He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 36



"Bagaimana jika bulan depan?" kata Mrs. Ommar, Edel melirik Malik memandangnya seakan memintanya untuk menolak pendapat Mrs. Ommar.


Malik balik memandang Edel Mengernyitkan sebelah alisnya.


"Ehm ..., untuk acaranya bolehkah kami yang menentukan waktunya. Kami harus mendiskusikannya, melihat jadwal kami yang sangat padat beberapa bulan ini dan menentukan di hari terbaik tentunya," pinta Malik pada semuanya.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama memutuskannya," sahut Sultan.


"Terimakasih, Ayah." ucap Malik melirik Edel.


Banyak yang mereka obrolkan dari makanan, hobi, kebiasaan, persiapan acara pertunangan, hingga meminta Edel berhenti mengelola perusahaan ketika nanti sudah menjadi istri pangeran Malik, karena tentu saja dia akan di boyong ke Negara A.


Baginya berpikir meninggalkan orangtuanya jauh lebih berat dibanding meninggalkan perusahaan. Tapi apa boleh buat, itu memang kewajibannya untuk ikut suaminya kelak. Mungkin jika masih satu negara Edel bisa berkompromi masalah pekerjaan tapi ini lain negara, mau tidak mau dia harus melepasnya.


Keluarga Soe dan keluarga Ommar mengantar rombongan The Royal sampai ke depan restoran.


"Terimakasih untuk jamuannya," kata Ibunda Ratu kepada Mrs. Soe sambil memegang tangannya.


"Saya yang berterimakasih anda sudah berkenan datang, saya minta maaf jika jamuannya sangatlah sederhana," ucap Mrs. Soe.


"Tidak, justru kami sangat menikmatinya. terima kasih," jawab Putri Zeera tersenyum.


Mereka berpelukan dan meninggalkan restoran, tinggal Malik yang masih di sana.


"Kau tidak ikut pulang," tanya Edel melirik Malik.


"Buat apa, kekasihku ada di sini. Apa kau mengusirku?" cetus Malik melirik Edel di sampingnya, Edel mengedikan bahu masuk ke dalam restoran.


"Wanita yang unik," gumam Malik mengikuti Edel masuk.


"Pangeran Malik, bolehkah aku berfoto denganmu?" tanya Emilly.


"Buat apa kau minta foto dengannya, denganku saja!" seru Darren menghampiri Emilly.


"Kenapa harus denganmu, ogah!" ketus Emilly berjalan menghampiri Malik dan Edel untuk berfoto meninggalkan Darren sendiri.


"Kak boleh ya aku berfoto berdua dengannya?" ujar Emilly meminta izin pada Edel.


"Tentu, berfotolah sebanyak yang kau mau," kata Edel tertawa, tak habis pikir kenapa semua orang ingin berfoto dengan Malik.


"Pangeran Malik, berfotolah dengan kami untuk kami pajang di sini," pinta Mrs. Ommar.


"Tentu," kata Malik tersenyum.


"Ayolah kita ikut berfoto," ajak Mr. ommar pada Mr. Soe yang cemberut melihat anak gadis dan istrinya berfoto dengan Malik.


Dengan enggan akhirnya Mr. Soe mau berfoto bersama, mereka menghabiskan waktu hanya untuk berfoto.


.


.


Malik dan Edel berjalan menikmati pemandangan di jembatan kapel dan tentu saja dengan Darren dan Emilly juga, kalau tidak maka tidak ada izin dari Mr. Soe.


"Aku masih belum mengerti kenapa semua orang ingin berfoto denganmu?" tanya Edel.


"Bukankah dulu kau juga mengambil fotoku ketika di pesawat," ujar Malik.


"Itu beda lagi!" jawab Edel ketus.


"Mungkin karena aku tampan," sahut Malik.


"Banyak yang lebih tampan darimu," ujar Edel membuat Malik menghentikan jalannya.


"Kenapa berhenti?" lanjut Edel berbalik melihat Malik.


"Apa aku kurang tampan di matamu?" tanya Malik sewot.


"Biasa aja!" jawab Edel singkat membuat Malik cemberut.


Edel menarik tangan Malik dan menggandeng tangannya.


"Jangan cemberut, aku menyukaimu bukan karena ketampananmu," ujar Edel.


"Apa karena aku seorang Pangeran," tanya Malik tersentak.


"Tentu bukan, aku tidak tau kamu seorang pangeran. Aku hanya menyukaimu, menyukaimu hingga aku tak tahu kenapa aku harus menyukaimu," sahut Edel membuat Malik tersenyum.


"Jadwalku padat sekali, izinkan aku menyelesaikan beberapa proyek yang sedang ku kerjakan sekarang. Setelah itu aku akan bisa fokus untuk persiapan pertunangan kita," pinta Edel.


"Sampai kapan?" tanya Malik.


"Mungkin tiga atau empat bulan dari sekarang," jawab Edel.


"Empat bulan ya?" Malik menghitung bulan dan berpikir, "bagaimana jika kita bertunangan saat ulang tahunku?" saran Malik.


"Memang kapan kau berulang tahun?" tanya Edel.


"Kau tidak tahu kapan hari ulang tahunku?!" jawab Malik terkejut.


"Engak," jawabnya singkat.


"Apa kau tidak penasaran denganku?" tanyanya lagi.


"Saat aku penasaran denganmu aku melihat fotomu dengan wanita lain, dari sana aku berusaha menahan rasa penasaranku. Bukankah lebih baik bertanya langsung padamu, dari pada menguntitmu lewat dunia Maya nanti salah paham lagi!" kata Edel mencari alasan.


Malik menepuk tangan Edel yang di gandengnya. "Aku berulang tahun di bulan Desember jadi ya lima bulanan lagi," jawabnya


"Desember ya," kata Edel berpikir apakah di bulan itu sebagian besar proyek jangka pendeknya sudah selesai.


"Tanggal berapa?" lanjutnya.


"Tanggal 23," jawab Malik.


"Ehm ... oklah, Minggu akhir tahun. Liburan panjang," sahut Edel.


"Kenapa kau tidak bertanya kapan hari ulang tahunku?" tanya Edel penasaran.


"Buat apa, toh aku sudah tahu sebagian besar datamu. Bahkan aku tahu semua jadwalmu sampai akhir tahun ini," seloroh Malik.


"Benarkah?!" tanya Edel memandang Malik.


"Tentu, sangat mudah bagiku mengetahui semua itu," bangganya.


"Pasti kamu minta bantuan Mr. Husein," ledek Edel tertawa.


"Entschuldigen Sie mich," kata seorang anak menarik-narik baju Edel. dia pun berjongkok dan memberi senyuman pada anak itu.


"Können Sie mir helfen, meine Mutter zu finden?" (Bisakah Tante membantuku menemukan mamaku?) lanjutnya.


"Hast du deine mutter verloren? wo warst du das letzte mal bei ihm?" (Kamu kehilangan mamamu, dimana terakhir kali kamu bersamanya?) tanya Edel, anak itu menunjukkan tempat dimana dia kehilangan mamanya.


"Lass uns gehen, vielleicht sucht dich deine Mutter dort," (ayo, mungkin mamamu sedang mencarimu di sana) ajak Edel.


Emilly kemudian menghampiri mereka.


"Komm mit mir, wir suchen es, bis wir uns treffen," seru Emilly memegang tangannya. anak itu mengangguk wajahnya menahan tangis.


"Biar aku saja kak," kata Emilly dibalas anggukan.


"Terimakasih, kasian dia kehilangan mamanya," gumam Edel melihat Emilly menemani anak tadi menemukan mamanya.


"Kau bisa bahasa sini?" tanya Malik yang memperhatikan mereka mengobrol.


"Sedikit," jawabnya singkat.


"Kau menguasai berapa bahasa?" tanyanya kagum.


"Entahlah, aku tidak menghitungnya" jawabnya lagi.


"Kenapa kau melihatku seperti itu?"


"Aku semakin menyukaimu," ungkap Malik memandang Edel kagum.


Darren dan Emilly telah kembali dan menemukan ibu dari anak tadi. Mereka mengikuti di belakang berasa jadi bodyguard sungguhan.


Pukul sebelas waktu setempat, Darren harus mengantarkan Emilly pulang jadi itu memberi kesempatan Malik bisa berduaan dengan Edel.


"Kapan kamu pulang?" tanya Edel.


"Mungkin besok pagi, tadinya malam ini jadwalku pulang. Cuma mama masih kangen dengan kak Zeera dan cucunya," sahut Malik tangan kanannya memegang tangan Edel tangan kirinya memegang kemudi.


"Peganglah setirnya!" seru Edel.