
Langit terlihat sangat cerah hari ini, tapi udara terasa sangat sejuk. Shahmeer memarkirkan mobilnya di tempat parkir lapas khusus pengunjung.
Beberapa kali dia menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan, mencoba mencerna perkataan temannya kemarin jika sang ibu akan di eksekusi malam nanti.
Shahmeer menepuk-nepuk pipinya agar tersadar kalau ini bukanlah mimpi. Setelah beberapa saat dia pun keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama tempat kunjungan.
Seseorang berbadan tinggi besar berjalan ke arahnya, di sampingnya nampak seorang wanita berpakaian tertutup bertopi dan menggunakan kacamata hitam. Pria itu merangkul sang wanita dengan mesra.
Ah, mungkin itu bodyguard nya. pikir Shahmeer ketika melihat beberapa orang menghalang mereka menjadi benteng pemisah antara pria itu dan Shahmeer ketika berpapasan.
Sekilas Shahmeer meliriknya, wajah pria itu seperti tak asing baginya, tapi dia tidak ingat pernah bertemu dengannya di mana. Shahmeer malah sempat berpikir jika dia sempat beradu pandang dengan wanita yang dirangkul pria tadi.
Shahmeer segera menuju lobi pendaftaran pengunjung. Mr. Husein benar-benar sudah mengurus kunjungannya, terbukti ketika dia akan mendaftar langsung disambut hangat oleh petugasnya dan bahkan pengacara yang mengurus ibunya pun ada di sana menunggunya.
Mereka membawa Shahmeer ke sebuah ruangan khusus yang disediakan untuk kunjungan tahanan dan pengacara tidak ke ruangan tempat kunjungan tahanan dan keluarga atau kerabat.
Ruangan itu cukup luas, terdapat sofa dan meja mungkin agar mereka lebih santai ketika berbincang.
Shahmeer dipersilahkan menunggu di sana oleh pengacara dan petugas sedangkan mereka kembali keluar ruangan karena ingin memberi privasi untuk Shahmeer bertemu dengan ibunya.
Hampir sepuluh menit Shahmeer menunggu ibunya, akhirnya seorang wanita paruh baya masuk ke ruangan tempat dia menunggu. Raut wajah itu nampak berbeda, dia menunduk seakan takut bertemu dengan orang lain.
Mrs. Shopia duduk di sofa depan Shahmeer. Mereka saling berhadapan tapi ada rasa yang berbeda, rasa yang tidak bisa diungkapkan. Mereka seperti baru pertama kali bertemu, Mrs. Shopia menundukkan kepalanya di hadapan Shahmeer.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Shahmeer yang terus menelisik raut wajah ibunya.
Mrs. Shopia mengangguk pelan, "Baik."
"Kenapa kau terus menundukan wajahmu, apa kau malu padaku?" tanyanya dengan nada menyindir.
Mrs. Shopia mengangkat kepalanya menatap wajah Shahmeer sekilas, pandangannya dia alihkan ke gelas yang berada di depannya.
"Kenapa kamu menolak kunjunganku kemarin?" tanya Shahmeer yang masih merasa heran karena dia merasa tidak mengenali ibunya.
Mrs. Shopia tidak menjawab pertanyaan Shahmeer, dia hanya menatap lurus ke arah gelas.
"Ya, aku memang sempat tidak ingin melihatmu. Hanya saja aku penasaran tentang bagaimana kabarmu di sini, apa kamu menikmatinya?" tanyanya lagi dan untuk kesekian kalinya Mrs. Shopia tidak bergeming, tetap bungkam.
Shahmeer menelisik Mrs. Shopia dari kepala sampai ke ujung badan yang bisa dia lihat dari tempat duduknya. Tidak ada yang berbeda, masih tetap sama, wajah, rambut, kulit, suara ... ah, mungkin dia sedang flu karena terdengar sedikit serak.
Mereka hanya terdiam dengan pikirannya masing-masing, tak ada satu kata pun terucap dari keduanya.
"Mom," sapa Shahmeer dengan lembut.
"Mungkin itulah terakhir kalinya aku memanggilmu dengan sebutan mommy, Terimakasih telah menjadi ibuku dan Azmy, terimakasih pernah mengurus kami dengan sangat baik. Ya, aku memang harus berterimakasih padamu walaupun kamu meninggalkan kami tanpa alasan yang jelas!"
"Aku akan berusaha memaafkan semua yang telah kamu lakukan padaku juga Azmy karena kamu ibu kami dan Tuhan Maha Pemaaf. Tapi apa yang kamu perbuat pada negara ini tentu harus kamu pertanggung jawabkan, bukan?"
Mrs. Shopia masih menatap gelas di depannya dengan raut wajah yang sulit diartikan, dia hanya mendengarkan. Shahmeer mengernyitkan alisnya merasa seperti dia berbicara pada sebongkah patung yang menyerupai ibunya.
"Aku membawa makanan kesukaanmu, itu pun jika kamu masih menyukai makanan ini." Shahmeer memberikan totebag berisi makanan kepada Mrs. Shopia, dia meletakkannya di meja.
"Ini adalah kali terakhir kita bertemu. Aku harap kamu bisa menikmati hari-hari mu di sini dengan bahagia," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Shahmeer berdiri dan berlalu begitu saja tanpa berpamitan lagi pada Mrs. Shopia yang masih saja terdiam mematung memandang gelas di depannya.
Shahmeer keluar dari lapas dan duduk di bangku taman lapas, melepas semua rasa sedih yang menyeruak ingin keluar. Mencoba menenangkan diri agar tidak ada air mata yang keluar.
Perasaan sedih itu bercampur dengan perasaan aneh yang sejak tadi dia rasakan sedari bertemu dengan ibunya. Ada sebersit perasaan seperti bertemu dengan orang asing.
Shahmeer memandang langit, berharap semua hanya mimpinya saja dan kembali ke saat dia masih muda dulu ketika ibunya masih berada di sampingnya membangunkannya dari tidur malamnya setiap subuh.
Air mata tidak dapat dibendung lagi, keluar dari sudut matanya.
Nama Mr. Witton terpampang di layar ponselnya. Dia teringat janjinya dengan Mr. Witton, jadwal eksekusi ibunya yang mendadak dimajukan membuatnya lupa dengan janjinya.
Shahmeer bergegas pergi, melajukan mobilnya ke rumah Mr. Witton.
"Maaf, Anda harus menunggu lama," ucap Shahmeer begitu melihat Mr. Witton yang sedang duduk di pelataran rumahnya.
"Duduklah," titah Mr. Witton.
"Apa kamu sudah bertemu ibumu?" tanya Mr. Witton. Shahmeer hanya mengangguk pelan.
"Bagaimana kabarnya?" tanyanya lagi.
"Di-a ... , baik," jawabnya ragu.
"Aku pikir kamu sudah mengetahui tentang jadwal eksekusi ibumu. Aku juga baru mengetahuinya tadi malam," ujarnya, sambil mengisap cerutunya.
"Apa kamu melihat ada yang aneh dengan ibumu?" tanyanya lagi.
"Entahlah," jawabnya, tidak yakin akan apa yang dia rasa.
"Ibumu sudah keluar dari penjara tadi pagi dan baru saja terbang meninggalkan negara ini," ucap Mr. Witton melihat jam di pergelangan tangannya.
"Apa?!"
"Tidak mungkin," ucap Shahmeer, "aku baru saja menemuinya."
Mr. Witton tertawa melihat kebingungan Shahmeer. "Mereka benar-benar bermain bersih, mencoba menipuku."
"Ya, apa boleh buat," kata Mr. Witton dengan santai.
"A-aku masih belum mengerti maksud Anda Mr. Witton," kata Shahmeer bingung.
"Aku baru mendapat kabar siang ini, mereka menyekap orangku di lapas. Diego Marcus, dia sudah menyusup terlalu dalam!"
"Apa kau tidak merasakan perasaan yang berbeda saat bertemu ibumu?" tanya Mr. Witton.
"Sejujurnya iya. Dia selalu menundukkan kepalanya ketika kami berbincang, bukan berbincang karena hanya aku yang berbicara. Dia seperti ... ."
"Seperti orang lain?" timpal Mr. Witton.
"Ya ... ," jawab Shahmeer, lalu tersentak dan memandang Mr. Witton lekat meminta penjelasan padanya.
Mr. Witton menghela nafas, "Dia bukan ibumu, dia hanya mirip dengan ibumu."
"Ibuku tidak mempunyai saudara kembar," jawab Shahmeer dengan cepat karena menurutnya ini bukan saat yang tepat untuk bercanda.
"Aku tahu. Marcus membuatnya menjadi mirip dengan ibumu dan menukarnya."
Membuat mirip, menukar, kata itu membuat kepala Shahmeer sedikit berdenyut sakit. Dia masih belum bisa mencerna apa yang dikatakan oleh ayah temannya itu.
*****
Selamat hari Senin, Semangat selalu. Jangan lupa like, komen dan vote juga hadiah buat author ya dan ⭐⭐⭐⭐⭐ juga 🤭.
Stay safe everyone.
author akan memberi rekomendasi novel buatmu juga.