
Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan dengan para tetua istana berlangsung. Persiapan penobatan putra mahkota yang baru pun telah mulai dilaksanakan.
Malik dan Edel kembali dengan rutinitas harian kerajaannya. Mereka tidak kesulitan dengan semua tugas putra dan putri mahkota yang akan diembankan pada mereka karena sudah mengambil tanggung jawab itu sejak kejadian penembakan setahun yang lalu.
"Honey, apa kau lihat dokumen yang semalam aku baca. Aku menyimpannya di meja tapi tidak ku temukan, Apa aku mulai menjadi seorang pelupa?!" Malik berdiri di depan pintu kamar tidur mereka dengan mengerutkan keningnya.
"Aku menyimpannya di meja ruang kerjamu, jangan menyimpan sembarangan. Baby boy sudah sangat aktif, dia bisa saja merobek-robek dokumenku," bangga dengan perkembangan anak mereka.
Pangeran kecil mereka sudah mulai belajar berdiri, mengambil apa saja yang di depannya yang menurutnya menarik. Pernah suatu hari dia mengambil dokumen edel dan mengibas-ngibaskannya dan meremasnya hingga lusuh untung itu hanyalah dokumen salinan dan dia juga sudah mulai memasukan benda-benda yang menarik hatinya ke mulutnya yang kecil.
"Honey, koperku mana?" tanyanya lagi sambil membuka-buka dokumen di tangannya.
"Oh, tadi Mr. Husein dan Mr. Rayyan ke sini ketika kamu masih di kamar mandi dan kopermu sudah dibawanya."
"Honey, baik-baik selama aku pergi," ucap Malik.
"Emang aku ga pernah baik gitu kalau kamu pergi?!" tukas Edel.
"Maksudku, kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku pergi dulu, ingat jangan terlalu cape," jawab Malik meraba perut Edel.
Sudah seminggu Edel telat menstruasi, Malik berharap Edel hamil lagi dan mereka memberikan adik buat baby boy. Dalam keluarga kerajaan memang tidak dibatasi jumlah keturunan karena untuk mempertahankan tahta kerajaan dan jarak kehamilan pun terbilang cukup dekat.
"Iya, Malik. Tenang saja, jika sudah merasa lelah aku akan beristirahat," jawab Edel tersenyum.
Edel menggendong baby boy menghampiri Malik.
"Gendong Daddy dulu," Malik mengambil baby boy dari gendongan Edel.
"Anak Daddy udah besar. Daddy berangkat dulu ya, ingetin mommynya jangan kecapean, jaga mommynya selagi Daddy tidak ada ya. Love you my baby boy," Malik mencium wajah baby boy yang menggeliat kegelian karena jambang tipisnya.
"Cukurlah jambangnya, lihat anaknya, kasian. Sakit tau ketusuk," ujar Edel sewot.
Malik tersenyum menggelengkan kepalanya, dia memelihara jambang tipis karena senang melihat Edel yang menggeliat ketika dia menciuminya, dia sangat menyukai ekspresinya membuat hormonnya semakin meningkat.
"Tapi kau menyukainya kan, Honey," goda Malik.
Edel diam tak melihat Malik yang sedang menggodanya. Dia tahu arah pembicaraannya akan kemana jika dia melihat balik suaminya.
"My baby boy, Daddy harus berangkat sekarang," Malik melihat jam tangannya dan menyadari sudah lebih dari jadwal yang dia janjikan dengan Mr. Husein.
Pasti Mr. Husein lagi jalan mau ke sini menjemputku. pikirnya.
"Honey, aku berangkat sekarang ya."
Malik menyerahkan baby boy ke pangkuan Edel, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut dan mencium bibirnya.
"Ada baby boy," ujar Edel. Malik sedikit kecewa karena hanya bisa sebentar mencium istrinya.
Edel terkekeh melihat Malik kecewa terhalang anaknya.
"Ayo, katanya sudah terlambat. Kasian Mr. Husein jika harus selalu menunggumu. Ingat dia sudah sepuh," ucap Edel terkekeh membayangkan raut Mr. Husein yang selalu tersenyum walaupun Malik selalu membuatnya menunggu lama.
Malik melirik Edel tajam, ya dia memang selalu membuatnya menunggu, namun yang diliriknya malah semakin menertawainya.
Bagi Malik, Mr. Husein sudah seperti alarm berjalan. Walaupun usianya sudah melebihi umur Baginda Sultan tidak membuatnya menjadi lemah, badannya masih tetap tegap dan gagah bahkan seingat Malik beliau tidak pernah sekalipun terlambat. Selalu tepat waktu.
"Ya, akan ku usahakan tepat waktu," gumamnya pada diri sendiri.
Hari ini Malik akan berangkat ke Afrika untuk menemani Baginda Sultan selama beberapa hari. Pertemuan itu berkomitmen memperkuat kerja sama dan kemitraan dalam pembangunan ibu kota baru.
*****
"Bertemu dalam kain yang memeluk benangnya untuk merajut pakaian adat negara A dari kesendirian hingga menjadi suatu kesatuan. Terimakasih untuk semua yang telah menyulam potongan-potongan ini dengan cinta dan semangat."
Edel sedang menghadiri sebuah acara di daerah pedesaan yang sedang mengembangkan dan meningkatkan produk kain sulam khas negara A.
"Kami memiliki banyak hal di negara A yang harus dibanggakan. Ingat saya jika tidak ada bangsa yang tidak tahu masa lalunya, dan tidak ada masa depan bangsa jika tidak bekerja dari sekarang untuk menjadi bangsa yang lebih baik," ucapnya mengakhiri pidatonya.
Edel kembali duduk di kursi yang telah disediakan.
"Suatu kehormatan menyambut Anda di sini. Kehadiranmu, nasihat, dan dukungan yang terus menerus anda berikan, memberikan kami harapan dan kemampuan untuk bisa terus memberikan apapun yang kami bisa untuk negara tercinta ini," ucap pemimpin daerah di daerah pedesaan tersebut.
Edel tersenyum, dia sangat senang bisa ikut membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomian dan taraf hidup mereka.
Selesai dari acara tersebut, Edel langsung bertolak ke daerah lain di pesisir untuk menghadiri pameran produk desain pesisir. Dia menyempatkan untuk beristirahat beberapa saat selama dalam perjalanan menuju daerah pesisir.
"Terimakasih atas upaya semua wanita yang bekerja dari hatinya sehingga terlaksana pameran desain ini. Terimakasih untuk semua teman-teman yayasan dan support yang kalian berikan," ucap Edel.
Hari ini jadwal Edel hanya menghadiri acara di dua tempat tadi, walaupun begitu tetap saja badannya terasa sedikit lelah karena jarak keduanya sangatlah jauh ibarat Aceh dan Lampung atau Banten dan Jawa timur.
"Yang Mulia, Yang mulia pangeran menghubungi anda ketika anda sedang memberikan sambutan tadi. Yang Mulia pangeran meminta anda menghubunginya setelah selesai acara," ucap sekertaris pribadinya.
Edel mengangguk dan segera menghubungi balik Malik.
"Assalamu'alaikum," sapa Edel.
"..."
"Baiklah, tolong sampaikan jika saya sudah selesai dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke istana. Sampaikan juga jika tadi Mrs. G datang ke acara di daerah pesisir," kata Edel pada Mr. Husein.
Edel menyimpan ponselnya dan teringat dengan kejadian tadi siang, seorang wanita menghampirinya dan menyelipkan sebuah surat ke tangannya ketika dia meminta Edel untuk berfoto bersama.
Hanya ada satu kalimat di dalam surat tersebut,
Nice to meet you.
Edel yakin jika wanita itu adalah mantan pangeran Fatih. Edel pernah melihatnya sekali di dalam foto yang ditunjukan ibunda Ratu agar dia lebih berhati-hati jika bertemu dengannya.
Sungguh wanita yang luar biasa sangat berani, pikir Edel.
*****
Readrs mampir ke karya temanku yuuu...
Ini adalah kisah Beeve, wanita berparas cantik yang baru saja lulus SMA, ia yang ingin melanjutkan studi harus terhalang karena mendapati dirinya tengah mengandung anak dari hubungan terlarang dengan sang kekasih yang berbeda keyakinan.
Alih-alih di nikahi oleh yang ia cintai, Beeve yang malang justru di campakkan bagai sampah.
Keluarganya yang tahu akan kondisi Beeve langsung sigap menikahkannya pada Andri sepupunya, tentunya dengan menyembunyikan kenyataan yang ada.
Pernikahan itu awalnya berjalan dengan normal, tetapi semua berubah ketika Andri mengetahui Beeve sudah tak suci lagi.
Akankah pernikahan Beeve dan Andri berjalan dengan lancar? Atau kandas di tengah jalan? Mana yang akan terjadi?
🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️🤍❤️
Terimakasih sudah mampir membaca. 🙏
Stay safe everyone. 🤍