
Uni Emirat Arab adalah salah satu negara yang terkaya di dunia, dan tentunya salah satu yang paling kuat di kawasan Timur Tengah ini. Terlepas dari struktur luar biasa dan gurun yang luas, UEA juga dikenal dengan penggabungan budayanya. Rumah dari kota-kota paling global di Timur Tengah, terdapat banyak jenis festival budaya dan agama di Uni Emirat Arab yang harus disaksikan saat berlibur di kota syekh ini.
Pagi sekali mereka sudah terbang ke Dubai. Mereka diundang untuk menghadiri Dubai Shopping festival, surga bagi para shopaholic. Acara ini berlangsung lebih dari sebulan dan merupakan salah satu festival musiman terbaik di Uni Emirat Arab.
Inilah saatnya setiap outlet belanja di Dubai akan menurunkan harga, yang berarti jalan-jalan kota dibanjiri pembeli dari seluruh dunia. Ditambah dengan keajaiban dan energi dari konser, kembang api, serta bentuk hiburan lainnya, dan ini menjadi salah satu acara dan festival terbaik di Dubai di Uni Emirat Arab.
"Ini pertama kalinya aku menghadiri festival ini, ini sungguh luar biasa. Semua brand dunia ada di sini dan memberikan diskon gila-gilaan," ujar Edel tak henti terkagum dengan harga yang ditawarkan.
"Lihat ini Malik, kata Mila brand ini tidak pernah memberikan diskon dan sekarang mereka bahkan menurunkan harganya hingga 10%," Edel menunjukan salah satu blazer dari brand ternama dunia.
"Honey, ayo kita jalan ke sana," ajak Malik.
Edel terlahir dari keluarga kaya raya dan bahkan menjadi seorang CEO diusia yang sangat muda, walaupun begitu dia jarang sekali membeli barang entah itu pakaian, tas, sepatu atau apapun dari brand-brand ternama dunia yang mematok harga diluar akal.
Baginya jika dia membeli tas dengan harga 100 juta itu hanya akan menjadi barang yang mungkin suatu hari nanti pasti rusak dan tidak akan dia pakai lagi, sedangkan jika dia memberikannya untuk membantu anak-anak yang membutuhkan pasti akan sangat bermanfaat.
"Honey, kenapa cuma dilihat-lihat aja. Apa tidak ada yang menarik hatimu?" tanya Malik yang sedari tadi menemani istrinya berkeliling tapi hanya dilihatnya saja tidak ada yang dibelinya.
"Bajuku masih banyak dan selalu bertambah meskipun aku tidak memintanya," jawab Edel.
"Kalau ada yang kamu suka, ambillah."
"Aku menyukai semua modelnya, tapi aku tidak berniat membelinya," jawabnya lagi.
Mr. Husein menghampiri Malik dan membisikkan sesuatu padanya.
"Honey, aku kesana sebentar. Kamu akan ditemani oleh Mrs. Harold," ujar Malik dengan sedikit tergesa-gesa.
Edel hanya bisa mengangguk dan memandanginya hingga Malik menghilang diantara lautan manusia yang sedang berada di festival tersebut.
"Ada apa?" tanya Edel pada Mrs. Harold.
"Yang Mulia Putra Mahkota UEA ada di sini dan beliau ingin bertemu dengan Yang Mulia Pangeran," sahut Mrs. Harold dengan sedikit membungkuk pada Edel.
"Oh, baiklah," ujar Edel lalu kembali membolak balik pakaian yang dipajang di sana.
Satu jam kemudian, Edel ditemani Mrs. Harold dan beberapa bodyguardnya berada di salah satu cafe di sana. Malik belum juga kembali dari pertemuannya dengan siempunya negara.
Beberapa kali Edel melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Yang Mulia, walaupun ini adalah pertemuan yang mendadak namun pasti ada sesuatu yang penting yang sedang dibahas oleh Yang Mulia Pangeran," kata Mrs. Harold yang sedari tadi memperhatikan Edel gelisah.
"Entah kenapa perasaanku kurang enak sejak kemarin, ini bukan tentang baby boy. Aku menghubungi ke istana dini hari tadi dan baby boy baik-baik saja. Namun entah kenapa perasaanku masih saja tidak merasa baik. Aku seperti melupakan sesuatu yang penting tapi aku tidak mengingatnya," ungkap Edel pada Mrs. Harold.
Mrs. Harold memandang tuannya lalu tersenyum, dia sedikit terkejut dengan perkataan Edel tapi dia bisa langsung menutupi keterkejutannya dengan sempurna.
Mrs. Harold tahu tentang masalah yang menyebabkan Edel merasakan perasaan itu. Tetapi dia harus menuruti perintah dari pangeran Malik yang memintanya tidak memberitahu Edel masalah Mrs. Jihan yang mengupload dirinya dengan anaknya di media sosial hingga viral.
"Saya mengerti perasaan anda, anda sungguh seorang ibu yang sangat baik. Saya kira semua ibu akan seperti anda ketika meninggalkan anaknya," Mrs. Harold berusaha menghibur Edel.
"Tapi aku merasa bukan karena hal itu," ujar Edel.
Dari kejauhan nampak Malik berjalan menghampiri mereka dengan diiringi oleh Mr. Husein dan juga beberapa pengawalnya. Sebelumnya, salah seorang pengawal Malik menghubungi pengawal Edel dan menanyakan keberadaan mereka. Tentu saja tanpa bertanya pun mereka dapat menemukannya karena ponsel Edel dan Mrs. Harold tersimpan alat pelacak yang terhubung dengan Malik dan Mr. Husein.
"Minumlah, aku sudah pesankan untukmu setengah jam yang lalu," ujar Edel menyodorkan minuman buat suaminya.
"Setengah jam yang lalu?" Malik mengerutkan keningnya melihat air didinding gelas minumannya.
"Lihat saja, di sini ramai sekali. Butuh waktu lama jika ingin memesannya lagi," ujar Edel melihat antrean pembeli yang tak kunjung surut.
Malik pun meminum minumannya yang terasa masih dingin walaupun es nya sudah banyak yang mencair. Dia berusaha menikmatinya.
"Oh ya, kenapa lama sekali?" tanya Edel yang penasaran dengan pertemuannya.
"Ada beberapa hal yang harus kami bahas dan itu masih bersifat rahasia," jawab Malik menekankan kata rahasia agar Edel tidak mendesaknya untuk memberitahunya.
"Honey, apa kamu masih ingin jalan-jalan?" tanya Malik yang berharap Edel mengatakan tidak.
"Apa ada hal yang mendesak hingga kamu bertanya seperti itu padaku?" Edel balik bertanya.
Aku salah bicara. batin Malik.
"Tidak, ayo kita jalan-jalan."
Malik meminta Mr. Husein dan Mrs. Harold meninggalkan mereka berdua saja namun itu di tolak Mr. Husein dengan halus karena mereka memang harus menjaga calon putra mahkota mereka.
"Aku ingin berjalan-jalan sebentar berdua dengan istriku," pinta Malik pada Mr. Husein.
"Saya dan Mrs. Harold akan mendampingi Anda Yang Mulia, harap Yang Mulia mengerti."
Malik tidak bisa membantahnya lagi, dia tahu alasan kenapa dia dan Edel tidak dibiarkan berjalan-jalan berdua saja.
Edel dan Malik membeli beberapa aksesoris dari platinum sebagai oleh-oleh untuk keluarganya. Mereka juga membelikan beberapa aksesoris lainnya untuk para pengasuh baby boy termasuk Mrs. Harold dan Mr. Husein juga semua pengawal yang mendampingi perjalan mereka kali ini.
***
Pukul setengah sembilan malam, Malik dan Edel sudah berada di pesawat yang membawa mereka kembali ke negara A.
Edel menelengkupkan kepalanya di dada Malik. Hangat sekali rasanya berada dalam dekapan suaminya.
"Aku merasa seperti baru pacaran denganmu," ucap Edel.
"Malik, sepertinya aku jatuh cinta lagi padamu," ungkapnya.
Malik tersenyum semakin mengeratkan dekapannya. "Terimakasih, kamu selalu membuatku tersenyum. Aku sangat mencintaimu."
"Honey, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini soal wanita itu."
*****
Terimakasih sudah mampir membaca. Jangan lupa like, koemn dan jadiah buat author agar lebih semangat lagi up nya. 🙏
Stay safe everyone. 🤗