He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 46



"Mbak Edel," sapa satpam melihat Edel di dalam mobil lalu membukakan pintu pagar.


"pagi pak," Edel menyapa balik.


Rumah terlihat sangat sepi. Toh memang hanya ada simbok Ratna dan pelayan yang membantu simbok membersihkan rumah.


"Duduklah," kata Edel mempersilahkan Malik dan Mr. Husein juga utusan kedutaan Negara A.


"Mbok," panggil Edel sedikit berteriak mencari mbok Ratna.


"Si non baru sampe toh, kenapa ga ngasih kabar. Simbok nunggu dari kemarin," ujar simbok.


"Maaf, kemarin ada sedikit urusan jadi diundur pulangnya," jawab Edel sambil memeluk simbok.


"Simbok kangen, di sini sepi ga ada nyonya sama tuan," keluh simbok.


"Mereka akan pulang nanti Minggu depan mbok," sahut Edel.


"Mbok tolong sediakan minuman hangat buat tamu di depan," pinta Edel.


"Tamu, siap non," kata simbok bersemangat simbok tahu siapa yang datang pagi ini dari senyuman Edel.


**


"Malik beristirahatlah di kamar. Kamarnya sudah diberesin sama bi Inah," kata Edel melihat Malik yang mengantuk.


Utusan Negara A memandang Edel dan Malik juga Mr. Husein bergantian karena Edel hanya memanggil Pangeran mereka dengan namanya saja tidak dengan gelarnya.


"Ah maaf Yang Mulia. Jika hendak beristirahat, kamarnya sudah kami siapkan," kata Edel menyadari kesalahannya. Mr. Husein tersenyum mendengarnya.


"Honey bolehkah aku beristirahat di kamarmu," tanya Malik tersenyum, utusan Negara A memandang Mr. Husein.


"Apa, kamu tidak boleh masuk kamar gadis sembarang!" kata Edel agak ketus, lalu tersenyum melihat utusan Negara A menyadari dia berteriak pada Malik


Mr. Husein mengajak utusan Negara A untuk berbicara di luar.


"Mari, kita minum kopi di depan," ajak Mr. Husein pada utusan kedutaan Negara A. Mr. Husein meminta kopinya di bawa ke depan oleh simbok.


"Udara di sini sangat sejuk," kata Mr. Husein membuka pembicaraan.


"Tuan, maaf kalau saya lancang. Bolehkah saya tahu siapakah yang bersama dengan Pangeran kita?" tanyanya to the point karena sangat penasaran dengan sikapnya.


"Nona Edel adalah tunangan Yang Mulia Pangeran Malik, pemberitahuan belum di keluarkan pihak istana jadi tolong simpanlah rasa penasaran mu. Kamu tahu yang terbaik," tegas Mr. Husein.


"Maafkan saya tuan atas sikap saya,"


"Ya, tak apa. Nanti mungkin pihak istana akan meminta pengawalan untuk nona Edel," jelas Mr. Husein.


"Baik, Tuan." sahut utusan kedutaan Negara A.


**


"Udah jam segini, mungkin nanti siang aja aku ke kantornya," gumam Edel melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Kamu mau sarapan roti atau yang lain?" tanya Edel pada Malik.


"Apa aja," sahut Malik.


"Mau aku buatkan sarapan?" tanyanya lagi.


"Kamu bisa masak?" balik bertanya.


"Tentu saja bisa. Aku perempuan juga waktu kuliah dulu aku masak sendiri," jawabnya bangga.


"Ok, aku ingin mencicipi masakan mu," kata Malik bersemangat.


Edel pergi ke dapur membuatkan sarapan untuk Malik dan yang lain. Dia melihat isi kulkas.


"Non, mau makan apa biar ta' masakin," ujar Simbok.


"Biar aku aja yang masak mbok, mbok tar bantu siapkan bahan-bahannya saja," pinta Edel.


"Siap non," kata Simbok.


Edel berencana membuat sup daging sapi, perkedel dan ayam goreng.


Setengah jam kemudian ayam goreng baru selesai di goreng tinggal menggoreng perkedel dan menunggu sup daging sapinya yang belum matang.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Edel melihat Malik menghampiri mereka di dapur.


"Lanjutkan saja, aku hanya akan duduk melihat dari sini," lanjutnya menarik kursi meja makan di dapur.


"Jam berapa kamu berangkat bekerja, aku ingin melihat kantormu," tanya Malik.


"Nanti siang mungkin jam sepuluh atau sebelas," jawabnya.


"Kamu ga cape atau ngantuk?"


"Kenapa tidak beristirahat aja untuk hari ini," lanjutnya bertanya.


"Aku harus masuk, banyak dokumen yang harus aku lihat dan tanda tangani," terang Edel.


"Jangan khawatir di kantorku ada ruang buat aku beristirahat," lanjutnya.


"Oh, baiklah aku akan ikut beristirahat di sana saja, biar Mr. Husein yang pergi ke kedutaan," gumam Malik.


"Memangnya ada acara apa di kedutaan?" penasaran.


"Ya mereka tahu aku ke sini jadi harus ada laporan resminya juga ada sedikit urusan di sana," ucap Malik.


Tak terasa masakan Edel pun telah siap semua. Wanginya membuat nafsu makan meningkat.


"Ayo panggilah mereka ke sini, kita sarapan dulu," kata Edel pada Malik.


"Panggil siapa?" tanya Malik.


"Ya panggil Mr. Husein dan orang kedutaanmu itu kita sarapan. Memangnya mereka ga kan sarapan gitu?!" ketus Edel.


"Aku rasa mereka belum tentu mau semeja denganku," ucap Malik.


"Kenapa?"


"Ya ampun honey, aku Pangeran mereka," ujar Malik.


"Udahlah panggil saja dan tawarin mereka," titah Edel ketus.


"Baiklah princess Malik Ibrahim, aku akan menurutimu," kata Malik tersenyum melangkah keluar. Wajah Edel seperti tomat masak mendengar Malik memanggilnya princess Malik Ibrahim.


Lama Edel menunggu mereka, akhirnya dia keluar mencari mereka dan di dapati mereka sedang berdiskusi.


"Tolong urus dengan benar para wartawan di sini, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan tunanganku. Dia mungkin belum siap jika ada wartawan yang mengerumuni nya, juga dia punya privasi yang harus kita jaga," titah Malik.


"Baik yang mulia," sahut utusan kedutaan Negara A.


"Siapkan beberapa untuk menjaganya, jangan terlihat biarkan dia tidak menyadarinya. Itu akan lebih baik buatnya," ujarnya.


"Aku akan bersamanya ke kantornya, pergilah dahulu ke kedutaan. Nanti kita bicarakan lagi soal ini," lanjut Malik.


"Baik Yang Mulia," sahut Mr. Husein.


"Assalamualaikum," pamitnya. Dia pun berangkat ke kedutaan Negara A dengan utusan yang tadi mengawal mereka.


"Malik," panggil Edel.


"Honey," jawab Malik.


"Ada apa, aku tadi mendengarmu berbicara tentang wartawan. Memangnya ada apa?" tanya Edel menghampiri Malik dan duduk bersamanya di sofa depan rumah.


"Tidak ada apa-apa," sahut Malik tersenyum.


"Kenapa kamu menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Edel.


"Katakanlah ada apa, sehingga aku tahu apa yang akan aku hadapi ke depan. Jangan biarkan aku tidak tahu apa-apa, tidak tahu dengan apa yang akan aku hadapi," ujar Edel menatap Malik.


"Foto kita semalam tersebar di media sosial," kata Malik menatap Edel.


"Lalu?" tanya Edel.


"Mereka akan mengulik semua tentangmu, kehidupanmu, keluargamu, semua tentangmu," terangnya.


"Bahkan mungkin kau akan kehilangan privasimu di tempat umum," lanjutnya, Edel membuang nafas panjangnya.


"Lalu?" tanyanya lagi.


"Apa kamu tidak keberatan jika seperti itu, apa kamu tidak keberatan jika sebagian privasimu hilang?" tanyanya menatap dalam manik Edel.


"Bukankah sejak aku menerimamu menjadi pasanganku, aku juga harus menerima semua yang berhubungan denganmu. Bahkan sebelum aku menjadi pasanganmu pun privasiku, data pribadiku telah kamu dan keluargamu cari tahu tanpa sepengetahuan ku, tanpa izinku?" tegas Edel, Malik kaget mendengar penuturan Edel.