelan melihat Mita keluar dari ruangannya. Rasanya lelah sekali tapi bukan fisiknya yang lelah, hatinya lah yang lelah dengan semua kejadian yang terjadi akhir-akhir ini.
"Come on Edel, ini baru permulaan. Semangatlah ... , its your choice," gumamnya pada diri sendiri.
Dia berdiri kembali ke meja kerjanya mengerjakan semua pekerjaan yang menumpuk. Benar kata Mita, semakin maju perusahaanmu semakin besar tanggung jawab kepada klien dan menumpuklah pekerjaan yang harus kamu kerjakan.
Sesekali Edel melihat ponselnya yang belum juga berbunyi. Hari ini Malik mengikuti kegiatan militernya, ponselnya pasti disilent. Terkadang Edel merasa terganggu jika Malik terus mengirim pesan padanya atau sering menghubunginya lewat telepon, tapi saat dia tidak menelepon nya ataupun mengirim pesan rasanya sepi sekali.
Edel membuka media sosial nya, dia tersenyum memandang foto profil Malik yang telah dia ganti juga melihat instastorynya,
foto dua cincin yang bertumpuk di atas lembaran Al-Qur'an. foto itu diambil Malik saat mereka mengaji bersama di rumahnya. Ia menambahkan caption "Bismillah" .
"Aku merindukanmu," lirihnya mengelus foto itu di layar ponselnya. Edel juga mengganti foto profil nya dengan foto yang sama.
***
Pukul 07.30 WIB, kediaman keluarga Soe,
"Sayang, kau sudah pulang," Mrs. Soe melihat Edel dari balik majalah yang dia baca.
"Assalamualaikum bunda," Edel memberi salam.
"Wa'alaikumsalam, bersihkanlah dulu badanmu, bunda mau menyiapkan makan malam dulu," titahnya, membereskan beberapa majalah di depannya dan masuk ke dapur.
Edel yang sudah sangat letih langsung menuju kamarnya, dia ingin secepatnya berendam dalam bathtub menikmati berendam dalam air hangat agar lelahnya hilang.
Satu jam kemudian mereka telah berkumpul di meja makan. Mereka makan dengan khidmat tanpa berbicara, kalau tidak maka akan dapat Omelan dari Mrs. Soe.
"Sayang, nanti lusa tolong jadwalkan buat ke butik ya buat baju pengantinmu," ujarnya setelah selesai membereskan peralatan makan.
"Sayang, ini adalah pernikahanmu sekali seumur hidup. Kami ingin memberikan yang terbaik untukmu di hari pernikahanmu nanti, jika kamu punya impian gaun atau kebaya buat pernikahanmu dari perancang impianmu katakanlah, kita akan menemuinya untuk membuatnya," pinta Mrs. Soe. "anak temen bunda kemarin, kebayanya di rancang sama desainer asal Semarang itu lho, Bunda punya fotonya."
Mrs. Soe mengambil tabnya dan duduk di sebelah Edel di ruang keluarga. "Nih, coba kamu lihat, Bagus kan. sederhana namun elegan."
"Bunda, kita pakai adat Sunda aja ya," pinta nya. "
"Hahahaha ... , ayah setuju denganmu. Saat bundamu menikah dia terlihat sangat cantik memakai singer," ucap Mr. Soe mengingat kembali moment berharga dalam hidupnya.
"MUA nya gimana?, kamu punya rekomendasi atau impian gitu pengen pake MUA siapa?" tanyanya lagi.
"Aku nurut aja. Bunda, pokonya bunda yang urus aja ya. nanti kalau aku ingin sesuatu pasti bilang ko."
Mrs. Soe agak cemberut mendengar anaknya yang kurang bersemangat ketika membicarakan persiapan pernikahannya.
"Bunda, ayah, aku ke kamar dulu ya. aku lelah banget hari ini," pamit Edel mencium ayah dan bundanya lalu meninggalkan mereka yang saling pandang.
"Ayah, apa sesuatu terjadi dengannya?, ko rasanya beda ya. Biasanya semua gadis yang mau menikah akan bersemangat ketika menyiapkan pernikahannya," ungkap Mrs. Soe.
"Dia hanya kelelahan saja tak usah terlalu dipikirkan, lagian dia masih masa penyembuhan wajar saja jadi kurang bersemangat di tambah banyak proyek kerjasama yang sedang dan akan ditangani perusahaan." sahut Mr. Soe mencoba berkhusnudzon.
"Begitu ya yah," Mrs. Soe cemberut tidak puas dengan jawaban suaminya.
***
Selesai makan malam, Malik langsung menuju kamarnya. Dia merasa kurang bertenaga mungkin karena dua minggu yang lalu dia kurang bergerak dan berolahraga hanya menemani kekasihnya di kamar rawat juga seminggu ini dia belum sempat ngegym, jadwalnya padat sekali.
Dia mengambil ponselnya dari nakas, melihatnya lalu mengetikan sebuah pesan tapi dia tertidur sebelum mengirimkannya.
.
.
.
Di kamar yang lain, Edel menunggu kekasihnya menghubunginya, dia merasa enggan menghubungi duluan. Mengambil tab nya dan melihat style kebaya ataupun gaun untuk pernikahannya.
Sebenarnya dia ingin melihat lebih kebaya yang tadi di perlihatkan oleh Mrs. Soe hanya saja dia merasa malu walaupun itu dengan bundanya sendiri.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, hampir dua jam dia melihat berbagai model kebaya dan gaun untuk pernikahan. Edel menyimpan beberapa gambar kebaya dan gaun lalu mengirimkannya pada Malik, dia ingin meminta pendapat Malik tentang kebaya yang akan dia kenakan nanti.
"Apa dia udah tidur?" gumamnya karena kekasihnya tak kunjung membalas pesannya, jangankan membalas dilihat aja belum, Edel melihat jam. "ini baru jam sembilan, ah ... , aku selalu lupa kita beda negara."
Edel menarik selimutnya dan tertidur tanpa menyadari ada seseorang dibelahan bumi lain yang sedang memandang fotonya dengan Malik saat Photocall di rumah sakit.
"Apa aku harus merelakanmu atau memperjuangkanmu, harusnya aku yang berada di sampingmu bukan dia," gumamnya.
*****
Terima kasih sudah membaca 🥰🥰, jangan lupa like dan komen juga jadikan novelku salah satu bacaan favoritmu ❤️.
kasih rate juga ya ⭐⭐⭐⭐⭐ 😉🙏
Tetap sehat semuanya ... .