
Mereka sampai di bandara Negara A pukul 12.45 waktu Negara A. Seperti biasa sudah ada mobil khusus yang menunggu mereka di sana.
Malik sudah berganti pakaian di pesawat dengan jas Desmon Merrion Supreme Bespoke dari brand ternama asal London. Membuatnya tampak sangat gagah dan berkharisma.
"Honey, aku akan mengantarmu lalu langsung berangkat menemani ayahku," kata Malik.
"Ok," jawab Edel mengangguk lalu kembali melihat ke luar jendela.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak mau melihatku," tanya Malik merasa Edel lebih senang melihat ke luar jendela di banding melihatnya.
"Tidak, kenapa?" sahutnya memandang Malik.
"Tidak apa-apa, hanya saja kamu lebih diam dari pada biasanya juga lebih senang melihat ke luar jendela," ujar Malik merajuk.
"Ya, aku ingin menikmati pemandangan jalanan di sini. Aku lebih sering melewati jalan ini di malam hari dan sekarang masih siang jadi aku ingin melihatnya," jawab Edel.
"Besok aku akan mengajakmu berkeliling jika kamu mau," ajak Malik.
"Ok," jawab Edel singkat melihat keluar lagi.
"Honey, maafkan aku jika kamu merasa terpaksa harus menemaniku hari ini," ujar Malik. Edel menatap manik Malik dan membelai wajah Malik lalu tersenyum.
Malik membawa Edel ke istana Negara A, di sana sudah ada Putri Syahara yang menunggunya. Edel membungkuk hormat menyapanya.
"Assalamualaikum, apa kabar?" sapanya.
"Wa'alaikumsalam Alhamdulillah baik, aku sudah menunggumu dari tadi," ujarnya mereka berpelukan juga mencium pipi kiri kanan.
"Ayo, Ibunda Ratu sudah menunggu kita," ajak Putri Syahara.
"Aku akan menemui mu segera setelah selesai tugasku," bisik Malik dan Edel mengangguk setuju.
"Ayo, jangan terlalu dekat belum muhrim bisa dosa itu," ujar Putri Syahara tersenyum.
"Dek' ayo, aku tak sabar ingin mengobrol banyak dengan mu," lanjutnya menarik Edel dari hadapan Malik.
Edel mengikuti Putri Syahara pergi. Dia melewati beberapa ruangan yang belum pernah di lewatinya sebelumnya.
Ini bukan jalan ke kamar Malik, ataukah ada jalan lain ke kamarnya. pikirnya.
Interior ruangannya sangat elegan tapi penuh kehangatan. Di sana sudah berada Ibunda Ratu dan Putri Grizelle tampaknya sedang berbincang hal yang cukup serius.
"Assalamualaikum," sapa Putri Syahara dan Edel.
"Wa'alaikumsalam," sahut Ibunda Ratu dan Putri Grizelle.
"Kamu sudah datang sayang, duduklah dekatku," titahnya.
Edel duduk di sebelah Ibunda Ratu, dan Putri Syahara duduk di kursi hadapan Putri Grizelle.
"Kami sedang membahas acara untuk anak disabilitas. Apa kamu bersedia menjadi salah satu pembicaranya?" tanya putri Grizelle.
"Disabilitas, temanya apa? saya belum cukup belajar tentang itu. Saya tidak merasa saya mampu menjadi pembicara," ucap Edel.
"Kamu pasti bisa, saya mendengar salah satu yayasan mu menaungi sekolah untuk para difabel," ujar Putri Syahara.
"Anda tahu saya punya yayasan itu," tanya Edel kaget karena dia belum pernah membicarakan itu bahkan dengan Malik sekalipun.
"Tentu kami tahu," ujar Putri Syahara.
Sampai yayasan ku pun mereka tahu mungkin inilah yang dimaksud Malik. pikir Edel dalam hati
"Kapan acaranya berlangsung, saya harus mempertimbangkannya. Maaf, jadwal saya sedikit padat bulan ini," ujar Edel.
"Acaranya di akhir oktober," jawab Putri Grizelle.
"Kami berharap kamu bersedia menjadi pembicaranya," pinta Ibunda Ratu.
"Oh ya, besok pangeran Malik bertanding polo. Kamu pasti sudah tahu kan darinya," kata Putri Grizelle.
"Pangeran kami atlet polo, dia sangat berbakat di berbagai olahraga terutama polo," tambah Ibunda Ratu.
"Ehm.. pangeran Malik belum bercerita soal itu, dia hanya memintaku menemaninya untuk beberapa acara," jujur Edel.
"Tentu saja dia ingin kekasihnya melihatnya bertanding, iyakan Ibunda Ratu," sahut putri Grizelle.
"Kalau memang begitu lebih baik ikut saja nak' biar kamu terbiasa menghadirinya kelak. Juga kamu bisa berkenalan dengan beberapa tokoh perempuan di sini," sahut Ibunda Ratu.
"Baiklah, Bu." sahut Edel. Putri Syahara tersenyum puas dengan dukungan Ibunda.
"Mama.. mama.. ," teriak Pangeran kecil Ammar
"Sayang sudah pulang?" tanya Putri Syahara memeluknya.
"Kamu tidak mau memelukku?" tanya putri Grizelle membuat Ammar tersenyum lalu menghampiri nya untuk memeluknya. Dia juga menghampiri Ibunda Ratu dan memeluknya.
"Tante Edelweiss gimana, sapa dong anak pintar," kata Putri Syahara. Ammar menghampiri Edel memeluknya bahkan mencium pipinya.
"Wooww.. woww woww, kamu sudah berani mencium Tante Edelweiss ya," ledek Putri Syahara pada anak semata wayangnya sambil tertawa kecil.
"Nenek ga di cium juga?" tanya Ibunda Ratu tersenyum.
Ammar duduk di antara Edel dan Ibunda Ratu. Dia sesekali melirik Edel dan tersenyum.
"Pangeran kecil kita sudah tahu gadis cantik," ujar Putri Grizelle tersenyum melihat tingkah ponakannya.
"Jangan terlalu sering lihat nanti Pangeran Malik bisa marah lho," lanjutnya.
"Yuk ganti bajumu dulu," ajak Putri Syahara.
"Tante, nanti temani aku ya," pinta Ammar.
"Temani apa?" tanya Edel.
"Bermainlah denganku," pintanya.
"Baiklah," ujar Edel mengelus rambut Ammar yang hitam lebat.
"Pasti kamu lelah, beristirahat lah kalau tidak tentu nanti pangeran kami akan mengomel pada kami tidak membiarkan calon istrinya beristirahat," seru Ibunda Ratu tersenyum.
"Baiklah, tapi saya tidak tahu jalan ke kamarnya," ucap Edel wajahnya merona mendengar kata calon istri.
"Hahahaha.. mari ibu antar. Ibu juga ingin lebih lama bersamamu," ujar Ibunda Ratu
Ibunda Ratu menunjukan jalan menuju kamar pangeran Malik. Sepanjang jalan mereka mengobrol tentang yayasan yang bekerja sama dengan perusahaan keluarga Soe.
"Kenapa kamu tidak mengembangkan yayasan untuk anak-anak di luar negaramu, seperti di Afrika atau di negara yang lain?" tanya Ibunda Ratu.
"Kami sudah membentuk team untuk membantu mereka yang berada di luar negeri. Tapi kami lebih memprioritaskan membantu untuk yang di dalam negeri dahulu karena itu lebih mudah di jangkau dan yang terutama mereka masih saudara sebangsa kami," ujar Edel.
"Rasanya tidak benar jika banyak membantu yang berada di luar yang jauh tapi yang dekat dengan kami dibiarkan begitu saja," lanjutnya.
"Kenapa kamu mau melakukannya, membuat yayasan dan sekolah gratis?" tanya Ibunda Ratu.
"Sejak kecil, aku selalu mendapatkan yang aku inginkan. Bunda menyekolahkan ku di sekolah negeri agar aku bisa berteman dari semua kalangan. Bunda dan ayah juga terkadang membawaku ke beberapa panti asuhan. Bunda bilang mereka berhak mempunyai kehidupan seperti aku, jadi ya dari sana aku ingin membantu mereka. Bukankah setelah mereka sukses tentu mereka juga akan membantu adik-adik mereka yang lain dan akan semakin banyak yang terbantu," kata Edel antusias.
"Aku sangat bangga padamu," puji Ibunda Ratu.
"Ah, aku masih harus banyak belajar," kata Edel merendah.
"Istirahatlah," titah Ibunda Ratu setelah sampai di depan pintu kamar Malik.
"Iya, terimakasih," sahut Edel.
"Jika kamu perlu apa-apa panggilah pelayan," sarannya.
"Baik, Ibu,"ucap Edel lalu mencium tangan Ibunda ratu dan cium pipi kirim kanan.
Edel masuk ke kamar malik setelah melihat Ibunda Ratu pergi dengan asistennya.
Tatanan interiornya sudah ada yang berubah, seperti edel menemukan fotonya dalam ukuran yang lumayan besar terpajang di dinding kamarnya.
Juga foto dirinya sedang bersama Malik yang sempat tersebar di dunia Maya ketika pulang dari mesjid pusat kota. Ukuran foto itu sangat besar sekali lebih besar dari tubuh Pangeran Ammar. Edel tersenyum takjub memandang foto dirinya dengan Malik.
Edel masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan betapa terkejutnya, lemari di kamar Malik bertambah. Lemari tersebut berisikan pakaian dan gaun perempuan. Malik sengaja menyiapkan semuanya untuk Edel.
"Dia bahkan tahu ukuran pakaian dalamku," gumam Edel kaget.