
Saat pelayan mengantarkan makanan pesanannya, baru Edel meletakkan ponselnya di meja dan melihat hidangan yang di sajikan tapi keburu terkejut melihat seseorang yang berada di depannya.
"Assalamu'alaikum, hai," kata pria itu sambil melambaikan tangannya di depan Edel yang masih terdiam bengong melihatnya, "segitu terkejutkah kamu melihatku atau kamu terpesona melihat wajahku hingga terdiam seperti itu?" tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Apa gue segitu berharapnya nyampe melihat dia di hadapan gie. batin Edel yang masih tertegun tak mempercayai apa yang dilihatnya.
"Hei ... Edel ... My flower ...," melambaikan tangannya di depan wajah Edel.
Edel tersadar dan dengan cepat mengatupkan bibirnya. Dia tidak menyangka Malik berada di sana dan itu nyata bukan halusinasi nya belaka.
"Ehm ... ko kamu bisa ada di sini?" kalimat itu yang keluar dari mulutnya masih memandangnya tanpa berkedip.
"Apa kamu segitu kagetnya melihatku ada di sini atau segitu terpesonanya kamu melihatku?" mengulang pertanyaan yang tadi dia ucapkan.
"Kamu ko bisa di sini?" mengulang lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari Malik dan lupa menjawab pertanyaannya.
"Apa kamu senang aku ada di sini?" tanya Malik mengganti pertanyaan.
"Ya, tentu saja," jawab Edel tidak sadar dengan perkataannya.
"Ah, maksudku aku senang aku bisa berlibur di sini," salah tingkah, mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari sesuatu yang tidak ada.
"Hahahaha ... kamu membuatku gemas," kata Malik mengangkat tangannya dan mengepalkan gemas.
"Cakep," katanya, Edel memperhatikan Malik berkaos biru Lazuardi memakai topi dan berkacamata hitam, garis rahang yang kuat dan berlesung pipi ketika tersenyum.
"Kamu bilang apa?" kata Malik mendengar Edel bergumam samar.
"Ayo makan, aku sudah lapar. Aku ga sempat sarapan tadi," lanjut Malik mengambil makanan dan menaruhnya ke piring di hadapannya, mencoba mengalihkan pikirannya dari gadis di depannya.
"Mita mana ya?" baru tersadar temannya belum juga kembali.
"Oh dia, tuh," Malik menunjukkan dengan kepalanya kearah belakang Edel, dia berbalik melihat temannya sedang berjalan ke arahnya.
"Hai," kata Mita tidak kaget melihat Malik sudah berada di sana. Lalu duduk di samping Edel mengambil piring dan menaruh makanan ke piringnya.
Edel menatap Mita penuh tanya.
"Adakah yang Lo sembunyikan dari gue?" selidiknya.
"Ga ada," sahutnya menyuap makanan ke mulutnya.
"Kamu sendirian ke sini?" tidak melihat pengawal atau pun pria paruh baya yang selalu mengikutinya.
"Aku ga sendiri, tuh," menunjuk dengan matanya ke samping kirinya.
Ko gie ga liat ada Mr. Husein di sana tadi. batin Edel, seakan Mr. Husein tiba-tiba duduk di sana.
"Makanlah, kamu ga kan kenyang jika hanya melihatku makan," kata Malik menggodanya.
Edel menunduk menyuapkan makanan ke mulutnya, wajahnya merona malu. Mita serasa jadi patung di sebelah mereka.
Selesai makan, mereka pergi berjalan-jalan di pusat pariwisata kuta. Membeli pernak-pernik khas Bali, membeli oleh-oleh untuk orangtua mereka dan tentu saja untuk Alice yang tidak bisa ikut berlibur.
Edel mengambil pie susu dan memakannya,
"Kamu mau, ini enak," tangannya tanpa sadar menyuapi Malik pie susu.
"Ya enak," mengangguk tersenyum senang disuapi.
Edel berjalan ke arah kerajinan kelapa, lalu ke arah gelang-gelang dan mencobanya.
"Sini aku pakaikan," mengambil gelang yang dipegang Edel dan memakaikannya, "cantik," ucapnya memegang tangan Edel menggoyangkan ke kiri dan kanan. Rasanya muka edel semakin panas.
"No," melepas dan menggantinya dengan kain yang lain beberapa kali berganti hingga akhirnya ketika mengambil kain pantai berwarna dasar hitam bercorak emas dan putih.
"Good," ujar Edel melepas kain pantai itu dan menaruhnya di troli belanja. Malik tersenyum tak bisa mengerti entah apa yang dicari Edel baginya semua kain sama bagusnya.
Malik menemani Edel berbelanja berkeliling dari satu tempat ke tempat lain. Tentu saja Mita ikut, walaupun merasa seperti nyamuk tapi dia harus memastikan temannya baik-baik saja karena Malik baru dikenal mereka sekitar tiga Minggu yang lalu dan Mr. Husein juga mengawal mereka. Dia tidak khawatir dengan keberadaan Edel tapi hanya karena pekerjaannya ... ya, memang begitu menemani Sang Pangeran.
Sore harinya mereka cek in salah satu resort bintang lima di kawasan Nusa dua.
"Kenapa kalian sewa kamar dengan dua tempat tidur?" Malik melihat Edel bingung.
"Ga ada alasan, dari dulu juga kita selalu pesan satu kamar," kata Mita.
Malik tidak bertanya lagi, dia pikir perempuan punya sejuta pemikiran yang para pria tidak akan paham walaupun mereka jelaskan.
"Aku ke kamar dulu," pamit Edel menenteng banyak belanjaan.
"Sini aku bawain," kata Malik tidak tega melihatnya kesusahan membawa banyak barang.
"Ga usah, aku bisa sendiri," jawabnya merasa tidak enak.
"Ga usah malu, sini," dia mengambil tentengan belanjaannya.
Sampai di kamar, Malik memberikan tentengan belanjaannya pada Edel dan pamit pergi ke kamarnya. Dia merasa tak perlu meminta izin jika masuk ke kamar karena pasti tidak akan diizinkan.
"Del, makan malam gue dianterin aja kali ya ke kamar, ada yang harus gue kerjakan dan badan gue juga agak lelah," gumam Mita membuka mukenanya dan meletakkannya di meja yang hampir penuh tas belanjaan.
"Yah, gimana dong kita udah janji makan malem di luar," sedikit kecewa juga khawatir dengan keadaan temannya, "mau gue temenin?" lanjutnya.
"Ga usah, Lo makan aja di luar ma Malik mumpung lagi cerah ga ujan," ujar Mita sedikit memaksa.
"Gue batalin aja, dia pasti ngerti!" sungguh tidak enak meninggalkan temannya sendirian di kamar.
"Jangan! kasian dia jauh-jauh kesini buat Lo," seru Mita dengan wajah sedikit memelas.
"Ah, gue tau ko liburan ini Lo ikut rencanain ma dia kan? pantesan aja sikap Lo akhir-akhir ini agak aneh!" seloroh Edel cemberut.
"Tapi Lo suka kan?, udah ayo nikmati aja. Ga pa-pa gue di sini, beneran. Kapan lagi coba Lo bisa jalan ma dia," bujuk Mita mengedipkan matanya.
"Gue ga enak sama Lo, masa gue seneng-seneng dan Lo sendirian," kilah Edel.
"Tar kalau posisi gue kaya Lo atau gue mau ngedate diantara jadwal padat kita juga gue akan minta Lo ngelakuin hal yang sama kaya gue sekarang," jelas Mita.
"Cepet berangkat, Malik dah nunggu tuh," menunjukkan ponsel Edel yang berbunyi dari tadi.
"Ok, makasi ya," senyum edel terlihat nakal membuat temannya tertawa.
"Gue udah siapin gaun buat Lo, pakailah." penuh perhatian.
"Thanks," mereka berpelukan.
Lima belas menit kemudian Edel telah bersiap dan rapi.
"Gue pergi dulu ya," seraya tersenyum malu dan dibalas dengan senyuman.
"Have fun," lirih Mita.
Edel berjalan ke tempat yang telah dijanjikan, sepanjang jalan ke tempat itu bergelantungan lampu-lampu kecil sangat cantik di kegelapan malam.
Malik telah menunggu di tempat yang di janjikan memakai tuxedo kiton yang membuatnya terlihat sangat gagah dan macho, sangat tampan.
Mereka makan malam romantis di pantai. Untungnya gaun yang disiapkan Mita bukan gaun malam yang terbuka tapi tertutup jadi Edel tidak merasa kedinginan.