He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 68



Perasaan itu tidak kunjung pergi, perasaan aneh seperti sedang ada yang memperhatikannya. Edel melirik sekelilingnya, ah mungkin gara-gara Malik tadi memelukku, hingga banyak yang memperhatikanku. pikirnya dengan pede.


Perasaan aneh itu ada dari sebelum Malik memeluknya di hadapan banyak orang. Dia sampai tidak mendengar ketika Queenzha bertanya padanya.


"Apa kamu baik-baik aja, sepertinya dari tadi kamu gelisah," ujar Queenzha melihat tingkah Edel.


"Tidak, hanya saja aku merasa sedikit tidak enak, seperti sedang ada yang memperhatikanku," ungkap Edel.


"Berbicaralah dengan pacarmu, mungkin dia bisa membantumu," saran Queenzha khawatir.


"Tidak, mungkin ini hanya perasaanku saja," jawabnya berusaha menenangkan diri sendiri.


"Ayo kita kesana," ajak Queenzha.


Mereka menghampiri kumpulan laki-laki yang sedang berbincang, entah apa yang mereka perbincangkan.


"Honey ... ," sapa Malik melihat Edel mendekat lalu menarik tangannya agar berdiri di sampingnya, sementara Queenzha berdiri di samping Ronald.


"Apa kalian menikmati pestaku?" tanya Deo pada Queenzha dan Edel.


"Ya, tentu," kata Queenzha.


"Terimakasih telah mengundang kami," ucap Edel.


"Tentu saja aku harus mengundang kalian, Pesta ini akan hambar jika tidak ada wanita cantik di dalamnya," ujar Deo.


Apa Malik belajar ngegombal darinya?. batin Edel.


Shahmeer baru menyadari kehadiran Edel di malam itu, mungkin tadi karena dia panik mencari adiknya hingga tidak menyadarinya. Dia terpesona dengan kecantikannya. Menurutnya Edel sangat berbeda malam ini, Jauh lebih cantik dari sebelumnya.


Edel yang sadar sedang diperhatikan oleh Shahmeer langsung mengedarkan pandangannya ke sembarang tempat. Apa dia yang memperhatikan ku dari tadi. pikirnya.


"Apa kau sudah menemukan adikmu?" tanya Ronald yang membuat Shahmeer tersadar dan langsung melihat Ronald.


"Ehmm ... , belum mungkin dia bertemu temannya. aku sudah mengiriminya pesan, mungkin sebentar lagi dia datang," ujar Shahmeer.


Shahmeer memang mengirimi Azmy pesan yang pasti akan membuatnya datang padanya tanpa perlu dia mencari diantara ratusan orang.


"Deo ... ," panggil seorang gadis dengan gaun hitam elegannya bertubuh tinggi sangat cantik.


Deo berbalik melihat gadis yang memanggilnya, dia tersenyum dan menghampiri gadis itu. "Aku sudah menunggumu dari tadi, kenapa lama sekali," ujar Deo mencium tangan gadis itu.


"Siapa dia, apa kau mengenalnya?" bisik Ronald pada Malik.


"Tidak, ku kira kau mengenalnya. Biasanya kau yang lebih mengenal semua wanita cantik," jawab Malik masih memandang Deo dan teman wanitanya.


"Hehehe ... , ya kecuali tuan putrimu dan gadis itu," kata Ronald terpukau dengan kecantikan wanita yang bersama Deo.


"Ya tentu saja karena kekasihku bukan hanya wanita cantik tapi sangat mempesona," sahut Malik melihat Ronald.


"Ehheemmm ... !" seru Queenzha. Ronald tersadar akan keberadaan Queenzha di sampingnya, menoleh dan tersenyum.


Deo dan gadis itu berjalan menghampiri mereka.


"Bro, kenalkan ini Catherine Urdha. Dia calon istriku," kata Deo memperkenalkan gadis itu pada teman-teman nya. Semua terkejut mendengar perkataan Deo, karena yang mereka tahu Deo masih mencintai Letisya dan bahkan seminggu yang lalu masih mengejarnya meminta balikan lagi dengannya.


"Hallo, panggil saja aku Kate." sapanya.


"Ini Ronald dan kekasihnya Queenzha," kata Deo mulai memperkenalkan teman-temannya.


"Hai," sapa Queenzha.


"Ini Shahmeer, Mike, Farhan, dan tentu kamu pasti mengenalnya, ini Yang Mulia Pangeran Malik dan tunangannya," kata Deo mereka mengangguk memberi salam pada Kate.


"Ya, aku sudah mendengar tentang pertunangan kalian dari ayahku, senang bisa bertemu denganmu," kata Kate memberi salam pada Edel.


"Aku Edelweiss, panggil aku Edel aja," sapanya.


"Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu. Aku yang mendesain cincin yang di pakai oleh Yang Mulia," kata Kate tersenyum melihat Edel.


"Maksudmu ... ," tanya Edel tidak melanjutkan kalimatnya.


"Mrs. Soe menghubungi ayahku untuk membuatkan cincin untuk calon menantunya, lalu dia mengirimkan foto cincinmu itu padaku sehingga kami bisa membuat pasangannya yang sesuai," ungkapnya.


"Tentu saja, Beliau teman baik mamaku," kata Kate.


"Terima kasih, desain yang indah," ucap Malik.


"Aku yang berterimakasih karena desainku yang dipilih Mrs. Soe," ucapnya.


"Kapan kalian bertemu, kami tidak tahu tentangmu sebelumnya," cetus Shahmeer penasaran dengan kisah cinta Deo.


"Belum lama, baru seminggu yang lalu," kata Deo.


"Seminggu?" tanya Ronald terkejut karena yang dia tahu Deo seorang yang pemilih tidak seperti dirinya.


"Aku wanita yang di pilih keluarganya untuk jadi istrinya," ungkap Catherine.


"Maksudmu kalian di jodohkan?" tanya Edel tidak bisa menutupi keterkejutannya. Kate hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu selamat datang di keluarga kami," kata Shahmeer merentangkan kedua tangannya.


"Terimakasih," ucapnya.


"Apa kau serius menerima perjodohan?" bisik Ronald menyikut Deo.


"Tentu, permainan baru saja dimulai," ucapnya menyunggingkan senyumannya.


Ronald tahu pasti apa maksud ucapan temannya. Deo selalu menuruti semua perintah orangtuanya, dia akan bertanggung jawab dengan semua keputusan yang diambilnya. Tapi perkataan barusan sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dari teman-temannya.


"Semoga dengan kehadirannya bisa membuatmu lupa pada Letisya," bisiknya lagi.


Permainan baru saja dimulai, aku akan membuat Letisya memohon untuk kembali padaku. batin deo tersenyum penuh kemenangan.


Seseorang sedang memperhatikan mereka mengobrol dan tertawa. Edel merasakan perasaan itu lagi, dia langsung memandang berkeliling. Shahmeer memperhatikan Edel dan menyadari apa yang sedang Edel rasakan karena dia pun merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka.


"Bro aku pergi dulu, aku harus mencari adikku," kata Shahmeer lalu pergi secepat kilat dan langsung menghilang diantara kerumunan.


"Bro, sepertinya ada yang memperhatikan kita, apa kalian tidak menyadarinya?" kata Mike. Mereka semua spontan melihat sekeliling nya.


"Tentu saja banyak yang memperhatikan kita, yang punya hajat ada di sini, ada tiga gadis cantik di sini, dan ada Pangeran juga di sini. Bukankah sudah jelas," tutur Farhan.


"Apa cuma perasaanku saja ya," ujar Mike. dibalas anggukan oleh temannya.


Tapi Edel tahu itu bukan hanya sekedar perasaan, memang ada yang sedang memperhatikannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Malik yang dari tadi melihat Edel memandang berkeliling seperti mencari sesuatu.


"Bisakah kita pergi dari sini?" tanyanya.


"Kenapa, Apa kamu tidak enak badan?" Malik balik bertanya.


"Tidak, hanya saja mungkin aku tidak terbiasa dengan pesta seperti ini," ungkapnya.


"Mau ku ajak ke Garden By The Bay?" tanya Malik.


"Tidak, aku hanya ingin keluar dari tempat pesta ini aja. Rasanya perasaan ku kurang enak dari tadi," ujar Edel.


"Baiklah, kita jalan-jalan ke sekitar sini,"


Malik menghampiri Deo untuk pamit dan di balas anggukan olehnya. Mereka berjalan menjauh dari Observation Deck Sand Skypark.


"Aku lapar, aku belum makan," rengek Edel dengan wajah memelas yang membuat Malik semakin gemas.


"Hahahaha.. aku kira kamu tidak lapar. Ayo kita cari makan sambil jalan," kata Malik.


Edel baru menyadari Pemandangan dari atas Sand Skypark sangat indah sekali, terlihat Garden by the Bay juga Supertree Grove yang sangat mengagumkan dari atas lantai 57 Marina Bay Sands, pemandangan laut yang membentang dari Marine South Pier sampai Selat Singapore.


*****


Terima kasih sudah membaca. jangan lupa like, coment, jadikan novelku favoritmu ❤️.


Jangan lupa juga kasih rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan hadiahnya agar author semakin semangat update nya.. haturnuhun 🙏🥰