
Shahmeer telah tiba di negara A 4 hari sebelum Hari pengangkatan Malik menjadi putra mahkota negaraA.
"Pak, ke Flores green," ucap Shahmeer pada supir keluarga Zephyr yang menjemputnya di bandara.
"Baik," jawabnya, tanpa bertanya lebih lanjut.
Butuh waktu lebih dari sejam dari bandara untuk sampai di Flores green.
Rumah dengan desain klasik yang sangat asri karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar membuat bulu kudukmu Berdiri. Bukan karena banyaknya pohon yang membuat suasana sedikit mencekam, namun karena begitu banyaknya penjaga yang menjaga rumah tersebut.
Para penjaga sepertinya sudah tak asing lagi dengan wajah Shahmeer karena begitu dia membuka jendela mobil, penjaga tersebut langsung mempersilahkannya masuk.
Shahmeer keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah klasik tersebut seorang diri, sementara supirnya ikut berkumpul dengan penjaga di sana.
"Tuan menunggu anda di balkon belakang," ucap seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.
Shahmeer mengangguk dan langsung menuju tempat yang disebutkan tadi tanpa harus bertanya atau diantar oleh pelayan seakan dia sudah hafal tata letak rumah tersebut.
"Duduklah," titah seorang pria paruh baya begitu melihat Shahmeer berjalan menghampirinya.
Shahmeer duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi pria paruh baya itu yang mulai meliriknya dalam diam.
"Bagaimana kabar anda Mr. Witton?" tanya Shahmeer begitu dia di duduk.
Pria paruh baya itu adalah Mr. Witton ayah dari sahabatnya Ronald. Mr. Witton menghubunginya kemarin sore dan meminta untuk bertemu dengannya tanpa memberitahu alasannya.
"Baik, bagaimana kabar Azmy?" tanyanya balik.
"Alhamdulillah, baik," jawabnya singkat.
Shahmeer memandang Mr. Witton lalu kembali memandang ke hadapan ketika seorang pelayan menghampiri mereka membawakan dua gelas minuman dan kue.
"Kamu pasti resah bertanya-tanya kenapa aku memintamu menemuiku segera setelah kamu sampai di sini," ujar Mr. Witton membuka percakapan setelah pelayan tadi pergi meninggalkan mereka berdua.
Shahmeer berbalik memandang Mr. Witton tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Edel dalam bahaya," ucap Mr. Witton.
Shahmeer menaikan satu alisnya terkejut bukan hanya karena perkataan tadi tapi juga karena dia tidak mengerti kenapa Mr. Witton memberitahukan hal itu padanya.
"Anak buah Mrs. Shopia menyadapnya, aku belum menemukan bukti kongkrit karena permainan mereka sangat bersih," lanjutnya.
"Aku memberitahumu karena ini masih menyangkut soal Mrs. Shopia. Aku juga tahu bagaimana perasaanmu padanya," Mr. Witton melirik Shahmeer yang termenung mendengarkannya dan seketika berbalik memandangnya.
"Ah, iya. Aku mengetahuinya sudah lama sejak penyidikan kejadian penembakan setahun yang lalu. Tenang saja, aku akan merahasiakan ini dari siapapun," lanjutnya.
Shahmeer menarik nafas panjang.
Bagaimana mungkin dia bisa mengetahuinya. batin Shahmeer.
Mr. Witton mengeluarkan sebuah foto seorang laki-laki berbadan tegap, besar berjambang tipis dan memberikannya pada Shahmeer.
Shahmeer memandang foto laki-laki yang dipegangnya.
"Namanya Diego Marcus. Dia tangan kanan Felix Beltran, sekarang dia yang menggantikan ibu mu mengendalikan jaringan mafia Beltran. Yang ku tahu dia lebih ganas dan liar dari Felix Beltran dan rumor yang tersebar pun mengatakan jika Felix sebenarnya dibunuh olehnya," terang Mr. Witton.
Shahmeer mengusap wajahnya. mengingat bagaimana mendiang pangeran Fatih dan istrinya terbunuh hanya karena kesalahpahaman ibunya terhadap Malik sahabatnya dan sekarang nyawa wanita yang selalu membayangi pikirannya pun kembali dalam bahaya hanya karena ibunya.
Shahmeer bertopang dagu termenung memikirkan semuanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Shahmeer dengan nada frustasi.
"Temuilah ibumu. Cari petunjuk tentang rencana mereka," titah Mr. Witton.
"Tapi ... ," ucapnya tidak melanjutkan perkataannya.
Bagaimana aku akan menemuinya. Aku bahkan berkata padanya tidak akan menemuinya lagi. pikir Shahmeer.
"Buatlah alasan apapun untuk menemui ibumu. Mungkin dia akan berbicara sesuatu yang menjadikannya petunjuk tentang rencana mereka. Bagaimana pun kamu adalah anaknya, aku yakin dia akan berbicara sesuatu padamu," ucap Mr. Witton penuh harap.
"Kalian berdua sungguh membuatku takjub. Penyimpan rapat kenangan yang ulung," Mr. Witton menyembunyikan senyumnya dengan menyeruput kopi yang hampir dingin.
Shahmeer melirik Mr. Witton, tidak mengerti dengan perkataannya barusan menunggu penjelasan namun sepertinya Mr. Witton enggan berkata lebih lagi.
Sepanjang jalan pulang dari Flores green, Shahmeer terus memikirkan perkataan Mr. Witton tentang Edel.
Begitu sampai depan rumahnya, Shahmeer langsung keluar dari mobilnya dan berpindah tempat jadi ditempat biasa menyetir.
"Pak," panggil supir keluarganya yang heran kenapa tuannya malah masuk kembali ke dalam mobil.
"Ada sesuatu yang harus ku kerjakan," ucapnya langsung menancap gas pergi membawa mobilnya keluar dari rumahnya.
Supir keluar Zephyr hanya termangu menatap tuannya yang pergi.
"Anak muda zaman sekarang, susah di mengerti!" gerutunya.
Shahmeer melajukan mobilnya dengan cepat, dia ingin segera sampai di lapas tempat ibunya di penjara.
Begitu sampai dia langsung keluar dari mobil dan setengah berlari masuk ke tempat pendaftaran izin berkunjung.
Bruuuggg...
"Maaf," ujar Shahmeer menabrak seorang laki-laki paruh baya berbadan tegap tapi masih terlihat jelas ketampanan dari raut wajahnya.
Laki-laki paruh baya itu menatap dingin Shahmeer, lalu pergi tanpa sepatah kata.
Shahmeer memandang pria tadi sampai hilang dia keluar dari pintu masuk utama.
Rasanya aku pernah melihatnya, tapi di mana. cetusnya dalam hati.
Shahmeer berjalan mendekati resepsionis pendaftaran pengunjung.
"Maaf, Mrs. Shopia hanya boleh mendapat jadwal kunjungan satu kali dan hari ini sudah ada yang berkunjung. Kalau mau akan saya jadwalkan besok," ucap sipir lapas.
"Boleh saya tahu siapa yang telah mengunjunginya hari ini?" tanya Shahmeer penasaran.
"Maaf tapi kami tidak diperkenankan memberitahu siapa yang berkunjung kecuali pada pengacaranya," ucapnya.
"Oh, iya maaf. Saya akan membuat jadwal kunjungan buat besok saja," kata Shahmeer.
Shahmeer pun menuliskan namanya di jadwal kunjungan buat hari esok. Dia berharap ibunya mau bertemu dengannya karena dia harus memastikan sesuatu.
***
Di Istana, Edel sedang disibukan dengan beberapa dokumen yang harus segera selesai.
Aku merindukan Mita. ujarnya dalam hati.
Saat banyak dokumen menumpuk seperti sekarang ini, dia selalu teringat temannya itu. Dulu saat menjadi CEO di perusahaan ayahnya, selalu ada teman yang rela membantunya menyelesaikan semua pekerjaannya tapi sekarang... .
"Yang Mulia, 15 menit lagi kita berangkat," ujar Mrs. Harold mengingatkan.
Edel hanya mengangguk, dia terlalu sibuk hingga tidak bisa menjawab Mrs. Harold secara langsung.
Hari ini Edel dijadwalkan akan berkunjung ke perguruan tinggi no satu di negara A. Dia akan mengisi kuliah umum di sana.
*****
Selamat malam semua, terimakasih sudah mampir membaca. 🙏
Jangan lupa like, komen, vote juga beri hadiah buat author biara tambah semangat up nya.
Oh iya, ini kumpulan novel yang mengisi rak buku favoritnya author. Adakah novel yang sama dengan yang mengisi rak bukumu? 🤭❤️