He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 41



Malik mengajaknya melihat koleksi kuda di kandangnya. Edel terkesima melihat betapa lihainya para tukang mengurus para kuda. Memandikan, menyikat, membersihkan, memberi pakan.


Ammar turun dari pangkuan Malik.


"Om, lihat," sambil menunjuk kuda kecil yang lagi bersama induknya.


Mereka pun melihat apa yang ditunjukan oleh Pangeran kecil.


Ruangan kandang itu ber-AC, entah kenapa Edel masih merasa gerah. Dia mengambil ikat rambut dari kantongnya dan mengikat rambutnya tapi tiba-tiba Malik mendekatinya, semakin dekat. Edel menatap Malik heran, dia sampai berjalan mundur hingga terpentok dinding tapi Malik tetap maju mendekati Edel, tubuh mereka hampir rapat.


Edel tidak bergerak, nafasnya seakan tertekan. Malik mendekatkan wajahnya, nafas Malik terdengar jelas di telinga edel tangannya menggapai rambut Edel dan membuka ikatan rambutnya.


"Biarkan dia tergerai, aku tidak ingin mereka melihat leher jenjangmu," bisiknya di telinga Edel, lalu mundur menghampiri ponakannya seakan tidak terjadi apa-apa. Edel tertegun berdiri dalam diam. Hatinya masih berdebar kencang membuat nafasnya sedikit sesak.


"Ayo," ajak Malik melihat Edel tetap diam di tempatnya tadi dan membuatnya tersadar.


Mereka menaiki Boogie lagi dan ke kandang peliharaan Malik yang lain.


"Kau memeliharanya," ujar Edel ketika melihat baby Tiger di hadapannya.


"Kamu takut?" tanya Malik.


"Tentu saja aku takut!" kata Edel berdiri di belakang Malik.


Saat Edel merasa takut, Pangeran kecil Ammar justru langsung turun dari pangkuan Malik berlalu menghampiri baby Tiger yang sedang tertidur.


"Awas hati-hati," ucap Edel.


"Tak apa, dia sudah biasa seperti itu lagian dia jinak jadi ga perlu khawatir," ujar Malik memegang tangan Edel mengajaknya lebih dekat ke kandang.


Malik masuk ke kandang dan memangku baby Tiger dan membawanya menghampiri Pangeran kecil Ammar.


"Om, sini," Ammar meminta Malik berjongkok di hadapannya.


"Tidak takut?" tanya Edel pada Pangeran kecil Ammar.


"Tentu saja tidak, aku menyukainya. Dia tidak jahat," ujarnya mengelus baby Tiger.


"Om bawa saja baby tigernya," pinta nya.


"Ok, ayo kita berkeliling lagi," ajak Malik membawa baby Tiger di pangkuannya.


"Kamu mau di gendong Tante atau jalan kaki?" tanya Malik pada pangeran kecil Ammar.


"Gendong Om saja, baby Tiger di gendong Tante," pintanya. Edel langsung memandang Malik.


"Gimana kalau kamu jalan kaki aja, baby Tigernya kangen katanya sama om," bujuk Malik.


"Tante takut baby Tiger?" tanya Ammar melirik Edel.


"Oh engak hanya geli aja," jawab Edel mencari alasan yang bisa dimengerti Pangeran kecil Ammar.


"Penakut!" ledek Ammar. Edel sedikit cemberut dikatakan penakut oleh Ammar.


Malik melihat jam tangannya dan mengajaknya kembali ke istana.


"Udah siang, ayo aku mau mengajakmu ke suatu tempat," ujarnya.


"Jagoan, besok lagi ya baby-nya di bawa. Om ada keperluan dulu harus cepat-cepat," bujuk Malik.


"Ah, semua orang selalu saja sibuk," gerutu Pangeran kecil Ammar. Malik tertawa sembari mengacak rambut Ammar.


"Maaf, lain kali kita main dengan baby Tiger yang lama," bujuknya lagi melihat Pangeran kecil Ammar menyilang .kan tangan di dadanya dan memalingkan wajahnya pada Malik.


"Baiklah om," gumamnya lemah.


Mereka pun kembali ke istana. Pangeran Malik kecil diantarkan ke kediamannya oleh pangeran Malik setelah mengantar Edel kembali ke kamar Malik.


Sampai di kamar, dia membersihkan diri dan memakai bathrobe.


"Ah, aku lupa cuma bawa hanya bawa beberapa baju. aku ga ada persiapan baju buat di sini," gumamnya mencari-cari baju yang akan dipakainya di koper.


Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan


aku pinjam t-shirt lagi ya, makasi 🥰


Dia mencari baju yang pas di badannya dalam lemari Malik. Rasanya aneh dia mencari baju di lemari orang lain walaupun sudah izin dan tentu diizinkan.


"Apa aku harus belanja baju di sini ya," gumamnya kembali masih mencari baju.


tok..tok..tok..


"Assalamualaikum," terdengar seseorang memberi salam di luar kamar.


siapa yang datang, mana cuma pake bathrobe doang!. gerutu Edel berjalan mendekati pintu.


Edel membuka pintu dan mengintip siapa yang datang. Kepalanya menjulur di balik pintu, tidak ingin ada yang melihat dia hanya memakai bathrobe.


"Baru selesai mandi?" tanyanya tersenyum melihat dia hanya memakai bathrobe.


"Ah, maaf," katanya mempersilahkannya masuk.


"Ibu hanya ingin memberikan baju ganti, Ibu pikir kamu ga terlalu banyak bawa baju karena terlalu mendadak," kata Ibunda Ratu menyuruh asisten perempuannya menyerahkan beberapa totebag besar pada Edel. Dia menerima totebagnya dan menyimpannya di bawah kursi.


Asisten Ibunda Ratu pun meninggalkan mereka berdua di dalam kamar Malik.


"Terimakasih," ucap Edel.


"Cobalah pakaian yang ku bawa, pakailah dulu kebayanya, aku ingin melihatmu memakainya. Lagian kelamaan memakai bathrobe nanti malah masuk angin," candanya.


"Baik, saya permisi dulu," pamit Edel lalu masuk kamar mandi.


Edel keluar kamar mandi memperlihatkan pakaian yang dikenakan nya kepada ibunda ratu.


Edel tidak mengerti kenapa Ibunda Ratu memberinya dan menyuruhnya memakai kebaya.


"Bagus, cantik. Ibu membawa beberapa cobalah semuanya, Ibu ingin melihatnya" pintanya.


"Coba rentangkan tanganmu,"


Edel menuruti permintaan Ibunda Ratu.


"Kamu sangat cantik dengan gaun itu," puji Ibunda Ratu.


drrrtttt..... drrtttt..... ponsel Edel bergetar, dilihatnya, nama Malik tertera di layar ponsel.


"Terimalah," gumam Ibunda Ratu.


Edel sedikit menjauh.


"Ya, assalamualaikum. Ada apa?" tanya Edel.


"Kamu lagi di mana, aku memanggilmu dari tadi, juga udah mengetuk pintu tapi kenapa ga kunjung dibuka juga?" Malik balik bertanya.


"Ga kedengeran, ada Ibumu di sini," bisik Edel.


Pintu kamar Malik terbuka.


"Kenapa ga bilang Ibu di sini, aku mengetuk pintu tapi ga ada yang nyahut," gerutu Malik.


"Ibu tidak mendengar kamu mengetuk," sahut Ibunda Ratu.


"Ya sudahlah," Malik menghampiri ibunya duduk di sebelahnya.


dia memandang Edel yang masih mengenakan gaunnya.


"Aku ganti baju dulu," ujarnya setengah berlari ke kamar mandi.


Mata Malik masih mengikuti Edel yang menghilang masuk kamar mandi.


"Cantik kan?" kata Ibunda Ratu.


"Tentu," sahut Malik masih memandang ke arah kamar mandi.


"Ajaklah dia jalan-jalan keluar, keliling kota dia mungkin sedikit jenuh jika terus berada di kamarmu," titah Ibunda Ratu.


"Ini, aku mau mengajaknya jalan. Hari ini harusnya jadwal latihan militer ku, ayah memberiku mengizinkanku karena Edel di sini." sahutnya senang.


Tak lama kemudian Edel keluar dengan pakaian yang disiapkan Ibunda Ratu padanan atasan putih dengan jeans lurus berikut blazer Chloe bergaya safari dalam warna salmon yang santai juga sepatu kets putihnya.


"Kamu cantik sekali," puji Malik melihat Edel keluar.


"Kamu cantik pakai pakaian apapun, itu sangat cocok denganmu," ujar Ibunda Ratu bangga atas pilihannya.


"Ah, terimakasih," ucap Edel wajahnya mulai merona lagi.


"Ayo," ajak Malik.


"Kemana?"


"Aku kan tadi bilang mau mengajakmu ke suatu tempat," kata Malik.


"Pergilah ... ," kata Ibunda Ratu tersenyum.


Edel tersenyum dan mengangguk pada Ibunda Ratu.


"Terima kasih. Ibu baik sekali sama aku, terima kasih," ucap Edel menghampiri Ibunda Ratu lalu memeluknya. Ibunda Ratu pun memeluk Edel.


"Kamu sudah menjadi bagian keluarga kami," ujar Ibunda Ratu.


Malik tersenyum bahagia melihat dua wanita yang sangat dicintainya, Ibunda dan Edel kekasihnya.