He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 146



Sampai didepan pintu masuk mereka dikerubungi oleh banyak masyarakat yang ingin berfoto dengan mereka.


"Hai, Pangeran. Aku pikir ada selebriti yang sedang dikerumuni penggemarnya," Malik dan Edel refleks menoleh ke arah suara wanita yang menyapa mereka.


Malik tersenyum menatap gadis muda yang menyapanya. Gadis itu berusia sekitar awal 20 tahunan dan dia bersama seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Malik.


"Pertanyaan macam apa itu Yang Mulia, kita sedang berada di bioskop tentu saja aku mau menonton. Bukankah Yang Mulia Pangeran juga ke sini akan menonton, bukan dalam kunjungan kerja kan," gadis itu tertawa kecil menertawakan apa yang dia katakan.


Laki-laki yang di sampingnya hanya tertegun tidak percaya jika gadis yang bersamanya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu pada pangeran negaranya.


"Berapa nilai bahasamu di sekolah, gadis muda?" Malik yang mengetahui gerik lelaki dihadapannya tersenyum lalu mengacak rambut gadis itu gemas.


"Bagaimana kabar anda Yang Mulia Putri Edelweiss?" Sapanya, bahasanya berubah menjadi sangat sopan ketika menyapa Edel.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana denganmu Putri Rania?" Edel tersenyum.


"Alhamdulillah baik, Yang Mulia. Semoga anda selalu dalam limpahan keberkahanNya." gadis itu menunduk hormat pada Edel.


"Kau menyapanya sangat sopan, tapi padaku?!" Keluh Malik.


"Ayolah, jangan cepat marah nanti bisa cepat rontok rambutmu Yang Mulia," kilahnya.


Gadis itu adalah sepupu Malik, anak bungsu dari Pangeran Zaid atau cucu terkecil dari Pangeran Hamzah adik Baginda Sultan. Sifatnya yang ceplas ceplos sangat jauh jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang sadar akan status yang mereka sandang. Tapi itulah yang menarik darinya, dia bisa leluasa melakukan banyak hal dari yang semua orang duga di usia mudanya yang membuat Malik dan Edel menyukainya.


"Apa kamu tidak mau mengenalkannya pada kami?" Bisik Edel sambil melirik laki-laki yang sedang salah tingkah berdiri di samping gadis itu.


"Ini temanku, Elrumi."


Laki-laki itu membungkuk hormat pada Edel dan Malik.


"Oh, anak kedua dari Mr. Salman," ucap Malik, melihat sekilas wajahnya sangat mirip dengan ayahnya, Salman Lee seorang Chairman perusahaan elektronik terkemuka di Negara A.


"Benar, Yang Mulia," sahut El.


"Kalau begitu, selamat menonton Yang Mulia," ucap Rania.


"Jangan bilang ayahku, anda melihatku di sini," bisiknya membuat Malik tertawa.


"Tentu harus ada feedback nya buatku," Malik balas berbisik.


"Akan ku belikan mainan keluaran terbaru untuk baby Zyan," bisiknya lagi.


"Deal!" Seru Malik cepat dengan senyuman yang memperlihatkan lesung pipinya.


"Dasar!" kata gadis itu cemberut, menarik laki-laki yang di sampingnya meninggalkan Edel dan Malik yang masih tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Edel setelah mereka menghilang diantara kerumunan.


"Dia lucu sekali, dia gadis pertama di keluargaku yang mempunyai sifat seperti itu," ucap Malik merangkul Edel.


"Aku senang melihatnya bisa menikmati masa mudanya seperti gadis lain, karena ku pikir wanita di keluargamu kebanyakan terlalu serius menghadapi hidup."


"Bukan terlalu serius, Honey. Hanya saja kami sadar terikat dengan ratusan aturan yang membatasi kami."


"Maksudmu dia ga sadar dengan statusnya gitu?" Edel melirik Malik.


"Bukan dia hanya lebih berusaha menikmati setiap aturan yang membelenggunya," Malik tersenyum.


Edel hanya mengangguk, dia mengerti apa yang Malik ucapkan. Edel tahu bagaimana ketika ratusan aturan atau protokol kerajaan mengikatnya apalagi Rania masih berusia 20 tahunan, jiwa mudanya pasti tidak terima jika puluhan aturan yang telah ditetapkan tidak sesuai dengan keinginannya.


Malik dan Edel berada di deretan kursi belakang, mereka tidak membeli tiket khusus ruang VIP tapi tiket diruangan umum. Mereka juga ingin menikmati masanya seperti yang lain, sekali-kali melanggar aturan tak jadi masalah toh ini tidak termasuk mengkhianati negaramu.


Masyarakat yang satu ruangan dengan mereka sangat bangga pada Malik dan Edel karena mereka mau ikut merasakan menonton bioskop di ruangan yang ramai tidak di ruang VIP.


Edel hanya tersenyum ketika beberapa malah banyak yang sering menoleh padanya hanya untuk meyakinkan diri jika pasangan muda yang berada di ujung deretan atas adalah pangeran dan putri Negaranya.


Edel bersyukur ketika film dimulai, jadi berkurang orang yang menoleh padanya.


Film yang mereka tonton bukanlah film komedi romantis, tapi film thailer yang bahkan Edel pikir termasuk ke film horor yang menceritakan tentang pembunuhan berantai. Sesekali tiba-tiba tangan Edel memegang tangan Malik erat membuat suaminya sedikit meringis kesakitan, tapi itu juga membuatnya tersenyum senang.


"Kau menyukai filmnya?" Tanya Malik ketika mereka sudah keluar dari ruangan.


"Lainkali kita nonton film komedi romantis aja," keluh Edel sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Kukira filmnya tak seseram itu. Aku sedikit mual jika teringat banyaknya darah berceceran saat dia membunuh keluarga temannya," ungkap Edel.


"Ayo kita cari minuman, biar rasa mualmu hilang," Edel langsung tersenyum dengar ajakan Malik.


Mereka berada di sebuah cafe yang berada beberapa lantai di bawah bioskop tadi.


Edel segera menghabiskan strawberry smoothies nya cepat.


"Kita mau kemana lagi setelah ini?" Tanya Edel.


Malik melihat jam yang melingkar ditangannya, masih kurang dari pukul 8. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon Ibunya memberitahu jika mereka akan pulang agak telat malam ini.


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Edel begitu tahu Malik meminta izin pulang telat dan menitipkan baby boy lebih lama.


Malik mendekatkan wajahnya pada Edel dan berbisik, "Honey, menurutmu kita ke apartemen atau berjalan-jalan?".


Edel memukul pelan bahu Malik sambil tersenyum, "Ayo jalan-jalan saja."


"Kenapa kamu tidak memilih ke apartemen?" Tanyanya lirih.


"Aku hanya ingin berjalan-jalan, berkencan denganmu, makan di luar denganmu," jawab Edel ketus.


"Ehm, ke apartemen saja. Kita berkencan di sana," rengeknya memohon.


"Ayo, kita jalan ke taman saja."


"Taman apartemenku bagus lho, Honey," Malik masih tak mau mengalah ingin mengajak Edel ke apartemen mereka.


"Aku tahu, kita jalan keliling sini aja ya," dengan nada memelas, bersikukuh tak mau ke apartemen.


"Baiklah," lirih Malik.


Edel menutup mulutnya yang tertawa, ingin rasanya dia tertawa lepas melihat raut wajah suaminya.


"Malik, bolehkah aku yang menyetir?" ujar Edel memohon.


Malik melirik tajam istrinya. Sejak menjadi istrinya Edel dilarang menyetir, kemana pun dia pergi kalau bukan Malik yang menyetir pasti dia menyuruhnya untuk memakai sopir kerajaan. Rasanya sia-sia dia punya SIM yang bahkan tak pernah dia manfaatkan di negara A.


"Boleh ya ... ," ujarnya memohon lagi.


"Biar aku saja yang menyetir, Honey. Rasanya aneh jika kamu yang menyetir sedang aku hanya diam di sampingmu," jawab Malik.


Edel diam mematung dengan tangan disilang ke dada, bibirnya mengerucut memalingkan wajahnya dari Malik. Merajuk seperti anak kecil yang dilarang membeli mainan oleh ibunya.


"Kau lucu sekali, Honey."


Edel tetap tidak bergeming memalingkan wajahnya dari Malik.


"Sejujurnya aku ingin tertawa melihatmu seperti ini. Kau sungguh membuatku gemas. Baiklah jika kamu mau tapi hanya kali ini saja," ujar Malik menahan tawa.


Edel langsung menurunkan tangannya dan berbalik dengan tersenyum pada Malik. Tangannya terulur meminta kunci mobil pada suaminya.


"Kau benar-benar membuatku gemas," Malik memencet hidung Edel.


Edel membawa mobil dengan sedikit mengebut membuat Malik bergidik memandangnya dengan tangan memegang pegangan di atas pintu mobil.


"Jalan pelan saja, Honey."


"Ini sudah pelan, Malik," jawab Edel tanpa memandang suaminya yang terus melihatnya ngeri.


"Kita mau kemana, Honey?".


Malik melihat jalanan, hiruk pikuk keramaian perlahan berubah menjadi pohon-pohon tinggi besar. Mereka memasuki sebuah villa.


"Ini di mana?"


*****


Terimakasih sudah membaca. 🥰🤍


Stay safe everyone. 🤗🙏