He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 171



"Apakah ada kenangan atau kejadian yang lucu saat kamu di stasiun," tanya Malik.


"Ya, aku pernah bertemu dengan seseorang di sana," Edel melirik Malik dengan senyumnya.


"Ehmm ... !" Malik terperanjat kaget mengernyitkan dahinya.


"Kenapa? bukankah wajar kita bertemu seseorang di stasiun. Stasiunkan fasilitas umum, banyak orang yang datang ke sana," kata Edel yang heran melihat Malik.


"Iya, se-seorang si-apa?" tanyanya terbata.


"Aku beberapa kali bertemu seorang wanita paruh baya yang sedang menunggu anaknya untuk pulang. Dia bercerita jika anaknya tiap weekend akan pulang dan dia sengaja menjemputnya di sana," terang Edel dengan raut wajah merindu. Bercerita tentang wanita tadi membuatnya semakin merindukan Mrs. Soe, bundanya.


"Lalu?" tanya Malik yang masih penasaran dengan ingatan Edel.


"Lalu apa?"


"Lalu kamu bertemu siapa lagi, aku ingin mendengar ceritamu," ungkap Malik berusaha tenang walaupun hatinya sangat galau takut ketahuan mengorek ingatan istrinya tentang temannya, Shahmeer.


"Banyaklah, aku bertemu banyak orang dengan berbagai cerita mereka. Aku banyak belajar dari mereka yang kutemui di stasiun." ungkap Edel.


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Edel menatap jauh ke luar jendela sedangkan Malik menatap kosong ke kursi depannya.


"Aku lapar, ayo ke gerbong kantin," ajak Malik.


Mereka pindah tempat ke gerbong kantin kereta. Mereka duduk dekat pejabat pariwisata yang sudah ada di sana bersama direktur perkeretaapian.


"Yang Mulia," sapa mereka menunduk hormat.


Malik duduk bersebelahan dengan Edel dan membiarkan Edel dekat jendela agar dia bisa memandang ke luar jendela mengenang masa mudanya dulu.


Obrolan pun berpindah menjadi obrolan serius tentang peningkatan pariwisata di negara A hingga meningkatkan kreatifitas lokal hingga mampu bersaing dengan produk luar negeri.


Edel hanya mendengarkan mereka berbincang, tidak sekalipun dia mengeluarkan pendapatnya karena Edel hanya ingin menikmati perjalanannya menaiki kereta.


Setelah selesai makan siang, para pejabat itu pun meninggalkan Malik dan Edel untuk kembali ke tempat duduk mereka.


Terdengar samar suara dari perut Malik. Mengobrol dengan para pejabat membuatnya kurang menikmati makanan. Tadi pagi Malik hanya minum seteguk susu yang Edel buatkan karena Edel sudah tak sabar ingin segera berangkat.


"Kamu lapar?" bisik Edel terkekeh.


"Ya, aku hanya sarapan satu teguk susu," lirihnya.


"Makanya sarapan yang benar. kalau sakit siapa yang ngerasain kan!" kata Edel ketus.


Aku gini juga karena kamu yang ngerengek pengen cepet-cepet berangkat. gerutu Malik dalam hati.


"Aku jadi ingat dulu aku pernah bertemu orang yang perutnya bunyi seperti kamu barusan."


Deg, Malik langsung terpaku mendengar ucapan istrinya.


"Di-mana?" tanyanya gugup.


"Di stasiun Oxford," jawab edel singkat dan jelas.


Malik langsung mematung mendengarnya. jantungnya berdebar saat tahu Edel mengingat kejadian itu.


"A-pa ka-u mengingat rupanya?" tanya Malik gugup.


"Ehm?"


"Coba ceritakan padaku kejadiannya. Aku ingin mendengarnya," terang Malik berusaha bersikap tenang.


Edel menceritakan kejadian saat Ia bertemu dengan orang itu secara runtut diselingi dengan gelak tawanya yang renyah.


"Dia tersedak, kemudian aku memberinya minum dan ... ,"


"Ka-mu memberinya minum dari botol minummu?"


"Iya," jawab Edel singkat tanpa tahu jika itu membuat Malik geram.


"Tentu saja tidak. Aku memberinya botol minumku tapi itu belum aku buka," sergah Edel yang merasakan ada nada cemburu dari suaminya.


"Oh, syukurlah," ucap Malik tersenyum lega.


"Kamu kenapa?" tanya Edel heran.


"Tidak, aku hanya ... , ya syukurlah kalian tidak minum satu botol. Katanya kalau kalian minum satu botol kan itu ibarat kalian berciuman," ucap Malik.


"Aish."


Malik tertawa terkekeh, "Apa kamu mengingat wajahnya?"


Malik ingin mengetahui apa istrinya mengingat jika laki-laki itu adalah Shahmeer, sahabat baiknya.


"Tidak, aku tidak mengingatnya. Kejadian itu sudah lama sekali, yang aku ingat dia berbadan tinggi dan wajahnya seperti keturunan Arab, aku ingat jika dia tampan tapi hanya ingat sampai sana. Aku tidak ingat detail wajahnya," terang Edel.


Apa dia tahu kalau laki-laki itu adalah Shahmeer. pikir Edel.


Ya, Edel telah mengingat laki-laki yang diberinya sandwich adalah Shahmeer sahabat dekat suaminya. Edel mengingatnya sejak acara berkumpul dulu di rumah Deo.


Edel mengingatnya karena saat itu juga perut Shahmeer berbunyi dan Edel menyodorkan pizza-nya ke arah Shahmeer yang membuat Malik cemburu.


Edel tidak memberitahu Malik karena beberapa alasan, salah satunya karena itu adalah kejadian saat dia kuliah tahun awal dan tidak begitu diingat dan hal itu tidak penting untuk diceritakan pada suaminya.


"Oh," ucap Malik tersenyum senang.


"Honey, jika suatu hari nanti kamu ingat dan bertemu dengan laki-laki itu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Shahmeer.


"Tidak ada, aku tidak akan melakukan apapun," jawab Edel enteng.


"Kenapa?"


"Itu sudah lama sekali, Malik. Kalau aku ingat ya berarti ingat tapi bukan berarti aku harus melakukan sesuatu kan. Lagian belum tentu juga dia ingat kejadian itu. Itu hanya seperti kau bertemu seseorang dijalan, hanya sekilas," terang Edel.


"Bagaimana jika dia mengingatmu?"


"Ya, jika dia mengingatku dan menyapaku, tentu aku akan menyapanya balik tapi hanya sebatas menyapa. Ayolah, apa kamu cemburu pada laki-laki yang bahkan wajahnya pun aku tidak ingat," tanya Edel ketus.


Sepertinya dia tahu, batin Edel.


"Honey, dalam ingatanmu, apa dia lebih tampan dan menarik melebihi ku?"


Edel tertawa kecil menertawakan pertanyaan yang diajukan suaminya. Kini dia tahu jika Malik lebih posesif dari yang dia pikirkan.


"Aku hanya ingat jika dia seorang laki-laki yang tampan, tapi aku tidak bisa membandingkannya denganmu karena aku tidak ingat wajahnya seperti apa, hanya ingat dia tampan, hanya sebatas tampan, My Prince," ujar Edel terkekeh.


"Malik, aku senang jika kamu merasa cemburu tapi itu hanyalah seseorang yang kutemui di stasiun seperti kamu bertemu menyapa seseorang di jalan. Jadi tidak usah berlebihan cemburu karena hal seperti itu," lanjut Edel.


"Maaf, aku takut kamu lebih memilihnya dibanding denganku?"


"Memilihnya? hei, aku bahkan tidak tahu siapa dia dan kamu adalah suamiku tentu aku akan selalu memilihmu," ungkap Edel yang mulai merasa kesal.


"Maaf," ucap Malik, seperti anak kecil yang meminta maaf karena melakukan kesalahan.


"Yang Mulia, sebentar lagi kita akan sampai," ucap Mr. Husein memberitahu tuannya.


Malik hanya tersenyum mengangguk. Dia sangat bahagia karena Edel tidak mengingat laki-laki itu dan dia bertambah bahagia karena Edel tetap akan memilihnya. Sungguh seorang pangeran juga manusia normal yang bisa merasakan cemburu dan takut kehilangan orang yang dicintainya.


***


"Kenapa dia tiba-tiba datang dan bersikeras ingin menemuiku, mengunjungiku. Apa aku harus menemuinya. Sebenarnya apa alasan dia ingin menemuiku, padahal dulu dia sendiri yang bilang tidak akan menemuiku lagi," lirih seorang wanita yang sedang duduk dan memainkan bolpoin.


*****


Selamat malam semuanya, Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah buat author ya... juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐. Bagi silent reader, buatlah author senang dengan membiasakan memberi like dan rate 5 ⭐ untuk semua yang anda baca. Itu akan menambah semangat bagi para author receh seperti kami.❤️


Stay safe everyone.🤗