
Tubuhnya kembali segar setelah membersihkan diri. Dia masih menggunakan bhatrobe keluar kamar mandi mengambil kopernya dan memilih baju yang akan dipakainya.
Sudah pukul setengah enam sore, tapi Malik belum datang, belum menghubunginya atau sekedar mengirim pesan padanya.
Edel melangkah mendekati lemari buku di ruangan kerja malik. Ruangan itu terpisah dari ruang santai dan tempat tidur. Entah berapa puluh buku yang tersusun rapi di lemari kamarnya. Edel memilih buku yang akan di bacanya, matanya lama memandang satu buku. Judulnya The Chamber of Secret, seperti salah satu judul dari seri Harry Potter. Dia menarik buku itu, ada suara dari dalam bukunya!.
"It's a box," gumamnya.
"Bolehkah aku membukanya," lanjutnya, Edel menggigit bibirnya berpikir lalu meletakkannya kembali di tempat semula.
Sudah setengah jam berlalu. Edel masih duduk membaca buku tentang budaya dunia yang diambilnya dari lemari Malik. Dia bahkan tidak menyadari ketika ada yang masuk ke dalam kamar, mungkin karena terlalu lelah dia menangkupkan dagunya di atas meja.
"Honey ... ."
Malik mencari Edel di kamar tapi tidak menemukannya, di kamar mandi pun kosong. Dia melirik ruang kerjanya dan berjalan menghampiri ruang kerjanya.
Dilihatnya Edel menangkupkan dagunya ke meja sambil membaca buku, lalu menghampirinya dari belakang kursi.
"Buku apa yang kau baca?" menangkupkan dagunya di atas kepala Edel. Dia terkejut dengan kedatangan Malik dan membenarkan posisi duduknya.
"Kau lama sekali," ujar Edel cemberut.
"Maaf," ucap Malik tersenyum melihat kekasihnya cemberut.
Edel memperhatikan pakaian Malik. Dia menggunakan pakaian yang berbeda dari yang dia pakai tadi siang.
"Coba mundur," pinta Edel.
"Kenapa?"
"Mundur aja!" ujarnya.
Malik berjalan mundur.
"Stop!" kata Edel lalu memandang Malik sambil tersenyum.
"Kamu gagah sekali My Prince pakai jas militer itu," puji Edel memandang kagum.
"Apa kamu sedang menggodaku?" tanya Malik.
"Aku ga menggodamu, hanya ... ," ujar Edel tersenyum sedikit nakal, Malik menaikan alisnya sebelah sambil tersenyum pada Edel.
"Mandi gih, kamu belum mandi kan?" titah Edel menghampiri Malik dan mendorongnya ke luar ruang kerja agar cepat mandi.
"Baiklah ... baiklah ... ," jawab Malik keluar ruang kerjanya.
Edel tersenyum melihat Malik lalu mengembalikan buku-buku yang diambilnya ke tempat semula.
Drrtt..... drrttt..... ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Dilihatnya,
"Mita," gumamnya lalu menerima panggilannya.
"Ya, assalamualaikum," sapa Edel.
"Wa'alaikumsalam, maaf nih gue ganggu. Ada berkas yang harus segera Lo tandatangan. Gue kirim email ke Lo tapi belum dibaca juga jadi gue telepon Lo," ujarnya.
"Ok," jawabnya singkat.
"Ehm ... singkat amat jawabnya, lagi ma Malik ya?" tanyanya penasaran.
"Engak, gue lagi sendirian ko," memainkan helaian rambutnya.
"Kirain,"
"Del, tadi ada email dari yayasan. Undangan buat Minggu depan peresmian gedung baru itu," kata Mita.
"Oh iya ampir gue lupa, kirimin deh undangannya, gue mau liat. Juga dokumen buat meeting nanti Senin tolong kirim kalau udah selese biar gue pelajari dulu. Besok hari Jumat jangan lupa ke warteg," titah Edel.
"Banyak amat perintah Lo," ujar Mita.
"Hahahaha ... maaf dan terimakasih selalu bantu gue. Gue sayang sama Lo," rayu Edel.
"Sayang sama siapa honey, siapa yang telepon?" tanya Malik baru keluar kamar mandi setengah telanjang masih menggunakan handuknya.
Edel menatap Malik yang telanjang dada langsung terdiam. tubuh yang berotot, dada bidang dengan sixpack nya.
"Malik, kenapa kamu ada di sini. Bukannya tadi mandi?!" tanyanya ketus.
"Ini aku baru selese mandi," jawabnya.
"Kenapa kamu keluar telanjang kaya gitu!" gerutunya.
"Aku ga telanjang ini masih pakai handuk," menunjukkan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Ih, sana! maluuuu!" seru Edel.
"Ke sana ke mana? ini kamarku, bajuku semua di sini. Aku mau ngambil baju di lemari itu," menunjukkan lemari dekat tempat tidurnya.
"Cepat!" titah Edel wajahnya merona merah melihat tubuh Malik.
"Heeemmm, andai kamu sudah menjadi istriku," gumam Malik menghembuskan nafas beratnya lalu berjalan ke arah lemari mengambil pakaian dan masuk kembali ke kamar mandi.
Edel ga sadar masih bertelepon dengan Mita.
"Lo satu kamar ma Malik, Del?" tanya Mita ketus.
"Enggak," jawab Edel tegas.
"Trus barusan apa?" tanyanya lagi, dia ga mau temannya salah jalan.
"Kalau di sini gue tidur di kamar Malik, dia tidur di kamar yang lain. Lagian gue selalu tidur sama Ibunda Ratu ko. Tenang aja," sahut Edel.
"Iye," sahut Edel.
"Ya udah gue mau balik nih mau beresin dulu semuanya," ujarnya.
"Ya, makasi ya," ucap Edel.
"Assalamu'alaikum," pamit Mita.
"Wa'alaikumsalam," sahut Edel.
Edel memeriksa email-nya lalu mengambil laptop di tasnya. Dia selalu membawa laptop kerjanya kemana pun dia pergi karena terkadang ada email dokumen atau file penting yang harus dia periksa atau kerjakan.
Edel mencatat ulang jadwal undangan di buku kerjanya.
"Kamu kidal?" tanya Malik heran.
"Bukankah kamu makan pakai tangan kanan?" lanjutnya, seingatnya Edel memang lebih sering menggunakan tangan kanannya.
"Aku bisa menggunakan keduanya," jawab Edel dengan polos mengacungkan dan sedikit menggoyangkan kedua tangannya.
"Benarkah?".
Edel mengangguk lalu kembali fokus pada laptopnya.
"Mau shalat isya berjamaah denganku?" tanya Malik yang sudah siap hendak sholat.
"Oh, aku sedang di kasih libur, ga shalat," ujar Edel.
"Syukurlah," gumam malik dengan suara yang hanya bisa dia dengar. Dia bersyukur Edel sedang menstruasi.
"Siap-siap lah kita jalan setelah aku selesai shalat," ujar Malik.
"Jalan?" dia memandang laptop.
"Oklah," lanjutnya memeriksa kembali dokumennya.
Tok.. tok.. tok..
Edel membukakan pintu kamar Malik.
"Sayang ayo makan malam," ajak Ibunda Ratu.
"Masuk, Ibu," pinta Edel pada Ibunda Ratu.
"Aku mau mengajakmu makan malam," ajaknya lagi sembari duduk di sofa.
Edel memandang Malik yang sedang shalat. Ibunda Ratu mengikuti pandangan Edel.
"Ah, Pangeran kami ada di sini rupanya," ujar Ibunda Ratu. Edel mengangguk.
Ibunda Ratu melihat buku kerja Edel dan laptopnya yang terbuka.
"Kamu lagi bekerja?" tanyanya.
"Tidak, hanya memeriksa beberapa email dan dokumen," sahut Edel menuliskan sesuatu di bukunya lalu membereskan buku kerjanya.
"Kamu menulis menggunakan tangan kiri?" tanya Ibunda Ratu heran.
"Ehm, saya bisa menggunakan keduanya," sahutnya.
"Pangeran kami menulis dengan tangan kiri juga" ujarnya memberitahu Edel.
Jadi Malik kidal. pikirnya.
Pangeran Malik telah selesai shalat, lalu menghampiri mereka.
"Ada apa, Ibu?" tanyanya.
"Ibu mau mengajak Edel makan malam, Ibu kira Pangeran di kamar yang lain," sindirnya.
"Maafkan aku Ibu, aku belum mengambil baju ganti jadi aku sekalian mandi di sini," sahut Malik jujur.
"Baiklah, ayo kita makan," ajaknya.
"Maaf Ibu, kami tidak ikut makan malam ini. Aku mau mengajak Edel makan di luar," ucap Malik.
"Oh, baiklah kalau begitu. Pergilah mumpung kalian sedang bersama di sini. Ingat jangan terlalu malam, dia harus istirahat," merangkul bahu Edel dan tersenyum.
"Baik, Ibu," janji Malik.
"Kami makan duluan kalau begitu."
"Jaga mantu ibu baik-baik," kata Ibunda Ratu pada Malik.
"Selamat bersenang-senang sayang," memeluk Edel.
Selepas Ibunda Ratu pergi, Edel masuk kamar mandi bersiap-siap berangkat.
"Ayo," ajak Edel pada Malik yang sedang duduk di kursi dan memainkan ponselnya.
"Kamu cantik sekali," puji Malik melihat Edel.
"Mulai deh gombalnya," ujar Edel tapi wajahnya merona mendengar pujian dari Malik.
*****
terima kasih untukmu yang telah membaca🙏 sampai di bab ini. semoga kita selalu di beri kesehatan dan kebahagiaan. 🥰