
"Honey, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu. Ini soal wanita itu."
"Wanita yang mana?" Edel mendongkakkan kepalanya ke arah Malik dan mengernyitkan alisnya. Edel merasa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang.
"Mrs. Jihan, Honey."
"Mrs. Jihan, kenapa dia?" debaran jantungnya sudah mulai mereda tapi perasaan terkejutnya belum sepenuhnya hilang.
"Dia mengunduh fotonya dengan anaknya dan memberitahukan dunia jika dia punya anak dari hubungannya dengan mendiang pangeran Fatih dulu," terang Malik.
"Lalu?" tanya Edel.
"Aku merasa kasihan pada anaknya, dia dijadikan alat untuk mengambil hati masyarakat agar bisa masuk istana," jawab Malik.
"Bukankah kalau memang dia anaknya mendiang pangeran fatih, berhak untuk masuk istana dan mengambil alih posisi ayahnya," ujar Edel.
"Ya, jika anak tersebut lahir dalam sebuah pernikahan. Honey, pewaris tahta haruslah anak dalam sebuah pernikahan tak peduli itu dari seorang istri pertama atau dari selir. Sangat disayangkan mendiang pangeran memiliki anak tapi diluar pernikahan dan itu tidak dihitung," terang Malik.
"Jadi, maksudmu Mrs. Jihan meminta dukungan masyarakat buat bisa masuk gitu?" tanya Edel penasaran.
"Ya, sepertinya begitu. Itulah salah satu alasan kenapa suksesi pangeran mahkota dipercepat. Mungkin akan terjadi sedikit pro dan kontra di masyarakat, aku harap kamu bisa lebih sabar dan terus berada bersamaku menghadapi apapun yang akan terjadi di masa mendatang," pinta Malik menatap mata Edel dan mengelus lembut pipinya.
"Kalau bukan bersamamu, lantas aku harus bersama siapa?" canda Edel tertawa.
Malik mencubit gemas hidung Edel gemas. Rasa syukurnya terus bertambah karena Edel lah yang berada bersamanya.
"Boleh aku bertanya lagi?"
"Ehm?"
"Malik, apa keluargamu mengakui dan menerima anak itu sebagai anak mendiang pangeran Fatih?"
"Ya, tentu saja kami mengakuinya tapi hanya sebatas mengakui. Bahkan yang aku dengar, selama ini kehidupan mereka ditanggung oleh kerajaan, tapi untuk masuk rasanya tidak mungkin," jawab Malik.
Edel hanya mengangguk. Ya, dia mengerti tentang aturan tersebut karena dalam agamanya memang seorang anak diluar nikah tidaklah mempunyai nasab apapun atas ayahnya. Memang itu terdengar sangat tidak bertanggung jawab, namun itu semua tidak lain hanya untuk melindungi seorang wanita, tidak habis manis sepah dibuang.
"Acaranya dua Minggu lagi. Kita akan sangat disibukkan dengan acara adat sebelum hari H tiba."
"Malik, bolehkah aku bertanya lagi. Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur, aku akan menerima apapun jawabanmu," Edel menegakan duduknya menatap serius sang suami.
Haruskah aku bertanya apa yang aku pikirkan ini padanya, sekarang. batin Edel mulai berperang.
"Apa yang ingin kau tanyakan hingga menatapku serius seperti itu?" Malik mengernyitkan dahinya penasaran.
Aku tanyakan saja. Ya, aku harus menanyakannya agar dikemudian hari tidak akan terjadi hal serupa. pikirnya.
"Apa sebelum bersamaku, kamu dekat atau menjalin hubungan dengan seseorang?" tanya Edel perlahan tapi pasti.
"Hahaha ... ," Malik tertawa, tidak menjawab pertanyaan Edel.
"Malik?!" sergah Edel yang melihat Malik terus tertawa tanpa henti.
"Malik!" serunya lagi.
"Maaf, Honey. Maafkan a-aku," ucapnya disela tawanya.
"Malik, berhentilah tertawa dan jawab pertanyaanku," ketus Edel.
Malik berusaha menahan tawanya walaupun sangat sulit. "Honey, kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Jawab saja yang jujur. Jadi kalau suatu hari kejadian ini terjadi padaku, aku akan lebih siap menghadapinya!" terang Edel ketus.
"Benarkah?" Edel merasa Malik terlalu berlebihan mengungkapkannya.
"Yup, benar."
"Malik aku takut jika wanita dari masa laluku datang dan membawa seorang anak," ungkap Edel dengan raut penuh kecemasan.
Malik memegang tangan Edel dan mengelusnya lembut. "Honey, Kamulah satu-satunya wanita dari masa laluku dan satu-satunya yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."
"Hilangkan lah pikiran negatif seperti itu dari pikiranmu. Itu hanya akan merusak hatimu dan membuatmu sakit. Aku sangat mencintaimu, percayalah padaku," Malik menatap mesra netra istrinya.
Edel memang terlihat sangat kuat di luar, namun dia mempunyai hati yang lembut bahkan mungkin lebih lembut dari kain sutra. Dia mudah mengiba jika melihat orang lain terluka.
Sejak berhubungan dengan Malik, Edel berusaha belajar menutupi semua yang dia rasa dan takutkan dari publik namun hanya di depan Malik suaminya lah dia bisa mengeluarkan semua unek-unek yang ada di dalam pikirannya.
"Aku percaya padamu, My prince. Awas aja kalau macem-macem!" seru Edel melirik tajam Malik.
"Hahaha ... , jangan khawatir. Hanya satu macem aja," ujar Malik mencubit pipi Edel dan mata Edel langsung menyipit memandang suaminya.
"Hanya satu macam, Aku mencintaimu hanya mencintaimu."
"Malik, bagaimana jika masyarakat meminta agar anak mendiang pangeran Fatih yang menggantikan ayahnya mengambil tahta?" Edel kembali membahas yang tadi rasanya belum hatinya puas dengan bahasan masalah suksesi ini.
"Aku akan dengan senang hati menerimanya jika istana menerimanya juga, tapi itu tidak akan mungkin terjadi. Aturan suksesi walaupun terlihat sederhana tapi sangatlah rumit dan sensitif," terang Malik.
"Acara suksesi nanti membuatku berdebar," ucap Edel tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi.
"Wajar saja jika kamu berdebar. Karena itu akan mengubah posisimu menjadi wanita yang paling berpengaruh kedua di negara A dan tentu saja tanggung jawabmu juga menjadi semakin berat." sahut Malik.
"Tidurlah, kita akan sampai subuh waktu sana," ucap Malik menyampirkan selimut hingga menutupi badan istrinya.
Malik makin mengeratkan pelukannya dan membuat Edel kembali mendekap dalam dada bidangnya.
"Malik, aku merasa seperti sedang di negeri dongeng saja jika mengingat pertemuan pertama kita di pesta itu," ujar Edel
Malik menghela nafasnya berusaha mendengarkan Edel yang mulai bercerita lagi padahal Malik sudah sangat lelah seharian menemaninya berkeliling di festival dan ditambah pertemuan mendadaknya dengan pangeran mahkota UEA.
Tak lelahkah dia setelah seharian ini berkeliling sana-sini dan sekarang malah bercerita. gerutu Malik dalam hati.
"Honey, izinkan aku tidur sebentar ya. Besok jam sembilan aku harus meeting dengan para pejabat istana," pinta Malik.
"Malik, apa ceritaku membosankan?" tanya Edel karena Malik memotong dia yang sedang bercerita.
"Tidak, Honey. Hanya saja aku sedikit lelah dan aku ada meeting jam sembilan pagi. perbedaan waktu yang membuatku harus cepat beristirahat agar saat meeting nanti tak mengantuk."
Edel mengambil ponselnya yang dia simpan di meja samping dan menyalakannya untuk melihat jam di layar ponselnya yang telah dia setting menjadi dua waktu yaitu waktu negara A dan waktu Abu Dhabi.
"Ah, sepertinya aku yang keterusan bercerita. Maaf aku sampai lupa waktu," ucap Edel pada Malik.
"Tidak usah minta maaf. Aku sangat senang bercerita denganmu, mendengarkanmu, namun aku dan kamu juga harus beristirahat karena sebentar lagi sampai dan di negara A sudah masuk waktu subuh ketika sampai nanti," terang Malik.
Edel mengangguk. "Baiklah, selamat tidur my prince."
*****
Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏
Jangan lupa like, komen, dan kasih hadiah buat author agar lebih semangat lagi up nya. 🥰
Stay safe everyone. 🥰