
"Sayang, ponselmu dari tadi berbunyi ko di biarin?" tanya Mrs. Soe.
"Biarkan saja, hanya spam!" jawab Mr. Soe ketus sambil menyeruput kopinya sesekali dia melirik ponsel yang dia simpan di meja sampingnya.
"Spam ko berbunyi terus, coba ku lihat," pinta Mrs Soe.
Mrs. Soe mengambil ponsel suaminya tapi keburu di ambil Mr. Soe dan memasukannya ke dalam kantongnya.
"Nyampe segitunya, aku jadi penasaran siapa yang menghubungimu," gerutu Mrs. Soe.
"Tak usah penasaran, biasa tak penting. Hari ini cerah," sahut Mr. Soe tersenyum senang karena kini sudah tidak terdengar bunyi panggilannya.
Hahahahah... dasar Cemen, tak diangkat beberapa kali aja udah menyerah. Baru tau dia berhadapan dengan siapa!!. Pikir Mr. Soe batinnya tertawa puas.
Simbok Ratna menghampiri mereka.
"Maaf nyonya, tuan ada telepon?" kata Simbok.
"Dari tuan Malik pacar nya non Edel," lanjutnya.
Mr. Soe langsung melirik simbok. Belum kapok juga barusan ga ku angkat!. gumam Mr. Soe dalam hati.
"Oh, biar aku yang terima," kata Mr. Soe tersenyum pada istrinya. Mrs. Soe curiga dengan tingkah suaminya sedari tadi, dia pun mengikuti suaminya ke dalam.
"Kenapa kamu tutup teleponnya?" tanya Mrs. Soe membuat Mr. Soe kaget ketahuan.
"Suaranya ga jelas jadi aku tutup saja," kata Mr. Soe berbohong.
Kriiingg.. kriiinnggg.. telepon berbunyi.
"Biar aku yang jawab," seru Mr. Soe tapi mendapat tatapan tajam dari Mrs. Soe.
"Ehm.. baiklah," lanjutnya mundur berdiri di samping Mrs. Soe yang sedang menerima telepon.
"Ya, assalamualaikum," sapa Mrs. Soe.
"Wa'alaikumsalam, bunda maaf mengganggu ini Malik," sahut Malik di seberang telepon.
"Barusan saya mencoba menghubungi ayah, tapi tidak di angkatnya," lanjutnya, Mrs. Soe langsung menatap tajam suaminya. Mr. Soe hanya bisa tersenyum.
"Ya, ponselnya mungkin di silent di kamar dan dia berada di sampingku sekarang. Bagaimana kabarmu dan keluarga di sana?" tanya Mrs. Soe ramah.
"Alhamdulillah baik bun, gimana kabar bunda dan ayah?" Malik balik bertanya.
"Alhamdulillah kami sehat di sini, ngomong-ngomong ada apa ya tumben telepon ke rumah."
"Mau minta izin rencananya aku akan menjemput Edel lebih awal, aku akan berangkat sore atau habis magrib waktu sini," kata Malik.
"Boleh, nginep sini aja ya," pinta Mrs. Soe.
"Baik bunda kalau tidak merepotkan," ujar Malik pura-pura.
"Tentu tidak dong Pangeran Malik. Kamu kan sudah jadi bagian keluarga kami."
"Terima kasih bunda. Tapi tolong jangan kasih tahu Edel, dia belum tahu aku berangkat hari ini," pinta Malik.
"Surprise?! tentu bunda ga akan kasih tahu Edel, tenang aja," sahut Mrs. Soe senang.
"Ok, terimakasih bunda. Salam buat ayah, assalamu'alaikum," pamit Malik.
"Wa'alaikumsalam. Nanti kabari jika mau berangkat atau sudah sampai bandara ya."
"Baik, Bunda."
Mrs. Soe menutup teleponnya dan memandang suaminya. Mr. Soe hanya bisa tersenyum pandangannya berkeliling mencari sesuatu yang tidak ada.
"Ayah ko gitu sama mantu sendiri?!" tanya Mrs. Soe tidak mengerti dengan sikap suaminya yang cemburu.
"Belum sayang, dia baru calon," terang Mr. Soe.
"Justru karena masih calon harus tunjukan dukungannya. Ini ko seperti ga mau anaknya ada yang deketin!" gerutu Mrs. Soe.
"Jadi ... apa katanya?" tanya Mr. Soe mengalihkan pembicaraan.
"Dia minta izin jemput Edel lebih awal. Nanti malam dia datang sekalian nginep di sini?"
"Apa, nginep di sini?" ketus Mr. Soe.
"Lah terus mau di mana, di hotel?! bukankah di sini lebih baik biar lebih dekat dengan kita, iya toh," kata Mrs. Soe.
"Iyalah, istri selalu benar," gumam Mr. Soe tidak mau berdebat dengan istrinya karena dia tahu pasti kalah jika di teruskan juga.
"Ayo yah, kita jalan sekarang," ajak Mrs. Soe.
"Mau kemana?" tanya Mr. Soe bingung.
"Ya beli bahan makanan yah, kan mantunya mau datang, masa ga disiapkan apa-apa," kata Mrs. Soe mulai geram.
"Baiklah," jawab Mr. Soe menurut, tak bersemangat.
***
"Del, coba Lo berdiri," titah Mita tiba-tiba masuk ruangannya dan meminta Edel berdiri.
"Mau ngapain?" tanya Edel.
"Gue mau foto Lo," jawabnya.
"Buat apaan?".
"Udah berdiri aja. Gue ngerasa ga punya foto Lo banyak, kayanya gue harus mulai koleksi," gumamnya.
"Koleksi apaan sih, Lo ada-ada aja," sahut Edel.
"Ayo, buruan," titah Mita.
"Kaya gini," ujar Edel berdiri menyamping. Macam model saja pikirnya.
"Thank you," ucap Mita senang.
"Ya, kalo gitu gue ke ruangan gue dulu ya," pamit Mita.
"Jadi Lo ke sini nyamperin gue buat gitu doang?" ketus Mita.
"Ya," jawabnya singkat.
"Dasar aneh," gumam Edel.
Mita mengirimkan foto yang dia ambil ke Malik.
Edel memandang ponselnya, tadi pagi dia hanya mengirim pesan saja.
Mungkin dia beneran sibuk. pikirnya. Tapi sebentar kemudian, dia mengambil ponselnya dan mengetikan pesan,
Assalamualaikum, bolehkah aku tahu jadwal pangeran Malik hari ini. terimakasih
Tak lama kemudian,
Y****ang Mulia sedang menemani Yang Mulia Sultan menerima kunjungan diplomatik Paduka Yang Mulia Raja Maha Vajiralongkorn.
"Vajiralongkorn, Raja negara mana ya?!" gumamnya lalu mencari di pencarian internet.
"Oh, Thailand. kayanya aku harus belajar lagi menghafal sistem pemerintahan tiap negara," gumamnya lagi.
tok.. tok..
"Ya, masuk," titah Edel.
"Bu, ini dokumen yang tadi pagi Ibu minta," ujar Alice menyerahkan dokumennya.
"Ya, terimakasih," sahut Edel menerimanya.
Hari ini tidak begitu sibuk, dia hanya memeriksa beberapa dokumen dan laporan. Bahkan dia masih sempat membaca novel.
Ko gue ngerasa jenuh ya. Pikirnya. Lalu melangkah ke luar ruangannya dan masuk ruangan Mita
"Mita, jalan bentar yu," ajak Edel melihat Mita yang fokus dengan laptopnya.
"Gue sibuk!" sahutnya.
Edel menghampiri Mita yang masih tidak meliriknya.
"Gue ngerasa agak jenuh dari pagi, rasanya kaya gue ga mau ngapa-ngapain, ga semangat gitu," ungkapnya duduk di depan Mita.
Mita melihat Edel menggigit bibirnya dan menarik nafas dalam.
"Lo sakit?".
"Engak, cuma rasanya jenuh aja."
Mita melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Baru jam setengah tiga. Tapi oklah, gue beresin data dulu tar jam tigaan kita jalan," ujar Mita.
"Ok, kalau gitu gue balik ruangan mau beresin dulu dokumen. Jam tiga ya, awas Lo kalau jam tiga belum selese gue tetep mau narik Lo keluar nemenin gue," gumam Edel.
"Ok, gue paling seneng nemenin Lo jalan di jam kerja. Ga akan ada yang marahin gue," kata Mita sambil tertawa.
Pukul tiga mereka sudah berada di pintu lift.
"Mau kemana kita?" tanya Mita.
"Kita nonton atau makan atau jalan-jalan?" Edel balik bertanya.
"Liat ikan yu," ajak Mita.
"SeaWorld?" ujar Edel kaget.
"Come on," lanjutnya semangat.
"Keburu ga ya," kata Mita.
"Ayo cepat, aku yang nyetir," ujar Edel semangat.
Jalanan Jakarta memang terkadang sangat menyebalkan jika di kejar waktu. mereka sampai ke pintu masuk pukul empat lebih lima belas menit.
"Masih ada waktu sebentar," ujar Edel semangat.
Mita yang melihat semangatnya Edel justru merasa khawatir. Ni anak dari tadi aneh banget. pikirnya.
Setengah lima mereka telah berada di tiket masuk SeaWorld. Edel langsung menarik Mita berkeliling, bahkan Edel sempat memotret Mita menggunakan ponselnya.
"Terimakasih kawan, kau selalu ada untukku," gumamnya melihat hasil jepretan nya.
Dia juga mengunggah foto lorong kosong di statusnya.
Dia tidak menambahkan caption apapun. baginya itu bisa menjelaskan apa yang sedang dia rasa saat itu.
"Tumben Lo upload foto," ujar Mita melihat notif yang masuk ke ponselnya.
"Lagi mau aja."
"Sebenernya Lo kenapa? Lo ada masalah, sini cerita ma gue," kata Mita.
"Ga ada hanya gue lagi ngerasa sepi aja, sejujurnya gue takut dengan apa yang akan gue hadapi kedepannya," ujar Edel.
"Jangan takut, Allah memberi ujian sesuai kemampuan hambanya," kata Mita memberi sedikit nasehatnya.
Mereka menghabiskan penghujung hari di pantai Ancol menikmati sunset.
"Suatu hari nanti, gue pasti rindu saat ini," ucap Edel melihat langit berwarna lembayung.
"Gue pasti rindu sama Lo yang suka buat gue sibuk sendiri, yang suka bikin ribet sendiri, yang suka maksa-maksa gue, ngajak gue jalan," ungkap Mita.
Edel memandang Mita dan memeluknya.
"Makasih teman."