
Sidang putusan terdakwa Shopia Felix Beltran atas pembunuhan berencana akan digelar hari ini pukul 10 pagi waktu negara A.
Hari masih pagi namun tak menyurutkan para wartawan dalam melaksanakan tugas mereka. Wartawan dari berbagai belahan dunia telah memenuhi depan kejaksaan agung tempat pengadilan kasus pembunuhan berencana terhadap pangeran Fatih dan istrinya Putri Grizelle akan di gelar.
Masyarakat pun berbondong-bondong tak ingin ketinggalan, mereka dari berbagai kota mulai turut berdatangan untuk menyaksikan langsung putusan pengadilan terdakwa kasus pembunuhan berencana tersebut.
Mereka membawa spanduk yang beraneka ragam bentuk dan ukuran, semuanya meminta agar terdakwa kasus pembunuhan tersebut dihukum seberat-beratnya.
Shahmeer telah bersiap berangkat menuju kejaksaan agung tempat ibunya akan menerima hasil putusan sidang hari ini. Dia menggunakan kemeja biru dengan gaya menggulung lengannya hingga ke atas sikut. Dia ingin terlihat lebih santai dan stylish, berharap Edel datang dan melihatnya.
Ponselnya telah berbunyi lebih dari empat kali, namun sepertinya dia masih enggan mengangkatnya.
"Tuan, ada telepon dari nona Azmy," asisten rumah tangganya menghampirinya membawakan dan menyerahkan gagang telepon padanya.
Shahmeer menghela nafas, dia tau jika tadi yang menghubungi ponselnya adalah adiknya, Azmy. Dia lupa jika Azmy juga bisa menghubunginya lewat telepon rumah.
"Ya, assalamu'alaikum," sapa Shahmeer pada adiknya.
"Kenapa teleponku tidak kau angkat. Apa kau sedang kesal padaku gara-gara kejadian kemarin!" ujarnya dengan nada kesal.
"Ada apa kamu meneleponku pagi-pagi. Aku tidak kesal padamu, lagian aku tidak ingat lagi kejadian kemarin yang mana?" kilahnya.
"Kapan kau pulang. Aku kesepian di sini sendiri," keluhnya.
"Sendiri?!" kata Shahmeer penuh tanda tanya.
"Aku merindukanmu. Aku sangat kesal, Ayah selalu saja menghubungiku tiap setengah jam sekali, aku kan bukan anak kecil lagi yang harus selalu diawasi!" keluhnya lagi.
"Beliau takut kamu kenapa-kenapa, makanya sering menghubungimu," ujar Shahmeer lembut.
"Ayolah, sudah cukup aku selalu dikawal bodyguard kemanapun aku pergi. Bukankah mereka juga bisa menjagaku dan langsung menghubunginya kalau terjadi sesuatu padaku."
"Ayah sangat menyayangimu makanya melakukan semua hal itu, jadi tidak usah kesal. Harusnya kamu bersyukur beliau melakukannya, tapi kalau kamu keberatan nanti aku akan menghubungi ayah memintanya jangan terlalu sering menghubungimu," kata Shahmeer berusaha menenangkan adiknya yang sedang kesal.
"Kakak, kapan kakak pulang. Apa pekerjaan di sana belum selesai juga!" rengeknya.
Shahmeer memejamkan matanya, memijat pelipisnya. Dia tidak mungkin memberitahunya jika dia akan menghadiri persidangan ibu kandung mereka yang menjadi terdakwa pembunuhan berencana.
"Ya, mungkin beberapa hari ke depan aku masih di sini. Akan aku usahakan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya."
"Baiklah, aku akan menunggumu. Aku ikut festival di kampusku, aku ingin kakak datang hari Minggu nanti," pintanya.
"Iya, akan aku usahakan pulang dan menghadiri acara festival di kampusmu," ujar Shahmeer. "maaf aku harus pergi, aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Ta-" belum selesai Azmy berbicara, Shahmeer telah mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Shahmeer memandang tv di depannya yang sedang menyiarkan berita tentang ibunya. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin saat dia mengunjunginya di hotel prodeo tempat ia di tahan.
**flashback on**
Mata sayu Mrs. shopia memandang anak laki-laki di hadapannya. Ingin sekali dia membelai wajah tampannya dan memeluknya, namun terhalang kaca tebal diruang kunjungan tahanan yang memisahkan mereka.
Shahmeer tersenyum dingin melihat Mrs. Shopia dengan baju tahanan yang melekat di tubuhnya.
"Bagaimana kabarmu?" Suara bariton yang akan membuatmu jatuh hati itu terdengar dingin ditelinga Mrs. Shopia.
Mrs. Shopia tidak langsung menjawabnya hanya senyuman yang terlihat dipaksakan terukir di bibirnya.
"Apa kau menikmati hukumanmu?" nada suara itu semakin dingin seakan kau seperti berada di tengah musim salju dengan berpakaian musim panas.
"Apa kau kesepian?" tanyanya lagi.
"Bagaimana kabar Azmy?" tanya Mrs. Shopia lembut tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Shahmeer sebelumnya.
Shahmeer menyunggingkan bibirnya tersenyum.
"Syukurlah," jawab Mrs. Shopia lembut.
"Apa makanan di sini kurang enak hingga membuat suaramu terdengar lebih lembut seperti itu, atau kau sedang gugup dengan putusan sidang besok hingga suaramu melemah?" sindirnya.
"Shahmeer Zephyr, anakku," ucapnya penuh kelembutan.
"Ooohhh ... hahahah ..., aku bukan anakmu nyonya Beltran. Ibuku sudah meninggal," tegas Shahmeer.
Mrs. Shopia hanya menatapnya penuh kesedihan.
"Maafkan ibu 'nak," suara lembutnya seperti tertahan di tenggorokan.
"Ibu, kau bilang ibu. Apa ketika kau meninggalkan kami dulu, kamu mengingat kami sebagai anakmu yang menunggumu selama belasan taun. Sekarang kau mengakui sebagai ibu kami. Apa urat malumu sudah putus, apa mukamu sudah sangat tebal atau aku yang salah dengar?!" murka Shahmeer.
Mrs. Shopia menunduk, tangannya mengusap air mata yang lolos dari sudut matanya.
Shahmeer melihat wajah yang masih terjaga awet muda itu mulai basah oleh air matanya. Dia menyunggingkan senyuman.
Sungguh pandai sekali wanita ini berakting, aku tidak boleh lemah oleh air mata penuh kebohongan itu, batin Shahmeer.
"Berhentilah menangis, aku tidak akan terperdaya oleh air mata bulshit itu!" geram Shahmeer.
"Maafkan ibu 'nak," kata Mrs. Shopia terbata.
"Aku ke sini untuk melihatmu, melihat penderitaanmu, kesendirianmu, kesepianmu, semoga kau menyadari tentang kesalahan terbesarmu telah meninggalkan anak-anakmu hanya demi laki-laki itu."
Dari balik pintu terdengar ketukan jika waktu kunjungan sebentar lagi habis.
"Jagalah kesehatanmu, bagaimana pun itu adalah tubuh milik ibuku!"
Shahmeer berdiri keluar dari ruangan itu tanpa menoleh ke belakang lagi. tangannya mengusap air mata sesal yang mengalir dari sudut matanya.
**flashback off**
Shahmeer mengambil remote dan mematikan tv nya. Mengeluarkan ponsel dari dalam kantongnya dan mulai mengetikan sesuatu lalu mengirimkannya.
Dia bergegas keluar setelah melihat jam yang melingkar di tangannya.
***
Shahmeer bergegas menuju ruang persidangan. Teman-temannya telah menunggunya di sana, dia duduk di sebelah Deo. Dia mengedarkan pandangannya mencari seseorang dan tersenyum ketika telah menemukannya.
Malik dan Edel berada di kursi deretan depan. Edel berbalik ke belakang dan tersenyum melihat Shahmeer telah datang dan duduk bersama yang lainnya, Shahmeer membalas senyuman padanya.
Edel telah lama tahu jika terdakwa pembunuhan berencana pangeran Fatih atau Mrs. Shopia adalah ibu kandung Shahmeer. Edel tidak bermaksud menyembunyikannya hanya saja ketika dia tak sengaja mendengar percakapan Putri Syahara dan Ibunda Ratu, mereka berkata jika Mrs. Shopia adalah ibu kandung Shahmeer yang telah lama menghilang.
Kasian, pasti berat buatnya menghadapi ini semua. Bagaimana pun dia adalah ibu kandungnya, pikir Edel.
Saat persidangan akan dimulai, Mrs. Shopia keluar dari pintu khusus di sebelah ruangan dan duduk di meja yang telah disediakan bersama dengan pengacaranya.
Edel melihatnya dengan seksama karena inilah pertama kalinya dia mengikuti persidangan dan melihat Mrs. Shopia secara langsung.
Cantik, itulah kata yang pertama kali terlintas dibenak Edel ketika melihatnya.
Edel melihat dia mengedarkan pandangan, lalu tersenyum sekilas pada seseorang yang berada di belakang.
Mungkinkah dia tersenyum karena melihat Shahmeer hadir di persidangannya, gumam Edel dalam hati.
*****
Terimakasih telah membaca.🥰🙏
Stay safe everyone.❤️