He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 121



Sejak menangani resort yang berada di Thailand, Shahmeer bisa lebih sering menyempatkan diri untuk pulang dijadwal sibuknya. Ini yang ke empat kalinya dia pulang dan ke dua kalinya saat sampai Azmy tidak berada di rumah.


"Darimana saja kau baru pulang jam segini!" Azmy terperanjat mendengar suara yang dikenalnya, dia berbalik melihat seorang pria tengah berdiri dari duduknya dalam ruang utama yang gelap.


"Kakak, kau membuatku kaget. Kenapa kamu senang sekali berada di dalam gelap seperti ini!" gerutunya mengalihkan pertanyaan kakaknya.


Azmy berjalan menuju saklar lampu dan menyalakannya, terlihat kakaknya masih berdiri dengan raut wajah khawatir. Azmy menghampiri kakaknya dan memeluknya, Shahmeer pun membalas pelukan adiknya.


"Kamu dari mana saja. Kenapa ponselmu kau matikan, aku menghubungimu dari sore!" cecar Shahmeer.


"Maaf, aku lupa mengisi baterai. Kakak kenapa tak bilang jika mau pulang!" serunya melepaskan pelukan dan duduk bersama.


"Kamu dari mana?" Shahmeer mengulangi pertanyaannya lagi tanpa memberi alasan pada Azmy.


"Aku pergi bersama teman-temanku. Hari ini temanku berulangtahun jadi kami pergi untuk merayakannya," beralasan.


Shahmeer memandang lekat wajah adiknya. tak ada raut wajah ceria di sana walaupun dia berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya dengan senyuman. Shahmeer tahu Azmy sedang berbohong dari orang sewaannya yang dia perintahkan mengikuti Azmy.


"Istirahatlah, ini sudah larut," titah Shahmeer lembut.


"Baiklah, selamat malam," ucapnya mencium pipi Shahmeer.


Shahmeer masuk ke kamarnya tapi tidak untuk tidur, ia mengambil sebuah map coklat yang berada di atas meja kerja kamar tidurnya. Dia membuka kembali map coklat yang diberikan orang suruhannya, mengambil beberapa lembar foto.


Dia memejamkan mata dengan rahang yang mengeras, nafasnya memburu menahan amarah. Shahmeer melihat perempuan paruh baya yang sedang mengobrol dengan adiknya.


"Dasar wanita murahan, kenapa dia harus datang kembali," geramnya meremas foto yang dipegangnya.


"Tidak akan ku biarkan kau menghancurkan adikku lagi!" dia melempar sembarang foto yang dipegangnya lalu mengeluarkan ponsel dari kantongnya dan menghubungi seseorang.


"Cari tahu tentang wanita yang fotonya ku kirim barusan. Semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal!" kata Shahmeer dengan nada penuh amarah.


Shahmeer menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja berlengannya. Dia tidak bisa melupakan dan memaafkan semua yang telah dilakukan wanita paruh baya itu di masa lalu.


"Kenapa kau mendekati Azmy?" lirihnya, air mata mengalir di sudut matanya. Raut wajah dan suaranya seketika berubah menjadi raut wajah sendu dan suara serak menahan tangis yang telah lama dipendamnya.


**flashback on**


"Sudah lama sekali, kamu tumbuh menjadi gadis yang cantik anakku," ujar wanita paruh baya pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian di sebuah cafe dekat taman kota.


Gadis itu hanya memandang dengan hati berdebar takut.


"Maaf, anda siapa?" tanyanya, pandangannya tak lepas dari wanita paruh baya itu dengan tangan menggenggam erat sendok cake.


"Kau tak mengenalku," tanyanya lagi.


Gadis itu tak bergeming, dia tetap menatapnya tanpa menjawab.


"Ah, dulu saya bekerja sebagai pengasuh pada keluargamu, bukankah kamu Azmy Zephyr," ujarnya.


"Benarkah?!" Azmy tetap menatap wanita paruh baya itu, tidak percaya dengan yang dia katakan.


"Tentu aku pengasuhmu, kau mempunyai tanda lahir di punggungmu. Hanya orang yang pernah mengasuhmu yang tahu itu," kata wanita paruh baya itu penuh penekanan.


"Maaf, aku tidak bisa mengingatnya," ucap Azmy.


"Tidak apa, itu sudah lama sekali," ujarnya tersenyum hangat.


Azmy mempersilahkan wanita itu untuk duduk dan mereka berbincang. wanita itu banyak menceritakan masa kecil Azmy , kesukaannya, juga tentang kakaknya Shahmeer.


Azmy mulai mempercayainya setelah mendengar penuturan wanita paruh baya tadi, tak sedikit pun dia merasa wanita tadi berbohong karena semua yang dituturkannya seingatnya adalah benar.


"Tentu, aku senang akhirnya punya teman mengobrol. Ini kartu namaku," jawab Azmy menyerahkan kartu namanya.


**flashback off**


Besok pagi aku harus menanyakannya. pikir Shahmeer.


Shahmeer mengambil foto yang dia remas dan lempar tadi lalu membuangnya ke tempat sampah, Ia tak ingin siapapun mengetahui foto tersebut.


*


*


"Ayah memintaku membawamu ke Eropa, dia ingin kau melanjutkan studi di sana," ujar Shahmeer sambil membalikkan koran yang sedang dia baca.


"Bantu aku menolaknya. Aku lebih senang di sini," ujarnya.


"Kenapa, Bukankah kau kesepian di sini sendiri sedangkan di sana akan lebih dekat denganku juga ayah," terang Shahmeer.


"Aku tidak kesepian, aku punya banyak teman di sini!" ketusnya.


"Beberapa hari lalu salah satu temanku melihatmu sedang mengobrol dengan seorang wanita paruh baya, siapa dia?" tanya Shahmeer berusaha terdengar santai.


"Oh, mungkin Mrs. Shopia," jawabnya.


"Mrs. Shopia, siapa dia?" mengernyitkan alis.


"Dia pengasuhku dulu. Apa kakak juga lupa sepertiku?" tanyanya.


"Pengasuh?" Shahmeer menutup koran dan menyimpannya di meja.


"Berhati-hatilah dengan orang asing," tegas Shahmeer.


"Dia wanita yang sangat hangat kak. Kau tak usah khawatir, aku bisa menjaga diriku. Aku sudah besar."


"Bagaimana konsultasimu?" tanyanya mengubah topik.


"Baik, dokter bilang aku semakin membaik. Sudahlah kak, berhentilah terlalu mengkhawatirkanku, aku baik-baik aja!" sahutnya geram.


"Azmy, tolong dengarkan aku. Kau adikku satu-satunya, tentu aku harus khawatir tentangmu. Aku setuju dengan ayah untuk memindahkan studimu ke Prancis, setidaknya aku bisa terus melihatmu, menjagamu walaupun sekarang aku sedang menangani di Thailand tapi aku berharap kamu menuruti keinginan kami. Ini untuk kebaikanmu!" tegasnya.


"Kakak, Bisakah aku menentukan semuanya sendiri. aku sudah besar!" rengeknya.


Shahmeer menghembuskan nafasnya berat. "Wanita yang bertemu denganmu bukanlah pengasuhmu, Kau diasuh hanya oleh nenek tak ada pengasuh!."


Shahmeer berdiri meninggalkan Azmy yang terkejut dengan perkataannya. Dia tak bisa menahan lebih lama lagi kekesalan dalam hatinya. Bagaimana mungkin Azmy melupakan wajah ibu kandungnya sendiri. Gerutu Shahmeer dalam hati.


"Memang tidak ada fotonya satu pun di rumah keluarga Zephyr, tapi dia bisa mencarinya di internet karena dahulu wanita murahan itu seorang sosiolita yang selalu ikut dalam berbagai acara donasi, bagaimana mungkin dia melupakan wajahnya. Apa Azmy berbohong?!" lirihnya meneguk segelas air putih.


Sementara Azmy masih duduk terdiam di kursi depan taman rumahnya. Dia masih tertegun dengan perkataan kakaknya. Bagaimana mungkin dia tahu banyak tentangku jika bukan pengasuhku, Kakak pasti lupa. Ya, dia pasti lupa!, batinnya.


"Tapi wajahnya seperti tak asing bagiku, kalau bukan pengasuhku lalu siapa dia?" gumamnya lirih.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰