
Dua Minggu kemudian,
"Tuan, Ini informasi tambahan yang anda pinta," ujar seorang lelaki bertubuh tinggi dengan setelan jas menyerahkan amplop cokelat pada Shahmeer di ruang kerja rumahnya.
Shahmeer mengambil amplop tersebut dan membukanya, dia melihat beberapa lembar foto dan lembaran informasi tentang seseorang yang dia minta untuk diselidiki.
"Saya mengikutinya sesuai dengan yang anda perintahkan, sepertinya wanita yang anda minta untuk diselidiki penggemar dari Her Royal Highness Putri Edelweiss, Tuan. Dia selalu ada di setiap acara Yang Mulia Putri Edelweiss," terangnya.
Shahmeer seperti tidak mendengarkan lelaki itu berbicara, dia sibuk melihat lembaran foto yang dibawa laki-laki tadi.
Kau cantik sekali. batin Shahmeer menatap foto yang terdapat Edel di dalamnya.
"Tapi tuan, ada yang saya khawatirkan. Alih-alih sebagai penggemar seperti yang lain yang selalu berada di setiap acara Yang Mulia ... ," lelaki itu tak melanjutkan ceritanya.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Shahmeer tanpa memandangnya.
"Tuan, anda bisa melihatnya sendiri raut wajahnya ketika melihat Yang Mulia, raut wajahnya bukanlah raut wajah seorang penggemar yang melihat idolanya," Shahmeer langsung mengalihkan pandangan pada gambar wanita tersebut, dia melihat raut wajah marah ketika melihat kepalan tangan wanita tersebut di beberapa fotonya.
Sebenarnya, apa yang ingin kau rencanakan pada eternal flower dan adikku. tanya Shahmeer dalam hati.
"Azmy, Edel," gumamnya menggerutukkan gigi geram.
"Terus ikuti wanita itu dan suruh seseorang untuk melindungi adikku!" titah Shahmeer memasukkan kembali lembaran informasi dan fotonya ke dalam map.
"Baik, Tuanku."
Lelaki itu pamit lalu keluar dari ruang kerja Shahmeer berpapasan dengan Azmy di tangga.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan," ujar Shahmeer geram sembari mengetuk-ngetuk bolpoinnya di atas meja. Raut wajahnya jelas memperlihatkan perasaan khawatir terhadap dua orang wanita yang dicintainya.
"Banyak yang mengawalmu untuk melindungimu, tapi kenapa aku masih merasa khawatir seperti ada sesuatu yang aku lupakan," ungkapnya resah.
Shahmeer mengetuk-ngetuk bolpoinnya ke dahinya dan memejamkan mata, dia tak menyadari jika Azmy sedari tadi diam di dekat pintu menguping dan melihat semua yang dilakukannya.
"Aku harus menemuinya," ujarnya berdiri melangkah keluar dan betapa terkejutnya dia melihat Azmy sedang berdiri di depan ruang kerjanya.
"Apa yang sedang kau lakukan di depan ruang kerjaku?!" tanyanya.
"Kakak, siapa laki-laki yang tadi keluar dari ruang kerjamu?" tanyanya to the point.
"Oh, rekanku di kantor," gelagapan.
"Kenapa dia bertemu denganmu di sini, bukankah ini hari libur?" tanyanya lagi.
"Ada pekerjaan yang harus dia selesaikan dan laporkan padaku," jawabnya mencari alasan.
"Kenapa aku mendengar dia menyebutkan nama istri Pangeran Malik?" selidiknya.
Shahmeer terkejut mendengar pertanyaan adiknya, Apa dia mendengarkan obrolan kami. Berapa banyak yang dia dengar?. tanya Shahmeer dalam hati.
"Apa kau menguping pembicaraanku dengannya?!" Shahmeer berusaha tetap tenang, dia tak ingin Azmy kembali histeris.
"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin Kakak bisa berpikir aku menguping pembicaraan kalian?!. Aku kebetulan mendengarnya ketika lewat ruanganmu!" tegasnya cemberut menutupi semua kebohongannya.
Shahmeer menghembuskan nafas lega, dia benar-benar takut jika Azmy menganggapnya tidak menghormati privasinya dengan mengirimkan orang untuk membuntutinya juga yang terpenting dia takut Azmy histeris kembali dan tidak mau mempercayainya dan menjauh darinya.
"Dia tahu aku sahabat Pangeran Malik jadi memintaku memintakannya foto sekaligus tandatangan Her Royal Highness Putri Edelweiss. Tapi ku bilang itu tidak mungkin," ujar Shahmeer berbohong.
"Kenapa tidak mungkin?" desak Azmy yang tahu Shahmeer berbohong.
"Jelas tidak mungkin kita mendapat tandatangannya. Dia tak mungkin memberikan tanda tangan sembarangan, itu ada dalam peraturan mereka. Pangeran Malik pernah memberitahuku," tambahnya semakin salah tingkah karena membohongi adiknya.
"Teman, siapa?" tanyanya mulai menyelidiki.
"Aku pernah cerita tentang Mrs. Shopia kan, aku akan bertemu dengannya," jawabnya.
"Apa, Untuk apa kamu bertemu lagi dengannya?!" tanyanya dengan nada tinggi membuat Azmy mengerutkan dahinya. Shahmeer tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya pada wanita paruh baya itu jika namanya disebut walaupun dia tahu itu bukanlah nama aslinya.
"Kenapa kakak berteriak padaku?!" seru Azmy.
"Ah, maaf ... , maafkan aku, beristirahatlah di rumah jangan keluar," kata Shahmeer mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ayolah kak, boleh ya. cuma sebentar ko, aku janji tidak akan pulang malam," bujuknya.
Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya. pikir Shahmeer.
Bagaimana jika dia histeris lagi. Tidak, kurasa ini bukanlah saatnya. pikirnya kembali.
Shahmeer menarik nafas berat. "Baiklah, tapi aku harus tahu kalian akan bertemu dimana?" tegas Shahmeer, dia tak mau terjadi sesuatu dengan adik satu-satunya.
"Apa kakak akan membuntuti ku?" ledeknya, dia tahu kalaupun tidak diberitahu olehnya kakaknya tetap akan tahu dari orang suruhannya.
Shahmeer gelagapan, merasa adiknya tahu segalanya. "Aku hanya ingin tahu, jika terjadi apa-apa padamu aku akan langsung ke sana!" ujarnya berusaha terlihat santai.
"Hahahaha ... , kakak sungguh lucu sekali seakan kepergok berbuat salah. Aku akan bertemu dengannya di tempat biasa kami bertemu, di cafe dekat taman kota," jawabnya tersenyum.
"Baiklah, berhati-hatilah dengan wanita itu. Bagaimanapun kau bilang kau baru mengenalnya kan," nasehatnya.
"Kak, apa kakak percaya padaku jika ku bilang wajahnya seperti tak asing bagiku," kata Azmy. Shahmeer semakin gugup.
"Di dunia ini ada beberapa orang yang wajahnya mirip, aku pernah mendengar istilah seperti itu," menyeka dahinya yang berkeringat di ruangan ber-AC.
Azmy kembali ke kamarnya dengan senyum terukir di wajahnya. berbeda dengan sang kakak yang berdiam dengan raut wajah yang sulit diungkapkan. semua rasa kesal marah khawatir bercampur menjadi satu.
"Aku harus menemuinya sebelum semua terlambat," gumamnya pada akhirnya.
***
Ditempat lain di sebuah apartemen mewah pusat kota. Seorang wanita paruh baya sedang tersenyum setelah mengakhiri teleponnya.
"Sebentar lagi, sebentar lagi semuanya akan berakhir," gumamnya menyunggingkan senyum sinis.
"Ah, aku harus cepat. aku tak mau membuat anak gadisku menungguku," ujarnya melihat jam perak bertabur batu berliannya.
Suara bel terdengar..
Wanita tadi tertegun, karena belum pernah mendapatkan tamu sejak dia kembali ke Negara A. Dia juga ingat belum pernah memberitahu siapapun dia berada di sini kecuali temannya yang berada di negara lain yang dimintanya untuk mengirimkan barang padanya.
Wanita paruh baya tadi berjalan mendekati pintu, dia melihat siapa yang datang sebelum Ia membukakan pintunya.
Wanita tadi menutup mulutnya lalu berjalan mundur beberapa langkah melihat seorang pria muda tengah berdiri depan pintu nya dan terus menerus menekan bel agar dibukakan pintu.
Bagaimana mungkin dia tahu rumahku, apa Azmy memberitahunya?, Bukankah Azmy juga tidak tahu rumahku. Darimana dia mengetahuinya?!. gumamnya dalam hati.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰