
"Assalamu'alaikum," suara baritonnya mampu membuat semua orang langsung terdiam dan melihat kearah pintu.
Cukup lama mereka terdiam memperhatikan laki-laki berbadan tegap tinggi yang memberi salam itu.
"Kau datang, ayo duduk sini," ujar Deo memecah kesunyian dan menunjukan kursi di sebelahnya agar lelaki tadi duduk di sana.
"Ku kira kau tak akan datang," ucap Ronald padanya.
"Ya, tadinya memang aku tidak akan datang, beberapa hari ini aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku. Tapi asistenku menyuruhku untuk rehat sejenak," terangnya melihat begitu banyak makanan di depannya. Dia merasa sangat kelaparan.
Edel tanpa melihat laki-laki itu tiba-tiba menyodorkan kotak pizza ke hadapannya saat mendengar bunyi keroncongan dari Perutnya.
Laki-laki tadi memandang Edel lekat, teringat kejadian lalu ketika di stasiun kereta Oxford. "Terimakasih." Lalu mengambil dan menyuapkan pizzanya dengan tersenyum.
"Apa kau sudah dua hari tidak makan," Ronald melihat temannya makan dengan lahap dan cepat. Shahmeer tidak memperdulikan pertanyaannya, dia asik makan pizza yang disodorkan Edel.
Malik pun memandang Edel karena memberikan kotak pizza pada lelaki lain, membuatnya sedikit gerah.
"Honey, kenapa kotak pizzanya kau geser. Aku tidak dapat menjangkaunya jika terlalu jauh," entah apa yang dipikirkan Malik karena di depannya juga ada beberapa kotak pizza yang masih berisi banyak.
"Ehm, Bukankah di depanmu juga ada dengan topping yang sama," jawabnya merasa aneh dengan ucapan Malik.
Queenzha yang memperhatikan tingkah Malik yang sedang cemburu menyeruput tehnya untuk menyembunyikan tawanya.
Ternyata pangeran juga bisa cemburu. pikir Queenzha.
"Aku ingin memakan yang itu," Malik berbisik di telinga Edel membuatnya bergidik geli.
"Kau seperti anak kecil saja," ujar Edel lirih.
Edel mengambil pizza yang di hadapan Malik dan menaruhnya di piring suaminya. "Makanlah."
Malik tersenyum walaupun tidak dapat pizza yang dia sodorkan ke Shahmeer.
Setidaknya dia tetap milikku. batinnya.
"Bagaimana kabar adikmu?" tanya Deo, dia penasaran apa ada kaitannya kejadian itu dengan adiknya hingga ibunya nekad bertindak sejauh itu.
Shahmeer menghentikan makannya dan terdiam.
"Azmy ... , dia baik. Sedang mempersiapkan semua dokumen kepindahannya," jawabnya.
"Pindah?".
Shahmeer mengangguk, "Dia setuju untuk pindah dan tinggal dengan ayah, tadi siang dia mengurus surat-surat di kampusnya untuk mendaftar di sana."
"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Malik.
"Sekitar empat hari lagi."
"Kau yakin kalian akan pindah menetap di sana?" tanyanya lagi.
"Ya, Azmy akan menetap di sana. Aku mungkin akan bolak-balik ke sini mengurus beberapa dokumen dan rumah."
"Kau mau menjual rumah itu?" timpal Deo.
"Tidak, rumah itu tidak akan aku jual, makanya aku datang malam ini untuk memberitahu kalian tentang kepindahanku dan adikku. Aku mungkin akan sangat jarang berkumpul dengan kalian lagi setelah adikku pindah ke sana," Queenzha melihat rasa sedih tergambar jelas di wajahnya.
"Apa kau baik-baik saja, maaf aku baru bertanya tentang keadaanmu kawan," lanjutnya pada Malik mengalihkan pembicaraan kepindahannya.
"Ya kami baik-baik saja" ucap Malik Yang tahu jika Shahmeer bertanya bukan hanya padanya saja tapi pada Edel juga.
"Syukurlah," ucapnya tersenyum lega.
Queenzha memperhatikan Edel yang tidak sedetik pun melihat Shahmeer bahkan saat dia menyodorkan makanan untuknya dan melihat Shahmeer terkadang mencuri pandang padanya tersadar jika ada sesuatu antara mereka berdua.
Kenapa mereka bertingkah aneh seperti itu, apa ada yang Edel rahasiakan dariku. batin Queenzha.
"Ada apa?" gumam Ronald di telinga Queenzha.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya singkat.
Malik melihat jam tangannya. "Sudah malam, maaf kawan aku dan istriku harus pulang," ujar Malik tersenyum merangkul bahu Edel.
"Ini baru jam 10. Kenapa buru-buru?" tanya Ronald.
"Baiklah, aku tidak dapat memaksamu lagi jika kau sudah mengungkit Edel yang sedang hamil, pangeran," ucap Deo tertawa karena dia sangat tahu kondisi wanita hamil seperti apa.
Malik menyampirkan longcoat pada bahu Edel.
"Terimakasih," Edel tersenyum membelai pipi Malik lembut.
Tingkah mereka sukses membuat rahang Shahmeer mengeras dan mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Hei, hei ... , ingat ada yang jomblo di sini," ujar Deo tanpa ada maksud apapun tapi membuat wajah Shahmeer memerah.
"Cepatlah cari pendamping agar nanti kau tidak sendiri lagi," ujar Malik pada Shahmeer.
"Mencari yang ingin mendampingiku itu sangat mudah tapi mencari seseorang yang akan mendampingiku seumur hidup untuk kujadikan istri ... , itu butuh waktu dan perjuangan," jawabnya tersenyum.
"Oke kawan, kalau begitu kami duluan," pamit Malik pada mereka.
Malik menyetir sendiri mobil yang dia gunakan bersama Edel, dia ingin lebih leluasa mengobrol dengan istrinya. Pengawal menggunakan mobil lain mengawal di depan dan belakang mereka.
"Malik," panggil Edel.
"Ada apa honey, apa kau mau membeli sesuatu dulu?" tanya Malik saat melewati pusat kota yang masih ramai dan banyak tempat makan yang masih buka.
"Tidak, hanya saja aku merasa suara Shahmeer terdengar berbeda."
"Berbeda bagaimana, honey?" Malik melirik Edel, jantungnya tiba-tiba berdegub kencang.
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Kau tahukan wanita hamil sensitif," ujar Edel melihat raut wajah Malik yang berubah.
"Terimakasih sudah mengajakku keluar," ucapnya mengganti topik pembicaraan.
"Aku mencintaimu, honey," Malik mencium tangan Edel dan memegangnya.
*
*
Setelah kepergian Malik dan Edel, Queenzha pamit untuk tidur duluan. Hari ini badannya lelah sekali dan terutama dia sedikit tidak nyaman berada di sana diantara para laki-laki.
"Malik memintaku menyelidiki dalang dibalik kasus kecelakaan kakaknya," ujar Ronald tiba-tiba.
Shahmeer menatap Ronald dengan tatapan kosong.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari kami?" timpal Deo mulai berbicara serius.
Shahmeer menghela nafas, "Aku tahu jika ayahmu sudah mengetahui dalang sebenarnya kan?".
"Aku baru mengetahui beberapa Minggu yang lalu jika wanita itu telah kembali, dari seseorang yang aku tugaskan untuk mengikuti adikku karena dia sudah sering melewatkan jadwal konsultasinya," terang Shahmeer.
"Azmy tidak mengenalnya, dokter bilang mungkin karena rasa traumanya yang membuat dia mengubur dalam-dalam semua yang berkaitan dengan wanita itu."
Shahmeer terdiam cukup lama, matanya menatap ke atas meja mencari kata-kata yang menghilang begitu saja dari pikirannya.
"Apa kau tahu jika ibumu, maaf ... wanita itu mengincar seseorang dan berniat membunuhnya?" selidik Ronald, namun Shahmeer menggelengkan kepalanya.
"Aku mengetahuinya saat hari kejadian. Hari itu aku menemuinya untuk memperingatkannya agar menjauh dari Azmy. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan adikku, Lalu kemudian dia dengan bangganya menyuruhku untuk melihat berita di tv yang saat itu melaporkan kejadian kecelakaan anggota keluarga kerajaan. Dia sudah berubah, bukan lagi seorang wanita yang hangat yang mengurusku sejak kecil. Dia telah berubah menjadi monster yang mengerikan," ungkap Shahmeer memandang meja.
"Kenapa kau tidak memberitahu kami, bukankah kita bertemu di hari pemakaman Putri Grizelle!" tanya Deo.
"Aku ingin memberitahu kalian. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahu kalian jika ibuku lah yang melakukan hal yang mengerikan seperti itu, jika ibuku berani menyuruh orang membunuh keluarga sahabatku, jika ibuku menjadi seorang pembunuh berdarah dingin," Shahmeer meneteskan air mata.
Ronald mengerti bagaimana perasaan temannya, dia tak menyalahkan Shahmeer yang tidak bisa memberitahu mereka. Dia merasa jika dia berada di posisinya pun akan merasakan hal yang sama seperti yang temannya rasakan saat ini.
"Jadi bagaimana rencanamu selanjutnya?" tanya Deo hati-hati.
"Hukum tetap harus ditegakkan, Aku tidak akan ikut campur dengan kasus yang melibatkan wanita itu. Hanya saja aku mohon untuk menunggu hingga Azmy pergi dari negara ini, aku tidak ingin dia tahu bahwa wanita yang melahirkannya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin," pinta Shahmeer. "Hanya dua hari, aku akan membantunya mengurus semua dokumen kepindahannya."
"Baiklah, aku akan berdiskusi dengan ayahku mengenai hal ini. Dia akan mengerti dan menunda menangkapnya hingga Azmy pindah," jawab Ronald.
Mereka menatap lekat Shahmeer yang masih menatap kosong meja di depannya.
Maaf, tapi aku tidak bisa berjanji dapat melindungi keselamatan ibumu. Batin Ronald .