
"Keenan," nama itu yang keluar dari mulut Edel melihat lelaki yang masih berdiri dan mengobrol dengan Malik.
"Halo Edelweiss, bagaimana kabarmu?" lelaki itu menyapa balik setelah mendengar namanya disebut Edel.
Malik melihat mereka berdua, "Apa kalian saling mengenal?" tanya Malik ragu.
"Ya, kami beberapa kali hangout bareng. Dia teman satu kamarnya Yvonne," Keenan tersenyum lalu duduk di hadapan Malik. "aku sempat terkejut saat mendengar pengumuman resmi kalian di umumkan, aku terkejut kau bertunangan dengannya."
"Kau tidak pernah bercerita kenal dengan Keenan?" tanya Malik pada kekasihnya.
"Hemm, oh ... buat apa toh kamu tak pernah bertanya tentangnya padaku. kalau ga salah aku pernah menyebut namanya sekali saat kau bercerita kalau aku menyirammu," terang Edel memotong cake di depannya.
Malik ingat perdebatan di kamarnya saat Edel berkata dia menyiram anak perdana menteri Turki Ahmet Keenan.
"Apa kalian berdua sengaja berlibur ke sini atau menghadiri acara di sini?" Keenan membuka pembicaraan.
"Kami menghadiri pernikahan teman," jawab Malik yang masih penasaran kenapa Keenan bisa mengenal Edel. "kau bilang pernah hangout bareng, kenapa tak pernah kau ceritakan mengenalnya."
"Dia teman satu kamar Yvone. Saat itu aku mengajak Yvone buat hangout, tapi dia mau ikut jika teman-teman nya juga ikut. Aku pernah bercerita padamu dan Shahmeer kalau aku hangout dengan Yvone dan temannya, aku juga mengajak kalian tapi kalian menolaknya kan?! Juga seperti yang tadi dia katakan kau tidak pernah bertanya padaku," terang Keenan.
Edel hanya menjadi pendengar yang baik, dia belum ingin ikut bergabung bercerita karena baginya Keenan adalah mantan temannya dan teman dari kekasihnya.
"Kau bilang ada sesuatu yang ingin kau obrolkan denganku, ada apa?" lanjutnya.
"Iya, aku ingin bertanya sesuatu tentang Shahmeer."
"Shahmeer? bukankah sampai sekarang kalian masih berhubungan dekat?" Keenan kaget mendengar nama Shahmeer.
"Ya, tapi aku ga mungkin bertanya ini padanya." ujar Malik. "apa kau mengenal gadis yang dia sukai sewaktu kuliah dulu?"
Keenan terkejut Malik bertanya tentang gadis itu, tapi dia berusaha tidak menampakan keterkejutannya. "Tidak aku tidak mengenalnya, dia tak pernah bercerita tentangnya padaku."
Tak mungkin Keenan menceritakan gadis itu, gadis yang membuat Shahmeer rela berlama-lama diam di perpustakaan hanya untuk melihatnya. Gadis yang bahkan sekarang sedang duduk di sebelah Malik.
Keenan mengetahui Shahmeer menyukai Edel dari Yvone. Shahmeer selalu bertanya tentang Edel padanya, sampai pernah Keenan salah faham pada Shahmeer. Dia mengira jika Shahmeer mendekati kekasihnya saat itu, sampai akhirnya dia mengaku dan menceritakan tentang Edel padanya.
"Kenapa kau ingin mengetahuinya, Pangeran?"
"Beberapa waktu lalu dia menceritakan gadis itu padaku, aku hanya penasaran apa aku mengenalnya. Ciri-ciri gadis itu sepertinya tak asing bagiku. Tapi dia tak mau memberitahukan namanya," ungkap malik.
Tentu saja dia tak memberitahumu, bagaimana mungkin dia memberitahumu jika gadis incarannya adalah yang sekarang berada di samping, tunanganmu!. pikir Keenan.
Edel mendengarkan obrolan mereka dan itu membuatnya berpikir tentang gadis itu. Gadis yang ditanyakan pada Yvone. Dia teringat Yvone pernah memberitahunya jika salah satu teman kekasihnya selalu bertanya tentang Edel padanya.
Apa gadis itu ... gue!. batin Edel.
"Kau sendirian ke sini, kenapa tak ajak kekasihmu?" tanya Malik mengalihkan pembicaraan.
"Ku kira kau sendiri, jadi aku tak membawanya," ujar Keenan, "lagian dia sedang sibuk."
"Apa aku menganggu harimu?".
"Santai aja kawan, aku tak mungkin menolak ajakan seorang Pangeran," jawabnya tertawa. "Edel, apa kamu punya kontak terbaru Yvone?"
Edel mengangguk, "Ya, aku punya. tapi aku tak bisa memberitahumu tanpa persetujuannya. Maaf ... ," Edel tidak pernah memberikan kontak siapapun tanpa persetujuan yang bersangkutan, kecuali dalam keadaan darurat.
"Bukankah kau sudah punya pendamping, untuk apa kau menghubungi mantanmu lagi?!"
***
"Kenapa kamu ingin mengetahui gadis itu my Prince?" mereka sudah berada di mobil menuju hotel tempat mereka menginap.
"Ehm, hanya penasaran saja," Malik tersenyum meliriknya lalu kembali fokus kedepan karena dia yang menjadi driver. pengawalnya disuruh berlibur.
"Tidak mungkin hanya sekadar penasaran saja my Prince, pasti ada sesuatu yang membuatmu ga tenang hingga bertanya pada temanmu yang jauh. Padahal bisa saja kau bertanya pada temanmu yang lain," selidik Edel. "apa kau berpikir gadis itu ... , aku?" Edel tertawa menutupi tujuan sebenarnya.
"Ya, jujur saja aku berpikir itu kamu, honey. Pemikiran itu membuatku ga nyaman dan aku ingin mengetahuinya," ungkap Malik tersenyum.
"Ya, Yvone dulu memang pernah berbicara padaku ada seseorang yang selalu bertanya tentangku padanya. tapi aku pikir itu bukan Shahmeer tapi orang lain karena aku ga pernah bertemu dengan Shahmeer," jawab Edel berusaha santai.
"Honey, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Malik ragu.
Edel mengangguk, "Tentu."
"Apa yang kau lakukan ketika dulu kamu merasa jenuh ketika kuliah di Oxford?" tanya Malik tersenyum. "Tentu kamu pernah merasa jenuh kan, apa yang kamu lakukan?".
"Aku pergi ke perpustakaan, aku membaca banyak novel, tentang sejarah peradaban, geologi, psikologi, aku membaca semuanya," jawab Edel tertawa. "aku selalu penasaran dengan berbagai cabang ilmu. Aku ingin mengetahuinya, itu sangat menyenangkan membuatmu lupa rasa jenuh dan sendirian."
Malik bernafas lega mendengar perkataan Edel.
"Tapi di tahun pertama aku selalu pergi ke Stasiun," kata Edel kemudian.
'deg' jantung Malik mulai berdebar cepat mendengat kata Stasiun lagi.
Edel melirik Malik, "Aku selalu merasa kesepian ketika tahun pertama mungkin karena itu pertama kalinya jauh dari bunda dan ayah. Aku selalu pergi ke Stasiun melihat kesibukan orang-orang dan bercerita dengan mereka," terangnya.
Malik ingin bertanya 'apa dia pernah memberikan sandwich pada seorang lelaki?' tapi dia urungkan, dia tak mau Edel merasa di interogasi olehnya.
"Apa kau pernah menyukai seseorang ketika berkuliah dulu?"
"Kenapa kau tanya masalah itu?" tanya Edel merasa terpojok padahal Malik tak berpikir memojokannya.
"Maaf, aku hanya ingin tahu saja."
"Entahlah, aku tak tahu. itu udah lama sekali, aku ga tahu apa itu suka atau hanya sekadar ya ... terpesona. Kami berpapasan saat dia akan meninggalkan perpustakaan dan aku baru datang, saat itu hujan turun wajahnya terlihat bingung hendak pergi tapi hujan lumayan deras jadi aku berikan payungku padanya. Sejak itu aku selalu menunggunya di perpustakaan tapi dia tak pernah muncul di depanku sendirian, dia selalu bersama temannya."
"Apa itu aku?" tanya Malik tersenyum.
Edel tertawa kecil, "Ya aku menyukaimu, makanya aku selalu menolak semua pria yang mendekatiku. aku berharap pria perpustakaan itu datang dan memintaku menjadi kekasihnya," jawab Edel tertawa, wajahnya merona mengakui dia menyukai Malik sejak lama. "Tapi aku ga tahu jika kamu adalah seorang pangeran," dia tertawa terbahak.
Dia bersyukur dialah yang 'menemukan' Edel lebih dulu daripada Shahmeer. Dia bersyukur Edel memilihnya dan mereka akan segera menikah.
Potongan puzzle itu semakin nyata terlihat setelah mendengar Edel bercerita. Mungkin memang Edel lah gadis itu. pikir Malik.
Sekarang dia adalah tunanganku, ga akan ku biarkan siapapun merebutnya dariku.
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰