
Terlihat Farhan menghampiri Mike dengan raut wajah yang tegang, dahinya berkeringat padahal suhu ruang ballroom sangat sejuk. Mike yang tidak tahu kejadian sebenarnya tersenyum.
"Gimana bro, Sukses?" tanyanya bersemangat, meminum minuman di gelas yang dia pegang. Wajahnya sangat senang.
Farhan mengambil gelas yang di pegang Mike dan meminumnya, rasanya udara panas sekali dia ingin membasahi tenggorokannya yang kering. "Gawat bro," ujarnya setelah beberapa saat.
"Gawat, apa maksudmu?" Mike mengernyitkan dahinya.
"Pelayan itu memberikan minumannya pada Edel!" terang Farhan dengan mata lesunya meminta agar Mike membantunya atau setidaknya menghiburnya, memberitahu dia harus apa.
"Whhhhhaaaatttt, maksudmu pelayan itu salah sasaran?! gawat, kacau ... , " gerutu Mike ikut panik.
Mike langsung mengambil ponsel dari dalam kantong celananya, dia menghubungi seseorang.
"Hallo Bro, gawat! Farhan salah target," Mike tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
"Sudah tahu, tenang aja." jawab suara lelaki di seberang telepon lalu mengakhiri teleponnya sepihak.
"Ronald sudah tahu, kata dia tenang aja," ujar Mike membuang nafas panjangnya lewat mulut berusaha menenangkan dirinya sendiri.
***
Di ruangan lain di kamar, Malik berusaha membantu Edel yang sudah terpengaruh obat Aphrodisiacs.
"Malik, sepertinya aku tahu apa yang terjadi denganku," tangannya ga mau melepaskan tangan Malik dan mulai membelai wajah tampan kekasihnya, "Jangan panggil dokter, ini akan sangat memalukan, tolong aku."
"Tolong aku," suara Edel sangat menggoda karena sudah terpengaruh, menarik Malik ke dalam pelukannya.
Malik menatap lekat wajah Edel. Ini adalah hal yang sangat sulit ketika melihat kekasihmu meminta pertolongan dalam kondisi seperti itu. Terlihat dalam kedua matanya menahan gairah yang tertahan. Sebagai seorang yang normal tentu saja Malik ingin membantu kekasihnya.
"Sadarlah Malik, lindungi dia ... , lindungi dia ...," gumamnya langsung mengangkat tubuh Edel masuk kamar mandi dan merebahkannya di bathtub lalu mengguyur kekasihnya.
"Malik apa yang kau lakukan," geram Edel menangkis shower di tangan Malik.
"Maafkan aku honey, aku akan bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu padamu," ujar Malik melihat Edel mulai kedinginan. "Ini satu-satunya cara agar panasmu hilang. Maafkan aku ... ."
Terlihat Edel sudah basah kuyup, tapi matanya jauh kelihatan segar dari pada sebelumnya. Malik tersenyum senang, dan mengambilkan handuk buat Edel.
"Keringkan lah rambutmu, aku akan menghubungi bunda," titahnya.
"Jangan beritahu orangtuaku, tolong panggil Queenzha. Aku butuh bantuannya," sambil memegang rambutnya yang basah, hair piecenya masih bertahan di rambut basahnya.
"Berdirilah," Malik membantu Edel bangun dari bathtub, gaun yang dia pakai basah. Malik menyampirkan bathrobe ke bahunya setidaknya dia akan merasa sedikit hangat.
***
"Bagaimana, sudah mereka kerjakan?" tanya Shahmeer menghampiri Ronald yang sedang mengobrol dengan kekasihnya.
Ronald memberi kode dengan matanya dan sedikit menggelengkan kepalanya.
"Trus?" dia meminta penjelasan lebih.
drrtt ... , drrttt ... , ponsel Ronald bergetar dilihatnya Mike menghubunginya. Ronald memperlihatkan pada Shahmeer siapa yang menghubunginya.
"Sudah tau, tenang aja," ujarnya menjawab orang yang di seberang telepon, lalu menutupnya cepat. dia tidak ingin Queenzha tahu apa yang dia lakukan dengan teman-temannya.
Ronald hanya memandang Shahmeer dan di balas anggukan olehnya. Ponsel Ronald kembali berbunyi, dilihatnya Malik yang menghubunginya.
"Ini dari Malik," ujarnya pada dua orang yang berada di sampingnya lalu menerima telepon.
"Ya,"
"Apa Queenzha ada bersamamu," tanya Malik di seberang telepon.
"Ya, ada apa?".
"Cepat naiklah ke kamar Edel. Bantu dia berganti pakaian Edel kedinginan, cepat! aku tunggu!" seru Malik dan memutuskan teleponnya.
Ronald menyesal me loadspeaker teleponnya barusan. Andai saja tidak di load, aku akan buat dia yang membantunya. batin Ronald.
"Ronald antar aku ke atas," pinta Queenzha setengah berlari keluar ballroom.
"Kenapa Edel kedinginan, apa terjadi sesuatu dengannya?" tanya Shahmeer pada Ronald, dia mengikuti mereka menuju kamar Edel. Raut wajahnya menunjukan sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
"Apa?! apa kau bilang," menghentikan langkahnya. wajahnya berubah dengan cepat dari khawatir menjadi marah. Dia menarik kerah baju Ronald dan mengulang pertanyaannya.
"Bukan salahku, pelayan itu yang salah!" tidak mengerti dengan sikap Shahmeer yang tiba-tiba menjadi sangat marah padanya.
"Hei apa yang kalian lakukan, cepatlah masuk?!" kata Queenzha yang sudah berada dalam lift dan tidak mengerti kenapa mereka tiba-tiba akan berkelahi di depan lift.
Shahmeer melepaskan tangannya dari kerah Ronald dan langsung masuk ke dalam lift. Pikirannya kalut, dia takut terjadi apa-apa dengannya. Dia tidak rela jika Malik menyentuhnya.
Lift terbuka, mereka berjalan cepat menuju kamar Edel. Shahmeer cepat membunyikan bel tapi tak kunjung di buka.
"Ayolah, ayolah, ayolah buka ... ," mulai geram.
"Sini biar aku buka," Queenzha menekan password pintu kamar edel.
"Kenapa tidak dari tadi?!" kata Shahmeer sedikit membentak.
"Hei, kenapa kau marah pada kekasihku?," kata Ronald yang tidak terima jika kekasihnya di hardik orang.
Shahmeer tidak mendengarkan Ronald, dia mencari Edel menuju ke kamarnya, tapi di kamar pun tidak dia temukan orang yang dicarinya.
Queenzha masuk ke dalam kamar mandi dan menemukan Edel sedang duduk di sofa yang di sediakan di sana dalam pelukan Malik.
"Tolong bantu dia ganti bajunya, cepatlah kasian dia kedinginan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Queenzha melihat temannya basah kuyup menggigil kedinginan.
Malik keluar dari kamar mandi dan menemukan kedua temannya berdiri depan pintu kamar mandi. Dia melihat raut wajah Shahmeer yang khawatir.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Shahmeer. "apa yang terjadi?" dia mengganti pertanyaan. Shahmeer tidak mau Malik mengetahui jika dialah yang merencanakan semuanya, ya walaupun target sebenarnya bukanlah Edel.
"Sepertinya dia meminum minuman yang dicampur dengan Aphrodisiacs. Aku belum mengetahui siapa dan apa maksudnya memberi obat itu pada Edel," geram Malik.
"Apa kalian melakukannya?" tanya Ronald hati-hati.
"Tentu saja tidak, kami belum menikah pantang buatku mengambil kesucian seorang gadis. Makanya aku rendam dalam bathtub, itu satu-satunya cara yang terlintas dalam pikiranku," ujar Malik.
Shahmeer menarik nafas dan membuangnya lewat mulut, lega rasanya mendengar perkataan Malik barusan.
Edel di papah Queenzha keluar dari kamar mandi menggunakan baju tidurnya. Untunglah koper Edel masih ada di kamar mandi, mungkin bekas tadi sore dia berganti pakaian.
Malik mengambil alih Edel dan mengangkat kekasihnya ala bridalstyle, Edel mengalungkan tangannya ke leher Malik.
Teman-temannya melihat semua adegan romantis yang ditunjukan Malik. Hati Shahmeer kembali teriris melihat gadis pujaannya dalam pangkuan pria lain.
Malik merebahkan badan edel di tempat tidur lalu menyelimutinya agar dia merasa hangat.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu di sini," gumam Malik penuh kasih, dia membelai lembut pipi kekasihnya.
Shahmeer tak kuasa melihatnya dan langsung keluar dari kamar Edel, begitu pun dengan Ronald dan Queenzha mengikuti Shahmeer keluar dari kamar dan duduk di sofa ruang keluarga.
Shahmeer hanya terdiam dengan hati dan pikiran yang kacau, dia sangat merasa bersalah dengan semua yang terjadi dengan Edel.
Malik keluar dari kamar tidur Edel setelah memastikan Edel tidur terlelap. Dia bergabung dengan teman-temannya.
"Ceritakan padaku apa yang terjadi, kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Queenzha penasaran.
"Aku rasa dia meminum minuman yang telah di campur Aphrodisiacs. Terakhir kali dia mengambil minuman yang dia minum dari seorang pelayan yang menawarkannya pada kami saat kami sedang berbincang dengan Mr. Ommar juga Kate dan Deo. Lalu dia menghampiri kalian dan mulai merasakan panas di badannya. Aku membawanya ke kamarnya tapi dia sudah mulai terpengaruh obat itu, cara satu-satunya yang terlintas di pikiranku dengan merendamnya dalam bathtub dan kalian sudah tahu lanjutan ceritanya," terang Malik.
"Apa kau sudah mengetahui pelakunya?"
Malik tersenyum getir memandang Ronald dan Shahmeer, membuat temannya menelan ludah.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE 76 🇮🇩