He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 126



Pengumuman resmi tentang kecelakaan yang menewaskan Putri Grizelle telah disampaikan juru bicara kerajaan. Hari itu Negara A berduka, mulai mengibarkan bendera setengah tiang untuk 14 hari ke depan.


Kondisi Pangeran Fatih yang masih menjalani operasi juga telah disampaikan. Inilah kali pertama dalam sejarah negara A mencatat Pangeran Mahkota mereka terlibat kecelakaan dan menewaskan Putri Mahkota.


Sungguh di luar logika mengingat bagaimana sistem keamanan yang mereka gunakan sangatlah canggih, tapi masih tidak mampu melindungi pangeran mereka beserta istrinya.


Edel yang telah diberitahu tentang duka kehilangan putri Grizelle pun sangat terpukul apalagi mengingat jika Putri Grizelle meninggal dalam kunjungan menggantikannya.


"Ini adalah takdir dari Allah, janganlah menyalahkan diri sendiri. Kamu sungguh tidak bersalah apapun anakku," Ibunda Ratu membelai rambut Edel.


Air mata Edel tak berhenti mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai terlihat pucat.


"Maafkan aku Bu, aku tak menyangka jika semua ini terjadi. Kami bahkan berpelukan tadi pagi dan aku mengucapkan terimakasih padanya telah bersedia menggantikan ku," ujar Edel dengan suara terbata.


"Mereka seorang yang bahkan tak berani menyakiti semut. Aku sungguh tidak percaya ada orang yang tega sekali melakukan ini pada mereka," lanjut Edel. Malik dan keluarga inti tidak memberitahu fakta kejadian yang sesungguhnya.


Pihak kerajaan merubah sedikit penyebab terjadinya kecelakaan pada putra mahkota. Mereka memberikan statement jika pelaku adalah orang yang tidak senang dengan pangeran mahkota dan mengincarnya, juga memberitahukan jika pergantian jadwal putri Grizelle dan Edelweiss sudah di tentukan sejak mereka tahu jika Edelweiss tengah mengandung anak pertamanya dengan pangeran Malik.


Semua pihak yang terkait dengan acara pun diminta khusus oleh Baginda Sultan untuk tetap bungkam mengenai kejadian tersebut.


Pangeran kecil Ammar tiba-tiba memeluk Edel, "Jangan menangis lagi Tante, ada aku di sini."


Terasa hangat sekali pelukan dari Pangeran Ammar, bukan hanya menghangatkan tubuhnya namun hatinya juga ikut terasa hangat menambah kekuatan buat Edel.


tok ... tok ... ,


"Yang mulia Ibunda, orangtua Yang Mulia Putri Edelweiss telah tiba," ucap asisten Ibunda Ratu dari balik pintu.


Pintu terbuka dan Mrs. Soe setengah berlari ke arah anak perempuannya.


"Assalamu'alaikum," salamnya berbarengan dengan Mr. Soe.


Mrs. Soe duduk di sebelah Edel dan memeluknya cukup lama. Bukan hanya sebagai pelepas rindu namun juga memberi kekuatan pada anaknya untuk tetap tabah menghadapi musibah ini. Mr dan Mrs. Soe juga diberitahu oleh Malik kejadian yang sebenarnya dan fakta bahwa Edel lah yang mereka incar bukan kakaknya juga diminta untuk merahasiakannya.


"Bagaimana kabar anda Yang Mulia Ibunda Ratu. Semoga Anda selalu sehat dan dalam lindungan Allah SWT," sapa Mrs. Soe setelah melepaskan pelukannya dari Edel.


"Alhamdulillah, bagaimana keadaan kalian? kalian pasti lelah," jawabnya.


"Tidak, Kami turut berduka dengan kejadian ini. Semoga Pangeran Fatih segera sembuh seperti sediakala," ucap Mr. Soe lirih.


"Terimakasih kalian telah datang," ucap Ibunda Ratu.


*


*


Malik ikut sibuk mengatur dan mempersiapkan kedatangan jenazah Putri Grizelle karena hanya dia yang berada di Istana, tidak mungkin jika Ibunda Ratu yang mengatur semuanya. Kakaknya Putri Zeera pun telah diberi kabar dan akan tiba besok pagi, sedangkan Putri Syahara dan suaminya menemani Baginda Sultan menunggu Pangeran Fatih yang masih menjalani operasi.


Jenazah Putri Grizelle direncanakan akan tiba besok pagi bersama dengan Pangeran Fatih yang akan dipindahkan ke rumah sakit khusus anggota kerajaan di pusat kota.


Keluarga dari Putri Grizelle pun telah tiba di istana, ayahnya berangkat ke daerah Dy menjemput jenazah anak kesayangannya sedangkan ibunya berkumpul bersama Edel dan Ibunda Ratu di istana barat tempat kediaman Pangeran Fatih dan Putri Grizelle.


Ibu Putri Grizelle seorang yang sangat sabar dan bijak, seperti Ibunda Ratu dia pun berkata, "Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan, sekalipun dia dilindungi oleh peralatan canggih sekalipun."


Pukul satu dini hari, Malik baru masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya istrinya berbaring di sofa menunggunya, wajahnya terlihat pucat.


Malik mendekati Edel dan mengusap bahunya pelan.


"Kau sudah pulang?" ujarnya membuka mata, padahal Edel baru saja terpejam.


Malik menyenderkan kepalanya di bahu Edel. Rasa sedih kehilangan membuat tubuhnya serasa seperti kapas, tapi dia harus tetap bertahan bukan hanya untuknya dan istrinya tapi juga untuk semua rakyat negara A.


Malik menangis dalam pelukan istrinya, "Terimakasih, aku senang kau berada di sampingku saat ini. Maafkan aku," ujarnya masih dalam pelukan Edel.


"Aku juga senang bisa berada di sini bersamamu," Edel mengeratkan pelukannya, tapi Malik mencoba melepaskan pelukannya.


"Maafkan ayah, ayah lupa kamu berada di sana," ucap Malik mengusap perut Edel lembut. "Terimakasih telah berada di sana dan menemani mommymu. Sehat-sehatlah, aku menyayangimu."


Edel tersenyum sambil mengelus rambut Malik.


"Iya Daddy, kau harus kuat untuk melindungi kami semua," ucap Edel. Malik mencium perut Edel lembut.


Malik bercerita tentang persiapan untuk besok, dia juga bercerita jika Pangeran Fatih belum selesai menjalani operasinya padahal sudah lebih dari 12 jam.


"Berdoalah semoga Pangeran Fatih kuat dan dapat bertahan melewati semuanya. Malik, apa tidak masalah jika memakamkan Putri Grizelle tanpa sepengetahuan pangeran Fatih?" tanyanya. Edel berpikir pasti akan sangat sedih sekali tidak bisa melihat orang yang sangat dicintainya untuk terakhir kalinya.


"Ya, kami sudah berbicara mengenai itu dengan ayahku juga keluarga Putri Grizelle. Mereka setuju untuk memakamkan Putri Grizelle sesuai dengan syariat Islam untuk tidak menunda terlalu lama, lagi pula kami juga mempertimbangkan perkataan dokter tentang kondisi pangeran Fatih yang belum bisa dipastikan siumannya kapan," terang Malik menyenderkan kepalanya di bahu Edel sambil berpegangan tangan.


Edel berusaha mencerna dan mengerti semua perkataan Malik.


"Apa pelakunya sudah ditangkap?" tanya Edel. "aku mendengar mengenai kejadian penembakan itu. Malik, bukankah sangat mudah bagimu untuk menemukannya. Maksudku, kau kan seorang pangeran dan pasti bisa meminta tim penyidik bahkan FBI untuk menyelidiki dan menangkap pelakunya, iya kan?" tutur Edel.


"Ya jika itu kelompok gengster biasa, tapi sepertinya mereka mafia internasional yang pekerjaannya sangat rapi. Penyidik telah mengurus semuanya, mereka telah mengetahui pelakunya dengan bantuan FBI tapi tidaklah mudah menangkap nya dan kalaupun tertangkap mereka tidak hanya berurusan dengan hukum negaraku tapi juga dengan organisasinya. Kau tahu jika masuk menjadi anggota organisasi mafia kelas internasional nyawalah taruhannya."


"Kau tahu banyak tentang itu, tentang organisasi mafia di dunia?" tanya Edel penasaran.


Malik terdiam beberapa saat, "Aku akan memberitahumu beberapa rahasia."


Edel terdiam menatap Malik, dia tak menyangka jika Malik menyembunyikan sesuatu darinya. "Rahasia? Apa kau punya selingkuhan seorang mafia?".


Malik tertawa kecil, "Jauhkan hal-hal seperti itu dari pikiranmu, untuk apa aku berselingkuh ketika aku mempunyai istri yang cantik, baik, cerdas dan mau bertahan bersamaku sepertimu."


"Mulai ngegombal," ujar Edel merasa pipinya berwarna kembali.


"Tidak ada seorang pun wanita yang dapat mengomel dan memarahiku sepertimu bahkan mengataiku penguntit," Malik tertawa teringat Edel menyebutnya seorang penguntit.


"Jadi apa rahasianya?".


"Apa kamu tidak lelah dan mengantuk, aku mengantuk sekali," Malik mengalihkan pembicaraan.


"Ayolah Malik, aku mengantuk tapi aku tidak akan bisa tidur jika belum tahu apa rahasia yang kamu maksud tadi. Ceritalah, jangan mengalihkan pembicaraan!" ketus Edel.


"Honey, Tapi tolong rahasiakan ya. Kau sudah tahu Ronald temanku kan, Ayahnya ketua mafia terbesar di Asia. aku mengetahui nya saat kakaknya Shahmeer dibunuh oleh mafia Jepang karena dia berpacaran dengan anaknya. Juga ... ," Malik terdiam cukup lama tidak meneruskan perkataannya.


"Juga apa?" tanya Edel membuyarkan lamunan Malik. "Benarkah orangtua Ronald seorang mafia, bagaimana dengan Queenzha?".


"Tidak, tidak apa-apa. Aku lupa mau berkata apa padamu," ujarnya tertawa menyembunyikan kebohongannya. Dia tidak mungkin bercerita pada Edel tentang ibunya Shahmeer yang diduga berselingkuh dengan mafia Eropa.


"Ya, kalau tidak percaya tanya saja pada temanmu. Queenzha pasti sudah tahu jika ayah Ronald seorang mafia dan tenang saja tidak akan terjadi sesuatu yang membahayakan temanmu kecuali jika temanmu berselingkuh!" tegas Malik.


"Baiklah kalau begitu aku akan menganggapmu berhutang satu penjelasan padaku. kalau kau sudah ingat apa yang mau dikatakan tadi, cepat beritahu aku. Aku mengantuk, setidaknya aku bisa tidur dua jam sampai pukul empat subuh," ujar Edel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan suaminya.


*****


Terimakasih sudah membaca 🥰.


Stay safe every one 🙏❤️❤️❤️