He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 61



"Terimakasih kamu sudah datang melihatku bertanding," ucap Malik merangkul Edel tiba-tiba membuat nya kaget dan saling berpandangan dengannya.


"Iya, aku bangga padamu," sahut Edel tersenyum membelai pipi Malik mesra menutupi rasa sakitnya.


Azmy memalingkan wajahnya ke lapangan, hatinya panas terbakar melihat kemesraan yang Malik dan Edel perlihatkan di depannya.


Edel sengaja memegang tangan Malik erat seakan tidak ingin Malik melepaskannya. Ya, dia ingin Azmy melihatnya dan sadar jika Malik adalah tunangannya.


"My Prince, kamu pasti lelah?" tanya Edel tersenyum manis pada Malik.


Malik menyadari ada yang aneh dengan tingkah Edel, karena tak biasanya dia memegang tangannya erat seperti itu.


"Are you ok?" bisiknya.


"Ya," jawabnya singkat dan memberikan senyumnya.


Malik balik tersenyum padanya walaupun dia tetap merasa aneh dengan senyuman yang Edel berikan untuknya.


"Aku tunggu di sana," ujar Edel menunjuk tempat The Royal Family berada.


"Iya, aku harus kembali dengan teman-teman ku dulu, lalu membersihkan diri. Badanku lengket sekali," katanya mendekati Edel hendak memeluknya.


"Eiittss ..., mau apa? sana mandi!" gumamnya pada Malik.


Malik tertawa melihat sikap Edel yang sudah berubah seperti biasanya lagi.


Tadi aja deket-deket terus, sekarang ga mau dideketin juga. batinnya


***


"Pangeran Malik mana?" tanya Ibunda Ratu.


"Lagi bersama temannya dan juga mau membersihkan diri dulu," sahut Edel.


"Oh iya, nanti aku ikut kalian ke Singapore," kata Putri Syahara


"Kami ingin jalan-jalan juga, iya kan Pangeran mama?" ujarnya lagi. Pangeran kecil Ammar hanya tersenyum.


Baginda Raja meminta Putri Syahara menemani mereka menjaga mereka. Dia takut kejadian barusan terulang kembali. Dia tidak ingin calon mantunya merasa sendiri.


Hampir satu jam berlalu, Malik belum juga datang. Mereka menyaksikan pertandingan polo dari team yang lain.


Edel ikut menyaksikan pertandingan polo tapi tetap tidak mengerti aturan permainannya. dia hanya melihat, memandang ke lapangan tapi pikirannya tidak pada pertandingan itu, dia memikirkan bagaimana membuat Azmy tidak mendekati kekasihnya tanpa menyakitinya.


Malik akhirnya datang, dia menghampiri Baginda Sultan dan Ibunda Ratu dahulu. lalu ke Putri Syahara dan duduk di dekat kekasihnya.


"Maaf, pasti kamu bosan menungguku?" ujar Malik memegang tangan Edel.


"Tak apa, udah biasa," jawab Edel tanpa melihat Malik. Dia terus memandang ke lapangan menyaksikan pertandingan.


"Apa kamu menyukai olahraga polo hingga tak melihatku?" tanyanya lagi.


"Tidak, aku bahkan tidak mengerti aturan pertandingan olahraga ini. aku hanya sedang tidak ingin melihatmu!" gumam Edel setengah berbisik agar tidak di dengar orang lain selain Malik.


"Kamu tega sekali padaku!" seru Malik cemberut.


"Kamu lebih dari itu," ucap Edel tak dapat lagi menahan rasa kesalnya pada Malik.


"Maafkan aku," bisik Malik.


"Ya," jawabnya singkat.


"Mau pergi denganku, sekarang?" ajak Malik.


"Emang boleh pergi duluan?" Edel balik bertanya.


"Sayangku, kami pulang duluan," kata Ibunda Ratu menghampiri Edel.


"Kamu tentu akan pulang dengan Pangeran Malik kan?" tanyanya memastikan.


"Iya, Bu."


"Pangeran, jaga Edel baik-baik!" kata Ibunda Ratu tegas, Ibunda sangat menyayangkan kejadian tadi. Beliau merasa malu pada calon mantunya.


Mereka mengantarkan The Royal Family sampai depan gedung. di sana sudah menunggu beberapa mobil yang akan membawa mereka kembali ke istana.


"Jam berapa kita pergi?" tanya Edel setelah rombongan The Royal tak terlihat lagi.


"Ayo sekarang," jawab Malik.


"Sekarang?" kata Edel mengulang.


"Maksudmu pergi kemana?" tanya Malik.


"ke Singapore!" ujar Edel.


"Oh, nanti malam saja," jawab Malik.


"Ayo, kita jalan sekarang," ajak Malik.


"kemana?" tanya Edel.


"Apa kamu tidak ingin menyaksikan pertandingan sampai selesai?" lanjutnya.


"Tidak, aku lebih ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu," ujar Malik,


"Aku ingin mengajakmu berkeliling kota, bukankah semalam aku sudah bilang akan mengajakmu berkeliling hari ini," terang Malik .


"Ok," jawab Edel bersemangat, setidaknya dia mungkin bisa melupakan kekesalannya barusan.


***


"Selamat sore Yang Mulia, mau pesan apa?" tanya pelayan cafe.


"Honey," panggil Malik melihat Edel yang masih fokus memilih menu yang akan di pesan.


"Ehm, kamu pesan apa? samain aja," ujar Edel menyerahkan daftar menunya.


"Latte, kamu mau?" tanya Malik, dia tahu Edel tidak minum kopi.


"Oh ya, tambah tiramisu dan cheesecake nya, makasi," lanjutnya. Malik tertawa kecil mendengar pesanan Edel.


"Apa kamu akan memakan semua cake itu?" tanya Malik.


"Memangnya kenapa?" tanyanya balik.


"Tidak, kamu banyak memesan makanan manis," jawab Malik.


"Ya, bagus untuk mood ku," sahut Edel.


"Malik, kamu sering ke sini, sepertinya pelayan di sini tidak asing denganmu," lanjutnya


"Tentu saja mereka tahu, aku pangeran negara ini My flower," ujar Malik.


"Bukan itu, maksudku apa kamu sering ke sini?" tanya Edel agak sewot.


"Ya, terkadang kami kumpul di sini," jawab Malik.


"Oh iya, spaghetti di sini juga enak lho, kamu mau?" tanya Malik.


"Ya, pesankan aja," sahut Edel. Malik pun memesankan spaghetti tambahan untuk Edel.


Tak harus menunggu lama, pesanan mereka telah siap di meja.


"Boleh mintakan air putih?" kata Edel.


"Ok," Malik langsung meminta pada waiters dibawakan air mineral buat kekasihnya.


"Apa kamu tidak takut gemuk?" tanya Malik melihat Edel makan kue tanpa menawarinya.


"Enggak," jawabnya.


"Kamu mau?"tanya Edel lalu menyodorkan sendok berisi cheesecake ke mulut Malik.


"Enak kan?" tanya Edel. Malik mengangguk, dia senang Edel menyuapi nya cake.


"Ayo lanjut jalan," ajak Edel setelah menghabiskan cake nya.


"kemana?" tanya Malik.


"Katanya mau ngajak aku keliling, lagian ini udah mau magrib dan kamu harus solat dulu kan!" seru Edel memperlihatkan jam di tangannya.


Mereka keluar cafe, berjalan menyusuri trotoar.


"Peganglah sebentar," pinta Malik, "aku akan mengambil fotomu," lanjutnya.


Malik memotret Edel yang sedang memegang cup kopi milik Malik. Dia tersenyum puas dengan foto yang diambilnya.


"Coba aku liat," pinta Edel. Malik memberikan ponselnya. "bagus," ujar Edel melihat fotonya.


"Apa tidak masalah jika kita bergandengan seperti ini?" tanya Edel kemudian menyadari akan bahaya karena banyak yang mengambil gambar mereka.


"kenapa?" tanya Malik.


"Mereka memfoto kita," bisik Edel.


"Tak apa, Ayo," ujar Malik memegang tangan Edel.


Mereka berjalan ke mesjid di pusat kota, yang dulu pernah mereka singgahi.


"Aku akan menunggumu di sini," ujar Edel menunjuk tempat duduk di taman mesjid. Malik mengangguk setuju.


Edel membuka ponselnya dan sudah ada beberapa pesan masuk, salah satunya dari bundanya.


Sayang, apa kamu baik-baik aja?


Lama dia memandang pesan dari bundanya sampai ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk,


"Assalamualaikum," sapanya.


"Wa'alaikumsalam, kamu baik-baik aja?" tanya wanita di seberang telepon.


"Ya, aku baik-baik aja bunda," sahutnya.


"Jika kamu mau pulang, bunda bisa meminta Tante Ommar menjemputmu sekarang juga," ujar Mrs. Soe.


"Tak apa Bun, kenapa memangnya?" tanya Edel berusaha bersuara tenang.


"Kamu di mana sekarang?" tanyanya balik.


"Di mesjid pusat kota. Aku lagi menunggu Malik, dia sholat magrib," gumam Edel.


"Kamu lagi sama Malik?" tanya Mrs. Soe.


"Ya, tentu. dia sedang shalat, memangnya ada apa bunda?" tanya Edel.


"Ga ada apa-apa, ya udah jika ada apa-apa atau kamu mau pulang sekarang hubungi Tante Ommar ya. Nanti dia akan membantumu," kata Mrs. Soe.


"baik-baik di sana, sayangku."


"iya bunda." sahut Edel.


"Assalamualaikum," pamit Mrs. Soe


"Wa'alaikumsalam," sahut Edel mengakhiri panggilan nya.


Kenapa bunda bertanya seperti itu, apa yang dia ketahui. batin Edel


Edel berselancar di dunia Maya karena penasaran dengan apa yang bundanya tanyakan tadi. Dia melihat video yang sedang viral di Negara A, video tentang seorang wanita yang memeluk Pangeran Malik di lapangan.


Pantas bunda nyuruh aku pulang. batinnya


Dia juga melihat beberapa kumpulan foto tentang Azmy dan Malik yang tersebar di internet, rasanya sakit tapi dia tetap melihatnya.


"Kenapa kamu melihatnya?"