He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 142



Siang ini Edel keluar dari rumah sakit ditemani Malik melalui pintu utama rumah sakit yang telah dipenuhi oleh wartawan dari berbagai media di seluruh dunia.


Hanya kurang dari satu menit Malik dan Edel memperkenalkan pangeran kecil mereka dihadapan media. Mereka langsung masuk ke mobil yang akan membawanya ke istana.


Setiba di istana pangeran kecil mendapat sambutan yang meriah dari semua orang. Mereka ikut bahagia atas kelahiran sang pangeran yang mungkin nanti akan menjadi penerus tahta negara A.


Kamar Edel dipenuhi hadiah dari para saudara dan tokoh publik.


"Ini hanya sebagian kecil dari hadiah yang dikirim orang-orang untuk menyambut pangeran kecilmu, sebagian lagi aku menyimpannya di beberapa ruang samping kamarmu," ujar Putri Syahara.


"Ini banyak sekali," Edel terpaku melihat banyaknya hadiah memenuhi ruang tv di kamarnya.


"Bolehkah aku menggendongnya?" tanya Ibunda Ratu tak sabar menggendong cucu barunya.


"Tentu."


"Istirahatlah, kamu pasti lelah sekali. Jangan khawatirkan pangeran kecil, dia bersama kami," ucap Mrs. Soe.


Malik memboyong Edel menuju tempat tidur mereka. Kamar Malik terdiri dari beberapa ruangan, ruang tidur yang lumayan luas, ruang pakaian yang menyatu dengan kamar mandi, ruang tempat menonton tv, ruang belajar yang sekarang dipakai untuk ruang kerjanya.


"Malik, apa tidak masalah jika aku tidur dan baby boy dititipkan pada keluarga kita?" Edel takut jika keluarganya menganggap dia sangat manja.


"Tidak apa, jangan terlalu khawatir. Mereka tahu kamu kelelahan dan masih dalam pemulihan makanya bunda menyuruhmu untuk beristirahat," jawab Malik menarik selimut untuk menyelimuti Edel.


"Aku takut ibumu kelelahan karena membantuku mengurus anak kita," Edel tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Hahahaha... honey, bukankah belum sampai 10 menit beliau menggendongnya. Tenang saja beliau tidak akan kelelahan dan ada Putri Syahara juga bunda untuk bergantian menjaganya. Aku juga telah menyediakan baby sitter untuk membantu mengurus baby boy kita," terang Malik.


"Malik, bajuku basah," ujar Edel tiba-tiba memperlihatkan bajunya dibagian dada basah. "tolong panggil bunda."


"Ko bisa basah?" Malik tertegun ketika melihat baju istrinya basah padahal Edel tidak sedang minum atau pun berkeringat karena kecapean.


"Cepat panggil bunda!" Malik langsung memanggil Mrs. Soe dan menceritakan kejadiannya padanya.


Mrs. Soe tersenyum ketika mendapati baju anaknya basah, "Itu air ASI nya keluar. gantilah bajumu, bunda akan membawa pangeran kecil untuk menyusu dulu sebelum kamu tidur."


Mrs. Soe segera keluar membawa cucunya untuk disusukan oleh Edel.


"Sampai keluar begitu air ASI nya. Honey, kalau nanti begitu lagi biar aku yang meminumnya sedikit agar tak membasahi bajumu lagi," Malik tersenyum membantu Edel berganti baju.


"Masih aja ... , ingat ini khusus buat anakmu anak kita," ketus Edel.


"Sepertinya aku harus mandi mendinginkan tubuhku, melihat air ASI menetes dari sana membuat badanku gerah," ujar Malik meninggalkan Edel dan masuk ke kamar mandi.


**


Edel diajarkan mempower pumping agar kejadian tadi tidak terulang lagi, juga untuk lebih memperlancar produksi ASI.


"Padahal aku bisa membantumu mempower pumping tanpa harus menggunakan alat itu," celetuk Malik menunjuk Electric breast pump.


"Ingat Pangeran, masih belum boleh," canda Ibunda Ratu tertawa kecil mendengar perkataan Malik.


Berbeda dengan Edel yang wajahnya lagi-lagi dibuat merona.


Kenapa dia harus berkata seperti itu, memalukan sekali. pikir edel.


"Maaf aku tidak bisa membantumu membereskan pakaianmu," ujar Edel mengalihkan pembicaraan.


"Pukul berapa berangkatnya, pangeran?" tanya Ibunda Ratu.


"Aku meminta sehabis isya, hari ini aku ingin lebih lama bersama Edel dan anak kami," jawab Malik yang masih merasa tak kuasa meninggalkan istrinya untuk pergi bertugas.


Edel menatap Malik yang sedang membereskan pakaiannya ke koper, "Terimakasih."


"Tak perlu berterimakasih, itu memang kewajibanku menemanimu juga aku masih ingin menemanimu dan anak kita," jawab Malik.


Sore itu Malik tidak sedetik pun keluar dari kamarnya, dia menemani Edel bahkan ke kamar mandi sekalipun. Dia tahu istrinya pasti kesakitan karena mendapat beberapa jahitan di bekas melahirkan anak mereka.


"Pangeran, Mr. Husein menunggumu," Mrs. Soe memberitahu Malik yang baru saja selesai shalat isya, lalu membawa cucunya keluar ruang tidur.


"Honey, maafkan aku. Rasanya berat sekali meninggalkanmu, tapi aku harus berangkat sekarang," Malik duduk di samping Edel menatap manik mata istrinya. "Aku sangat mencintaimu."


Malik menarik badan istrinya yang duduk di hadapannya ke dalam pelukannya. Ingin rasanya dia menolak tugas yang telah diberikan padanya untuk menghadiri konferensi di Jepang, tapi apalah daya dia harus bertanggung jawab untuk negaranya.


"Baik-baik di sana, jangan lupa kirimi aku pesan jika sudah sampai walaupun mungkin tidak bisa kubalas pesannya," ujar Edel melepas pelukannya.


Malik mengangkat dagu Edel dan mencium lama bibir ranumnya yang selalu dia rindukan. Mereka baru melepaskan pagutannya ketika sama-sama merasakan kekurangan oksigen.


"Ayo cepat, pergilah kalau dirasakan terus menerus nanti ga bakalan jadi perginya!" seru Edel tersenyum.


"Baiklah," jawabnya tersenyum.


"Maaf, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke depan."


"Tidak usah minta maaf, hari ini kamu sudah terlalu banyak minta maaf padaku padahal kamu tidak salah apapun. Akulah yang harusnya meminta maaf padamu karena meninggalkanmu sekarang," terang Malik.


Malik berangkat ke Jepang setelah menitipkan Edel pada Ibunda Ratu dan Mrs. Soe.


***


"Yang Mulia Baginda, maafkan hamba rumor pencopotan Yang Mulia Pangeran Fatih semakin memanas, para tetua istana merencanakan pertemuan," ucap penasehat raja tidak berani menatap Rajanya.


"Yang Mulia, apakah kita harus berkata jika Yang Mulia Pangeran Fatih sudah membaik agar rumor tidak berdasar tersebut segera redup?" tanya penasehat lagi, Baginda hanya terdiam menatap meja di hadapannya.


"Tidak perlu, biarkan saja seperti dulu. Itu hanyalah rumor, akan meredup dengan sendirinya," jawab Sultan negara A.


Rumor tentang pencopotan pangeran Fatih bukan hanya sekali ini terjadi. Pangeran Fatih memang tidak terlalu menonjol sedari kecil dibandingkan dengan pangeran Malik yang lebih aktif bergaul, lebih cerdas, lebih terlihat gagah berwibawa dan para tetua istana maupun masyarakat lebih banyak yang mendukung Pangeran Malik yang akan menggantikan ayahnya menjadi raja dikemudian hari.


Namun rumor tersebut berlalu begitu saja meredup begitu saja dan kembali memanas sejak Pangeran Malik menggantikan semua tugas pangeran Fatih yang masih dalam keadaan koma, tidak tahu kapan akan bangun terlebih sekarang dia sudah mempunyai anak yang digadangkan akan mewarisi tahta kerajaan Negara A.


Baginda Sultan juga tahu dan sangat sadar jika kinerja Malik lebih bagus dan lebih bisa diandalkan dibanding dengan putra sulungnya Sang Putra Mahkota dan masyarakat pun menilai jika Malik lebih cocok menggantikan dan menjadi penerus tahta kerajaan Negara A.


Penasehat kerajaan tidak bisa berkata apapun lagi setelah mendengar perkataan Tuannya. Dia amat memahami sifat tuannya dan apa yang sedang dia pikirkan walaupun perkataannya menolak tetapi raut wajah tak bisa membohonginya jika rumor tersebut telah mengusik pikirannya juga.


Beliau tentu lebih tahu dan bijak dalam mengambil keputusan. pikir Penasehat Raja.


*****


Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏


Stay safe everyone. 🥰🤍