He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 150



Pemberitaan tentang persidangan lanjutan kasus Pembunuhan Pangeran Fatih dan istrinya yang akan digelar beberapa hari lagi memenuhi semua pemberitaan media massa online maupun offline.


"Sidang putusan terdakwa kasus pembunuhan berencana, Shopia Felix Beltran akan dilaksanakan hari Kamis mendatang. Semua orang tegang menantikan putusan hakim nanti," ujar seorang pewarta berita tv sambil terkekeh pada seorang narasumber dalam acara tersebut.


"Ya, karena ini adalah kasus besar menurut saya karena melibatkan pihak istana negara A yang menjadi korbannya, tentu semua orang di dunia ini menyimaknya dan ingin tahu akhirnya."


"Menurut anda apa alasan terdakwa mengincar dan melakukan pembunuhan berencana ini. Kita semua tahu jika alasan sebenarnya mungkin ditutupi pihak istana," pewarta itu menekankan suaranya dikata mungkin.


"Ah, hahaha ... , biarlah itu menjadi rahasia yang tetap tertutup," ujar si narasumber tertawa.


Shahmeer menghembuskan nafas berat mematikan siaran tv di depannya. Matanya beralih ke selembar tiket pesawat yang sedang dipegangnya.


Apa aku harus benar-benar menghadiri persidangannya?.


Shahmeer memandang deretan foto di atas meja. Dia mengambil dompetnya, membukanya, mengeluarkan selembar foto gadis cantik yang terselip di salah satu saku dompetnya.


Matanya beralih dari foto gadis di tangannya ke bingkai foto gadis yang terpajang di atas meja kantornya.


"Kalianlah penyemangatku," gumamnya.


"Maafkan aku."


Mata Shahmeer mulai berkaca ketika dia melihat gadis di foto yang dipegangnya. Dadanya begitu sesak dan raut wajahnya memerah menahan air mata yang hendak tumpah. Dia mencoba menahan air matanya dengan mengambil banyak oksigen dan menghembuskan ya pelan.


tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Shahmeer mengusap wajahnya dan cepat-cepat menyelipkan kembali selembar foto ke tempatnya semula.


"Tuan, Mr. George telah datang dengan asistennya."


"Baik, aku akan segera ke sana," ucap Shahmeer bangkit mengancingkan jasnya yang terbuka.


**


"Aku pikir kamu sedang honeymoon," cetus Kate.


"Seminggu cukup. Kami bisa honeymoon dimana pun kami berada," Queenzha terkekeh.


"Ronald ingin menghadiri persidangan lanjutan." ujar Queenzha kemudian. Kate hanya mengangguk mengerti.


"Ya, Deo bilang Shahmeer juga akan menghadiri persidangan itu. Mungkin besok malam mereka akan berkumpul di rumahku karena Deo memintaku berbelanja besok."


"Shahmeer pasti ingin melihat wanita itu. Bagaimana pun dia tetap ibu kandungnya, itu fakta yang tak pernah bisa diubah sekeras apapun dia menolaknya," Queenzha mengaduk minumannya dan menyeruputnya.


"Apa sampai sekarang edel belum tahu jika pelakunya ibu kandung Shahmeer?" lanjutnya penasaran.


"Aku tidak tahu, entahlah mungkin dia tahu hanya ... , kau tahu sendiri bagaimana sifat Edel. Dia bisa menyembunyikan rapat perasaannya."


"Dia gadis yang polos. Dia tidak akan dapat menerima kenyataan jika tahu dialah target sebenarnya pembunuhan itu," tegas Queenzha.


"Maksudmu, target sebenarnya Edel?! why?!" Kate tersentak kaget mendengar perkataan Queenzha.


"Kau belum tahu. Apa Deo tidak memberitahumu?" Queenzha sama kagetnya, dia mengira jika Kate sudah mengetahui fakta sebenarnya.


Kate menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Deo tidak pernah bercerita padaku soal itu."


"Ceritanya panjang dan sedikit rumit, yang jelas mungkin dia hanya senang membunuh aja."


"Come on, ceritakan semuanya padaku!" seru Kate.


"Ronald bilang saat itu, wanita itu Mrs. Shopia dia mendekati Azmy yang sedang patah hati mungkin juga karena dia rindu anaknya hingga mendekatinya. Lalu mereka berteman dan Azmy bercerita soal hubungannya atau obsesinya pada Malik dan mungkin dia juga bercerita soal psikiater dan si Mrs. shopia ini percaya jika Edel merebut Malik dari Azmy, anaknya, hingga dia depresi dan mendapat perawatan dari psikiater," terang Queenzha.


"Lalu?".


"Aku juga sempat mendengar jika Shahmeer lah yang memintanya menyerahkan diri, tidak kabur."


"Dia menurut begitu saja?" tanya Kate mengerutkan kening.


Queenzha mengedikan bahunya. "Aku hanya tahu sampai situ."


Kate memandang Queenzha lekat. "Ada sesuatu yang sempat aku pikirkan bahkan sampai sekarang. Berjanjilah kamu tidak akan memberitahu siapapun tentang ini."


Queenzha mengernyitkan alisnya balik memandang Kate. Cukup lama Queenzha terdiam tidak memberi jawaban persetujuannya pada Kate.


"Hai!" seru Kate melambaikan tangannya di depan temannya, membuyarkan pandangan temannya yang sedang memandangnya.


"Maaf, apa yang mau kamu ceritakan?".


"Kamu harus,- berjanjilah dahulu." Queenzha mengangguk setuju.


"Apa kamu tidak pernah merasa sikap Shahmeer sedikit aneh ketika berdekatan dengan Edel?".


"Maksudku, cara dia memandang edel berbeda," lanjutnya.


"Kamu juga merasakannya?" tanya Queenzha tenang seakan itu bukanlah sesuatu yang aneh lagi untuknya.


Kate terdiam menunggu penjelasan temannya yang tenang menanggapi apa yang dia katakan.


"Aku kenal Edel dari sejak kami kuliah dulu, aku teman satu kos nya. Aku juga beberapa kali bertemu Shahmeer saat aku hangout bersama teman satu kamarnya Edel, Yvonne. Shahmeer teman pacarnya Yvone. Shahmeer Saat itu aku tahu Shahmeer terkadang ikut hangout bersama kami hanya untuk bertanya tentang Edel, Yvone bilang dia menyukai Edel tapi tidak berani mengungkapkannya. Mungkin perasaan itu masih ada hingga saat ini," ungkap Queenzha.


"Kamu temannya Shahmeer?".


"Aku bukan temannya, hanya pernah hangout bareng beberapa kali."


"Aku sudah menduganya, ternyata benar dia menyukai Edel. Menurutku itu sangat jelas terlihat dari senyum yang dia berikan pada Edel setiap kali bertemu."


"Terkadang aku merasa kasihan dengannya." Queenzha menutup mulutnya, terkekeh.


"Kau tahu, saat pesta pernikahanmu kemarin Shahmeer sering mencuri pandang pada Edel. Malik tahu itu dan dia tidak pernah melepaskan rangkulannya, lucu sekali melihat pangeran Malik cemburu," tangan Kate meniru cara Malik merangkul Edel membuat Queenzha tertawa terbahak melihatnya.


"Berhenti tertawa. Dosa lho ngetawain orang," Kate ikut tertawa.


"Apa besok pangeran Malik ikut berkumpul dengan kita?" tanya Queenzha.


"Aku rasa dia akan datang, Dia selalu menyempatkan datang kecuali kalau saat itu ada tugas negara yang harus dia selesaikan."


"Aku belum menengok baby boy. Aku sempat mendengar jika baby boy sakit setelah pulang dari Jerman," lirihnya merasa bersalah.


"Anak kecil memang rentan, apalagi setelah perjalanan jauh. Hazel juga sama dia kemarin tidak enak badan tapi sekarang sudah aktif kembali," tutur Kate.


***


Di tempat lain, pria paruh baya memandang dengan tatapan kosong keluar jendela ruang kerjanya. Pikirannya dipenuhi oleh perkataan dokter tentang kondisi anak sulungnya.


Payah rasanya, sudah setahun berlalu namun anaknya tak kunjung membaik. Sudah puluhan dokter terbaik dipanggilnya untuk membantu merawat anaknya, namun sepertinya anak sulungnya masih enggan untuk membuka matanya, entah apa yang dia tunggu.


Minggu kemarin dokter khusus yang merawat Pangeran Fatih memberitahu padanya, jika Pangeran Fatih sempat mengalami serangan jantung dan sekarang harus menggunakan ventilator padahal sebelumnya ia bisa bernafas mandiri.


Pria paruh baya itu memejamkan matanya, tak terasa air mata mengalir di sudut matanya. Haruskah Ia menyerah untuk putra sulungnya, kalimat itu yang terus menghampiri pikirannya.


*****


Terimakasih sudah membaca.🙏🥰


Stay safe everyone. 🤍