
Azmy. gumam Edel dalam hati.
"Assalamualaikum, semua," sapanya.
"Wa'alaikumsalam," kompak.
Edel merapatkan kursinya dengan kursi Malik. Rachel duduk dekat Edel dan di sampingnya duduk pula Shahmeer. Sedangkan Azmy menempatkan kursinya antara Malik dan Deo, membuat semua orang tampak canggung dengan posisi Azmy yang memilih duduk dekat Malik.
Melihat hal itu, tanpa sengaja tangan Edel memegang paha Malik. Malik pun tahu apa yang sedang dirasakan kekasihnya lalu merangkulnya.
"Apa kamu kedinginan?" bisik Malik di telinga edel.
"Enggak," sahut Edel tersenyum menatap Malik. Manik mata mereka bersitatap mesra.
"Udah.. udah.. jangan pamer kemesraan di depan orang jomblo Yang Mulia. Apa kamu ga kasihan denganku?" seru Deo berusaha mencairkan suasana yang canggung.
"Oh ya, ini Shahmeer," tunjuk Malik mengenalkannya pada Edel
"Hai, aku Shahmeer Zephyr senang bertemu denganmu. Ini kekasihku Rachel dan ini adikku Azmy," Shahmeer mengenalkan mereka pada Edel.
Jadi dia kakak beradik. Gumam Edel dalam hati
"Mari makan," seru Ronald yang sudah kelaparan sedari tadi.
Mereka mengambil makanan nya ke piring masing-masing.
"Sini aku ambilkan," kata Malik pada Edel, Malik mengambilkan barbeque dan sosis panggang.
"Makasih," ucap Edel melihat isi piringnya.
"Malik, ini banyak sekali," ujar Edel memperlihatkan isi piring pada Malik.
Semua orang melihat Edel. Mereka masih belum terbiasa mendengar ada orang yang memanggil hanya namanya saja pada pangeran mereka.
"Itu buat kita berdua honey," jawab Malik memberikan garpu pada Edel.
"Apa besok kamu akan datang melihat kami Princess Malik Ibrahim?" tanya Shahmeer pada Edel. Dia sangat berharap Edel ingat tentangnya.
"Ah, ya.. melihat apa?" tanya edel.
"Kamu tidak tahu besok Yang Mulia pangeran bertanding polo?" tanya Azmy ketus.
"Oh, iya besok aku akan datang," jawab Edel melihat Malik.
"Kamu akan datang bersama Yang Mulia dari pagi melihat kami bersiap untuk bermain?" tanya Shahmeer lagi.
"Tidak, dia harus menemani Putri Syahara menghadiri acara setelah itu dia baru akan pergi ke tempat pertandingan dengan ibu dan ayahku," terang Malik menjawab pertanyaan Shahmeer sambil sibuk memotong barbeque dan sosis buat edel. Edel tersenyum berterima kasih pada Malik sudah menjawab untuknya.
"Kenapa dia tidak ikut bersamamu untuk menyemangati mu Yang Mulia?" tanya Azmy.
"Ini hanya pertandingan pembukaan," sahut Malik.
"Dia sudah mulai terlibat tugas kerajaan?" tanya Deo kagum.
"Hanya beberapa selama dia di sini," jawab Malik.
"Apa itu cincin pertunanganmu?" tanya Rachel melihat cincin berlian yang dipakai Edel.
"Ah, iya.. ini.. ehm.. ," melirik Malik.
"Itu cincin pertunangan kami, cincin itu punya Ibuku dan beliau memberikannya sebagai cincin pertunangan kami," jawab Malik.
Wajah Azmy berubah merah padam mendengar perkataan Malik yang dengan santai memberitahukan jika mereka sudah bertunangan.
"Kalau sudah bertunangan, kenapa kerajaan belum memberikan pernyataan resminya Yang Mulia Pangeran?" tanya Azmy tersenyum menutupi rasa sakit dan kesalnya.
"Aku harus melindungi kekasihku dari media," ucap Malik.
Edel tertegun mendengar perkataan Malik. Dia memandang Malik dan tanpa sadar membelai pipinya lembut.
"Ehm terima kasih.. beberapa bulan ini aku sangat sibuk, jadi Malik berusaha melindungiku agar aku bisa fokus pada proyek yang sedang aku kerjakan," ucap Edel.
"Bukankah jika kamu sudah bersama Yang Mulia Pangeran harusnya kamu di sini, kenapa mengurusi pekerjaanmu di sana?!" tanyanya lagi.
"Tepatnya setelah kami menikah baru dia akan ku boyong ke sini. Dia masih bebas mengerjakan pekerjaannya tugasnya di sana," jawab Malik tegas.
"Bist du in Ordnung, Ich verstehe nicht, warum sie so neugierig auf dein Leben sind. Sie sind unhöflich (apa kamu baik-baik saja, aku tidak mengerti kenapa mereka begitu penasaran dengan kehidupan mu. Mereka tidak sopan)," ujar Queenzha melihat mereka terus memojokan Edel.
"Ich habe keine ahnung (entahlah)," jawab Edel tersenyum mengedikan bahunya.
"Bisakah kalian berbicara dengan bahasa yang kami mengerti. Kami merasa kamu sedang mengejek kami," ujar Rachel ketus.
"Sure," jawab Edel dan Queenzha tersenyum kompak.
Malik yang sebenarnya sedikit mengerti apa yang Edel dan Queenzha katakan hanya tersenyum. Dia sangat senang mereka saling kenal, setidaknya Edel ada teman untuk mengobrol.
Setelah selesai makan mereka mengobrol tentang pertandingan yang akan mereka ikuti besok.
Edel dan Queenzha membereskan meja bekas mereka makan.
"Biar aku yang membantumu," kata Malik.
"Tak apa, biar kami yang membereskan. Bukankah kamu sedang membicarakan buat pertandingan mu besok?" jawab Edel.
Ronald datang mendekat,
"Biar aku bantu," ujar Ronald pada Queenzha.
"Terima kasih," ucap Queenzha senang.
"Kalau gitu biar kami yang mencucinya," ujar Malik pada mereka. Dia tidak ingin mengganggu Ronald yang sedang mendekati Queenzha.
"Kamu bisa mencuci piring, Pangeran?" tanya Edel tersenyum.
Malik mencuci piring dan bekas makan mereka di bantu Edel. Sedang yang lainnya mengobrol di gazebo.
"Mau susu hangat?" tanya Malik selesai mencuci.
"Boleh," ucap Edel.
"Tunggulah nanti aku bawakan."
"Ok," sahut Edel lalu keluar bergabung dengan yang lainnya.
"Mana Pangeran Malik?" tanya Deo.
"Di dalam," jawab Edel singkat.
Tak lama kemudian Malik datang menghampiri Edel menyodorkan secangkir susu.
"Terimakasih," ucap Edel menerima cangkir susunya dari Malik.
"Tiup dulu," gumamnya.
"Romantis banget dibuatin minuman hangat," ujar Queenzha iri.
"Kamu mau? biar aku buatkan," tanya Ronald.
"Ok," jawab Queenzha tersenyum.
"Mau ikut ke dalam?" tanya Ronald di balas anggukan oleh Queenzha, mereka berjalan bergandengan masuk ke rumah.
Edel menyeruput susu hangat nya,
"Aawwhh!" serunya meletakkan cangkirnya di meja, dia lupa pesan Malik.
"Kamu tak apa?" tanya Malik menggeser kursinya hingga lutut mereka beradu.
Malik meraba lembut bibir kekasihnya dan melihatnya lalu meniupnya. Edel terdiam membeku mendapat perlakuan seperti itu dari Malik.
"Masih panas?" tanyanya sambil meniup lembut bibir kekasihnya.
"Ah ya, aku baik-baik aja. Udah baikan," kata Edel canggung.
"Tiuplah dulu sebelum di minum, itu masih panas," gumamnya tersenyum. Senyuman yang bisa buat gadis mana pun tersipu malu.
Azmy yang melihatnya merasa sangat geram. Begitu pun kakaknya, dia tidak dapat percaya apa yang dilihatnya. Pangerannya seorang yang bisa sangat romantis walaupun di depan mereka.
"Ayolah Yang Mulia, kalian membuatku gemas sekali malam ini. Aku seperti sedang menonton film romantis versi nyata," seru Deo.
"Aku iri padamu," ucap Rachel memandang mereka gemas.
Edel tersenyum menunduk meniup susu nya. Ah malu sekali. pikirnya.
"Makanya cepatlah cari pasangan," seru Malik.
"Lihat saja nanti di Singapore, akan aku tunjukan gadisku?" ujar Deo.
"Hahahaha.. aku akan menantikannya," jawab Shahmeer.
Mereka menertawakannya karena mereka tahu jika temannya belum bisa move on dari mantannya.
"Apa kamu mengundang Letisya?" tanya Shahmeer lagi.
"Tentu," jawabnya memandang meja di depannya.
"Tentu saja aku harus mengundangnya. akan sangat aneh jika aku tak mengundangnya," lanjutnya.
"Aku mau ke toilet sebentar," bisik Edel pada Malik.
"Mau aku temani?" tanyanya tanpa maksud apapun.
"Apa?!" tanya Edel kaget.
"Tak usah, ga apa-apa biar aku sendiri saja," lanjutnya.
"Ok," jawab Malik singkat.
Edel berdiri berjalan masuk ke villa, dia berjalan cepat dan tak sengaja melihat Ronald dan Queenzha sedang berciuman di sofa depan.
"Oh no," gumam Edel pura-pura tak melihat mereka.
Queenzha melepaskan Ronald dan melihat siapa yang melewati mereka.
"Kenapa?" tanya Ronald membeli rambut Queenzha.
"Tidak," jawabnya singkat. Mereka melanjutkan aktivitasnya kembali.
**
"Aku sedikit lelah," ujar Rachel pada Shahmeer.
"Bolehkah aku tidur sebentar sebelum kita pulang?" tanyanya.
"Aku temani," kata Shahmeer lalu menemani Rachel masuk ke villa.
Azmy berjalan mendekati Malik dan memegang bahu Malik. Tentu saja tidak hanya Malik tapi Deo yang berada di sana kaget melihat tingkah Azmy.
"Yang Mulia Pangeran, bisakah besok pagi anda menjemputku ke rumahku. Aku ingin memberikan semangat pada kakakku tapi kakakku sepertinya malam ini akan menginap di apartemennya," pinta Azmy.
Deo yang melihat tingkah Azmy juga mendengarkan permintaan anehnya langsung mengambil ponselnya dan membuka gamenya. Dan Malik berusaha menolak sentuhan Azmy di bahunya.
Edel yang sehabis dari air terdiam di pintu memandang Azmy yang sedang memegang bahu Malik dengan lembut. Tangannya mengepal geram melihat tingkahnya. Dia berjalan menghampiri Malik.
Malik menelan salivanya melihat wajah kekasihnya yang merah padam menahan kesal sedang berjalan ke arahnya.