
"Aku akan pergi setelah melihatmu masuk," ujar Malik.
Edel pun berbalik membuka pintu dan masuk.
"Assalamu'alaikum," ucap Edel menutup pintu.
"Wa'alaikumsalam," Malik berbalik dan pergi dengan penuh senyuman.
Edel melangkah masuk dan dilihatnya temannya sedang berada berbaring menyamping di sofa sambil menonton tv, tersedia buah-buahan yang telah dia potong di meja untuk camilan malam.
Edel jatuh lemas, menangis.
Mita yang mendengar suara benda terjatuh langsung duduk dan melihat Edel duduk di lantai dekat pintu masuk.
"Ya Allah Edel, kamu ga pa-pa?" Mita setengah berlari menghampiri Edel.
"Kamu sakit?" lanjutnya khawatir, jongkok di hadapan Edel dan meraba mukanya.
Edel menarik Mita memeluknya dan menangis sesenggukan.
Mita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, yang dia lakukan hanya memeluk kembali temannya menenangkannya tanpa bertanya alasannya.
Setelah tangisnya mulai reda, Mita membawa menggandeng Edel duduk di sofa dan memberi dia minum.
Mita hanya melihat wajah Edel sembab karena menangis. Setelah dirasa cukup tenang dia pun bertanya pada Edel.
"Kamu ga pa-pa?" tanyanya, "apa terjadi sesuatu sama kamu dan pangeran Malik?" lanjutnya
Edel hanya terdiam, kemudian memandang temannya.
"Kamu kenapa tidak mengabari aku kalo mau balik hotel?" lirih Edel, dalam suaranya masih tersisa segukan tangisnya.
"Aku mencarimu kemana-mana, menelpon mu tapi tidak diangkat," lanjutnya, Mita terdiam menarik nafas.
"Bukannya aku dah pesan sama pangeran Malik kalo aku balik duluan?" kata Mita.
"Tadi dia dateng nyamperin aku bilang kalo izin mau nganterin kamu balik. Ya udah aku titip pesen buatmu kalo aku pulang duluan soalnya aku lupa harus kirim email ke perusahaan Widyatama. Harusnya aku kirim tadi sore tapi lupa, jadi aku buru-buru balik," jelasnya.
Edel hanya menarik nafas panjang.
"Dia ga bilang apa pun sama aku," jawab Edel, "dia hanya bilang mau mengantarku balik," terang Edel.
Mita melihat wajah Edel dan merasa sangat bersalah telah meninggalkannya sendirian.
"Maaf," lirih Mita memeluk Edel, "maafin aku ya," ucapnya.
"Ponselku tadi lowbet, tapi aku kirim message kalo aku balik duluan. Bener deh."
Mita melepas pelukannya, mengambil ponsel di atas meja di depannya. Menscroll layar dan menunjukkannya pada Edel.
"Tuh, gw message Lo kan ya," kata Mita membela diri.
Edel melihat message di ponsel Mita, lalu mengeluarkan ponselnya di tas tangannya. Mengecek message masuk dan ternyata memang ada message dari Mita.
Menarik nafas panjang, melirik Mita.
"Maafin gw, padahal tadi gw dah beberapa kali liat tapi ga ada," gumam Edel.
Mita memeluknya menggoyang-goyangkan pelukannya, gemas rasanya melihat Edel yang manja.
"Lo ganti dulu gih," kata Mita.
"Oklah," gumam Edel mulai bersemangat lagi.
Mita tersenyum melihat Edel melangkah masuk ke kamar mandi. Bersila di sofa dan memeluk bantal menonton tv lagi.
Setelah Edel membersihkan diri, mereka beristirahat untuk petualangan hari esok yang panjang. Bukankah berbisnis juga setiap harinya sebuah petualang yang kita ga akan tahu apa yang terjadi walaupun jadwal sudah ditentukan. Hanya rencana, bisa berubah kapan saja.
**
drrrttt ... drrrttttt ... ponselnya bergetar.
Mengeluarkan ponselnya, beberapa detik dia memandangi layar ponselnya menarik nafas berat lalu menjawabnya.
"Ya, tunggu sebentar," jawabnya, entah siapa yang meneleponnya.
Dia pun mengemudikan mobilnya menembus kegelapan malam. Sepanjang jalan dia memikirkan saat bersama gadis yang akan didekatinya.
Menurutnya Edel gadis yang unik, selain cantik dan yang katanya cerdas dia juga gadis yang polos, mudah mengekspresikan apa yang sedang dia rasa. Emosinya mudah berubah dari senyum ke cemberut, sangat menarik.
Tapi yang terutama yang membuatnya tertarik adalah dia masih muda, tapi sudah memiliki tanggung jawab yang besar seperti dirinya. Ya, tentu saja bukankah bagi seorang gadis menjadi CEO di umur 28 tahun merupakan tanggung jawab yang besar. Seperti dia, sejak lahir sudah mempunyai tanggung jawab sebagai pangeran yang semua gerak-gerik, aktivitasnya, kehidupannya, bahkan cara makannya saja sudah membuat orang penasaran dan ingin tahu lebih banyak.
"Mungkin kamu yang aku cari," gumamnya tersenyum.
**
Edel dan Mita sudah bangun sebelum subuh, tentu mereka bukanlah seorang yang dimanja walaupun mempunyai kehidupan yang berkecukupan dan harta yang melimpah untuk memanjakan mereka.
Setelah tahajjud dan solat subuh mereka duduk di kursi makan.
Mita duduk mengangkat satu kaki ke kursi dan berkutat dengan laptopnya. Melihat jadwal hari ini, mempersiapkan aktivitas yang akan mereka jalani.
Edel sedang melihat tabnya mempelajari beberapa proyek yang akan mereka kerjakan. Mereka merasa beruntung bisa terus bersama saling melengkapi, saling menguatkan.
"Boleh gw tanya sesuatu sama Lo," kata Mita tiba-tiba.
"Hhmm,"
"Gimana hubungan Lo sama si Pangeran?" tanya Mita penasaran.
"Pangeran yang mana?" Edel balik bertanya.
"Emang Lo punya berapa Pangeran?" gumam Mita sambil terus melihat laptopnya.
"Hmmmm ... satu pun gw g punya," jawab Edel santai.
"Bukannya Lo semalam dianter Pangeran Malik?" tanya Mita melirik Edel dari balik laptop yang di depannya, sedikit kepo.
"Ko Lo bisa tau gw dianter dia?" kata Edel kaget seakan dia hilang ingatan kejadian semalam.
"Oh ya, gw lupa dia dah izin sama gw," lanjutnya santai.
Edel melihat Mita yang sedang memandangnya.
"Gw ga ada apa-apa sama dia, dia cuma nganter doang," jelas Edel.
"Trus?"
"Trus apaan, dia nganterin gw karena dah malem, dia bilang takut ada yang nyulik gadis cantik kaya gw," kata Edel tertawa melihat betapa serius temannya penasaran tentang hubungan dia.
"Lo ... dia ga ada hubungi Lo gitu, telepon atau message Lo?" tanyanya.
Edel terdiam, menggeleng pelan.
"Toh kita ga berbagi nomor telepon!" serunya, Edel tertawa melihat wajah Mita mengekspresikan rasa penasaran nya belum hilang.
"Udah gw mau mandi dulu. Gw janji ke rumah om Ommar pagi-pagi," tuturnya.
Edel berdiri melangkah pergi, Mita terdiam.
"Aneh padahal gw dah kasih no telepon Edel, apa no nya ilang ya," gumam Mita pada diri sendiri.
Edel terdiam mendengar gumaman Mita dan berbalik kembali ke depan temannya.