
Sudah 6 Minggu Deo dan Kate menikah. Walaupun sudah diboyong suaminya tinggal di negara A, Kate masih bolak balik seminggu hingga dua Minggu sekali ke Eropa karena dia masih bertanggung jawab untuk beberapa proyek perusahaan ayahnya.
"Kau dimana?" tanya Kate menelepon seseorang, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari.
"Aku di belakangmu sayang," ujar Deo memeluk Kate dari belakang. "Kau merindukanku?" membalikan tubuh Kate dan meneruskan pelukannya.
"Ayolah lepaskan, ini Bandara. Semua orang melihat kita," ketus Kate berusaha melepaskan pelukan Deo.
"Biarkan saja mereka melihat." tetap memeluk.
"Jangan kaya anak kecil deh, ayo cepat jalan. aku lelah sekali."
Deo menuruti istrinya, menarik koper milik Kate berjalan berdampingan berpegangan tangan menuju tempat parkir.
Bukan tanpa alasan Deo memeluk Kate di tempat umum ataupun mereka terlihat mesra di tempat umum, tapi karena Mr. Xiever memerintahkan orang untuk mengikuti Deo kemana pun dia pergi saat keluar rumah, Kate sangat kooperatif membantunya mengatasi hal tersebut.
"Sampai kapan mereka akan terus mengikuti kita?" keluh Kate melirik suaminya yang menyetir. Rasanya lelahnya bertambah saat harus bersandiwara di depan umum.
"Mungkin sampai kau hamil dan kita mempunyai anak," jawab Deo santai.
Kate tertawa terbahak mendengarnya, bagaimana mungkin dia bisa hamil jika di sentuh pun tidak oleh suaminya.
"Oya, aku harus ke Indonesia besok lusa."
"Indonesia? buat apa?" tanya Deo mengernyitkan alis nya.
"Pernikahan Edel," jawab Kate singkat.
"Bukankah acaranya dua Minggu lagi?"
"Ya, Pihak Malik memesan sesuatu untuk dipakai Edel di hari pernikahannya, aku takut itu terlalu besar atau kecil ketika di pakai nanti jadi harus di ukur dulu sesuai atau tidaknya," sahut Kate.
"Berapa lama?".
"Mungkin sampai acara selesai saja, sekalian berlibur dan menemani Edel yang mau menikah."
"Terus aku bagaimana? kau mau meninggalkanku lama, apa kamu ga kasian padaku atau ga takut jika kehilanganku?" jawab Deo ketus.
"Kehilanganmu?, hanya dua Minggu. terbiasalah tanpaku agar kau tak terlalu sakit hati nanti, toh 11 bulan lagi juga kita berpisah," Deo merasa sesuatu yang tajam menusuk hatinya, sangat sakit. Dia tahu perjanjian pernikahan mereka hanyalah satu tahun, sulit sekali mengartikan apa yang dia rasa saat mendengar istrinya berkata seperti itu.
Sampai di rumah, Deo langsung turun dan masuk ke rumah meninggalkan Kate yang bingung dengan tingkahnya.
"Tadi aja meluk-meluk sulit lepas, sekarang pergi gitu aja. Dasar!" gerutu kate keluar dari mobil dan mengambil kopernya di bagasi.
"Nona biar aku yang bawa," pinta salah seorang asisten Deo mengambil koper yang dibawa Kate.
Kate langsung masuk ke kamarnya, dilihatnya Deo tidak berada di sana. Dia pun masuk kamar mandi membersihkan diri, saat keluar kamar mandi Deo belum berada di kamar mereka.
"Lapar sekali," gumamnya lalu keluar kamarnya untuk makan malam.
Kate mencari Deo di beberapa ruangan sebelum masuk ruang makan tapi tak kunjung dia temukan suaminya.
"Apa kau melihat suamiku?" tanyanya pada seorang pelayan perempuan.
"Tuan berada di ruang kerjanya," sahutnya.
"Tolong siapkan makan malam," Kate berjalan menaiki tangga kembali ke atas menuju ke ruang kerja Deo, dia tidak mungkin makan sendirian saat mertuanya dengan gigih selalu mengirimkan asisten rumah tangga walaupun sudah mereka tolak puluhan kali. Mereka dikirim bukan hanya untuk meringankan kerja rumah Kate karena mereka berdua terbiasa memesan makanan atau makan di luar sejak sebelum mereka menikah, tetapi dikirim untuk melaporkan kemajuan hubungan Deo dan Kate.
"Hubby, kau di dalam?" Kate memanggil Deo hubby agar para asisten tidak curiga tentang pernikahan mereka yang hanya sebatas perjanjian.
"Hubby," Kate mengetuk pintunya tapi tak kunjung dapat jawaban. Dia pun membuka pintu ruang kerja Deo yang tidak di kuncinya.
Kate melihat Deo sedang fokus ke layar laptopnya dan menghampirinya, "Hubby, aku lapar. Bisakah kamu menemaniku makan," pintanya.
Deo melihat Kate dari balik laptopnya, "Makanlah, masih ada yang harus aku kerjakan!" ujarnya. Kate tahu Deo sedang marah padanya, tapi dia tidak tahu alasannya.
"Baiklah," lirihnya, Deo melihat wajah istrinya ada rasa kecewa di sana.
Kate meninggalkannya pergi ke ruang makan sendiri.
"Tolong antar makan malam Deo ke ruang kerjanya, malam ini dia sibuk mengerjakan pekerjaannya mungkin karena tadi dia menjemputku di bandara," pinta Kate pada asisten pribadi suaminya yang masih belum pulang.
"Baik, Nona." jawabnya.
Kate makan malam sendirian di ruang makan yang lumayan luas. Rasa sepi hinggap di hatinya, biasanya sesibuk apapun atau semalam apapun Deo selalu menemaninya makan. Kini dia hanya sendiri.
Kate menyuapkan makanan ke mulutnya untuk kesekian kalinya saat ada seseorang duduk di kursi depannya.
Kate tersenyum melihat Deo akhirnya turun menemaninya makan. "Sini biar aku yang siapkan," ujarnya mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa makanan. Dia mulai terbiasa menikmati menyiapkan makan untuk suaminya.
Batin Deo tersenyum melihat istrinya menyiapkan makan malam untuknya dengan wajah yang ceria, Senyuman Kate yang sangat manis mulai mengisi pikiran dan hati Deo walaupun belum dia sadari.
Mereka makan dalam diam dengan pikiran masing-masing. Kate makan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya dia senang suaminya sudah mau menemaninya, sedangkan Deo masih kesal dengan perkataan istrinya tadi saat di mobil.
Deo makan dengan cepat, dia menghabiskan makanannya sebelum Kate selesai.
"Aku duluan," ujar Deo berdiri lalu berlalu kembali ke ruang kerja. Kate hanya bisa melongo melihat suaminya pergi meninggalkan nya sendiri lagi.
"Apa AC di ruangan ini terlalu dingin hingga dia menjadi sedingin es seperti itu!" gerutunya.
Pukul 11 malam, Deo masuk ke kamar dilihatnya istrinya sudah tertidur pulas di bawah selimut tebal mereka. Deo masuk kamar mandi membersihkan diri.
Sebelum membaringkan badannya, Deo membenarkan selimut Kate dan berbaring di sampingnya. Lama dia menatap istrinya, dirapikannya beberapa helai rambut Kate yang jatuh menutupi matanya, Deo membelai wajah polos kate, di ciumnya kening istrinya dan tersenyum.
Sudah dua hari Deo bersikap dingin di hadapan Kate, istrinya. Dia tidak terlalu banyak bicara dan kalaupun berbicara hanya seperlunya saja, menjawab pun hanya dengan anggukan atau gelengan kepala.
Siang ini Kate harus pergi ke Indonesia, "Apa aku harus mengundur keberangkatan ku," gumamnya melihat suaminya tetap acuh padanya saat dia memberitahukan jadwal penerbangannya.
"Tidak, ini kesempatan bagus untuk menjauh dari manusia kutub seperti dia" lanjutnya pada diri sendiri.
"Hubby, apa kau tak ingin mengantarku ke Bandara?" tanyanya. Setidaknya dia harus bertanya menghormati suaminya, pikirnya.
"Jam berapa?" Deo balik bertanya.
Bukankah tadi aku sudah memberitahumu jadwalnya. gerutu kate dalam hati.
"Jam dua," jawab Kate singkat. "Aku akan bertemu Putri Syahara dulu nanti jam 8, aku akan menemuimu di kantormu nanti. Lagian koperku sudah ada di bagasi mobilmu," terang Kate.
Kapan dia memasukan kopernya ke bagasiku. pikir Deo.
***
"Pak, seseorang telah menunggu di ruangan anda," kata sekretaris barunya. Dia mempunyai sekertaris baru karena sekertaris lamanya mengundurkan diri akan melahirkan.
"Siapa?" tanyanya.
"Dia hanya berkata bahwa dia teman anda dan anda akan senang menerima kedatangannya."
Deo berpikir lama, "Baiklah, terimakasih," ucapnya. Siapa yang datang, tak mungkin Kate karena sekertaris nya pasti sudah tahu jika Kate adalah istrinya.
Deo masuk ke dalam ruangannya, dilihatnya seorang wanita tengah duduk menunggunya.
"Letisya, sedang apa kau di sini?" tanyanya terkejut begitu melihat wanita tadi.
"Aku? menunggumu."
"Menungguku?!" ketus Deo. Dalam hatinya dia senang akhirnya tak butuh waktu lama baginya membuat wanita yang dia cintai datang mencarinya.
"Aku merindukanmu," ujarnya menghampiri Deo dan memeluknya.
"Hubby ... ,"
*****
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like nya dan komentar positifmu juga rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan novelku ke daftar favorit novel bacaanmu. 🤗🙏
stay safe everyone ... . 🥰