
Edel tertawa melihat tingkat sahabatnya. Gue juga mau ngomong cuma gue bingung ngomongnya gimana, gue nunggu dia nanya lagi tapi ga nanya-nanya. batin Edel.
Edel memeriksa pesan di ponselnya dan tersenyum. Malik mengirimkan Video dirinya sedang menerbangkan sebuah helikopter militernya dan sebuah pesan;
"*A**ku siap menjadi pilotmu, kapanpun kamu mau*"
Edel terdiam, kemudian mengetik sebuah pesan;
"Sekarang"
Lama edel memandang ponselnya tapi tidak ada balasan hingga dia kesal sendiri dan menaruh ponselnya di meja kerjanya lalu menghampiri Mita dengan setumpuk dokumen yang dia bawa.
"Gue perhatiin Lo, tadi senyum-senyum sekarang cemberut," ujar Mita.
"Ih, kepo!" seru Edel tersenyum.
"Udah jam pulang, gue mau pulang cepet hari ini," lanjutnya.
"Ga bisa, Lo harus meriksa beberapa laporan dan dokumen juga harus mempersiapkan buat meeting dengan perusahaan Aditama lusa," kata Mita mengingatkan.
"Ko gue berasa Lo atasan gue ya," kata Edel.
"Gue ngingetin doang Edel. Inget tujuan Lo buat perusahaan ini lebih sukses," ujar Mita.
Edel inget tujuan mereka ketika dia meminta Mita membantunya untuk mengelola perusahaan ayahnya. Mereka akan berusaha membuat perusahaannya menjadi perusahaan yang terbaik.
"Gue sayang sama Lo," kata Edel menghampiri Mita dan memeluknya.
Mereka sibuk dengan berbagai dokumen dan laporan hingga malam. Alice dan Pa Ariq baru saja pulang begitu pun dengan asisten pa Ariq, mereka mempersiapkan beberapa dokumen dan memeriksa berkas laporan yang tertunda dan harus segera selesai.
ddrrrttt ... drrtttt ..., ponsel Edel bergetar. Edel memeriksanya dan seketika raut wajahnya yang lesu kecapean seharian berubah menjadi raut wajah bahagia. Orang yang ditunggu akhirnya menelponnya.
"Ya, assalamu'alaikum. Ada apa, aku masih di kantor lagi sibuk!" katanya sedikit sewot karena tidak mau Malik mengetahui dia menunggu panggilannya.
Mita yang mendengarkan hanya bisa tersenyum, ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak meledek temannya.
"Wa'alaikumsalam, apa aku mengganggu mu, aku hanya mau menanyakan pesanmu tadi sore, apa maksudmu 'sekarang', apa kamu menerimaku? apa itu jawabanmu?" tanyanya bertubi-tubi.
"Iya," jawab Edel singkat.
"Benarkah, terima kasih. Nanti aku hubungi lagi," pamit Malik dan mengakhiri panggilan nya.
Edel hanya bengong, bingung dengan Malik yang tiba-tiba menghubunginya dan dengan cepat menutup panggilannya.
"Ya sudahlah, mungkin dia lagi ada acara," gumamnya.
"Cepat amat teleponan ya?!" ledek Mita.
**
Malik baru saja pulang dari perjamuan kenegaraan bersama Sultan Negara A dan putra mahkota Pangeran Fatih.
Seharian ini jadwalnya begitu padat hingga tidak sempat menghubungi Edel hanya mengirim pesan singkat dan Vidio dirinya sedang menerbangkan helikopter militernya. Setelah itu jangankan mengirim pesan, melihat ponselnya pun tidak karena seperti biasa ketika menghadiri acara resmi ponsel Malik dalam mode getar dan bahkan silent.
"Mr Husein apa jadwalku besok sepadat hari ini?" tanya Malik yang tidak seperti biasanya dan di jawab dengan senyuman oleh Mr. Husein.
Malik bukanlah tipe pria yang suka mengeluh, sepadat apapun jadwalnya dia tidak pernah mengeluh. Hanya saja hari ini berbeda, dia merindukan suara seseorang yang dari pagi belum dia dengar suaranya.
Mr. Husein pun tahu kenapa Malik hari ini mengeluhkan jadwalnya yang padat. Dia memahami pikiran tuannya sedang pada seorang gadis. Kalau dekat mungkin akan bisa mencuri waktu menemuinya langsung, tetapi sayang mereka berbeda negara.
"Yang Mulia, bukankah tiga Minggu lagi ada acara pembukaan restoran Mrs. Soe Ibunda nona Edel," tanya Mr. Husein, dia seperti detective mengetahui semua jadwal orang yang berhubungan dengan tuannya.
"Oh iya aku lupa, Mr Husein apa jadwalku di Minggu itu padat dan bukankah dia ada meeting dengan perusahaan Ommarcorp?" tanyanya balik karena dia yang meminta bantuan Mr. Ommar agar meeting di Negara A, padahal mereka bisa lewat video call atau video zoom.
"Nona Edel meminta wakilnya untuk menggantikan dia meeting dengan Mr. Ommar dan sepertinya Mr. Ommar pun akan berada di Swiss karena restoran yang akan dibuka milik Mrs. Soe dan Mrs. Ommar. Saya akan jadwalkan kalau Yang Mulia mau menghadiri pembukaan restoran Mrs. Soe," jawabnya tersenyum.
"Ahh, apalah aku tanpamu Mr. Husein, terimakasih. Anda memang sangat mengerti saya," ujar Malik.
Tiba di kamar dia langsung memeriksa pesannya dan didapatinya pesan dari Edel.
"S****ekarang"
Dia memandang pesan itu berusaha mengartikannya lalu tersenyum dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia melihat pesannya kembali, lalu duduk di pinggir tempat tidur dan melakukan panggilan.
" ... " Edel
"Wa'alaikumsalam, apa aku mengganggu mu? aku hanya mau menanyakan pesan mu tadi sore, apa maksudmu 'sekarang'? apa kamu menerimaku? apa itu jawabanmu?" tanya Malik tersenyum, wajahnya menyiratkan kemenangan.
"..."
"Benarkah, terima kasih. Nanti aku hubungi lagi," pamit Malik dan mengakhiri panggilan nya.
Malik mengambil air minum dan meminumnya, dia harus menenangkan hatinya yang berdebar bahagia. Dia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban malam itu, dia mengambil ponselnya di nakas dan menghubungi seseorang.
"Mr. Husein jadwalkan ke Swiss dan tolong periksa jadwal ayahku di Minggu itu. Apa dia bisa ikut denganku," titahnya lalu mengakhiri panggilannya.
Dia berjalan ke lemari buku nya dan ditariknya sebuah buku dan membukanya. Dia mengambil sebuah foto yang terselip di lembaran buku yang dia pegang.
"Akhirnya ...," gumam Malik.
Menyimpan bukunya dan membawa foto seorang gadis lalu membingkainya dan menaruhnya di atas nakas samping tempat tidurnya.