
Edel keluar kamar mandi, dilihatnya dua pasangan sedang duduk di depan tv. Queenzha dan Ronald menonton tv sedangkan Shahmeer menemani Rachel yang tertidur di bahunya.
"Hai, mau bergabung dengan kami?" tanya Queenzha.
"Ya, terimakasih. Aku panggil Malik dulu," ujar Edel berjalan keluar.
Baru saja melewati pintu keluar Edel di buat terpaku melihat Azmy yang memegang bahu Malik, mereka tampak mempunyai hubungan yang sangat dekat.
"Satu, dua ,tiga, empat, lima ... ," gumam Edel pelan, dia berhitung mencoba menghilangkan kekagetannya, tangannya mengepal kesal melihat mereka.
"Sebelas, dua belas, tiga belas ... ," masih berhitung berjalan mendekati Malik.
Dua puluh empat, dua puluh lima, dua puluh enam ... . Masih berhitung dalam hati. Edel tersenyum menghampiri Malik yang berdiri melihatnya.
Deo melihat mereka bertiga. Bakalan ada perang dunia ketiga nih!. pikirnya.
"Honey, aku ... ," kata Malik sedikit gugup. Dia tidak mau ada salah faham tapi sulit menjelaskannya.
"Queenzha menawari kita gabung dengannya, mereka sedang menonton di dalam. Apa kamu mau gabung dengan mereka?" tanya Edel tersenyum. Dia berhasil menyingkirkan rasa kagetnya dengan berhitung tapi tidak bisa menyingkirkan rasa kesal cemburunya.
"Ok," jawab Malik singkat, lalu memegang tangan Edel dan mengaitkannya di lengannya.
"Ayo," ajak Malik tersenyum. Namun hatinya sedikit gusar melihat ekspresi Edel yang seakan tidak terjadi apa-apa.
"Boleh kami bergabung?" tanya Edel tersenyum.
"Di luar dingin," lanjutnya sambil menunjuk ke luar.
Shahmeer tersenyum penuh misteri melihat Edel, seakan dia melihat orang yang ditunggunya untuk waktu yang lama.
"Kamu tidur di mana malam ini?" tanya Queenzha.
"di ... ,astaghfirullah ini jam berapa ya? Ibu pasti menungguku," jawab Edel panik baru sadar mendengar pertanyaan temannya. Dia memandang Malik.
Edel mengeluarkan ponselnya dan ternyata mati kehabisan baterai.
"Ponselku mati," ujar Edel menunjukkannya pada Malik.
Malik mengeluarkan ponselnya dari kantong celananya. Dilihatnya belasan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk dari Ibunda ratu. Ponselnya masih dalam mode silent dari acara tadi siang.
"Ternyata Ibu menghubungiku, aku akan menghubunginya balik," ujar Malik meminta izin pada Edel lalu berjalan menjauh.
"Zha, kamu mau berapa lama di sini?" tanya Edel membuka percakapan.
"Tergantung," sambil melirik Ronald yang sedang asik nonton.
Edel tersenyum mendengar jawaban nya. Dia mengerti maksud perkataan Queenzha.
"Apa kamu mau menginap di villa ini atau kembali ke hotel?" tanyanya.
"Dia menginap di istana jadi tidak akan ke hotel," timpal Ronald tanpa melirik lawan bicaranya.
"Benarkah?, aku iri padamu," sahut Queenzha menghembuskan nafas panjangnya melirik Ronald.
"Kamu juga bisa menginap di rumahku jika mau," lanjutnya tersenyum memandang Queenzha. dasar Playboy!.
**
"Assalamualaikum," sapa Malik.
"wa'alaikumsalam, kamu di mana? ini sudah malam. mana mantuku?" tanya Ibunda Ratu.
"Tadi Ibu menghubunginya tapi ponselnya ga aktif," lanjutnya.
"Iya, ponselnya mati kehabisan baterai", sahut Malik.
"Saya dan Edel masih di villa. Bolehkah saya menginap di sini Bu?" tanya Malik.
"Boleh, kamu boleh menginap di sana setelah mengantarkan mantuku ke sini! Ibu menunggunya di kamarmu ini," kata Ibunda Ratu tegas.
"Baiklah, kami akan pulang sekarang," sahut Malik cemberut.
"Hati-hati di jalan, ingat jaga mantuku baik-baik!" ujar Ibunda Ratu.
"Baik Bu, assalamualaikum," pamit Malik.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibunda Ratu mengakhiri panggilan mereka.
Malik kembali ke dalam dan menghampiri Edel yang sedang tertawa bergurau dengan Queenzha dan Ronald. Shahmeer hanya memperhatikan mereka tanpa berbicara apapun, baginya melihat Eternal flower tersenyum adalah sesuatu yang sangat berarti.
"Honey, kita pulang sekarang," ajak Malik.
"Kenapa bro, ini baru jam sebelas," ujar Ronald.
"Sorry, ibuku rindu dengan anak mantunya," jawab Malik duduk di bahu kursi Edel membelai rambut kekasihnya.
"Ayo, kasian Ibu sudah menungguku," kata Edel berdiri untuk mengambil tasnya.
Mereka ke gazebo menemui Deo dan Azmy untuk berpamitan.
"Sorry bro, aku pulang duluan," kata Malik.
"Lah, ko pulang. Bukannya mau nginep di sini?" tanyanya.
"Sorry, Ibuku rindu dengannya," sahut Malik melirik Edel.
"Oh, Princess Malik Ibrahim aku selalu mendukungmu. Ingat kenalkan aku dengan temanmu," seru Deo mengedipkan mata sebelah.
"Ya, see you, assalamualaikum," pamit Edel pada mereka.
Azmy lebih fokus memainkan ponselnya, tidak mau melihat mereka berdekatan.
"Malik, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu yang sedikit pribadi?" gumam Edel. Mereka berjalan ke area parkir.
"Tentu, apa yang ingin kamu tanyakan honey?" jawabnya, Edel menggelengkan kepalanya.
"Nanti aja," ujarnya.
"Kamu membuatku penasaran dengan yang akan kamu tanyakan," kata Malik.
Tapi Edel tak menjawabnya, dia memegang tangan Malik erat. Dia hanya ingin memegang tangannya erat untuk saat ini, sebelum dia mengajukan pertanyaan yang mungkin jawabannya akan membuat dia sakit.
Malik menyalakan mobilnya, lalu membantu Edel memasang safety belt nya. Dia memegang tangan Edel lama, sebelum mulai melajukan mobilnya.
"Malik," panggil Edel.
"Ehm."
"Jawablah dengar jujur, apa aku seorang yang aneh?" tanyanya.
"Maksudnya?".
"Aku ngerasa Shahmeer selalu memperhatikan ku. Aku ngerasa dia memandangku, ketika aku melihatnya dia memalingkan wajahnya. Atau apa aku terlalu kepedean atau apa wajahku aneh?" tanya Edel.
"Hahahaha ... aku kira kamu mau nanya apa, apa itu yang mau kamu tanyakan dari tadi?" Malik malah bertanya balik.
"Iya," jawab Edel mengangguk pelan.
"Honey, apa kamu ingat saat kamu menyiramku dengan air waktu itu?" tanya Malik.
"Dia ada di sana, kami bertiga. Dia tahu cerita kita lebih dari siapapun," ujar Malik.
Sejujurnya Malik tahu jika Shahmeer beberapa kali mencuri pandang pada kekasihnya, hanya saja mungkin itu cuma perasaannya. Tapi setelah dia mendengar penuturan Edel mungkin itu bukan hanya perasaannya, mungkin ada yang Shahmeer sembunyikan darinya.
"Dan Malik, aku tahu kamu bisa menjagaku, bahkan menyuruh orang untuk mengawal tanpa sepengetahuanku. tapi bukan itu yang utama, tolong jaga perasaanku," gumam Edel.
Malik terdiam mendengar penuturan Edel. Dia tidak menyangka jika Edel tahu dia menyuruh Duta Besar Negara A menyiapkan pengawalan untuk Edel juga dia ingat kejadian saat Edel melihat Azmy memegang bahunya.
"Apa kamu cemburu karena melihat kejadian tadi?" tanyanya.
"Apa aku tidak berhak buat cemburu padamu?" tanyanya balik.
"Aku senang kamu cemburu, tapi aku ga tahu kenapa Azmy memegang bahuku," jawab Malik.
"Tidak bisakah kamu menghindar, tadi sepertinya kamu menikmati sentuhannya," ketus Edel.
"Hahahaha.. aku menghindar honey, tidak semua selalu seperti yang kamu lihat honey," ujar Malik.
"Apa kamu kesal?".
"Tentu saja aku kesal!, kenapa dia harus ada di sana?" ketus Edel.
"Maafkan aku, aku ga tahu jika Shahmeer mengajak Azmy ikut berkumpul dengan kita. Tapi memang dia selalu ikut."
"Sudahlah, lupakan. Aku semakin kesal jika ingat itu," ucap Edel.
Perasaan dia yang mulai membahas, ko malah dia yang kesal. pikir Malik.
"Honey, nanti aku berencana mengajakmu liburan ke Eropa. Aku ingin mengajakmu bermain ski," ujar Malik mengalihkan pembicaraan.
"Aku sedang tidak mau berbicara denganmu!" ujar Edel masih kesal.
Ah, mungkin karena menstruasinya. gumam Malik dalam hati.
Mencoba mengerti meskipun masih susah dimengerti kenapa dia sangat mudah kesal malam ini.
Malik menghembuskan nafas beratnya, gemas sekali rasanya melihat wajah kekasihnya yang sedang cemberut seperti anak kecil yang menginginkan permen tapi tidak diberi.