
Mungkin karena selisih waktu 5 jam dengan Indonesia, Edel tertidur di mobil. Malik memegang tangannya.
"Honey, bangunlah. Udah sampai," kata Malik lembut.
"Pegang setirnya!" seru Edel, terkejut melihat Malik yang di hadapannya.
"Kamu baik-baik aja, kita udah sampai," sahut Malik melihat Edel yang tertegun.
"Oh, maaf aku tertidur dan sedikit kaget," ujar Edel.
"Ayo, aku antar," kata Malik keluar dari mobil dan membukakan pintu buat Edel.
"Makasi," ucap Edel.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, di sana sudah ada Mr. Soe yang menunggu mereka pulang.
"Assalamualaikum, Mr. Soe. Maaf terlalu larut," ucap Malik.
"Ya, jangan di ulangi!" seru Mr. Soe menyuruh Edel masuk.
"Masuklah dulu," ajak Mrs. Soe pada Malik dan menyolek Mr. Soe dengan sikutnya.
"Ya, masuklah," ajaknya singkat.
"Terimakasih Mr. Soe, Mrs. Soe ini sudah terlalu malam. Saya pamit, assalamu'alaikum," pamit Malik melirik Edel.
"Wa'alaikumsalam," jawab mereka kompak.
"Ayah sewot banget ma Malik," gerutu Edel berlalu meninggalkan kedua orangtuanya.
"Ayah, lain kali kurangi sewotnya ma calon mantu," kritik Mrs. Soe.
**
"Batalkan saja tiketnya, berliburlah beberapa hari di sini," ujar Mrs. Soe.
"Ga bisa Bun, kasian yang lain," jawab Edel.
"Biar bunda nanti yang telepon Mita," timpal Mrs. Soe ga rela anaknya pulang cepat.
"Ayolah bunda, biarkan saja kakak pulang, aku masih di sini," bujuk Darren merangkul Mrs. Soe.
"kamu kan harus kuliah," sahutnya memegang tangan Darren yang memeluknya dari belakang.
"Swiss ke Jerman tuh deket Bun. aku bisa pulang nanti kalau ada jadwal kuliah," bujuknya lagi.
"Sayang, Malik di depan dengan orangtuanya," kata Mr. Soe menghampiri mereka di kamar.
"Malik, ngapain?" tanya Edel kaget mengingat tidak ada janji atau obrolan apapun kalau Malik akan berkunjung dulu sebelum dia pulang.
"Ayolah temui mereka," ajak ayahnya berlalu keluar kamar diikuti oleh istrinya dan anak-anaknya.
Malik dan orangtuanya telah menunggu di ruang tamu yang hangat.
"Assalamu'alaikum," sapa Mrs. Soe.
"Wa'alaikumsalam" jawabnya kompak.
Edel duduk di sebelah Mrs. Soe dan Mr. Soe.
"Kami ke sini mau meminta izin kepada Mr. Soe untuk mengajak nak' Edel ke Negara A," kata Baginda Sultan kepada Mr. Soe.
Mr. Soe dan Mrs. Soe saling pandang lalu melirik anaknya meminta jawaban. Edel memandang Malik.
"Nanti aku akan mengantarmu sampai ke rumahmu," lanjutnya. Mr. Soe langsung mengeluarkan lirikan tajamnya pada Malik.
"Maksudku, aku akan mengantarmu hanya mengantarmu," menyadari lirikan calon ayah mertuanya. Sang Sultan pun menyadari lirikan calon besannya dan tersenyum.
"Kemungkinan kita akan tiba malam hari, Edel bisa menginap dulu di rumah kami," sahut Ibunda Ratu.
"Bagaimana?" lanjut Ibunda Ratu.
Edel memandang ayah dan bundanya.
"Kami akan setuju apapun keputusanmu," jawab Mrs. Soe memberi kekuatan. walaupun dirinya ga rela ditinggal anaknya cepat.
"Baiklah," Edel mengangguk setuju membuat Malik tersenyum penuh kemenangan.
Tidak butuh waktu lama untuk Edel bersiap. Dia memakai malayu Jupri berwarna maroon dengan kain songket palembang warnanya senada dengan pakaian khas yang Ibunda Ratu kenakan.
Pukul sembilan waktu setempat mobil yang membawa rombongan The Royal memasuki Bandara Internasional Cointrin Jenewa. Langsung menuju pesawat Negara A yang akan membawa mereka pulang.
Pesawat ini lebih besar dari pesawat yang mereka gunakan saat pulang berlibur dari Bali. Ini merupakan sarana transportasi pribadi milik kesultanan Negara A dirancang sedemikian rupa sesuai protokol kesultanan, berkapasitas besar dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
Edel memang terkadang menyewa pesawat jet jika dikejar deadline, tapi baru kali ini dia naik pesawat macam pesawat kepresidenan. Interior dalam pesawat sangatlah mewah.
Edel berjalan bersama Ibunda Ratu mengikuti Baginda Sultan dan Pangeran Malik.
Mereka duduk di ruangan yang cukup besar. Interiornya lebih mewah dari pesawat yang ditumpanginya terakhir kali bersama Malik.
"Pangeran kami sudah bercerita jika kalian sudah menentukan hari pertunangan, acara seperti apa yang kamu impikan untuk hari pertunanganmu, agar kami bisa mempersiapkannya sebaik mungkin sesuai keinginan kalian," kata Ibunda Ratu memegang tangan calon mantunya
"Aku ... aku menginginkan yang sederhana saja. Mungkin hanya keluarga terdekat dan teman dekat," sahut Edel.
"Hanya itu?" kata Sultan dan Edel mengangguk pelan.
"Bagaimana Pangeran?" lanjut Sultan pada Malik.
"Kenapa kamu tidak ingin pertunangan kita diadakan pesta yang meriah?" tanya Malik pada Edel. Dia merasa seperti sedang sidang disertasi.
"Aku hanya ...," tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku hanya tidak berpikir akan bertunangan dulu sebelum menikah. Aku selalu berpikir ketika aku menemukan pasanganku, dia akan memintaku pada orangtuaku dan kami menikah. Maaf jika aku berpikir seperti itu," ungkapnya gugup tapi disambut tawa Sultan.
"Tidak usah meminta maaf, tidak ada yang salah dengan pemikiranmu. Kami senang mendengar apa yang kamu pikirkan," ujar Ibunda Ratu tersenyum pada Edel.
"Pangeran kami adalah yang paling sederhana dari yang lain, sekarang kami mengerti kenapa dia memilihmu dan meminta kami memintamu pada orangtuamu," lanjutnya.
Malik memperhatikan Edel dari awal selalu menunduk dan terlihat gugup.
"Maukah ku ajak berkeliling?" ajaknya.
"Pergilah," sahut Ibunda Ratu tersenyum, dia mengerti bagaimana perasaan Edel saat ini.
Merekapun berkeliling melihat ruangan demi ruangan di dalam pesawat. Pesawat itu bahkan dilengkapi fasilitas kesehatan terbaik.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sultan pada istrinya.
"Sejujurnya saya sangat menyukainya. Awalnya saya ragu karena dia seorang CEO di usianya yang terbilang masih sangat muda, tapi setelah melihatnya dan berbincang dengannya pertama kali, saya sangat menyukainya. dia mempunyai pemikiran yang sederhana tapi pemikiran yang sangat cerdas," ungkap Ibunda Ratu dibalas anggukan.
"Ya aku pun begitu, setelah dapat informasi tentangnya aku mengerti kenapa Malik bisa jatuh cinta dengan gadis yang baru dikenalnya," ujar Sultan.
"Dia gadis yang cukup sederhana tidak seperti kebanyakan gadis konglomerat lain. Saya juga tahu dia mendirikan yayasan pendidikan untuk anak-anak yang kurang mampu juga untuk anak difabel. dia juga sedang mengerjakan beberapa proyek untuk membantu UMKM di negaranya. Dia cocok dengan Malik, dia akan dapat membantu dan mendampingi Malik kelak," lanjutnya bangga dengan pilihan anaknya.
"Bagaimana dengan gadis yang dirumorkan dengan Pangeran?"