
Malik mengambil tabnya memeriksa jadwal keberangkatan di negaranya dan kedatangan di bandara di Indonesia. Takut perkiraannya salah.
Mereka sudah sampai sebelum magrib. batin Malik.
Dia menatap ponselnya lama mengaburkan pikirannya entah kemana sampai kaget ketika ponselnya berbunyi menandakan pesannya terkirim. Senyuman terukir di bibir Malik.
"Akhirnya terkirim," gumam Malik.
Setelah menunggu beberapa saat dia mengetik pesan lagi, lalu meneleponnya dan hanya terdengar nada tunggu.
"Mungkin dia lelah," gumam Malik.
Lalu bangkit berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
**
Seperti biasa Edel bangun setengah empat pagi, dia melihat ponselnya dan baru tersadar dia lupa mengklik tanda kirim hingga pesannya belum terkirim, dia terlalu cape hingga ketiduran.
Edel menghapus pesannya mengurungkan niatnya membalas pesan Malik. Dia takut menganggu Malik tidur, dia pikir ini terlalu pagi untuk kirim pesan lalu bangkit dan masuk kamar mandi.
Setelah selesai solat subuh Edel duduk di balkon kamarnya, udara pagi sangat segar. Angin semilir menggoda rambutnya yang terurai.
Edel menatap layar ponselnya.
haruskah aku menghubunginya, apa ini tidak terlalu pagi. batin Edel.
"Mungkin sebentar lagi atau nanti siang aja," gumam Edel meletakan ponsel di meja sampingnya, tetapi setelah itu diambilnya lagi menscroll layar dan menatapnya.
"Lebih cepat lebih baik, bukankah ini sudah subuh malah sudah pagi hanya orang yang sakit atau malas yang masih tidur di jam segini. Benarkan?!" gumamnya pada diri sendiri.
Akhirnya dia mengklik tanda telepon di layar ponselnya. Menunggu ... hanya terdengar nada tunggu, apa mungkin dia masih tidur?. batin Edel. ah.. mana ada pangeran yang bangun siang, itu hanya ada di dongeng atau drama tv. batinnya lagi.
"Assalamu'alaikum, halo," suara Malik terdengar agak berbeda pikir Edel lalu melihat layar ponselnya takut salah menekan nama yang di telponnya.
"Wa'alaikumsalam, Malik," sapa Edel.
"Ya, kenapa?" kata Malik suaranya agak serak.
"Apa kau kebangun gara-gara teleponku?" tanya Edel mendengar suaranya seperti orang baru bangun tidur.
"Ah, tidak. Aku sudah bangun, hanya saja sedikit serak sepertinya aku kurang minum," kilahnya.
Sejujurnya tadi sebelum mengangkat telepon dari Edel, dia pun sudah memegang ponselnya hendak menelpon Edel tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi dan nama My Flower ada di layar ponselnya memanggil. Dia tidak menyangka Edel akan menelponnya duluan, tetapi itu membuat dia sangat senang.
"Oh, buatlah air lemon hangat pagi-pagi kalau terlalu asam pakai madu, itu bagus buat tubuhmu," saran Edel.
"Minumlah dulu, cepat aku tunggu!" lanjut Edel.
Malik tersenyum senang mendengar Edel mengkhawatirkannya, setidaknya begitulah menurutnya.
"Sebentar ya," Malik berjalan ke arah meja dan menuangkan air putih lalu meminumnya.
"Aku sudah minum," kata Malik.
"Aku tahu, suaranya terdengar sampai sini," sindir Edel, membuat wajahnya merona.
"Hahhaha ... benarkah?" tanya Malik.
"Ya," jawabnya singkat.
"Aku kira kamu masih tidur jam segini, jaman sekarang tidak banyak anak gadis yang mau bangun pagi," gumam Malik.
"Aku termasuk diantara yang tidak banyak gadis itu," jelas Edel.
"Hahahaha ...," Malik tertawa senang mendengar suara Edel.
"Kenapa tertawa?" tanya Edel.
"Senang," jawabnya singkat.
"Harus ada alasannya, apa suaraku terdengar lucu hingga kamu banyak tertawa dari tadi," gerutu Edel.
"Senang pagi-pagi sudah mendengar suaramu," jelas Malik.
Wajah Edel semakin merona mendengar ucapan Malik.
"Halo ...," ucap Malik karena hening sesaat.
"Ya," jawab Edel.
"Kamu lagi apa?" tanyanya.
"Lagi duduk menikmati udara pagi," kata Edel.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku semalam, aku bahkan beberapa kali meneleponmu!" gerutu Malik.
"Ah iya maaf, ponselku semalam dalam mode silent dan aku lupa, jadi aku tidak tahu kamu banyak menelpon ku. Maaf ... semalam aku juga ketiduran," kilah Edel.
"Apa jadwalmu padat hari ini?" tanyanya lagi.
"Aku belum lihat. Kenapa? kamu mau ke sini mengganggu ku?" tanya Edel berpikir itu tidak akan mungkin.
"Kalau dekat mungkin iya, kalau jadwalmu senggang kabari aku," kata Malik.
"Benarkah kamu mau ke sini?" kata Edel antusias.
"Aku ingin sekali kesana tapi jadwalku padat bulan ini. Maafkan aku, maksudku kalau kamu lagi senggang nanti aku hubungi," jelas Malik.
"Ehmm iya ...," kata Edel terdengar ada rasa kecewa di sana. Malik pun menyadarinya.
"Boleh aku tanya hal yang sedikit pribadi, aku tahu kita baru kenal hanya saja aku pikir lebih cepat mengetahuinya lebih baik," kata Malik.
"Ya," jawabnya singkat.
"Engak," jawab Edel dengan cepat.
"Baguslah," suara Malik terdengar bersemangat.
"Kenapa?" tanyanya.
"Ga pa-pa, aku takut ada yang marah kalau aku menghubungimu," kilah Malik.
"Mungkin akan ada yang marah kalau kamu mengganggu jam sibukku," jawab Edel.
"Benarkah, siapa?" kata Malik penasaran.
"Mita, dia akan marah kalau kamu terus menggangguku saat aku sibuk," Edel tertawa.
"Aku rasa dia akan mengerti, percaya padaku," kata Malik nada serius.
"Hahahhaaaa ...," Edel tertawa mendengar perkataan Malik.
"Ini pertama kalinya aku mendengar kamu tertawa, aku senang," kata Malik.
Edel langsung terdiam wajahnya terasa panas, udara pagi sepertinya tidak bisa menyejukkan wajahnya sekarang.
"Edel ... Del ... tuan putri ...," teriak Mita dari luar kamarnya.
Edel jadi agak kesal mendengar panggilan Mita.
"Ya ... tunggu," kata Edel
"Ehm, udah dulu ya Mita manggil. Moga harimu menyenangkan, assalamu'alaikum," pamit Edel.
"Wa'alaikumsalam ...," belum selesai menjawab teleponnya sudah terputus.
Malik tersenyum, awal hari yang menyenangkan.
***
Edel membukakan pintu kamarnya,
"Ada apa sih manggil-manggil," kata Edel tiba-tiba kesal.
"Lo kenapa pagi-pagi udah sewot aja, gue manggil-manggil Lo karena tante nyariin Lo, dari tadi dia manggil Lo tapi lo engak nyahut-nyahut," jelas Mita.
"Oh, iya maaf," kata Edel, dia terlalu asik ngobrol dengan malik.
Edel melangkah keluar kamarnya mencari bundanya.
"Bunda ... Bun," panggil Edel.
"Ibu di dapur non ...," kata seorang pelayan.
Edel pergi ke dapur menghampiri bundanya. Dia melihat bundanya sedang memasak untuk sarapan dibantu seorang pelayan wanita berusia akhir 50 tahun.
"Kenapa sayang?" tanya Mrs. Soe.
Edel duduk di kursi dapur.
"Tadi Mita bilang bunda nyari aku," gumam Edel.
"Oh, bunda belum liat kamu pagi ini makanya manggil-manggil, bunda kira kamu masih tidur. Makanya bunda minta tolong Mita buat bangunin kamu," sahut Mrs. Soe.
"Kamu hari ini ga kerja, tumben masih pake baju tidur," lanjutnya melihat Edel belum siap-siap padahal sudah siang.
"Astaghfirullah, aku lupa. Ini jam berapa?!" seru Edel berdiri setengah lari ke kamarnya.
Pantesan tadi Mita udah pake baju rapi. batin Edel.
Edel berpapasan dengan Mita di tangga.
"Jangan lari tar jatoh Lo. Bahaya," kata Mita.
"Gue kesiangan," kata edel setengah teriak sambil berlari masuk kamar.
Hampir satu jam Mr. dan Mrs. Soe juga Mita duduk di meja makan menunggu Edel.
"Lama banget," gumam Mita.
"Bi tolong panggil Edel, ko lama banget. Bilang semua sudah nunggu buat sarapan!" seru Mrs. Soe
Tetapi sebelum pelayan sampai ke tangga, dia berpapasan dengan Edel.
"Tuh dia datang, akhirnya," kata Mita.
"Maaf," kata Edel duduk dekat ayahnya.
Mereka pun sarapan dan setelah selesai Edel dan Mita pamit pada Mr. dan Mrs. Soe.
"Bunda, ayah, aku berangkat ya," pamit Edel.
"Assalamu'alaikum," salam mereka berbarengan.
Mereka diantar sopir ke kantor, karena mobil Mita ditinggal di kantor dan mobil Edel dikirim ke kantor oleh sopir sewaan semalam.
Mita melihat Edel sangat bersemangat hari ini. Wajahnya tampak berseri lebih dari biasanya.
"Apa ada yang terjadi yang gue ga tau?" tanya Mita heran.