
Resepsi pernikahan Deo dan Kate di langsungkan pada malam hari di ballroom hotel. dengan dekorasi berwarna putih, bergelantungan lampu-lampu kristal berbaur dengan puluhan ribu bunga mawar putih, sangat elegan dan mewah.
"Kau sudah siapkan?" tanya Shahmeer pada Ronald.
"Tenang aja, semua sudah ku atur, aku sudah membayar beberapa pelayan untuk membantuku," Ronald tersenyum penuh misteri.
"Apa kalian tidak takut jika dia tahu semuanya?!" terlihat ketegangan di wajah Mike.
"Ingat baik-baik, jangan sampe Malik tahu rencana kita dia akan lebih marah dibanding dia, kalau engak habislah kita!" tegas Ronald pada Mike dan Farhan.
"Dia ga akan marah, toh kita hanya ingin membuktikan jika pernikahannya tanpa ada rekayasa," tegas Shahmeer. "Jalankan aja sesuai rencana."
"Kau benar, lagian mereka sudah menikah. tidak akan ada yang di rugikan, kita hanya menambah sedikit bumbu di malam pertama mereka," Ronald menertawakan dengan ucapannya.
"Mana kunci duplikat kamarnya, kau sudah mengambilnya kan?" tanya Farhan.
Shahmeer mengodok kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kunci yang dia goyangkan di depan teman-temannya. "Kunci itu masalah mudah, hotel ini di bawah perusahaan ayahku. Tinggal eksekusi aja." ujarnya dengan sombong.
”Berhati-hatilah, jangan sampai salah sasaran," kata Shahmeer menatap lekat Farhan, seakan dia bilang 'kalau salah, awas!'.
"Hei, kamu di sini?, aku mencarimu kemana-mana. Tadi Malik menanyakanmu," ujar Queenzha menghampiri Ronald yang sedang rapat darurat dengan teman-teman nya.
Mereka terkejut dengan kedatangan Queenzha, mereka takut jika dia mendengar semua yang mereka rencanakan.
"Eh, hai sayang ... ," ujar Ronald masih kaget dengan kedatangan kekasihnya. "ada apa?".
"Kau kenapa?, aku mencarimu dan Malik juga sepertinya mencarimu dan teman-temanmu."
"Ya, kau tidak dengan temanmu, dimana mereka?" tanya Ronald berusaha terdengar normal.
"Kau kenapa?, Edel sedang bersama Malik juga Mr. Ommar dan Kate sedang berkeliling dengan Deo, biasa berkenalan dengan rekan bisnis keluarga mereka." ujar Queenzha tak melihat gerik aneh mencurigakan dari kekasihnya.
Ronald memberi kode pada Farhan untuk segera beraksi, sebelum pesta berakhir. Farhan mengerti dan langsung mencari keberadaan target.
Farhan berkeliling mencari keberadaan target mereka. Seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami karena Beratus orang yang hadir di ballroom yang sangat megah. Semua orang seperti terlihat sama karena banyak yang memakai gaun putih termasuk Edel dan Queenzha.
Akhirnya dia menemukannya dan menghampiri seorang pelayan, dia memberi perintah pada pelayan tersebut lalu menunjukan target yang akan mereka eksekusi malam ini.
Malik dan Edel sedang berbincang dengan Mr. Ommar, di sana juga telah ada Deo dan Kate yang memberi salam pada Mr. Ommar.
"Kalau begitu Kate akan menjadi warga negara A nanti?" tanya Mr. Ommar. "sekarang aku tak perlu khawatir jika sebentar lagi my flower akan di sana juga, sudah ada teman menemaninya."
"Iya Mr. Ommar, tentu kami akan saling menemani apalagi kami adalah pendatang. Tentu akan sangat menyenangkan jika sudah punya teman tempat berbagi," kata kate.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?"
"Masih saya yang pegang, itu pun dengan seizin Deo." Kate memandang suaminya mesra Deo pun sebaliknya membelai pipi istrinya. Sungguh mereka berdua seperti aktor dan aktris yang berbakat.
"Ya ... , ya ... izin suami memang yang utama," kata Mr. Ommar.
seorang pelayan menghampiri mereka menawarkan minum non alkohol. Deo menawarkannya pada istrinya.
"Kau mau?"
"Tidak, dari tadi aku sudah banyak minum," jawabnya menikmati sentuhan suaminya di pipinya.
Mr. Ommar pun tidak mengambil minuman yang disodorkan pelayan.
"Honey, kau mau minum?" tanya Malik pada kekasihnya.
"Ya, aku sedikit haus. Queenzha mana ya?" jawabnya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menerima gelas minum dari Malik.
"Terima kasih," ucapnya dan meminum minuman yang di beri kekasihnya. Edel hanya meminum sedikit minuman itu karena dia menemukan orang yang dicarinya.
"Malik, ayo ke sana. itu Queenzha di sana," dia menunjukan di mana temannya berada. "Om, kami ke sana dulu," pamit Edel menarik tangan Malik agar mengikutinya. Dia masih memegang gelas yang tadi.
"Hai, kau kemana saja?" tanya Edel mulai merasakan badannya panas.
"Mana Kate?" Queenzha bertanya balik.
"Dia masih mengobrol dengan Mr. Ommar," meminum minumannya sampai habis. Dia merasa badannya gerah, tapi melihat Queenzha juga Ronald tidak menunjukan kegerahan begitu juga dengan Malik.
'Apa aku sakit, kenapa aku merasa badanku tiba-tiba demam'. batin Edel.
"Malik, coba pegang dahiku. Apa aku sakit?" tanyanya memotong pembicaraan Malik dengan Ronald. Dia merasa Malik sangat tampan dan menggoda malam ini.
"Kau baik-baik saja, apa kau pusing?" tanyanya meraba dahi Edel tapi menurut Malik dia tidak merasakan Edel demam.
Edel mulai mengipas-ngipaskan tangan ke badannya. Ronald sedikit memperhatikan Edel dan mengernyitkan alisnya.
"Mungkin kau kelelahan, sebaiknya kau beristirahat saja," ujar Queenzha, yang merasa aneh dengan keadaan temannya. Ronald tidak berkata apapun hanya memperhatikan gerak gerik Edel yang kepanasan.
"Ayo ku antar ke kamar, sebaiknya kau beristirahat saja," ajak Queenzha mulai khawatir karena wajah Edel mulai memerah.
"Biar Pangeran Malik aja yang antar," kata Ronald tiba-tiba, dia ingin membuktikan rasa penasarannya sekaligus ingin mengetahui sejauh mana sahabatnya bertahan jika perkiraannya benar, batinnya tertawa.
"Kau baik-baik saja?" tanya Malik merangkul Edel dengan segera, dia takut Edel pingsan di sana.
"Kita ke kamar dulu," kata Malik pamit pada Ronald dan Queenzha. Malik membopong Edel berjalan keluar ballroom, mendekati lift yang akan membawa mereka ke kamar.
"Panas sekali," dia menggoyangkan kain baju di dadanya. Malik tampan sekali, bibirnya merah seperti buah apel sangat ranum. pikirnya.
Edel memperhatikan wajah Malik dan mengeratkan pelukannya dan mulai mengusap dada malik. Malik terkejut dengan sikap Edel, dia tidak pernah melihat Edel seagresif itu.
'Apa ada yang salah dengannya?' batin Malik.
Lift serasa lama sekali sampainya. Edel sudah mulai menggerayang bahu Malik.
"Bawa aku Malik," ujarnya.
"Ya, aku akan membawamu ke kamar. Ayo cepat," ujarnya sedikit menarik Edel agar cepat dan akhirnya dia menggendong kekasihnya ala bridalstyle.
Malik kesusahan menekan password pintu kamar Edel, dia tahu password kamarnya dari kekasihnya. Malik pun merebahkan Edel di tempat tidur.
"Istirahatlah, aku akan berada di depan menonton tv," ujarnya, tangannya di tarik oleh Edel.
"Jangan tinggalkan aku," rengeknya. Malik lama memperhatikan Edel.
"Honey, izinkan aku menelepon seseorang, nanti aku temani," kata Malik berusaha menghindar dari pelukan kekasihnya
"Sini aja teleponnya," pintanya.
Akhirnya Malik menelpon dan mengirimkan pesan pada seseorang.
"Malik, aku kepanasan," kata Edel dengan wajah memelas. " Apa tadi aku salah makan atau minum." mendengar Malik menyuruh orang memeriksa CCTV.
"Malik, sepertinya aku tahu apa yang terjadi denganku," tangannya ga mau melepaskan tangan Malik. "Jangan panggil dokter ini akan sangat memalukan, tolong aku."
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰