He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 161



Mereka sampai di hotel tempat Malik menginap. Malik mempunyai kamar khusus yang selalu di tempatnya ketika ke Abu Dhabi, kamar Suite Presidential.


Edel masih terlelap di pangkuan Malik ketika sampai di parkiran hotel.


"Aku akan menunggunya bangun. Sepertinya dia sangat kelelahan," kata Malik pada Mr. Husein.


Mr. Husein pun membungkuk tersenyum, dia sangat mengerti tuannya. Dia dan asistennya keluar dari mobil dan menunggu di luar.


Wajah cantik itu, begitu sangat menggemaskan. Ingin rasanya dia menciumi setiap inci wajahnya, namun dia urungkan takut membuat istrinya terbangun. Malik pun menyenderkan kepalanya. Hari ini dia harus bangun sangat pagi untuk menjemput istri tercintanya di Bandara.


Edel mulai membuka matanya, dia sedikit menggosok matanya yang masih terasa perih buat dibuka.


"Masih di sini," ucapnya ketika menyadari masih berada di dalam mobil.


Sedikit terhuyung ketika berusaha bangun dan duduk, dilihatnya Malik tertidur pulas. "Dia pasti bangun pagi buta karena harus menjemputku."


Dibelainya wajah suaminya yang masih tertidur.


"Ternyata sudah sampai," gumamnya lirih ketika melihat sekeliling yang berada diantara mobil-mobil yang sedang diparkir.


"Sudah hampir jam 8," gumamnya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan Malik.


"Malik... , Malik... ," Edel membelai pipi Malik lembut membangunkannya.


Itulah perbedaan Malik dan Edel. Malik tidak tega membangunkan istrinya sedangkan istrinya tentu saja berani membangunkan Malik. Bukan karena dia tegaan, hanya saja Edel lebih ke berpikir lebih enak jika tidur di kamar mereka, tidak akan membuat badan sakit.


"Ehmm, kau sudah bangun," kata Malik lirih. Malik malah menarik Edel kembali ke dalam dekapannya.


"Malik, jangan di sini," ujar Edel, tangannya membalas pelukan Malik.


"Apanya yang jangan di sini, Honey?" Malik terkekeh.


"Peluknya, ini parkiran, tidak enak jika ada yang melihat. Ayo cepat kita ke kamar," jawab Edel tanpa maksud apapun.


"Emangnya kamu mau melakukan apa mengajakku ke kamar, Honey?" goda Malik. Senang rasanya menggoda Edel setelah beberapa hari tak melihatnya secara langsung.


Edel menepuk dada bidang suaminya. "Jangan berpikiran macam-macam."


"Malik, ayo. Aku ingin cepat mandi, badanku terasa lengket sekali," lanjutnya, masih memeluk erat Malik. Terkadang memang mulut dan gerak tubuh tak sejalan.


"Kau mengajakku ke kamar, tapi kenapa aku merasa pelukanmu semakin erat, honey?" kekehnya.


"Mau ku gendong sampai tempat tidur?" goda Malik.


"Mau nya... ," Edel melepaskan pelukannya, membelai wajah Malik yang ditumbuhi jambang tipis. Baru saja beberapa hari yang lalu dia mencukur jambang suaminya, kini sudah tumbuh menghiasi wajah Malik lagi.


"Ayo, aku akan mencukur jambangmu sebelum mereka tumbuh lebat!" seru Edel.


Edel berbalik hendak membuka pintu mobil namun Malik segera menariknya ke dalam dekapan nya dan mencium bibir mungilnya. Tak tahan rasanya sedari tadi hanya melihatnya mengukir senyum.


Mereka berciuman cukup lama menumpahkan sebagian rindunya hingga nafas mereka tersengal dan mengakhiri tautannya.


"Ayo," ajak Edel tersenyum. Malik tampak bahagia dengan senyuman Edel sebagai kode jika mereka harus segera masuk ke kamar mereka.


Mr. Husein dan asistennya juga Mrs. Harold mengiringi mereka sampai depan kamar.


"Anda diundang untuk makan siang oleh Mr. Erick," Mr. Husein mengingatkan tuannya akan jadwal yang akan datang.


"Saya akan menjemput anda pukul 11," lanjutnya.


"Baiklah, terimakasih," ucap Malik.


Mereka pun berpamitan setelahnya. Malik membukakan pintu kamarnya untuk istrinya. Suite Presidential, Kamar tidur dengan luas 280 m² dengan pemandangan langsung menghadap laut sangat cocok sekali untuk pasangan yang sedang honeymoon.


"Kau suka?" tanya Malik begitu mereka masuk kedalam dan Edel melihat sekeliling kamar.


"Tentu, aku selalu menyukai tempat dimana pun kau berada," ungkapnya berlari ke arah Malik dan memeluknya.


"Honey, aku merindukanmu," ungkapnya.


"Aku juga," jawab Edel.


Malik menggendong Edel ala bridal style masuk ruang tidur mereka dan meletakkannya di tempat tidur.


"Malik, bukankah ku bilang jika aku ingin mandi," ujar Edel memainkan telunjuknya di garis rahang Malik yang mulai tertutup jambang tipis.


"As you wish."


Malik tersenyum hingga bibirnya menyisakan hanya beberapa centi dari bibir Edel. Dia segera menggendong kembali istrinya masuk ke dalam kamar mandi.


***


"Malik, cepatlah. Ini sudah hampir pukul 11," ujar Edel menggedor kamar mandi.


Malik keluar dengan masih menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Edel yang sudah menyiapkan baju yang akan suaminya pakai sedikit terpaku ditempatnya berdiri.


"Apa kau masih terkejut melihat tubuhku?" goda Malik, Edel membuang muka dan mengambilkan baju buatnya.


Malik mendekati istrinya dan memeluknya dari belakang. Rasa hangat langsung terasa oleh Malik begitu kulitnya menempel pada tubuh Edel berbeda dengannya Edel merasakan sensasi dingin menyegarkan begitu menyentuh Malik.


"Malik, ini sudah terlambat. Bukankah Mr. Husein bilang pukul 11 dan sebentar lagi juga pukul 11," kata Edel mengingatkan.


"Iya, baiklah."


Edel membantu Malik menggunakan kemejanya dan mengancingkannya. Malik tentu saja bisa melakukannya sendiri tapi dia lebih senang jika istrinya membantunya mengenakan bajunya.


"Ikutlah denganku. Ini hanya acara private Mr. Erick dan kita bisa meninggalkan acara tersebut jika mau," pinta Malik.


Edel mengangguk setuju, setelah membantu Malik dia segera memilih baju yang telah disediakan sebelumnya oleh Mrs. Harold.


Edel melihat beberapa kissmark yang sengaja dibuat Malik di lehernya dan dekat tulang selangkanya.


"Dasar!" gerutunya, Edel memejamkan mata berpikir bagaimana cara menutupi kissmark tersebut.


"Apa aku harus menutupinya dengan baju?" gumamnya.


Tapi, baju yang disediakan Mrs. Harold tidak ada yang bisa menutupi sampai ke lehernya. pikir Edel.


"Oh iya, concealer," ujarnya.


Edel keluar kamar mandi, mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Mrs. Harold untuk memintanya membawakan concealer secepatnya.


Tidak berselang lama Mrs. Harold membawakan consealer dan peralatan make up lainnya untuk Edel. Dia sedikit bingung karena setahunya Tuan Putri nya tidaklah menggunakan concealer dengan warna tersebut dan selalu bermake up flawless.


Malik yang sedari tadi memperhatikan Edel juga dibuatnya bingung, karena Edel memintanya untuk menerima tas yang berisi make up yang diantarkan Mrs. Harold.


"Itu apa?" tanya Malik penasaran melihat Edel mengambil consealer dan mulai mengoleskannya di atas kissmark di lehernya.


"Oh, ini ada yang menggigit leherku hingga merah seperti ini jadi aku harus menutupinya menggunakan ini," jawab Edel samping menggoyangkan concealer ke arah Malik.


"Digigit apa?" tanya Malik dengan wajah tidak bersalahnya.


"Nyamuk besar menggigitku," jawab Edel enteng.


Malik menghampiri Edel dan melihat kemerahan di tulang selangka Edel.


"Tega sekali kamu menyebutku nyamuk," rengeknya.


"Hahaha... ," Edel tertawa kecil.


"Sini biar ku bantu mengoleskannya," ujar Malik.


"Olesin yang benar. Awas kalau malah menambah merahnya lagi," gerutu Edel.


"Hahaha... , tenang saja aku berencana menambahnya nanti malam. Sekarang sudah tidak ada waktu, kasian Mr. Husein jika harus menungguku lama," candanya.


Mr. Husein dengan setia menunggu mereka di lobi luar kamar Malik.


"Yang Mulia," sapa Mr. Husein ketika melihat Malik dan Edel keluar dari kamar mereka.


*****


Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏


Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah buat author ya, agar semkin semangat up nya.


Stay safe everyone. ❤️