
Menemani Pangeran Ammar bermain tidak menjadikan Mr. Soe maupun Mrs. Soe lelah setelah perjalanan panjang mereka, justru mereka sangat senang dan bersemangat 'Seperti mengajak cucu bermain'. Begitu kata Mr. Soe.
Mereka banyak tertawa melihat tingkah lucu Ammar yang benar-benar tak mau ditinggal Edel, dia cemberut ketika Edel dan Malik menaiki roller coaster di area ancient Egypt yang paling membuat Malik berminat karena di dalam lumayan gelap dan ketika roller coaster nya berjalan mundur Edel memegang Malik kuat-kuat dan bahkan beberapa kali memeluknya.
Edel banyak menaiki wahana bersama Pangeran Ammar dibanding dengan Malik, karena terkadang Ammar tidak memperbolehkan Malik untuk ikut naik.
Sudah empat jam lebih Ammar terpisah dengan Putri Syahara dia tidak menangis dan bahkan tidak menanyakan mamanya sama sekali, entah kemana mereka mencari makan yang membutuhkan waktu empat jam. ketika di telepon pun Putri Syahara hanya bilang "Udah, Aku titip Ammar. Bermainlah dengannya, aku ingin menghabiskan waktuku dulu dengan Fredrik berdua."
Pukul setengah enam mereka keluar dari Universal Studio Singapore. Mereka bertemu dengan Putri Syahara di pintu keluar, Ammar langsung lari ke hadapan mamanya dan mencium pipinya.
"Kamu senang hari ini?" tanya Putri Syahara pada putranya.
"Ya, aku senang bermain dengan Tante Edel, tadi aku menaiki roller coaster yang menggantung bersamanya," cerita Ammar.
"Dan aku juga mencari harta Karun dengan Om, tapi Om Pangeran Payah!" ejeknya membuat Edel tertawa.
Ammar terus menceritakan ketika dia bermain dari satu wahana ke wahana yang lain. Setelah sampai di kamar pun dia belum berhenti bercerita.
"Ayo jagoan mandi sama ayah," ajak Fredrik menggendong Ammar masuk ke kamar mereka.
"Terimakasih telah menjaga Ammar buatku," ucap Putri Syahara tersenyum memegang lengan Edel.
"Tentu, aku senang," jawabnya Edel.
"Terima kasih dan maafkan aku telah merepotkan kalian dengan menjaga Ammar," ucapnya pada Mr. dan Mrs. Soe.
"Tak apa, seperti bermain dengan cucu," kata Mr. Soe tersenyum hangat.
Putri Syahara masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo aku tunjukan kamar kalian," ajak Malik menarik koper mereka.
"Terima kasih," ucap Mrs. Soe pada Malik.
"Selamat beristirahat," kata Malik.
Selepas shalat magrib Mrs. Soe dan Putri Syahara disibukan dengan membantu Edel memilih gaun yang akan dia pakai ke acara nanti malam. Gaun-gaun rancangan desainer terkenal dunia didatangkan langsung ke kamar mereka, Malik juga telah menyiapkan MUA terbaik yang akan merias kekasihnya nanti selepas isya.
karena kebetulan dia sedang tidak shalat, hairstylist telah datang untuk menata rambutnya. Beberapa model dia coba,
"Kau suka?" tanya hairstylist nya.
"Ya aku suka, terima kasih," ucap Edel. Mrs. Soe juga Putri syahara sangat suka dengan style rambut Edel.
"Bisakah rambutnya tergerai, aku kurang suka jika banyak yang melihat leher jenjangnya. Dia sangat seksi ketika rambutnya seperti itu, aku takut sainganku bertambah banyak," ujar Malik yang tiba-tiba datang setelah melihat foto Edel yang di kirim Putri Syahara.
"Kenapa? dia bagus dengan style rambut seperti itu!, bahkan dia terlihat sangat cantik dengan itu bahkan sebelum wajahnya di rias," tutur Putri Syahara ketus.
"Justru karena itu kak. nanti pasti banyak yang melihatnya, aku tidak mau kehilangan dia di pesta," kata Malik.
"Dasar laki-laki, harusnya kamu bangga!" seru putri Syahara.
"Bisakah kamu menggeraikan rambutku?" tanya Edel yang tidak enak mendengar perdebatan Malik dan Putri Syahara.
"Baik, Tuanku," kata hairstylist nya.
Akhirnya Edel menggeraikan rambutnya dan di tambah sedikit aksesoris. Dia tetap terlihat sangat cantik meski rambutnya di gerai.
"Kamu memang cantik tuanku, style apapun untukmu selalu tampak cantik," puji hairstylist nya.
"Terimakasih," ucap Edel tersenyum pada hairstylist nya dari pantulan cermin.
"Kau cantik sekali sayang," puji Mrs. Soe merangkul anaknya yang duduk di kursi rias.
"Jadi gaun yang mana yang akan kamu pakai?" tanya Putri Syahara memilah gaun yang terpajang di depannya.
"Kenapa kamu tidak keluar saja, urus pakaianmu!" kata Putri Syahara kesal pada Malik karena selalu saja protes.
Mrs. Soe tertawa melihat tingkah mereka berdua. Dia cukup mengerti kenapa Malik bersikap seperti itu, dia ingin melindungi Edel. Dia bersyukur anaknya dicintai oleh seorang pria seperti Malik dan tentu oleh keluarganya juga.
"Cobalah pakai yang ini," sahut Mrs. Soe memberikan gaun pada Edel.
Edel mencoba beberapa gaun dari yang berwarna gold, maroon, dusty, hitam, tapi masih serasa ada yang kurang dengan gaun tersebut. Akhirnya dia memilih satu gaun berwarna putih dengan taburan Swarovski, sangat elegan.
"Kamu sungguh cantik sekali, Pangeran kami sangat beruntung berjodoh denganmu," sahut Putri Syahara memandang Edel.
"Ok, bukalah dulu gaunmu, kamu harus di rias dahulu," kata Mrs. Soe karena MUA yang akan merias Edel sudah datang.
"Jangan terlalu bold, aku ingin natural saja," pinta Edel pada MUA nya.
"Baik nona," ucap MUA nya.
Tak perlu waktu lama MUA telah selesai merias Edel dengan sempurna. Semua melongo melihat wajah Edel yang telah dirias walaupun dengan riasan natural tapi dia sangat cantik. Bahkan Mrs. Soe menangis haru melihat anaknya.
"Sekarang Pakailah gaunmu," kata Putri Syahara.
Edel berganti pakaian di kamar mandi. Jangan dibayangkan kamar mandi yang sempit karena kamar mandi di Chairman Suite Marina Bay Sands lumayan luas.
Ketika Edel keluar, Malik sudah ada di sana di kamar edel karena dipanggil oleh Putri Syahara, dia ingin memfoto mereka berdua sebelum mereka berangkat.
"Ayo aku akan mengambil foto kalian," kata Putri Syahara meminta mereka mendekat.
"Mendekatlah, biasanya kalian berdekatan kenapa sekarang berjauhan!" serunya.
Malik pun mendekati Edel, tapi mereka merasa mendadak sangat canggung satu sama lain seakan baru bertemu. Edel memegang lengan Malik menggandengnya.
"Kalian canggung sekali, coba rangkullah kekasihmu. Dari kemarin kamu selalu mencuri rangkulan kepadanya, kenapa sekarang kaku seperti itu," protes Putri Syahara dan ditertawakan oleh Mrs. Soe dan Mr. Fredrik.
"Nah ... gitu dong," kata Putri Syahara puas mengomeli adik kesayangannya.
"Kamu cantik sekali, membuatku gugup," bisik Malik di telinga Edel membuatnya tersipu malu.
Pukul setengah sembilan mereka keluar dari Chairman Suite nya. Pesta diadakan di Sand Skypark tepatnya di observation deck, di lantai 57 Marina Bay Sands.
Seperti masuk ke film Grazy Rich Asian, itulah perasaan yang dirasakan Edel ketika sampai di tempat pesta. Sangat gemerlap dan mewah.
"Apa kamu yakin ini pesta ulangtahun temanmu?" tanya Edel memastikan.
"Tentu, kenapa?" kata Malik.
"Tidak, aku tidak pernah berpikir akan menghadiri sebuah pesta ulangtahun yang seperti ini di sini," ungkap Edel.
Mereka mencari yang punya hajat, melihat nya sedang dikerumuni banyak gadis cantik.
"Hay bro," sapa Malik.
"Happy birthday ... ," ucap Edel.
"Terimakasih," kata Deo terpukau melihat Edel. "Kamu cantik sekali My princess Malik Ibrahim."
"Eitss ... , berhenti memandang kekasihku!" seru Malik menutup mata Deo dengan tangannya.
"Hahahaha ... , maafkan aku Yang Mulia. Ini adalah refleks normal ketika melihat gadis cantik," ujarnya tersenyum.
"Hay, Edelweiss," sapa Queenzha menepuk bahu Edel.
"Hay, kamu di sini. senang sekali bertemu denganmu lagi," kata Edel, dia sangat canggung sejak datang karena 90% lebih yang hadir tidak dikenalnya. Senang akhirnya bertemu dengan seseorang yang dikenal.
"Mana Shahmeer, apa dia belum datang?" tanya Ronald pada temannya.
"Dia tidak akan datang, kayanya ada urusan urgent. Biasa keluarganya ... ," kata Deo menggendikan bahunya.