He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 156



Malik masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian, karena tak mungkin ia menggunakan pakaian yang sama seharian penuh.


Malik melihat Edel yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, entah kenapa dia terlihat lebih seksi dari biasanya.


"Honey," ucapnya menghampiri istrinya dan mulai membelai pipi istrinya sambil tersenyum.


Edel melihat tingkah Malik hanya mengernyitkan dahinya heran.


"Malik, kamu mau mandi dulu?" tanyanya yang dibalas anggukan oleh suaminya tanpa henti memandangnya.


"Malik ..., Malik ...," Edel melambaikan tangannya di depan wajah Malik yang seperti sedang melamun.


"Ah, iya- maaf," ucapnya tersadar dari lamunannya.


"Ada apa, kenapa kamu melamun?" Edel menatap khawatir suaminya.


Malik hanya tersenyum melihat Edel. Dia sungguh ingin sekali menariknya masuk kembali ke kamar mandi.


"Malik," Edel tak mengerti kenapa Malik hanya senyum-senyum seperti itu dan tak menjawabnya.


"Malik, ayo cepatlah mandi. Aku akan ikut denganmu ke istana barat," ucap Edel.


"Astaghfirullah," tiba-tiba Malik tersadar harus buru-buru.


Edel makin tak mengerti suaminya yang tiba-tiba saja beristighfar dan langsung masuk ke kamar mandi.


Malik terlihat lebih segar dari sebelumnya ketika keluar kamar mandi dan sudah siap berpakaian hendak pergi ke istana barat tempat jenazah pangeran Fatih berada sebelum dimakankan besok.


"Honey, baby Zyan?" tanyanya.


"Dia sudah tertidur bersama Ammar dan ada Mrs. Anne menjaganya," jawab Edel.


Malik merangkul istrinya dengan erat. "Honey, kau tahu jika tadi aku sempat ingin mengajakmu kembali lagi ke kamar mandi."


Edel melirik suaminya. "Ini hari berduka." ucap Edel mengingatkan.


"Aku tahu, maaf. Aku melihatmu dengan rambut sedikit basah seperti tadi sangatlah menggoda, membuatku ingin ..., Aku laki-laki normal, Honey." jawabnya cemberut.


Edel tersenyum ingin tertawa mendengarnya, namun Ia tak boleh tertawa karena sudah berada di lorong istana menuju istana barat. Akan sangat berbahaya jika dia tertawa dan dilihat oleh orang lain dihari berduka seperti saat ini.


"Kau lucu sekali, Pangeran."


Edel dan Malik bergabung dengan keluarga kerajaan yang lain menerima ucapan belasungkawa dari kerabat dan para petinggi negara.


Malam memang telah larut malam sudah menunjukan dini hari, namun Masyarakat yang datang untuk mengucapkan duka pada keluarga kerajaan masih terus berdatangan.


"Beristirahatlah di dalam," ucap Malik pada Ibunda Ratu dan Edel.


"Nak' ayo sebaiknya kita masuk ke dalam. Biarkan para laki-laki yang berada di sini, kita harus beristirahat. Acara besok pasti akan sangat menguras hati dan tenaga kita," terang Ibunda. Edel dan Putri Syahara memapah sang Ibunda masuk ke dalam kamar yang disediakan untuk beristirahat.


Kepala Edel sedikit berdenyut sakit ketika terbangun untuk shalat malam. Dia hanya bisa mengejapkan mata dua jam saja, itu pun tidak sepenuhnya tertidur karena selalu terbangun.


Dilihatnya Putri Syahara masih tertidur pulas kecapean. Sedangkan Ibunda Ratu bersujud untuk waktu yang lama mungkin menumpahkan segala kesedihannya pada Yang Maha Pemilik yang telah mengambil kembali Putra sulungnya.


***


Langit pagi itu terlihat redup seakan ikut bersedih ditinggal Sang Putra Mahkota untuk selamanya.


Suasana kerajaan Negara A sangat ramai oleh masyarakat yang berbondong-bondong ingin ikut mengantarkan Putra Mahkotanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Pukul sepuluh waktu negara A, Pangeran Fatih dibawa menuju pemakaman keluarga kerajaan dan dimakamkan di samping makan istri tercintanya Putri Grizelle yang telah setahun lebih dulu meninggalkannya.


Sungguh pemandangan yang menyesakan dada, Baginda Sultan dibopong oleh anak bungsunya Pangeran Malik dan Mr. Fredrik menyaksikan tanah mulai menutup jenazah pangeran Fatih.


"Alhamdulillah baik," jawab Edel dengan suara sendu.


"Jagalah kesehatanmu. Kau akan semakin disibukan kedepannya," Putri Zeera mulai mewanti-wanti adik iparnya dengan apa yang akan terjadi setelah mereka kehilangan putra mahkota kerajaan agar Edel bisa mempersiapkan semuanya tidak hanya badannya tapi juga mentalnya.


"Terimakasih," ucapnya.


Seperti di negara lain, negara A mengibarkan bendera setengah tiang selama 14 hari ke depan sebagai penghormatan untuk keluarga kerajaan yang tengah berduka. keluarga kerajaan juga mengadakan tahlilan selama 7 hari kedepan.


Setiap harinya banyak masyarakat yang berkunjung memberikan karangan bunga sebagai bentuk duka mereka. Karangan-karangan itu disusun di depan gerbang kerajaan hingga beberapa kilometer memenuhi jalanan depan istana.


"Yang Mulia, Baginda memanggil anda untuk berkunjung ke istana dalam," kata Mr. Husein pada Malik yang sedang melihat beberapa dokumen.


Malik segera bangkit dan menuruti perintah yang disampaikan Mr. Husein padanya.


"Ada apa beliau memintaku bertemu sepagi ini?" tanyanya pada Mr. Husein menilik jam yang melingkar di tangannya menunjukan masih pukul 6 pagi.


Mr. Husein hanya tersenyum membungkuk, menandakan jika Ia juga tidak mengetahui maksud Rajanya ingin bersua dengan putra bungsunya.


"Assalamu'alaikum," Malik memberi salam ketika masuk ke dalam tempat kediaman khusus ayahnya.


"Duduklah," ucapnya pada anak laki-laki satu-satunya.


Malik duduk di sofa yang berada di samping sofa yang diduduki oleh ayah dan ibunya.


"Bagaimana kabar nak' Edel?" tanya Ibunda Ratu, dia tahu dua hari yang lalu Edel sempat demam karena kecapean.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Bagaimana kabar anda Yang mulia?" tanyanya balik pada ibunya.


"Alhamdulillah, kami juga sudah jauh lebih baik sekarang," jawab Baginda Sultan.


"Pangeran, sudah hampir seminggu kita ditinggal oleh pangeran Fatih, putra mahkota kita. Sesuai peraturan kerajaan, putra mahkota akan jatuh ke pundakmu. Persiapkanlah dari sekarang, beban di pundakmu akan bertambah dan mungkin akan ada rintangan yang siap menghadangmu di depan."


Malik diam mendengar semua perkataan ayahnya. Dia sangat tahu betul, jika setelah kakaknya tiada dialah yang akan menggantikannya menjadi putra mahkota penerus tahta kerajaan setelah ayahnya.


"Ingatlah, kami ada bersamamu dan kami akan ikut melindungimu dan keluarga kecilmu apapun yang terjadi," ucap Ibunda Ratu.


Malik semakin diam dan mulai heran kenapa orangtuanya berbicara tentang melindunginya. Apa terjadi sesuatu yang aku tidak tahu, pikirnya.


"Yang Mulia, apa kita harus membicarakannya secepat ini?" tanyanya pelan agar tidak menyinggung kedua orangtuanya.


Baginda Sultan tersenyum, dia tahu obrolan berat ini tidak seharusnya dikatakan secepat ini karena belum genap seminggu putra sulungnya meninggalkan mereka.


Ibunda Ratu semakin mengeratkan pegangan tangannya pada suaminya. raut khawatir jelas tergambar di wajahnya yang masih terlihat cantik.


Baginda Sultan menepuk-nepuk tangan istrinya lembut dan menghela nafasnya.


"Ya, kita harus mengatakannya pada pangeran. Dia sebaiknya tahu apa yang terjadi beberapa hari lalu setelah pangeran Fatih dimakamkan," kata Baginda pada istrinya.


"Tapi ...."


Baginda Sultan mengangguk pelan pada istrinya. Dia tahu apa yang ditakutkan istrinya.


"Pangeran, anda pasti pernah mendengar jika putri Grizelle, putri mahkota kita bukanlah satu-satunya gadis yang dibawa oleh kakakmu pangeran Fatih untuk dijadikan istrinya dulu. Sebelum membawa putri Grizelle bertemu dengan kami, pangeran Fatih kita membawa satu gadis lain untuk dijadikan istrinya," ujar Baginda Sultan.


"Gadis itu datang beberapa hari yang lalu membawa seorang anak laki-laki, usianya mungkin sekitar 11 tahun."


*****


Terimakasih sudah mampir membaca, jangan lupa like, komen dan kasih hadiah buat author ya biar semakin semangat up nya. 🥰


Stay safe everyone. Happy weekend ❤️