
Malik menemani Edel menjemput Mrs. Soe yang akan datang sore ini untuk menemani Edel sampai dia melahirkan nanti.
Mereka telah berada di Bandara internasional Negara A, setengah jam sebelum pesawat yang ditumpangi oleh Mrs. Soe mendarat.
"Honey, kau baik-baik saja. Kenapa kamu terlihat gugup?" Malik memegang tangan Edel yang mulai terasa dingin.
"Entahlah, mungkin karena sudah lama aku tidak melihat bunda."
Malik hanya mengangguk percaya dengan yang istrinya katakan. Tapi sepuluh menit kemudian dia melihat wajah istrinya seperti menahan rasa sakit yang sulit dijelaskan.
"Honey, Benarkah baik-baik aja?" Malik mulai khawatir.
"Aku tak apa, perutku sedikit mulas. Katanya memang biasa kalo beberapa Minggu sebelum lahiran akan ada kontraksi palsu seperti ini," jawabnya. Ini kedua kalinya dia merasakan kontraksi dalam waktu satu jam.
Dalam seminggu ini sudah beberapa kali Edel merasakan kontraksi di perutnya, dia menceritakannya pada Mrs. Soe yang memberitahunya jika mungkin anaknya hanya merasakan kontraksi palsu jika rasa sakitnya hilang timbul dan tidak teratur.
Malik mengusap perut Edel lembut membuat siapapun yang melihatnya iri dengan sikap romantis mereka.
"Maafkan aku honey, aku membuatmu merasakan sakit seperti itu. Maafkan aku tidak bisa mengurangi rasa sakit yang kamu rasakan," Malik begitu khawatir melihat Edel meringis menahan sakit.
"Kamu menemaniku seperti ini sudah mengurangi rasa sakitnya," ucap Edel membelai lembut wajah Malik yang kini dipenuhi jambang tipis membuatnya terlihat semakin gagah.
Mr. Husein datang melaporkan jika pesawat yang ditumpangi Mrs. Soe telah mendarat. Rasa bahagia Edel terlihat jelas dari senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Ayo honey," ajak Malik untuk menyambut Mrs. Soe di pintu kedatangan.
Mereka berjalan ke arah pintu kedatangan dan begitu sampai Edel kembali meringis merasakan rasa sakit kontraksi.
Tanggal perkiraan dokter masih dua Minggu lebih lagi, kenapa kontraksinya semakin terasa lama. gumam Edel dalam hati. Edel tidak memberitahu Malik, dia takut suaminya semakin khawatir.
"Apa terasa lagi kontraksinya?" Malik merasakan cengkreman tangan Edel semakin kencang di lengannya.
"Ah, hahaha ... sedikit," lirih Edel.
"Ayo kita duduk saja di sana," Malik menunjuk ke arah ruang tunggu yang tadi mereka tempati.
Edel menggelengkan kepalanya, "Di sini saja, sebentar lagi bunda keluar."
"Aku sungguh khawatir melihatmu menahan sakit seperti ini, kenapa tadi kamu tak menurut padaku untuk menjemputnya langsung di apron," gerutu Malik yang hanya dibalas senyuman oleh istrinya.
Dari beberapa hari yang lalu Malik meminta Edel agar menjemput Mrs. Soe langsung ke apron atau lapangan landasan pesawat tapi Edel menolaknya, dia ingin seperti orang lain yang menjemput orangtuanya di pintu kedatangan bandara. Edel tidak ingin masyarakat menilainya terlalu manja dengan status yang dia sandang sekarang.
"Malik, sakitnya semakin intens. Bagaimana ini?" Edel mencengkram kuat lengan Malik menahan sakit.
"Cepat telepon rumah sakit!" teriak Malik panik pada Mr. Husein.
Mr. Husein segera menelepon rumah sakit dan menyuruh memanggil dokter bandara untuk datang memeriksa istri tuannya.
Edel dibawa kembali keruangan tadi dia menunggu Mrs. Soe.
"Yang Mulia sepertinya Yang Mulia Putri akan melahirkan. Kita harus cepat membawanya ke rumah sakit," ucap dokter bandara.
Malik memerintahkan Mr. Husein menyiapkan helikopter untuk membawanya dan istrinya ke rumah sakit pusat kota, rumah sakit yang sama dengan tempat Pangeran Fatih di rawat.
"Sayang, kamu tak apa?" Mrs. Soe setengah berlari menghampiri anaknya yang tengah meringis menahan sakit.
"Bunda, katanya aku mau melahirkan. Biasakah bunda ikut menemaniku ke rumah sakit," rengek Edel pada Malik.
"Tentu, honey," jawab Malik.
"Bunda, sakit ... !" keluh Edel.
"Sabar sayang, aturlah penafasanmu," ujar Mrs. Soe mengelus rambut anaknya.
Mereka telah berada di dalam helikopter yang akan membawanya ke rumah sakit.
"Aaww !" teriak Malik tiba-tiba ketika Edel mencengkram kuat lengannya sampai berbekas.
"Tenang sayang, ayo atur nafasmu," ujar Mrs. Soe.
"Sebentar lagi, atur nafasmu seperti kata bunda," ujar Malik sedikit meringis karena di cengkeraman istrinya.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di landasan rooftop rumah sakit. helikopter itu telah mendarat sempurna dan dokter kandungan yang akan membantu Edel melahirkan telah menunggunya.
Edel langsung masuk ke ruang operasi yang telah di sediakan. Malik menemani Edel masuk setelah memakai baju steril yang disediakan rumah sakit.
Air ketuban Edel telah pecah sejak berada di helikopter. dokter bandara yang menemaninya selama perjalanan telah memberitahukan hal tersebut pada dokter kandungan.
"Tarik nafas dalam-dalam Yang Mulia setelah itu keluarkan dan dorong," ujar dokter yang membantunya melahirkan.
Edel memegang tangan Malik yang berada di sampingnya dengan kuat dan beberapa kali mengejan kuat.
"Ayo honey, kamu bisa. Allahu Akbar ... Allahu Akbar ... ," Malik berdzikir berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya, dia sungguh ga tega melihat istrinya yang telah bermandikan keringat berjuang melahirkan.
"My boy, ayo bantu mommynya melahirkanmu. kalian pasti bisa," ujar Malik mengusap perut Edel.
Edel berusaha mengejan beberapa kali lagi, dia mulai terlihat kehabisan tenaga.
"Yang Mulia, anda telah berusaha keras sekarang dorong sekali lagi dengan kuat," titah dokter.
Edel menuruti perintah dokternya, dia mendorong dengan kuat begitu terasa ada kontraksi kuat dari dalam.
"Eeengggghhhh ... ." nafas Edel memburu kelelahan, namun ia tetap berusaha mengejan lagi.
"Oooeee ... Oooeee ... ," Suara bayi langsung terdengar begitu dia lahir melihat dunia.
"Alhamdulillah," ucap Malik mencium Edel, dokter dan semua tenaga medis yang membantu Edel melahirkan.
"Selamat Yang Mulia, bayi anda laki-laki," ucap dokter kandungan.
Dokter menyerahkannya pada perawat untuk ditangkupkan di dada Edel.
"Selamat yang Mulia atas kelahiran putra anda, anda telah berjuang sangat keras," satu persatu tenaga medis yang membantu memberi ucapan pada Edel dan Malik.
"Terimakasih, kamu telah berjuang melahirkan anak kita. Terimakasih," Malik tak dapat menahan rasa harunya, dia meneteskan air mata. Sekarang dia telah menjadi seorang ayah, dia mencium kening Edel.
Edel tersenyum penuh kemenangan, bayi mungilnya telah lahir dan berada di dadanya mencari-cari sumber ASI nya. Lelah yang Edel rasakan dalam sekejap hilang, dia sangat bahagia telah menjadi seorang ibu.
"Hay boy, terimakasih telah membantu mommy melahirkanmu," ucap Edel memegang tangan mungil putranya.
"Yang Mulia, kami akan membawa putra anda untuk dibersihkan terlebih dahulu dan diberi vaksin pertamanya," ucap perawat meminta izin pada Edel dan Malik.
"Ya, silahkan," jawab Edel memberi izin.
Malik tidak berkata-kata, dia masih mengatur pikirannya yang takjub melihat seorang perempuan begitu luar biasa berjuang ketika mereka melahirkan meskipun harus merasakan sakit yang luar biasa dapat mematahkan seluruh tulang dan persendian mu.
"Anda kenapa Yang Mulia?" tanya Edel membelai wajah Malik.
Malik masih berada di sebelah Edel menangkupkan wajahnya ke bahu istrinya, dia merasa begitu bersalah membuat Edel kesakitan seperti itu.
"Maafkan aku, kamu begitu kesakitan seperti itu," ucapnya terbata.
"Hahahaha ... , ayolah jangan seperti ini. Aku sudah tidak apa-apa," jawab Edel, padahal dia sedang mendapat jahitan disekitar **** * nya karena sobek.
"Yang Mulia, sebentar lagi kami akan membawa anda dan putra anda ke ruangan," ujar dokter.
"Terimakasih telah membantu istriku melahirkan dokter, padahal ini bukan jadwal anda," ucap Malik.
"Ini sudah menjadi tanggung jawab kami," sahutnya.
*****
Terimakasih sudah membaca. 🙏
Maaf jika banyak typo dan lama up nya.
Stay safe everyone. 🥰🤍