
Jadwal kegiatan Edel telah dikurangi mengingat kondisinya yang sedang hamil muda untuk menjaga kesehatannya dan sang calon pangeran. Makanan yang dibuat oleh dapur kerajaan pun menjadi lebih selektif dikhususkan untuk wanita yang sedang hamil membuat Edel ingin berlari pulang ke Indonesia biar bisa menikmati masakan Mrs. Soe atau simbok dan tidak hanya itu saja yang membuat Edel sedikit kesal, Malik menjadi sangat protektif.
"Honey, beristirahatlah di kamar atau jalan-jalan ke taman kalau kamu merasa bosan. Ingat jangan terlalu memaksakan diri berjalan, aku tak mau kamu sampai kecapean," Edel hanya mengernyitkan dahi mendengus kesal mendengar suaminya terus mencecarnya dengan semua larangan sejak mereka mengetahui Ia sedang hamil.
"Terkadang kau lebih mengerikan daripada setumpuk aturan negaramu," gerutu Edel mengerucutkan bibir mungilnya.
"Aku tak mau kamu kecapean," Malik membelai lembut pipi istrinya yang sedang merajuk.
"Ijinkan aku ikut, aku janji aku akan beristirahat jika aku lelah, aku tahu batasan tubuhku my prince," bujuknya, memelas memandang wajah suaminya.
"Tapi perjalanannya lumayan jauh, honey. Butuh dua jam lebih untuk sampai," Malik tetap pada pendiriannya tidak mengizinkan Edel ikut.
"Aku bisa tidur di mobil."
Malik menatap manik Edel lekat, mata yang cantik sedang merayunya.
Malik menghembuskan nafas beratnya, sulit sekali untuk menolak rayuan istrinya. "Bersiaplah, mungkin kita akan menginap di sana semalam. Aku takut kamu kecapean jika kita melakukan perjalanan pulang pergi."
Bibir yang mengerucut itu tiba-tiba mengembang menjadi sebuah senyuman yang sangat manis. Malik melihatnya dan langsung melahap bibir manis istrinya.
*
*
Empat jam kemudian mereka telah berada di daerah yang cukup jauh dari ibu kota. Edel yang memenuhi janjinya untuk tidur selama perjalanan telah kembali segar dan siap untuk menemani suaminya melakukan kunjungan ke sebuah yayasan anak.
Edel sangat menyukai anak-anak, dari itu ia selalu bersemangat jika menemani Malik melakukan kunjungan ke tempat-tempat yang berhubungan dengan anak-anak. Baginya setiap anak itu unik, mereka membawa kebahagiaan tersendiri untuknya. Selalu saja ada tingkah yang membuat para orang dewasa tertawa dan melupakan lelahnya.
Edel membacakan cerita pada anak-anak yang hadir di sana, cerita itu ia ambil dari salah satu cerita 1001 malam.
"Harun Ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun (786 M - 809 M). Selama dua dasawarsa itu, Harun Al-Rasyid mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke peuncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke-21 ini dari sosok raja besar Muslim ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman," Edel bercerita seperti seorang pendongeng atau story teller sungguhan.
"...".
Salah satu puncak pencapaian yang membuat namanya melegenda adalah perhatiannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Di masa kepemimpinannya terjadi penerjemahan karya-karya dari berbagai bahasa.
Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan perabadan. Pada era itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah - perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masanya. Harun pun menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu keagamaan.
"Maka ia harus rajin belajar tak boleh putus asa, terus belajar dan jangan lupa beribadah dan berdoa dan tentunya harus saling membantu dalam kebaikan," ujar Edel mengakhiri ceritanya.
Seorang anak mengacungkan tangannya, Edel yang melihatnya tersenyum, "Kamu mau bertanya apa sayang, coba sebutkan namamu?".
"Namaku Ushaim Abdul Aziz. Bolehkah aku memelukmu Yang Mulia?" tanyanya polos. Edel dan semua orang yang mendengarnya tersenyum dan bahkan tak sedikit yang tertawa.
"Boleh, sini sayang mendekatlah," Malik langsung menatap Edel lekat dia takut anak itu tak sengaja menyenggol perut Edel dan ingin memperingatkannya namun Edel menatap balik Malik dengan tersenyum namun tajam.
Childish. gerutu Edel dalam hati melihat tingkah suaminya.
"Sini sayang, tapi hati-hati ya soalnya di dalam perut ku ada baby kecilnya," ujar Edel memperingatkan anak kecil itu dengan lembut dan secara refleks tangan anak itu mengusap perut Edel.
"Yang Mulia baby kecil sehatlah selalu di dalam sana, aku menunggumu di sini untuk melihatmu," terangnya dengan bahasa anak namun membuat semua di sekelilingnya terharu.
Edel mengusap kepala dan pipi anak lelaki itu. "Kau tampan sekali sayang, belajarlah nanti kalau baby-nya sudah lahir aku akan membawanya untuk bertemu denganmu," ujar Edel memeluknya lagi. Anak itu tersenyum senang mendengar semua yang Edel katakan.
Ada lebih dari 20 anak yang berada di sana yang ingin memeluk princess Edelweiss yang telah membacakan cerita untuk mereka. Mereka dengan sabar menunggu bergiliran memeluknya. Edel tidak merasakan lelah sedikitpun, dia sangat bersemangat bergurau dengan semua anak yang hadir.
"Apa kau lelah?" tanya Malik setelah semua anak pergi ke dalam ruangan sebelah untuk mendapat bingkisan hadiah.
Edel menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tak lelah. Aku sangat senang melihat mereka, Terimakasih telah mengizinkanku ikut bersamamu," ucapnya tersenyum. Sebenarnya Edel merasa sedikit lelah hanya saja dia tak ingin Malik tahu dan mengomelinya.
"Yang Mulia, aku kelaparan," bisiknya.
Malik berdiri menghampiri Mr. Husein dan kembali mendekati istrinya.
"Ayo my princess," ajak Malik.
Edel berjalan bergandengan dengan Malik menuju ruangan khusus yang disediakan pihak yayasan untuk beristirahat.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰