He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 116



Sebelum menikah dengan anggota kerajaan bukan hanya latar belakangmu saja yang ditelusuri namun juga dengan kesehatanmu, karena sebelum menikah Edel melakukan berbagai cek up kesehatan atas permintaan pihak kerajaan sebagai prosedur dan di periksa langsung oleh dokter rumah sakit yang ditunjuk pihak kerajaan negara A.


Edel ikut bahagia dengan kehamilan temannya Chaterine Urdha, namun itu juga yang membuatnya jadi berpikir lebih dan mencari tahu tentang program hamil. Dia bisa saja langsung bertanya pada dokter kerajaan tapi rasanya malu.


"Kau sedang apa honey, ku lihat dari tadi kamu serius sekali menatap tab mu?" tanya Malik menghampiri istrinya yang sedang duduk bersantai berselonjor kaki dan berselimut di sofa panjang sambil memegang tab nya.


Edel dengan cepat menutup artikel tentang program hamil dan mengganti dengan Drakor.


Malik melihatnya sedang menonton dan tersenyum, "Pantas saja fokus," ledeknya.


Huuhh, untung saja. batin Edel.


"Malik apa kamu kecewa padaku karena aku belum hamil?" tanya Edel pelan.


Malik tertawa kecil, "Honey, itukah yang kamu pikirkan beberapa hari ini?" Malik balik bertanya dan dibalas anggukan pelan olehnya.


"Honey, kita baru menikah tiga bulan jadi jangan terlalu dipikirkan. Banyak yang menikah sampai bertahun-tahun tapi tidak kunjung di beri anak, tapi mereka tetap semangat tetap ceria. Aku tidak kecewa sedikit pun, aku bersyukur dapat bersamamu berduaan lebih lama," ucapnya merangkul Edel.


"Aku takut keluargamu ... ,"


"Honey, jangan berpikir yang bisa membuatmu sakit. Kau tahu kan jika kakakku pangeran Fatih belum juga dikaruniai anak sampai sekarang, tapi keluargaku biasa saja."


Edel teringat putri Grizelle yang belum dikaruniai anak bukan karena masalah kesehatan tapi tentu karena Allah belum memberinya rezeki anak.


Malik ikut merebahkan badan di sofa, menarik istrinya ke dalam pelukannya.


Sebenarnya tidak ada hari libur bagi seorang pangeran, dia tetap harus menjalankan kewajibannya. Namun hari ini Malik meminta untuk beristirahat membatalkan semua jadwalnya yang menurutnya bisa dialihkan ke hari lain, dia ingin menikmati hari berdua saja dengan istrinya apalagi setelah melihat beberapa hari ini Edel selalu termenung.


Malik mencium hidung istrinya, dia mengeratkan pelukannya.


"My prince, apa di luar masih hujan?" Edel berbicara di dekat wajah Malik membuat bulu-bulu di sekitar wajah dan lehernya meremang.


"Honey, apa kau sedang menggodaku?" berbalik melihat istrinya hingga hidung mereka beradu.


"Aku tidak menggodamu, my prince," Malik menghirup wangi mulut Edel membuatnya langsung mendekap istrinya.


Edel tersenyum Malik mendekapnya. Malik merasa suara istrinya terdengar merdu diantara rintikan hujan membuatnya makin bersemangat membuat Malik junior.


**


Rintikan hujan masih terlihat di jendela kamar ketika mereka terbangun.


"Honey bangunlah, ayo shalat dulu," ajak Malik.


Mereka shalat berjamaah seperti biasa.


"Kapan hujan akan berhenti," keluh Edel memandangi jendela.


"Kenapa? apa kamu mau jalan keluar?" tanya Malik.


"Tidak hanya saja hujan belum juga berhenti dari tadi subuh," ujarnya.


"Aku menyukainya," kata Malik tiba-tiba.


"Apa, kau menyukai apa?" tanya Edel beralih memandang Malik.


"Hujan, aku menyukai saat turun hujan. Itu mengingatkanku padamu," ungkapnya duduk di sofa menghadap jendela.


Edel mendekati Malik dan duduk di sampingnya. "Ingat padaku?" tanyanya heran.


"Apa kau lupa ketika di perpustakaan dulu memberiku payung karena hujan," tanyanya balik.


Malik berdiri berjalan ke arah lemari kaca besar tempat banyaknya piala dan berbagai macam barang berharga miliknya dan mengambil sesuatu.


Edel masih duduk diam memandangi hujan dari jendela kamar dan terkejut melihat Malik sudah berdiri di sampingnya memberikan sesuatu yang menurutnya aneh.


"Kenapa kamu memberiku payung, apa kamu mau mengajakku jalan?" tanyanya bingung.


"Kau tidak ingat payung ini?" tanyanya.


Edel melihat payung yang diberikan Malik tapi itu membuatnya tambah bingung, dia menggelengkan kepalanya pada suaminya.


"Ini aku kembalikan payung milikmu," ucapnya.


"Eeumm ... , payung milikku?" lirihnya.


"Ya, payung ini yang kau pinjamkan padaku saat di perpustakaan dulu. Kau tak ingat?" tanyanya.


"Memang sudah lama sekali wajar jika kau tak ingat payung ini," memandang payung yang menurutnya sangat istimewa.


"Benarkah ini payung yang kuberikan padamu dan kau masih menyimpannya?" Edel tersenyum merasa terharu Malik menyimpan barang darinya itu pun tidak dengan sengaja memberi, padahal hanya sebuah payung.


"Aku menyimpannya, aku berniat akan mengembalikannya padamu jika aku bertemu lagi denganmu. Tapi saat itu aku bahkan tak berani mendekatimu hanya bisa memandangi dari jauh," ucapnya terkekeh.


Edel tersenyum memandangi payung dan beralih ke Malik, menariknya untuk memeluknya.


"Terimakasih, aku bahkan tak terlalu mengingat tentang payung itu tapi kau menjaganya untukku. Aku sangat mencintaimu," ucap Edel.


"Mau jalan-jalan?" ajak Malik masih dalam dekapan Edel.


Edel melepas pelukannya tapi masih mengalungkan tangannya di leher Malik, dia tersenyum sambil mengernyitkan alis.


"Kau mengajakku hujan-hujanan?" Malik tersenyum melirik payung yang diletakan di meja hadapan.


Edel tertawa kecil mengangguk.


***


Mereka berjalan di halaman samping tak jauh dari istana dengan berpayung berdua, membuat iri para penjaga ataupun pegawai yang lain yang sedang bertugas hari itu di Istana. Iri pada Pangeran mereka yang sangat romantis, walaupun hanya mengajak jalan dibawah rintikan hujan tapi itu sangatlah romantis bagi mereka.


"Honey, Allah sungguh Maha segalanya membuat kita bertemu saat hujan dan kau memberikanku payungmu agar aku tidak kehujanan, sekarang Allah mengirimkan mu padaku lagi sebagai istriku yang selalu akan menantiku pulang setelah aktivitas yang melelahkan, tempatku berteduh saat ku merasa di hujani kesendirian, menghangatkan ku saat semua tempat terasa dingin," ungkapnya lirih.


"Malik aku akan selalu di sampingmu, insya Allah. Berpayunglah selalu bersamaku," Edel menghentikan langkahnya menatap suaminya lekat, mereka berpelukan di bawah rintikan hujan dengan payung yang masih dipegang oleh Malik.


"Malik, kenapa kau menyuruhku berpakaian seperti ini?" tanya Edel kemudian.


"Karena saat itu kamu berpakaian seperti itu, dan ini juga bajuku saat aku pergi ke perpustakaan dan kau memberikan payung ini,"


Edel tertawa mendengarnya, sungguh suaminya pria yang luar biasa menyimpan segala kenangan mereka dibenaknya hingga pakaian pun dia ingat. Dia mengambil alih payung yang dipegang Malik, lalu meneruskan langkahnya dibawah rintikan air yang turun dari ranting pohon.


Mereka menikmati udara yang sejuk sehabis hujan membawa kesejukan pada pikiran mereka masing-masing. Tidak terlihat pelangi di langit namun pelangi terlukis di hati mereka.


*****


Semua orang pasti punya pengalaman yang seru tentang hujan. Kalian bisa menceritakannya di kolom komentar. 🥰


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰