
Sudah masuk jam makan siang tapi Edel masih menyibukkan diri dengan setumpuk dokumen yang harus diperiksanya. Bekerja, ya itulah cara dia menghilangkan semua rasa yang membuatnya kesal beberapa hari belakangan.
"Makan yu," ajak Mita menghampiri meja Edel melihat temannya begitu fokus pada laptop di depannya.
"Duluan aja, nanggung nih," tolak Edel.
"Ok, gue makan ya. Ada yang mau Lo makan biar tar gue beliin sekalian," tanya Mita mulai ngeh dengan sikap Edel yang berbeda.
"Engak, makasi," jawabnya singkat.
Mita keluar ruangan Edel dengan heran. Mungkin dia lagi ada masalah. pikirnya.
Edel masuk ke ruangan khusus untuk dia beristirahat, selesai solat duhur ia merebahkan diri. Menatap langit-langit, pikirannya melayang.
"Baru seminggu, ini baru awal. Akan ada waktu aku bersamanya, Allah selalu ngasih yang terbaik yang hambanya butuhkan," gumamnya pada diri sendiri
"Mungkin dengan melihat foto itu, aku akan tau apa yang akan aku hadapi kedepannya," lanjutnya. Lalu menutup mata dan tertidur dengan masih memakai mukena solatnya.
"Del, bangun ... Del ...." Mita menepuk bahu Edel, membangunkannya.
Edel membuka matanya dan melihat temannya duduk di sampingnya.
"Sorry, gue ketiduran," ujar Edel lirih.
"Ga pa-pa, Lo pasti kecapean dan banyak yang Lo pikirkan," kata Mita.
"Gue beliin makan, Lo makan gih. Gue taro makanannya di depan," ujar Mita.
"Gue ga laper, tar gue makannya," kata Edel memejamkan mata lagi.
"Jangan kaya gitu, makan lah! tar kalau Lo sakit sapa yang jagain. Inget orangtua Lo lagi ga ada di sini, kalau ngedenger Lo sakit tar mereka khawatir!" seru Mita berusaha membujuk Edel.
"Oklah," sahut Edel bangun melepaskan mukena yang masih melekat di tubuhnya.
Mita duduk di samping Edel, memastikan temannya menghabiskan makanan yang dia beli.
ponsel Edel berbunyi, ada panggilan dari Malik.
"Ada telepon tuh," kata Mita melihat ponsel Edel di mejanya.
"Biarin aja," jawab Edel dengan raut tidak peduli.
"Ga Lo angkat, itu dari Malik lho Del," ujarnya heran.
"Ya, biarin aja," jawabnya lagi singkat.
"Gue ga tau ada apa antara Lo sama dia, cuma yang gue ga suka saat Lo ga mau makan. Gue berasa ngadepin anak kecil yang lagi mogok makan," oceh Mita.
"Gue lagi males aja nerima telepon dia," sahut Edel.
"Sebenernya gue ga mau tau, itu urusan Lo sama dia. Cuma karena itu berefek ke kerjaan dan ke nafsu makan Lo, gue cuma mau bilang kalau Lo ada masalah selesaikan lah. Lebih cepat lebih baik, obrolkan Edel ... obrolkan!" seru Mita mulai naik pitam. Namun, dia tetap menasehatinya.
"Iya, sebenernya nih ya beberapa hari yang lalu gue penasaran dan nyari tahu sedikit tentangnya di internet. Jadi gue lihat-lihat foto dia dan gue lihat foto dia lagi ma cewe," ungkap Edel.
"He's a Prince Del, pasti banyak cewe yang mau foto sama dia. Lo ingat kan waktu kita di Bali, kemanapun kita pergi pasti deh banyak yang minta foto sama dia," jelas Mita berusaha menjelaskan sesuatu yang dia sendiri kurang paham pada temannya.
"Ya, gue tau tapi saat gue tanya nih ya dia bisa langsung tau langsung nyebut namanya malah. Entah kenapa gue jadi tambah kesel," gerutu Edel.
"Emang sapa nama temennya tuh?" tanya Mita penasaran.
"Azmy," jawab Edel singkat.
Mita berpikir dan terdiam, dia tahu sedikit tentangnya. Dia tahu Azmi adalah perempuan yang digosipkan pacaran dengan Pangeran Malik.
"Lo tau Azmy?" selidik Edel melihat temannya terdiam setelah dia menyebutkan namanya.
"Engak, gue ga tau," kilah Mita berbohong.
"Terus your prince bilang apa?" lanjutnya penasaran.
"Dia bilang dia temannya hanya teman," jawab Edel menyuapkan makanannya.
"Ya udah percaya aja, lagian dia ga akan nemuin orangtua Lo kalau dia ga serius,"ujar Mita mengingatkan.
"Oh, Lo dah tau dia ke rumah?" sindir Edel.
Oh my God, gue keceplosan dah!. batin Mita
"Gie tau, kan Malik ngasih tau gue waktu mau liburan di Bali, dia bilang mau ke rumah Lo dulu. Tapi bukan gue yang ngasih alamat rumah Lo, dia tau sendiri," jelas Mita ga mau temannya salah paham.
"Ehm," jawab Edel singkat, tapi jawaban simple itulah yang bikin Mita takut.
Dia melihat makanan Edel sudah habis. Kesempatan dia melarikan diri sebelum Edel bertanya lebih soal Malik.
"Gue balik ya, jangan lupa beresin sendiri bekasnya!" titah Mita cepat-cepat pergi dari ruangan Edel.
Edel hanya memandang temannya pergi keluar dari ruangannya. Lama dia menatap pintu lalu dia mengambil ponselnya, belasan panggilan tak terjawab dan belasan pesan masuk.
Edel menaruh lagi ponselnya tanpa memeriksa isi pesan masuknya dan berkutat lagi dengan laptopnya. Tak terasa sudah pukul empat sore, dia mengambil ponselnya dan mulai memeriksa pesannya.
"Jangan lupa sarapan"
"Sudah berangkat? hati-hati di jalan"
"Ko pesanku tak di baca? masih marah?"
"..."
"..."
"Kenapa panggilanku tak di jawab, setidaknya balaslah pesanku biar aku tidak khawatir"
"Nanti sore aku mau ke gym bareng teman"
"Ayolah sayangku, My flower"
"Udah makan siang?"
"..."
"..."
Akhirnya dia menelepon Malik, lama dia menunggu.
"Halo, sayang. Kamu baik-baik aja kan?" tanya Malik begitu dia mengangkat teleponnya.
"Ah, rasanya aneh. Aku belum terbiasa kamu memanggilku sayang," gerutu edel.
"Aku akan memanggilmu begitu, jadi biasakan lah," ujar Malik.
"Maaf baru bisa menghubungi mu. aku sibuk sekali," kata Edel beralasan.
"Ya, aku mengkhawatirkanmu apalagi tadi malam kamu bilang sakit kepala," ungkap Malik.
"Aku dah baikan," jawabnya singkat.
"Tutuplah dulu telepon nya, akan aku telepon balik. aku ingin melihatmu," ujar Malik.
"Iya," Edel langsung mengakhiri panggilannya dan tak berselang lama, Malik melakukan panggilan video
"Ya," jawab Edel memperhatikan pakaian yang dipakai Malik, t-shirt warna putih. Nampak dada bidangnya, dan otot tangannya di balik t-shirt yang dia pakai.
"Kamu lagi di mana?" lanjutnya, melihat sekilas alat olahraga di belakang Malik.
"Aku, di gym. Kan tadi aku dah ngasih tau sore ini aku ke gym, ini baru nyampe," sahutnya.
Edel melihat sekilas teman-teman Malik yang berada di sekitar Malik yang sedang mengobrol dengannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Edel.
"Engak, aku senang melihatmu. Aku merindukanmu," jawab Malik yang disambut riuh sorak teman-temannya
"Ih, malu tau," jawab Edel.
"Aku ingin kamu tau teman-teman ku agar tidak terjadi salah paham lagi," jelasnya yang membuat wajah Edel merona. Teman-teman Malik melambaikan tangan hello ke Edel dan dibalas senyuman olehnya.
Mereka memberi salam pada Edel. Edel pun berkenalan dengan mereka lewat video call nya.
"Nanti mau ngegym dulu. Nanti aku kirim video nya," ujar Malik.
"Ok, ga janji dibalas cepat ya. Aku lagi sibuk," jawab Edel.
"Honey, kalau nanti kamu liat artikel-artikel tentangku dan temanku yang kita bahas semalam, jangan marah. Aku akan menjelaskan semuanya, aku benar-benar serius berhubungan denganmu," ucap Malik.
"Ya," jawab Edel singkat.
"Jangan marah lagi," Malik memohon.
"Iya"
"Ga sabar lihat kamu langsung. Nanti aku telepon lagi ya. Assalamu'alaikum," pamit Malik.
"Wa'alaikumsalam," jawab Edel.
Ketemu langsung? apa dia berencana datang ke sini?. pikir Edel.
"Aahhggghh," teriak Edel menutup mulutnya cepat.
**
Malik menghampiri teman-teman nya yang sedang berkumpul untuk memulai latihan fitness nya.
"Tolong rahasiakan hubunganku dengannya," pinta Malik pada teman-teman nya.
"Tentu bro, tenang aja," sahut salah satu temannya.
"Aku kira kamu pacaran dengan Azmy, gosip tentang kalian pacaran udah tersebar di seluruh dunia," ujar Deo.
"Iya bro, malah aku dukung kalian jika benar pacaran," sahut Ronald.
"Aku cuma temenan dengannya, ga lebih," kata Malik.
"Keluargaku juga udah tahu aku dengan Edel, cuma sebelum pernyataan resmi keluar tolong jaga rahasia hubunganku ya," jelasnya.
"Ok bro," sahut teman-teman nya.
"Kamu pacaran dengan perempuan lain bukan Azmy, dengan siapa?!" tanya seorang pria yang baru datang.