
"Dan aku mencintaimu" ungkap Malik memegang tangan Edel.
"Duuhhh, senangnya yang lagi kasmaran!" seru suara perempuan di belakang. Mereka menoleh dan melihat kakak perempuan Malik, Putri Syahara dan suaminya juga anak mereka menghampiri.
"Assalamualaikum," sapanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Malik dan Edel berbarengan melepaskan pegangan tangannya.
"Halo jagoan," sapa Malik pada Pangeran kecil Ammar, tapi tidak di jawab.
"Apa nanti kamu mau ikut melihat temanku setelah sarapan?" tanyanya.
"Benarkah aku boleh ikut, janji?" katanya bersemangat mengacungkan jari kelilingnya.
"Ok" kata Malik membuat janji kelingking dengan keponakannya.
Putri Syahara menghampiri Edel dan mengajaknya berjalan bersama menuju taman dan di ikuti Malik yang menggendong ponakannya juga Mr. Fredrik suami dari putri Syahara.
"Senang akhirnya bertemu denganmu," kata Putri Syahara membuka topik dengan Edel.
"Kamu lebih cantik dari yang Malik ceritakan," lanjutnya.
"Ehm, terima kasih," jawab Edel malu.
"Ga usah sungkan denganku, sekarang aku kakak perempuanmu. Aku selalu ingin punya adik perempuan, tapi malah dapat adik laki-laki," sambil menoleh ke arah Malik, Edel tersenyum mendengarnya.
Di meja taman telah menunggu Baginda Sultan dan istrinya, juga Pangeran Fatih dan istrinya Putri Grizelle. Mereka tengah berbincang tentang makan malam yang di akan adakan salah satu kerabat kesultanan.
"Assalamualaikum," sapa mereka lalu duduk di tempat mereka.
Malik menunjukkan tempat duduk Edel yaitu di sebelahnya.
"Ok" gumam Edel lalu duduk.
"Kamu tentu tahu ini siapa?" kata Malik menunjuk Pangeran Fatih. Edel tersenyum.
"Siapa?" bisiknya menoleh pada Malik.
"Kamu tidak tahu kakak laki-laki ku, dia putra mahkota negara ini?" tanya Malik kaget, refleks Edel menempelkan telunjuknya pada mulutnya agar Malik tidak keras-keras berbicara. Tapi semuanya sudah mendengar dan tertawa, betapa malunya Edel dibuatnya.
"Tak usah malu ga apa-apa, kamu hanya perlu melihatku saja," ujar Malik dan itu semakin membuat wajah Edel merona merah.
"Maaf," sahutnya.
"Hahaha ... ," Baginda Sultan tertawa.
"Senang rasanya keluarga kita bertambah, kebahagiaan pun bertambah," ungkapnya.
"Betul sekali Yang Mulialia, pagi ini sangat cerah," ucap Ibunda Ratu.
Mereka pun menikmati makanan yang telah disajikan dengan Hidmat. Selesai sarapan mereka kembali berbincang sembari menikmati cemilan pagi.
"Ceritain dong bagaimana kamu bisa menyemprotkan air ke Pangeran Malik sampai dia basah kuyup," pinta Putri Syahara, Edel melirik Malik.
"Kami selalu mendengar cerita itu versinya, sekarang aku mau dengar versimu," lanjutnya menyadari lirikan Edel.
"Ehm ... itu, sebenarnya aku tidak ingat pernah menyemprotnya. Jadi aku tidak tahu harus bercerita apa dan aku juga baru tahu kalau aku pernah menyemprot dia dengan air," ungkap Edel.
"Benarkah kamu tidak ingat?" tanya Putri Syahara. Edel mengangguk pelan.
"Ya, lagian kejadian itu ketika kalian kuliah. Itu sudah lama sekali," ujarnya.
"Bagaimana persiapan pertunangan kalian," tanya Baginda Sultan mengganti topik karena melihat Edel termenung.
"Oh iya, malam ini ada acara makan malam yang diadakan salah satu kerabat kami. Ikutlah dengan kami menghadirinya," pinta Ibunda Ratu.
"Ehm, maaf hari ini aku harus pulang. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku lama-lama," sahutnya.
"Kamu pulang hari ini? cepet banget, nanti aku ajak berkeliling. Iya kan Putri Grizelle?" meliriknya meminta persetujuan.
"Tentu," jawab Putri Grizelle, Edel hanya tersenyum.
"Ikutlah dengan kami," ajak Putri Grizelle.
"Besok aja, nanti aku hubungi temanmu. Dia pasti mengizinkanmu," bujuk Malik, Edel sedikit menghembuskan nafas beratnya.
"Aku akan mengantarmu pulang, tapi temani aku ke acara nanti malam," bujuknya lagi, Edel menjawabnya dengan senyuman sedikit terpaksa.
"Alhamdulillah," ucap Ibunda Ratu melihat Edel tersenyum.
Selesai sarapan mereka melanjutkan aktivitasnya masing-masing, sedangkan Edel diajak Malik melanjutkan lagi berkeliling istana.
Mereka menaiki Boogie untuk berkeliling Karena tentu saja tidak mungkin berjalan kaki mengelilingi istana yang luasnya ratusan hektar.
Malik mengendarai sendiri mobil Boogie nya dengan mendudukan ponakannya di pahanya. Edel duduk di samping Malik. Mereka berjelajah dari satu empat ke tempat lain.
Edel melihat kuda-kuda kesayangan Malik.
"Kamu bisa menunggangi kuda?" tanya Malik.
"Tentu," kata Edel mengangguk.
"Ayah sering mengajak kami ke peternakan kuda di Bandung. Beliau mengajari kami cara menungganginya," lanjut Edel.
"Om, katanya mau lihat teman om!" seru ponakan Malik.
"Oh.. hahaha.. om sampai lupa ada kamu," ujar Malik.
"Ok jagoan nanti kita ke sana, tapi kita mampir dulu melihat kuda," ajak Malik.
"Tante cantik deh," puji Ammar.
"Hahaha.. kamu sudah tau gadis cantik rupanya!" kata Malik tertawa.
"Sini duduk di Tante aja," melihat Malik yang sedikit kesusahan mengendarai Boogie nya karena Ammar tidak bisa diam.
Malik menepikan mobil Boogie nya agar Ammar bisa pindah duduk bersama edel, setelahnya mereka melanjutkan lagi menuju kandang kuda.
Di jalan mereka berpapasan dengan banyak orang yang bekerja di istana. Mereka memberi hormat dan pandangan mereka tertuju pada gadis yang bersama Pangeran Malik.
"Kenapa mereka melihatku seperti itu?" kata Edel mulai risih.
"Karena mereka baru melihatku denganmu, abaikan saja dan kamu harus belajar terbiasa dengan pandangan semua orang," ujar Malik.
Mereka sampai di kandang kuda yang luasnya mungkin lebih luas dari rumahnya di Jakarta.
"Banyak sekali!" seru Edel.
"Ya, mereka koleksi ayahku dan keluargaku" sahut Malik.
"Kamu mau menunggangi nya," tanya Malik.
Edel hanya menggelengkan kepalanya. dia terlalu sibuk melihat pengurus kuda sedang sibuk memberi pakan, ada yang membersihkan kandangnya, semua beraktivitas sesuai tugas masing-masing.
"oommm lihaaattt!" seru Ammar.