
Edel masuk ke dalam rumah bersama Malik, di luar rumah Edel banyak wartawan yang berkerumun mengabadikan moment tersebut jadi mereka sebisa mungkin harus terlihat mesra di hadapan mereka, mesra dengan tak melupakan batasannya karena bagaimanapun mereka belum menikah. Semua penghuni rumah menyambutnya dengan bahagia karena nona mereka sudah kembali dari rumah sakit.
Edel melihat sosok wanita paruh baya yang selalu setia menjaganya sedari kecil, wanita itu menyeka sudut matanya terharu bisa melihatnya kembali. Dia berjalan menghampirinya dan memeluknya.
"Simbok kangen non. Alhamdulillah non dah pulang, sepi rasanya di rumah," Simbok memeluk balik Edel yang tertawa kecil.
"Aku juga kangen Simbok."
"Jangan sakit-sakit lagi non," ujar Simbok.
Kekaguman Malik pada kekasihnya bertambah melihat interaksi mereka. Mrs. Soe juga terharu melihat anaknya memeluk Simbok, lalu ikut memeluk mereka berdua.
"Naiklah, Istirahatlah," titah Mrs. Soe setelah puas berpelukan. "pangeran istirahatlah, kamu juga pasti lelah setelah beberapa hari menjaga Edel di rumah sakit."
Malik dan Edel menaiki tangga menuju ke kamar, Malik menggunakan kamar di sebelah kamar Edel seperti terakhir kali Ia menginap di sana.
"Mau aku temani?" tanya Malik tersenyum.
"Tidak, terimakasih," jawab Edel singkat.
Edel masuk ke dalam kamarnya, rindu sekali rasanya berada dalam kamarnya sendiri. rasa rindunya berbeda ketika dia harus berminggu-minggu di luar kota untuk bekerja dengan di luar karena dirawat di rumah sakit. Dia merebahkan diri di tempat tidur, dan langsung terpejam matanya,badannya sangat lelah karena melewati pagi yang sibuk.
***
Sudah dua hari Edel keluar dari rumah sakit, dia belum diizinkan untuk bekerja oleh orangtuanya. Hari ini Malik akan kembali ke negaranya karena banyak pekerjaan yang dia tinggalkan selama seminggu berada di Indonesia untuk menemani kekasihnya yang sedang sakit.
Tiap pagi Malik selalu mengajak Edel berjalan kaki meregangkan otot, berjalan santai beberapa blok dari rumahnya, walaupun Edel baru keluar dari rumah sakit setidaknya dia harus berolahraga ringan seperti berjalan santai.
Beberapa wartawan masih berada di depan rumah Edel, mencari tahu dan mengabadikan aktivitas si empu rumah. Saat mereka berjalan santai pun wartawan dengan setia mengikuti mereka berkeliling, bagi Malik itu sudah menjadi hal yang biasa karena sedari kecil Ia sudah di kelilingi oleh banyak wartawan yang mencari tahu tentangnya tapi buat Edel yang belum terbiasa itu membuatnya sedikit risih.
Kenapa mereka mengikutiku?, memalukan sekali, untung aku wangi walaupun belum mandi, hahahaha. Pikirnya.
Sesekali Malik tersenyum melirik Edel yang gelisah ketika wartawan mendekat untuk mengabadikan kebersamaan mereka, dia segera memegang tangan Edel saat itu terjadi. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan, memberinya kekuatan dan perlindungan dengan memegang tangannya.
"Kau lapar? mau uduk, uduk di sana enak lho."
"uduk? apa?" tanya Malik.
"Nasi uduk, itu nama sejenis nasi kalau di Malaysia nasi lemak. Terkadang aku membelinya untuk sarapan, jangan khawatir soal rasanya. kau akan ketagihan bila sudah mencicipinya, lihat saja pembelinya nyampe antri kan," terang Edel sedikit memaksa Malik untuk menurutinya membeli nasi uduk. 😂
"Ayo," Malik setuju untuk mampir ke warung nasi uduk depan jalan.
Sampai di sana banyak pembeli yang langsung menghampiri Malik dan Edel untuk meminta mereka berselfi dengannya. Edel terkadang lupa jika Malik seorang pangeran, tentu saja berita pertunangan mereka sedang viral di berbagai media dan diketahui semua orang yang aktif di berbagai media sosial.
"Duduklah biar aku yang memesan," titah Malik.
"Emang kamu bisa?"
"Tentu saja, cuma pesan makanan kan," tegasnya.
"Aku ga pake orek tempe ya, sambelnya sambel merah aja terus telor dadar kasih ayam goreng juga," ujar Edel. Malik mengernyitkan alit melihat Edel.
"Kalau gitu ayo kita pesan sama-sama aja," kata Malik membuat Edel tertawa kecil.
Mereka mengobrol sambil mengantri menunggu giliran mereka memesan. Pagi ini banyak sekali yang mau membeli uduk, lebih banyak dari biasanya. Entah kebetulan atau karena mereka ingin melihat sepasang anak muda yang pertunangannya sedang viral, tapi itu memberi keuntungan lebih bagi penjual uduk dan penjual lain disekitar warung uduk itu.
"Eh, neng Edel. gimana udah sehatan neng? katanya udah tunangan nya, mamang ga nyangka neng tunangan ama pangeran," ujarnya tersenyum.
"Hahahaha.. iya mang, saya juga ga nyangka," jawabnya tertawa kecil. Malik tersenyum melihat Edel mengobrol bebas dengan penjualnya di sana.
"Tolong pesankan untuk para wartawan juga dan ajudanku, kasian mereka pasti belum sarapan" ujar Malik.
"Mang pesan buat mereka juga ya."
"Siiiiaaappp neng,"
Setelah pesanannya siap mereka membayar semuanya dan melebihkan pembayaran.
"Neng, boleh mamang foto dulu. buat pajangan di warung biar semua orang tahu neng suka ke sini dan pak pangeran juga pernah ke sini," pintanya.
"Boleh mang," sahut Malik.
Malik meminta pengawalnya mengambil foto mereka, Istri si mamang juga ikut berfoto dan langsung mengunggahnya ke media sosial dirinya.
Perjalanan pulang dari warung lebih lama dibandingkan biasanya, jaraknya pun tiba-tiba menjadi berasa lebih jauh. banyak orang yang ingin berfoto dengan mereka sepanjang jalan pulang. Edel ingin sekali menolaknya karena dia sudah lelah ingin segera pulang dan makan nasi uduk, tapi sepertinya Malik menikmati berfoto dengan mereka dan membuat Edel cemberut.
"Apa kau harus berfoto dengan semua orang yang memintamu berfoto dengannya? apa kamu ga bisa menolak walau sekalipun?" bisik Edel menggerutu.
"Honey, maafkan aku. aku akan lebih memperhatikanmu yang belum terbiasa dengan semuanya," kata Malik. "honey, ini baru permulaan, ketika kau nanti ikut berkunjung ke daerah-daerah di negaraku jumlah mereka lebih banyak dari barusan, dan mereka juga berebut hingga para ajudanku harus turun tangan," terang Malik, dia tahu Edel belum terbiasa dengan semuanya.
"Malik, kenapa ajudan pengawalmu kamu tinggal di sana," mereka berjalan berdua saja tidak ada pengawalan seperti waktu berangkat.
"Aku ingin berduaan denganmu, kasian mereka harus bekerja terus menemaniku. biarkan mereka sarapan dan mengobrol dengan para wartawan itu. Bukankah kamu sedikit kesal jika dibuntuti terus oleh netizen," jawab Malik.
Edel tersenyum senang, dia mengaitkan tangannya di lengan Malik, Edel merasa seperti sedang berkencan saja macam di drama-drama yang selalu Mita tonton ketika mereka sedang bersantai. bicara mengenai Mita, Edel jadi ingat kemarin Mita mengirimkan beberapa artikel mengenai dirinya.
"Malik, sekarang aku sangat mengerti jika media sosial bisa menjadi sangat menakutkan," dia ingat sebuah komentar di artikel mengenainya.
"Kau tahu, ketika pengumuman tentang pertunangan kita di umumkan dalam beberapa detik saja data pribadiku langsung tersebar ke seluruh dunia. bahkan teman-teman kuliahku banyak yang mengirim pesan padaku, tiba-tiba banyak permintaan follow ke media sosial ku juga semua aktifitas ku, rumor tentangku tidak berdasar yang dulu tersebar mereka ungkit kembali," Edel ingat ada yang memberikan komentar jika di kampusnya dulu dia dikabarkan penyuka sesama jenis, tapi dia tidak akan membicarakan itu dengan Malik.
"Ya aku tahu itu, itulah sebabnya aku memberitahumu dari awal sejak aku menyukaimu dan memintamu menjadi pendampingku," terang Malik.
"Sepertinya aku harus belajar mengabaikannya dan menikmatinya seperti kamu yang menikmati berfoto dengan para gadis tadi!" seru Edel.
"Hahahaha.. apa itu yang membuatmu kelihatan cemberut?" tanya Malik.
"Tidak juga, aku hanya merasa pengen cepat sampai rumah, aku lapar," kata Edel beralasan.
Malik merangkul bahu Edel berjalan menuju rumah keluarga Soe. Malik senang dia bisa berjalan berdua saja tanpa pengawalan hingga edel bisa mengobrol bebas dengannya, Malik senang ketika Edel memanggil namanya hanya namanya tanpa embel-embel 'Yang Mulia' ataupun 'Pangeran'.
*****
Terima kasih sudah membaca 🥰🥰, jangan lupa like dan komen juga jadikan novelku salah satu bacaan favoritmu ❤️.
kasih rate juga ya ⭐⭐⭐⭐⭐ 😉🙏
Tetap sehat semuanya ... .