He'S A Prince

He'S A Prince
Aku Menunggumu



"Pikirkanlah matang-matang, bicarakan dengan kedua orangtuamu tapi jangan terlalu lama," lanjutnya.


Edel mengangguk tidak berani menatap wajah Malik. Rasa sukanya telah tumbuh dari pertama kali mereka bertemu versi Edel. Malik pria pertama yang membuat jantungnya berdebar kencang saat pertama kali melihatnya.


Beberapa kali pikirannya menolak menyukai Malik namun sepertinya hatinya tidak sejalan.


Malik mengantarkan mereka keluar bandara.


"Hubungi aku ketika sudah sampai," kata Malik memegang tangan Edel dan memakaikan gelang yang Edel tolak tadi siang.


"Jangan menolaknya," lanjutnya.


Edel memberikan salah satu totebag yang di pegangnya pada Malik, "Aku ingin memberikan ini dari kemarin, tapi aku tidak yakin kamu suka atau engak. Harganya tidaklah sepadan dengan gelang pemberianmu tapi aku tetap ingin memberikannya padamu," kata Edel menunduk.


"Aku akan menyukai apapun pilihanmu," sahut Malik.


"Aku ingin mengantarmu sampai tempat kalian tinggal tapi saat ini aku tidak bisa, maafkan aku," lanjut Malik kecewa.


Edel tersenyum, dia sangat bahagia.


"Aku mungkin tidak bisa menghubungimu dulu, ponselku mati," Edel tersenyum.


"Kirimi aku pesan ketika kamu sampai, aku akan membacanya besok pagi," lanjutnya tertawa kecil.


"Ayo cepat, nanti lagi ngobrolnya. Dah mau tengah malem nih!" seru Mita dari dalam mobil travel bandara.


"Pulanglah," kata Malik.


Edel mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Malik masih berdiri di tempatnya sampai mobil itu hilang dari pandangannya.


"Makasi," ucap Edel pada Mita.


"Kenapa?" sahut Mita.


"Makasi karena Lo udah mau ngajak gue liburan," katanya tersenyum.


"Malik yang ngajak, gue cuma nurutin aja. Lagian kita juga perlu refreshing dan kebetulan jadwalnya pas banget," ungkap Mita.


"Pokonya gue bilang makasi," kata Edel memeluk temannya.


"Alice udah nyampe tadi sore," kata Mita memperlihatkan email-nya.


"Dia sangat bisa diandalkan, ga salah gue dulu milih dia," lanjutnya.


"Ya, gue juga ga salah milih Lo," timpal Edel.


"Ehm ... ngerayu," ucap Mita.


"Apalah gue tanpa Lo," kata Edel.


**


Seperti biasa Edel bangun sebelum subuh. Setelah tahajud dia memeriksa pesannya dan tentu saja ada pesan dari Malik,


"baru landing dan merindukan mu"


Dia menyimpan ponselnya setelah membaca pesan masuk.


"Mita, dokumen yang harus gw lihat dimana?" mencari Mita.


"Mana sih tuh anak, ko ga jawab- jawab," gumamnya.


Edel menuruni tangga dan melihat temannya sedang sibuk berkutat dengan laptop dan tabnya. Di samping nya, tentu saja ada Alice yang menemani.


"Gue cari Lo tadi tapi ga jawab-jawab!" seru Edel.


"Bentar ya, gue lagi sibuk nih! Lo nyari dokumen kan ya, ada noh di meja depan tadi gue taro di sana," sahut Mita.


"Bu, dokumen dari Pa Ariq sudah di terima hari Sabtu kemarin. Tapi belum ada tinjauan dari Ibu," ujar Alice memperlihatkan file dokumennya pada Edel.


"Kita solat subuh dulu aja nanti kita lanjut," ajak Edel.


**


Benar-benar hari yang padat, jam tujuh pagi Edel sudah harus meeting di perusahaan gunung makmur yang sialnya Pak Hartono terkenal dengan sifat genitnya. Biasanya beliau selalu minta meeting di hotel bahkan pernah meeting di kamar hotel.


"Ngapain meeting di kamar hotel, jam delapan malem pula!" ejek Mita saat pertama kali bekerjasama dengan perusahaannya.


Mereka selesai meeting hampir jam 12 siang karena Pak Hartono baru datang ke kantor jam delapan lebih.


"Dasar aki-aki tua, bikin kesal aja!" umpat Mita.


"Minta jam tujuh, dateng jam delapan. Ga tau apa kita juga sibuk bukan dia doang yang sibuk!" Cerocos Mita meluapkan kekesalannya.


"Minum Bu biar dingin, ga panas," Alice memberikan minuman dingin sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.


Mita mengambil gelas yang dikasih Alice dan meminumnya, tapi dia tetap mengomel sampai makanan pesanan mereka datang.


"Udah Bu kita makan dulu biar tambah ada tenaganya buat ngomel lagi," ujar Alice menahan tawa.


"Udahlah, Lo kan tau dia kaya gimana. Udahlah lagian udah terjadi, ayo kita makan biar hilang kesal Lo," kata Edel.


drrrttt ... drrtttt ... tertera di layar ponselnya ada panggilan dari Malik.


"Aku angkat dulu ya," Edel meminta izin agak menjauh dari bawahannya.


"Ya, assalamu'alaikum," sapa Edel.


"Wa'alaikumsalam, sibuk?" tanyanya di seberang telepon.


"Lagi makan, kenapa?" bertanya balik.


"Kamu ga ngasih kabar," jawab Malik agak ketus.


"Ah iya, aku sangat sibuk tadi subuh," kilahnya.


"Maaf," lanjutnya.


"Aku hanya khawatir kamu ga mau menghubungiku lagi," cemas Malik.


"Kamu terlalu banyak khawatir, tak baik. Aku hanya sibuk aja," kata Edel.


"Iya, aku tahu. Maaf, aku merindukanmu," ungkap Malik.


"Kapan kamu pulang ke Jakarta?" tanya Malik.


"Lusa, hari Kamis. Kenapa, mau ke Jakarta gitu?" tanya Edel penasaran, dia mulai tahu kalau Malik bisa nekad jika dia mau.


"Engak, aku akan sibuk dua Minggu ini. Mungkin akan jarang menghubungi mu, tapi akan selalu ku usahakan," ujar Malik.


"Iya," jawab Edel singkat.


Hening beberapa saat,


"Boleh kah aku makan dulu, aku kelaparan tadi pagi ga sarapan dulu karena harus meeting jam tujuh," pinta Edel yang membuat Malik tertawa.


"Tentu My flower," jawabnya singkat.


"Nanti aku telpon, tapi ga janji kapan," kata Edel cepat


"Iya, makanlah. Aku tunggu," jawab Malik.


"Assalamu'alaikum," pamitnya.


"Wa'alaikumsalam," Edel mengakhiri panggilan telponnya.


"Cie, yang lagi kasmaran," kata Mita.


Alice terkejut mendengar perkataan Mita. Yang dia tahu bos nya memang polos tapi tidak tertarik berhubungan lebih dengan laki-laki dan lebih tertarik pada pekerjaan.


"Kenapa kamu melihatku," tanya Mita.


"Engak, aku hanya ikut bahagia Bu Edel berhubungan dengan laki-laki," kilahnya.


"Ah, Lo tuh ga bisa bohong, ketauan," ejek Mita.


"Apa bener Bu Edel lagi kasmaran?" tanyanya ingin tahu.


"Rahasia," jawabnya singkat, dia ga mau nanti ada perang dunia karena dia mengumbar hubungan temannya.


"Bu, ibu beneran dah dapet jodoh?" Alice semakin penasaran.


"Apaan sih, doain aja pokonya," jawab Edel tersenyum.