He'S A Prince

He'S A Prince
Bab 77



Mr. dan Mrs. Soe tidak sedikitpun merasa khawatir mereka hanya berduaan di kamar rumah sakit, mereka percaya jika anak-anak nya tahu batasan dan bisa menjaga dirinya. Mereka masih merahasiakan kedatangan keluarga Malik besok.


"Shalatlah dulu, sepertinya ini sudah masuk waktu isya. Aku akan meminta perawat untuk membantuku mengganti pakaianku, badanku sangat lengket," ujar Edel. sebenarnya dia ingin mengganti pembalutnya hanya saja dia merasa malu jika Malik tahu.


"Baiklah, aku akan shalat ketika perawat sudah datang. Aku tidak mau meninggalkanmu sendirian," kata Malik yang masih tidak ingin pisah dari kekasihnya setelah drama yang menguras emosi dan pikiran selama beberapa Minggu ini.


Tak sampai satu menit, perawat sudah ada di dalam kamar Edel.


"Tolong bantu aku ganti pembalut ku," bisik Edel setelah Malik pergi ke kamar mandi.


"Baik nona," kata perawat itu lalu mencari pembalut di lemari dan tas yang dibawa simbok atas perintah Mrs. Soe, tapi tak kunjung mereka temukan pembalutnya.


"Apa bunda lupa ya," gumam Edel, haruskah dia meminta Malik membelikannya pembalut.


"Ah, malu sekali," lirihnya menepuk-nepuk pipinya. "Aawwwhhh," dia lupa bahunya terasa pegal ketika banyak bergerak.


Edel tidak mungkin menyuruh perawat itu membelikannya pembalut walaupun mungkin tugasnya merawat dia. Dia ingat Mita akan menjenguknya, dia meminta perawat mengambilkan ponselnya tapi ponselnya terbawa Mr. Soe karena sewaktu kecelakaan barang-barang Edel diamankan pihak kepolisian dan diserahkan pada keluarganya. Akhirnya Edel menunggu Malik selesai shalat.


"Kamu ga jadi ganti bajunya?" tanya Malik yang sudah tidak melihat perawat ada di dekatnya.


"Ehmm .. hehehe ... ," Edel tertawa kecil. "boleh ku pinjam ponselmu, aku harus telepon Mita."


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanyanya lagi sambil mengambil ponsel dari atas bedside cabinet dan memberikannya pada Edel.


"Tidak," jawab Edel, malu jika dia harus berkata membutuhkan pembalut.


"Assalamualaikum, Mita bisa belikan gw pembalut ga?" pinta Edel berbisik


"Apa, pembalut?" tanyanya di seberang telepon.


"Iya." serunya.


"Maafin gw, gw ga jadi ke sana. Gw belum selese, ini masih di kantor kalaupun selese jam kunjungan udah berakhir," sahut Mita membuat Edel menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. "Maaf ya."


"Iya, ga apa-apa." kata Edel cemberut memikirkan bagaimana kalimat yang tepat meminta tolong pada Malik. "oklah, assalamualaikum," pamitnya.


"Ya, Wa'alaikumsalam," lalu mengakhiri panggilannya.


Sebenarnya Malik mendengar percakapan Edel dengan temannya walaupun Edel berbisik. Batinnya tersenyum mendengarnya.


"Mita ga jadi ke sini," kata Edel cemberut.


"Memang kamu mau dibelikan apa?" tanyanya pura-pura ga tahu.


"Ehmm ... Malik, bisakah kamu membelikan ku pembalut night," kata Edel akhirnya dia meminta tolong padanya.


"Tentu akan aku belikan," sahut Malik tersenyum mengacak rambut Edel lalu membereskannya kembali karena Edel lagi sakit.


"Apa kamu tidak risih aku memintamu membelikannya," tanyanya ragu.


"Tidak, aku senang kamu membutuhkanku," sahutnya memandang Edel. "tak apa jika aku tinggal kamu sendirian di sini atau aku akan memanggil perawat untuk menemanimu jika kamu takut sendirian di sini," kata Malik.


"Ga usah, aku sendiri aja," jawabnya.


"Baiklah, aku simpan tombol untuk memanggil perawat di sini dekat lenganmu. jika ada apa-apa sebelum aku datang tekan tombolnya nanti perawat akan datang membantumu," terangnya.


"Ya aku tahu, cepatlah," kata Edel yang sudah merasa tak nyaman sekali karena belum ganti.


Malik berangkat ke minimarket yang berada di luar gedung rumah sakit. Walaupun ada pengawal yang menemaninya dan bisa saja dia menyuruhnya membelikan keperluan kekasihnya tapi untuk membeli pembalut ... jelas akan dibelinya sendiri. Malik menggunakan ponselnya mencari letak minimarket terdekat karena ini pertama kalinya dia berada di sana.


Malik mencari kebagian pembalut, dia hanya harus membeli yang night tapi begitu banyak merk dengan pembalut night nya.


"Dia pakai merk apa ya," gumamnya.


Seorang wanita paruh baya melihatnya kebingungan dan menghampirinya.


"Buat istrinya ya mas," tanyanya sambil tersenyum. Malik sedikit terkejut karena dia di panggil 'mas' oleh wanita paruh baya tadi. Mungkin itu panggilan untuk menyapa seseorang di sini. pikirnya.


"Iya Bu," jawabnya tersenyum sekaligus bahagia wanita tadi menyangka dia membelikan untuk istrinya.


"Tidak, dia tidak melahirkan hanya sedang sakit, terima kasih," ucapnya.


"Istrinya biasa pakai merk apa?" tanyanya lagi.


"Saya kurang tahu, dia hanya bilang beli yang night," terang Malik.


"Oh," wanita itu menunjukkan pada Malik pembalut yang untuk malam hari dari beberapa merk yang berbeda. "kalau soal pembalut biasanya ga bisa pakai sembarangan merk takutnya istrimu sensitif kulitnya. jadi lebih baik telepon dia saja," ujarnya kemudian.


"Iya Bu, terimakasih," ucapnya.


"Kalau begitu saya duluan ya nak'," kata wanita tadi yang sudah dipanggil suaminya untuk segera.


"Iya, terimakasih."


Akhirnya Malik membeli satu-satu dari semua merk yang khusus night. Kasir minimarketnya tersenyum ketika melayani pembayaran. Suami idaman. batin kasir perempuan minimarket.


Malik membawa totebag yang penuh dengan pembalut. Melangkah menuju gedung rumah sakit sendirian, dia tidak dikawal karena dia menyuruh pengawalnya untuk menjaga kekasihnya dari luar kamar.


Sesampainya di kamar dia memberikan totebagnya pada Edel dan langsung saja Edel tertawa kecil.


"Kenapa membeli banyak sekali?" tanyanya. mengeluarkan satu-satu pack pembalutnya.


"Aku tidak tahu kamu menggunakan merk apa, jadi aku beli aja dari semua merk yang ada di sana," ujarnya menyandar di kursi dekat tempat tidur Edel.


"Terimakasih," ucap Edel tersenyum.


Dia memanggil perawat untuk membantunya mengganti pembalut, sementara itu Malik menonton tv sambil memakan makanan yang dibelikan kakaknya tadi sore.


"Malik aku lapar, bisakah kamu menyuapiku," kata Edel setelah selesai berganti dan Malik pun selesai makan. Edel mulai manja pada Malik.


Malik langsung menghampiri kekasihnya membuka makanan yang disediakan oleh rumah sakit dan mulai menyuapinya. Dia senang dapat merawat Edel yang sedang sakit, dia bahagia berada di dekatnya.


"Terima kasih kamu sudah datang ke sini, aku senang kamu berada di sini," ujar Edel melirik Malik.


"Aku ingin memelukmu, tapi takut kamu kesakitan nanti," kata Malik merajuk.


"Hahahaha, sabarlah!" seru Edel.


Perawat masuk untuk memberikan obat pada Edel, Dokter sudah berkunjung tadi ketika Malik pergi ke minimarket. Dia juga mengganti kantong infusnya dengan yang baru.


"Tidurlah," kata Malik menurunkan tempat tidur Edel bagian kepalanya agar dia berbaring nyaman tidak bersandar lagi.


"Terima kasih," ucap Edel.


"Bolehkah aku berbaring denganmu?" tanya Malik menggoda kekasihnya.


"Enak aja, tidurlah di sana," menunjuk tempat tidur extra untuknya. Malik tersenyum mendengar Edel ketus. Dia udah sembuh. batinnya.


Malik masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, setelah selesai dia mendorong tempat tidurnya agar lebih dekat dengan tempat tidur Edel.


"Malik kamu sudah tidur?" tanya Edel.


"Heeemmm," jawabnya hanya geraman.


"Kamu mau nonton, aku pernah nonton film drakor mereka menonton film ketika kekasihnya di rawat di rumah sakit," ujar Edel.


"Ya, tidurlah. kamu harus segera sembuh nanti aku ajak kamu nonton di kamarku," kata Malik tegas.


Malam itu Edel tertidur dengan sedikit kesal dan cemberut karena Malik menolak ajakannya dan malah menyuruhnya tidur. Badan Malik begitu lelah hingga Ia cepat terlelap.


*****


Terimakasih sudah membaca. Jangan lupa like, kasih komentarmu yang membangun, juga lima rate ⭐ dan jadikan novel pertamaku masuk daftar favorit bacaanmu.


Terima kasih 🥰🤗.