
Malik masuk ke kamar Edel tanpa mengetuk pintu, dia tahu Edel sedang tidur karena pengaruh obat dari Mrs. Soe. Malik melihat kekasihnya berbaring di atas tempat tidur, lehernya menggunakan cervical collar. Apa cederanya beneran ringan hingga harus menggunakannya. pikir Malik.
Dia mendekati kekasihnya menarik kursi dekat tempat tidur dan duduk di sana. Dia mengambil tangan Edel dan menggenggamnya. Lama dia melihat wajah kekasihnya, lalu menempelkan telapak tangan Edel di pipinya dan menciumnya.
"Maafkan aku," gumamnya lirih, menunduk dan merebahkan kepalanya di tempat tidur dengan tangannya sebagai bantalan kepala.
Malik telengkup tidur di samping tempat tidur Edel, dia merasa sangat lelah dengan kejadian yang membuatnya sangat khawatir.
Sepertinya keluarga mereka benar-benar ingin memberi ruang buat mereka menyelesaikan masalahnya, mungkin ini waktu yang tepat pikir mereka.
Dua jam lebih kemudian, Edel mulai membuka matanya dan merasakan ada seseorang tertidur di dekatnya,
"Malik" gumamnya, dia tidak bebas bergerak melihatnya karena cervical collarnya. Dia melihat dengan seksama wajah pria yang tertidur itu membelai rambutnya hingga pelipis.
Edel tidak menyangka Malik sudah berada di sampingnya, dia tidak menyangka Malik rela menempuh perjalanan jauh hanya untuknya.
"Terimakasih sudah datang," ucapnya lirih meraba alis dan garis hidungnya yang tajam. Edel memegang pipi Malik, hangatnya terasa sampai ke hati mencairkan rasa kesal dan marahnya.
Malik tahu Edel sedang membelai wajahnya dan memandangnya, dia sengaja tidak membuka matanya. Menikmati setiap sentuhan tangan Edel di wajahnya.
"Jangan terlalu lama menatapku, kalau tidak kau akan tambah jatuh cinta padaku," ucap Malik tanpa membuka kedua matanya.
Edel tersenyum mendengar perkataan Malik dan wajahnya merona ketika Malik memegang tangannya yang dia tempelkan di pipinya lalu menciumnya.
"Kau sudah bangun?" hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulut Edel. Ah, kenapa aku tanya itu, harusnya aku masih kesal sama dia. batin Edel merutuki sikapnya. Harusnya aku masih marah ke dia, sia-sia tak kuhiraukan selama ini!.
Malik membuka matanya memegang tangan Edel. "Maafkan aku, Honey," ucapnya memandang kekasihnya, "sungguh, maafkan aku."
Edel tertawa kecil mencubit pipi Malik, "Gemas sekali melihatmu," ujar Edel.
"Kau mau memaafkanku?" hatinya belum plong jika belum mendengar Edel memaafkannya.
"Tentu saja aku akan memaafkanmu, Allah aja Maha Pemaaf," sahut Edel tersenyum.
"Apa kamu baik-baik saja, bagaimana keadaanmu?" tanya Malik.
"Lihat saja bagaimana keadaanku sekarang. kamu bisa melihatnya sendiri!" seru Edel ketus.
"Apa mau aku bantu benarkan bantalmu?" Malik melihat Edel yang susah bergerak dan tak nyaman dengan cervical collarnya.
"Bagaimana kamu bisa kecelakaan honey, kau sangat membuatku khawatir." sambil membenarkan bantal Edel.
"Entahlah, itu terjadi begitu saja. Seingatku ada mobil yang akan menyalip ku tiba-tiba dan aku terkejut, hilang kendali dan yah ... kamu tahu cerita selanjutnya, bisa bantu aku menaikan ini" Edel menunjuk tempat tidurnya bagian kepala, dia tidak ingin berbaring terus.
"Ok," tempat tidur Edel jenis elektrik tiga crank hopefull. Malik mengambil remote dan mengatur posisinya agar menjadi posisi Edel bersandar.
"Aku takut aku yang menyebabkanmu kecelakaan," lanjut Malik lirih. Edel ingat jika saat itu dia menangis dan mungkin menancap gas, tetapi dia tidak akan memberitahukan ini pada Malik.
"Bisakah kamu mengambilkan aku minum, tenggorokanku sedikit kering," ujar Edel.
Malik dengan sigap membawa segelas air dan membantunya minum. Edel terlihat sangat cantik meskipun dengan baju pasien dan menggunakan cervical collar di lehernya. Dia sangat merindukannya bahkan saat ini pun ketika mereka bersama.
"Tolong ambilkan ponselku," pintanya, dia ingat harus menandatangani beberapa dokumen dan laporan.
"Diamlah jangan terlalu banyak bergerak, istirahatlah!" titah Malik, "jangan memikirkan dulu soal kerjaan, aku pikir ayahmu sudah mengurus semuanya."
"Aku ingin menelepon Mita," ujarnya, dia masih tidak bisa mengalihkan pikirannya dari pekerjaan yang harus dia kerjakan hari ini.
Malik mengeluarkan ponselnya karena dia tidak melihat ponsel Edel di mana pun. Malik menghubungi seseorang,
"Ya, Assalamualaikum," salam orang di seberang telepon. "Bagaimana kabarmu princess?, kamu membuatku jantungan!" serunya melihat Edel terbaring dengan cervical collarnya. Mereka melakukan panggilan video.
"Bagaimana kerjaanku hari ini?" tanyanya.
"Kamu masih memikirkannya bahkan saat lehermu masih menggunakan cervical collar?!" tanya Mita tegas. "ga usah dipikirkan dulu soal kerjaan, semua sudah aku tangani. Istirahatlah agar kamu cepat sehat, aku merindukanmu di sini."
"Hahahaha.. dia menggunakan pintu Doraemonnya," gelak Edel.
"Ya, sungguh aku selalu lupa dia benar-benar seorang pangeran di dunia nyata yang mempunyai jalur khusus bahkan di udara sekalipun ... Cepatlah sembuh, Pangeranmu sudah ada di sampingmu dan aku harus bekerja, aku tidak ingin merusak mataku dengan melihat kemesraan yang kalian tunjukan," ucapnya melihat Malik membenarkan helaian rambut Edel.
"Cepatlah cari Pangeranmu, agar kamu tidak harus iri ketika melihat kami!" seru Malik.
"Ya, sepertinya begitu," jawabnya. "aku akan meminta cuti tahunan ku dan akan berlibur ke Yordania atau Uni Emirat untuk mencarinya!" dia tertawa dengan perkataan nya.
"Sudah ya, nanti malam aku akan mampir menjengukmu. kirimi aku pesan jika kamu mau aku bawakan sesuatu," lanjutnya, "assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Edel melambaikan tangan.
"Terimakasih," ucap Edel.
Mr. dan Mrs. Soe akhirnya datang diikuti oleh Putri Syahara yang membawakan makanan dan memberikannya pada Malik.
"Makanlah, Kamu belum makan dari siang," ujarnya. Malik menerimanya dan tersenyum, dia senang kakaknya berada di sampingnya saat ini ikut bersamanya.
"Kamu belum makan, pantas saja aku mendengar suara perutmu," ledek Edel di sambut tawa kecil Malik dan yang lainnya.
"Ya, kami sedang sarapan saat tahu kamu kecelakaan. kamu tahu wajahnya langsung berubah pucat padahal dia lagi senang karena mendapat kabar gembira dari ayah, dia langsung berdiri dan pergi begitu saja," kata Putri Syahara tertawa.
"Benarkah?" ujar Edel berbinar.
"Wajar saja aku bersikap seperti itu, kamu membuatku sangat khawatir apalagi aku mendengar jika kecelakaanmu adalah kecelakaan beruntun dan mobilmu berada diantaranya, aku juga mendengar mobilmu rusak parah," terang Malik. "tapi sepertinya mereka hanya mengerjaiku dengan mengatakan keadaanmu parah ketika dibawa ke rumah sakit agar aku panik," mendramatisir yang di dengarnya.
"Makanlah dulu kalau tidak nanti kau akan menemaniku berbaring di sini dengan tangan di infus!" seru Edel.
"Baiklah," Malik membuka makanan yang dibawa kakaknya. Dia makan di samping kekasihnya, dia enggan berjauhan dengannya.
Edel melihat Malik menyuapkan makanan ke mulutnya. "Kau mau?" tanya Malik. tapi Edel hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku senang melihatmu makan," ujar Edel kemudian.
"Sayang, kamu lapar?" tanya Mrs. Soe. "kami juga membawakanmu makanan kesukaanmu."
"Iya," jawabnya. dia merasa lapar sekali, perutnya hanya berisi makanan saat dia sarapan tadi pagi sebelum berangkat.
Mrs. Soe membuka kotak makannya dan mulai menyuapinya dari samping kirinya, karena samping kanan ada Malik.
"Makanannya enak, bunda beli di mana?" tanyanya sambil mengunyah.
"Makanlah dulu, jangan berbicara sambil makan kalau tidak kau akan tersedak nanti," ujar Mrs. Soe mengingatkan. "bunda beli di kantin, ayah juga tadi makan menu yang sama denganmu katanya enak jadi ayah meminta bunda membungkusnya untuk kalian."
Tak terasa sudah mau Magrib. Waktu memang terasa berjalan sangat cepat jika kau sedang dalam keadaan bahagia.
"Izinkan aku yang menemani Edel di sini malam ini," pinta Malik pada Mr. dan Mrs. Soe.
"Apa kamu tidak lelah?" kata Mr. Soe bertanya balik.
"Aku bisa tidur di sana," menunjuk bed tambahan untuk istirahat yang menemani pasien.
"Baiklah," kata Mr. Soe. "Putri, apa kamu menginap di hotel?" tanya Mr. Soe.
"Menginaplah di rumah kami, rumah kami memang jauh lebih kecil dari pada istanamu. Tapi kami merasa terhormat jika kamu mau mampir dan menginap di tempat kami," pinta Mrs. Soe.
"Ya Bu, kalau begitu dengan senang hati aku akan menginap di rumahmu," katanya penuh senyuman.
"Sayang, kami pulang dulu," kata Mrs. Soe pada Edel. "jika ada sesuatu tolong segera hubungi kami."
Mereka pun berpamitan dan meninggalkan mereka berdua di rumah sakit. Mr. dan Mrs. Soe tidak sedikitpun merasa khawatir mereka hanya berduaan di kamar rumah sakit, mereka percaya jika anak-anak nya tahu batasan dan bisa menjaga dirinya. Mereka masih merahasiakan kedatangan keluarga Malik besok.