He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 101



"Tuan, nona sudah berada di Bandung," pria itu hanya mengangguk tanda mengerti dengan informasi yang diberikan asistennya.


Kalau sudah cinta kenapa tidak ungkapkan saja, apa gengsinya masih lebih besar dari rasa cintanya. Sudah ditinggal aja baru ngerengek nyuruh ini itu, menyusahkan saja!. gerutu asistennya dalam hati.


"Kau boleh istirahat, besok susul aku ke tempatnya," titah pria tadi dengan nada dinginnya.


"Baiklah akan saya siapkan driver jika anda tidak mau saya temani."


"Tak usah, aku ingin sendiri," ujarnya.


"Tapi tuan ... ," dia tak melanjutkan lagi bicaranya karena melihat tatapan tajam dari atasannya.


"Aku bisa menggunakan maps. Aku punya aplikasinya di ponselku, kirimkan saja alamat tempatnya padaku!" ketusnya.


Tumben mau usaha sendiri. pikir asistennya.


"Baiklah, selamat berjuang," ucap asistennya.


"Apa katamu?!".


"Maksud saya selamat malam, saya permisi," pamitnya cepat keluar dari kamar bossnya, dia tak ingin kena semprotnya.


"Hampir aja," gumamnya ketika sudah berada di luar kamar boss nya.


Pria tadi langsung turun ke tempat parkir mendekati mobil sport sewaan yang akan dia bawa ke Bandung. Dia melajukannya dengan kecepatan tinggi penuh senyuman.


"Tunggu aku," gumamnya.


***


Hari ini akan di adakan pengajian di kediaman keluarga Soe. Seorang pria berbadan tegap dan berhidung mancung sudah berada di sana melihat sekeliling mencari seseorang.


Pria tadi memperhatikan seseorang. Saat itu Edel sedang sungkem kepada kedua orangtuanya meminta restu mereka. Pria tadi mendekati tempat tersebut bukan untuk mendekati Edel tapi dua orang wanita yang sedang berangkulan.


Kate terharu melihat mereka, dia berangkulan dengan Mita, "Dua bulan lalu aku menikah tapi tidak melakukan hal seperti itu, aku merindukan orangtuaku," ujarnya ikut sesegukan menangis haru menyeka air mata yang terus keluar dari sudut matanya.


Seorang pria tersenyum menemukan orang yang dicarinya, dengan perlahan mendekati mereka.


Mita menyadari ada pria yang mendekati mereka. cakep banget. pikirnya.


Pria tadi mendekat dan diam dia samping belakang Kate, tersenyum melihat mereka mengobrol.


Apa dia senyum padaku atau pada Kate?. batinnya.


Mungkin dia ga tau jika Kate sudah menikah. baiklah pria tampan mungkin kau akan menjadi jodohku. gumamnya dalam hati.


"Ku kira kau merindukan suamimu," cetus Mita tersenyum mengusap punggung Kate dengan suara yang cukup terdengar oleh pria tadi. Dia sengaja melakukannya agar pria tadi tau jika Kate sudah menikah.


"Suamiku?, hahahaha ... , ya mungkin aku juga merindukannya." ungkap Kate mengingat betapa menyebalkannya suaminya. Dia bahkan tak menghubungiku selama aku di sini dan mungkin sedang asik bersama wanita lain. gerutunya dalam hati.


Kate tak menyadari maksud Mita dan tak menyadari jika ada pria di samping belakangnya.


"Aku juga merindukan mu sayang," ucap pria yang tadi diam-diam mendekati mereka.


Deg, Kate tertegun mendengar suara pria tersebut. Suara pria yang sangat dikenalnya. Kate langsung berbalik melihat asal suara bariton tadi.


"Deo?, ngapain kamu di sini?" tanyanya kaget melihat suaminya entah dari kapan sudah berada di sampingnya.


"Deo? Kalian saling mengenal?" tanya Mita yang ikut kaget karena Kate memanggil nama pria tadi.


"Ah iya," jawab Kate, "dia suamiku," lanjut nya.


Ternyata dia suaminya. gerutu Mita. hatinya sedikit merasa ada yang hilang.


*


Edel masih sesegukan menangis sesaat setelah selesai sungkem pada orangtuanya. matanya terlihat sembab parah, tapi jangan ditanya soal make up-nya jelas tak luncur karena menggunakan make up dari brand kelas dunia.


Acara tersebut langsung live di beberapa stasiun dunia bahkan di stasiun tv Negara A pun ditayangkan secara live. Keluarga kerajaan tentu saja melihat acara sungkeman Edel pada orangtuanya membuat mereka juga ikut menangis haru.


Pangeran Malik disibukan juga dengan beberapa acara adat negaranya sebelum pernikahan. Sama seperti kekasihnya dia sangat merindukannya dan merasa tegang dengan pernikahan mereka yang akan berlangsung beberapa hari lagi, hanya saja Pangeran Malik sudah biasa menguasai dirinya menyembunyikan rasa tegangnya dari publik.


"Apa muka gw masih bengkak?" tanyanya pada Mita.


"Hu'uh, nyante aja ga usah terlalu dipikirkan. Besok juga ilang tuh bengkak." ujarnya menempelkan irisan timun dan tomat di wajah temannya. "Ini bagus biar muka Lo Segeran."


"Makasi ya," ucapnya pada Mita.


"Del, gw mau cerita tapi jangan Lo ketawain ya," ujarnya. "Tadikan pas acar sungkeman ada pria cakep deketin kita ... ," ujarnya lalu terdiam.


"Kenapa Lo diam, pria siapa? lanjut dong," kata Edel penasaran karena Mita bercerita tentang pria.


"Ya gitu deh."


"Gitu gimana, ga jelas banget deh Lo!" seru Edel.


"Janji ya Lo ga ketawain gw," gumam Mita.


Edel terdiam, "Ya gw janji," ucapnya penasaran.


"Iya pas tadi kan cowo itu deketin kita, gw kira dia senyum sama gw jadi gw pikir ya dia harus tau kalo cuma gw yang masih lajang dan Kate udah nikah jadi gw nanya ke Kate 'gw kira dia rindu suaminya?', sebenarnya gw nanya gitu biar cowo tadi nyadar cuma gw yang lajang. Tapi akhirnya gw tau jika cowo cakep tadi ternyata suaminya Kate," lirih Mita terdengar sedikit kecewa.


Edel tak dapat menahan tawanya, dia tau dia sudah berjanji tapi tawanya langsung pecah dan terbahak.


"Tuh kan Lo ketawain gw, bukannya Lo dah janji ga akan ketawa!" rengek Mita.


"Sorry, sorry ... , tapi ini gw ga bisa nahan ketawanya," ujarnya hingga irisan timun dan wortelnya ada yang melorot dan terjatuh ke samping wajahnya.


"Jadi kapan keluarga Malik ke sini?" tanya Mita mengalihkan pembicaraan, dia terlalu sibuk untuk mencari tahu lewat media masa.


"Dua hari sebelum hari H," sahut Edel. memikirkan hal itu membuatnya semakin gugup.


"Gimana meeting dengan perusahaan Perkasa?" tanya Edel, dia ingat proyek dengan perusahaan Perkasa adalah tanggung jawabnya.


"Udah jangan dipikirin. Lo fokus aja, soal kerjaan Lo percayakan sama gw." jawab Mita yang masih ga ngerti kenapa temannya masih aja memikirkan pekerjaan padahal semua sudah ada yang handle.


"Gw ngerasa bosan diem Mulu ga ngapa-ngapain, setidaknya kalau kerja pikiran tentang pernikahan ini bisa teralihkan," ungkapnya.


Mita hanya bisa memandang temannya dan memeluknya, rasanya sedih jika ingat Edel akan meninggalkannya sendirian.


"Sejujurnya gw ga rela ditinggal sendirian di sini, gw pasti kesepian. Gw pasti rindu Lo yang suka gangguin gw, yang suka tiba-tiba ngajak gw jalan atau liburan, gw pasti rindu Lo yang suka banget nyuruh-nyuruh gw. Tapi apa boleh buat Lo harus ngikut suami Lo jika udah nikah nanti.


Edel menatap Mita sendu, dia juga pasti akan merindukan semua hal tentangnya.


*****


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏


stay safe everyone ... . 🥰